Taruhan

Taruhan
Why?


__ADS_3

Menjelang subuh, Biru mengendap keluar dari dalam kamar, lalu terpaku cukup lama di ambang pintu memandangi sosok yang kini tertidur lelap di atas sofa—meringkuk seperti bayi di dalam kandungan.


Semalam, ia membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar semua alasan yang keluar dari bibir Baskara setelah tangis mereka sama-sama reda. Ia merelakan egonya menyingkir sejenak, hanya untuk mendengarkan di mana letak kesalahan yang ia perbuat sehingga ia ditinggalkan.


Namun, ia malah berakhir menyalahkan dirinya sendiri karena ternyata, Baskara jauh lebih hancur daripada dirinya. Di saat ia pikir pemuda itu pergi karena ada yang salah dengan dirinya, atau rasa cintanya mungkin sudah hilang, Baskara nyatanya pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Yang hancur perlahan karena keretakan di dalam rumah tangga kedua orang tuanya.


Biru menyesal. Sedalam itu. Karena tidak seperti Baskara yang selalu ada di sisinya untuk membantu menyelesaikan semua masalah yang ia miliki, Biru malah tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu.


Biru tidak tahu bahwa di balik senyum cerah yang selalu Baskara suguhkan kepada semua orang, pemuda itu ternyata menyimpan banyak sekali luka. Dan sebagai seseorang yang mengaku mencintainya, Biru merasa ia telah gagal.


Bagaimana bisa ia tidak mengenali keadaan orang yang dicintainya? Bagaimana bisa ia begitu tidak peka, dan selalu berpikir Baskara baik-baik saja hanya karena pemuda itu tidak pernah mengeluhkan apapun kepadanya? Kenapa ia tidak bisa membaca kerapuhan yang tampak di mata pemuda itu, yang kini terlihat begitu jelas bahkan tanpa diterjemahkan ke dalam kata-kata sekalipun?


Lagi-lagi hanya kenapa dan bagaimana bisa yang memenuhi kepala Biru, bahkan setelah ia tahu semuanya.


"Gue hancur, Blue. Dan satu-satunya cara yang bisa terpikirkan oleh gue, si anak ingusan waktu itu cuma pergi jauh dari hidup lo, supaya lo nggak ikut hancur bersama gue."


"Tapi kemudian, bertahun-tahun setelahnya, gue sadar bahwa ketidakhadiran lo di hidup gue cuma bikin semuanya makin rumit. Gue melakukan banyak hal bodoh. Minum alkohol, merusak paru-paru gue dengan merokok, dan juga tidur sama banyak perempuan yang gue sendiri nggak tahu gimana riwayat kesehatan mereka. Gue menghancurkan diri gue sendiri, jauh lebih banyak ketimbang sewaktu lo masih ada di sisi gue."

__ADS_1


"Sedihnya lagi, gue tetap nggak bisa dapetin Papa. Dia tetap pergi. Jiwanya tetap nggak pernah kembali walaupun sekarang raganya ada sama gue dan Mama."


"Selama bertahun-tahun, gue nggak pernah melewati malam tanpa nangisin perpisahan kita. Gue mau lari ke lo lagi, untuk bilang bahwa semua yang gue lakukan cuma kesalahan karena terlalu gegabah. Tapi, keberanian itu sama sekali nggak muncul dan gue berakhir cuma bisa ikhlas sewaktu lo dibawa pergi sama Tante Maya ke Surabaya. Di situ, gue merasa separuh nyawa gue benar-benar hilang."


"Terus lo muncul lagi, bikin gue berharap punya kesempatan untuk menebus kesalahan yang udah gue perbuat di masa lalu. Iya ... gue tahu cara gue untuk muncul lagi di depan lo memang salah. Gue memang masih aja bodoh kayak dulu."


"Padahal kalau lo mau ngeluh ke gue, gue pasti bakal nyediain telinga buat dengerin semuanya, Bas." Biru bergumam sendirian. Lalu, dengan langkah yang berani, ia berjalan mendekati pemuda itu.


"Lo menderita sendirian, dan gue menghabiskan waktu gue untuk merencanakan balas dendam. Coba lo bayangin, kalau Tuhan nggak kasih kesempatan untuk lo jelasin semua ini ke gue, dan gue berakhir tahu semuanya setelah rencana balas dendam gue terlaksana, bakal sehancur apa gue nanti?" tangan Biru terulur, menyentuh pipi Baskara yang terasa dingin. "Lo seharusnya nggak perlu ragu untuk percaya sama gue, Bas. Lo seharusnya ...." kalimat Biru tersendat. Ia merasakan dadanya kembali terasa penuh dan satu-satunya cara untuk menahan diri agar tidak kembali menangis adalah dengan menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Lo seharusnya nggak menderita sendirian, Baskara." Lirihnya untuk terakhir kali, sebelum ia duduk bersimpuh di samping sofa lalu menenggelamkan wajahnya di lipatan lengan pemuda itu yang dijadikan bantal oleh sang empunya.


...****************...


Di tempat lain, subuh itu menjadi waktu yang menyebalkan bagi seorang Fabian. Sebab, sudah berjam-jam ia membaringkan dirinya di atas kasur, tetapi ia sama sekali tidak bisa tidur. Kepalanya ribut sekali, penuh dengan hal-hal yang saling terhubung di satu sisi, namun terasa jauh di sisi-sisi yang lainnya.


Rasa manis yang tertinggal dari kecupan yang dibuat oleh Sabiru adalah salah satu hal yang membuatnya tak kunjung terlelap. Tetapi fakta bahwa Sabiru melakukannya di depan Baskara, adalah hal lain yang lebih banyak membuat Fabian merasa khawatir.

__ADS_1


Belum lama. Mungkin baru sekitar dua hari lalu ketika Fabian akhirnya mengetahui bahwa memang ada sesuatu di antara Baskara dan Sabiru. Berbekal sedikit kemampuannya untuk mencari tahu, ia berhasil menemukan fakta bahwa mereka ternyata adalah kekasih di masa lalu. Entah apa yang membuat mereka putus, dan bagaimana hubungan romantis itu berubah menjadi perang dingin yang tak kasat mata.


Yang jelas, semuanya kini menjadi masuk akal. Mengapa Baskara negitu bernafsu menjadikan Sabiru sebagai bahan taruhan di antara begitu banyaknya mahasiswi yang ada di kampus. Mengapa pemuda itu selalu menunjukkan tatapan yang berbeda kepada Sabiru. Dan yang terpenting, alasan mengapa Sabiru rela dijadikan bahan taruhan padahal itu jelas akan membuat citra dirinya memburuk.


Fabian mengembuskan napas panjang, lalu bergerak pelan menyentuh bibirnya seraya melayangkan pandangan kosong ke langit-langit kamarnya. Samar-samar, ia bisa merasakan bagaimana bibir Sabiru bergerak pelan di sana, meninggalkan begitu banyak sentuhan yang berakhir membuatnya nyaris gila.


Jangan terkejut, tapi itu adalah ciuman pertamanya. Tidak seperti anggota Pain Killer yang lain, yang gemar sekali bermain dengan beraneka ragam perempuan, ia menjadi satu-satunya yang bahkan tidak pernah merasakan apa yang namanya ciuman. Ketakutannya untuk tidak melahirkan anak-anak lain seperti dirinya telah membuatnya menutup hati rapat-rapat, sehingga tak satupun perempuan berhasil mampir walaupun ada juga di antara mereka yang pernah berhasil membuatnya sedikit tertarik.


Fabian tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta kepada siapapun. Tidak sama sekali.


Tetapi, mengapa jantungnya berdegup cepat sekali kala bibir Sabiru menyentuh bibirnya malam tadi? Apakah itu semacam respons tubuh alami yang akan ditunjukkan setiap kali bersentuhan dengan orang lain, atau justru karena ia meras khawatir bahwa Baskara mungkin akan mengamuk karena mantan pacarnya menyentuh orang lain di depan matanya sendiri?


"Anjing, lah." Gerutunya. Sekarang ini, ia merasa bagai berada di tengah-tengah medan perang. Ia adalah sandera, yang ke arah mana pun ia dibawa, nasibnya tetap tidak akan berakhir baik.


Kenapa Sabiru dan Baskara harus menyeretnya ke dalam perang dingin ini? KENAPA?!


"LO BERDUA ANJING!!!" seru Fabian seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2