
"Baskara is back" kemudian menjadi topik perbincangan hangat di base kampus sejak pagi. Berbagai cuitan telah diunggah, beribu like dan re-tweet bermunculan pun dengan komentar-komentar yang secara garis besar semuanya sama; mereka senang Baskara kembali.
Dari sekian banyak yang bereaksi heboh, jajaran fans garis keras pemuda itu jelas menjadi yang paling menarik perhatian. Usai kelas, banyak sekali gadis dari fakultas lain yang menyambangi Fakultas Teknik, hanya untuk melihat keberadaan Baskara secara langsung. Mereka ingin memastikan bahwa Their King telah benar-benar kembali dengan keadaan yang baik.
"Ini sih udah gila," komentar Juan sambil nyemil keripik kentang hasil curian—ia mencomotnya dari kantin, dan belum membayar.
Baskara yang notabene adalah peran utama dalam pertunjukan kali ini malah terlihat biasa saja. Pemuda itu hanya terus melangkah santai dengan satu tangan yang masuk ke saku jaket, sedangkan satu lagi asyik menggulir layar ponsel. Di samping pemuda itu, Fabian juga tak banyak bicara.
"Well, ini adalah bukti bahwa Neo nggak akan berjalan sama kalau nggak ada Baskara," celetuk Reno, membuat Baskara akhirnya terkekeh.
"Sehebat itu memang pengaruh gue." Kata Baskara masih dengan tatapan yang fokus pada layar ponsel.
Kerumunan mahasiswi masih terlihat bahkan sampai mereka tiba di parkiran. Mereka hanya berdiri di kejauhan, tidak berani berjalan lebih dekat seolah Baskara adalah sang paduka raja dan mereka hanyalah rakyat jelata yang tidak boleh melewati batas.
Tapi kemudian, Baskara mulai merasa ada yang aneh. Dengan gerakan super-lambat, ia menaikkan pandangan lalu mengedarkannya ke seluruh penjuru yang bisa dijangkau oleh matanya. Satu persatu orang yang tertangkap matanya ia pindai demi mencari keberadaan satu orang yang sejak beberapa hari terakhir tak lagi nampak di hadapannya.
Jasmine. Ke mana perginya gadis ular itu? Bukankah merupakan sesuatu yang aneh untuk tidak menemukan keberadaannya di tengah kerumunan orang-orang yang antusias menyambut kedatangannya? Bukankah gadis itu telah ditakdirkan untuk hidup yang lama, agar bisa terus mengganggu hidupnya? Lantas, di mana dia sekarang? Mengapa gadis itu seolah menghilang bak ditelan bumi, di saat kesepakatan mereka belum habis?
Atau ... gadis itu berusaha ingkar janji? Apakah diam-diam Jasmine telah menarik diri, hanya agar bisa mengganggu Sabiru tanpa sepengetahuan dirinya?
"Guys," bisiknya. Ponsel yang semula dipuja-puja bagai dewa, ia masukkan ke dalam saku celana—masih dengan gerakan lambat.
__ADS_1
Tak ada yang menyahut, tapi Baskara tahu tiga temannya telah mencurahkan atensi kepadanya secara penuh. Baskara mengedarkan pandangan sekali lagi untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Dan memang benar, tidak ada sosok Jasmine di antara orang-orang itu.
"Ada yang lihat Jasmine nggak?" tanyanya sembari menoleh ke arah tiga temannya yang berhenti di belakang. "Gue sama sekali nggak lihat dia. Di party kemarin, dia juga nggak muncul."
"Ya bagus, lah. Berarti lo nggak usah pusing lagi ditempelin sama tuh manusia ular." Reno sewot sendiri. Kalau sudah membahas soal Jasmine, pemuda itu memang cenderung cepat emosi.
"Nggak bagus, Ren. It's kinda weird, don't you think so?"
Reno mengerutkan kening, tampak berpikir. "Ya ... aneh, sih. Tapi tetap kabar bagus, kan, kalau dia nggak lagi gangguin lo?"
Baskara menggeleng sebagai awalan sebelum bibirnya terbuka. "Nggak ada yang bagus sama sekali. Kodrat dia adalah gangguin orang lain, jadi kalau dia tiba-tiba anteng, kita justru harus waspada." Ditatapnya ketiga teman satu persatu, berusaha meyakinkan bahwa ada yang tidak beres dengan Jasmine.
Reno terdengar mendesah berat. Kemudian, ia menatap Baskara lekat-lekat. "Gue bakal cari tahu." Katanya, kemudian berlalu lebih dulu meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk menduga-duga ada apa gerangan dengan seorang Samara Jasmine.
...****************...
Sementara itu, yang dicari-cari ternyata justru sedang tersenyum senang. Hatinya riang, sebab keinginannya akhirnya dikabulkan oleh Sera.
Saat ini, Jasmine dan Sera tengah duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe tak jauh dari kampus. Gadis itu begitu bersemangat saat Sera menelepon untuk bertemu, demi menyerahkan apa-apa saja yang ia request tempo hari.
Di atas meja, tergeletak satu map berwarna cokelat dan satu kunci mobil mewah di atasnya. Jasmine sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari dua benda tersebut sejak tadi. Senyumnya pun semakin merekah saat dua benda itu didorong lebih dekat ke arahnya oleh Sera selagi perempuan itu berkata, "Yang kamu minta."
__ADS_1
Tidak ada sejarahnya seorang Samara Jasmine malu-malu. Maka dua benda itu segera ia ambil dengan gerakan super-cepat. Map cokelat dibuka, yang isinya ternyata adalah surat kepemilikan sebuah unit apartemen mewah atas nama dirinya. Kalau untuk kunci mobil, ia tidak perlu mencari tahu lebih banyak karena logo yang terpampang pada benda kecil itu jelas sudah menjelaskan seberapa fantastis harganya.
"Makasih, Tante." Ucapnya girang. Tidak tahu saja kalau ada harga mahal yang harus dia bayar untuk hal-hal material yang kini dia nikmati. Sebab tidak ada yang gratis di dunia yang kejam ini.
Sera hanya menatap datar sosok Jasmine yang masih tampak begitu antusias menyambut segala kemewahan yang dia berikan. Ia bersedia menunggu, memberi gadis itu sedikit lebih banyak waktu untuk merayakan euforia-nya sebelum nanti kegembiraan itu ia tebas habis tanpa sisa.
"Jangan lupa, kamu juga punya kewajiban untuk menghapus semua rekaman yang kamu punya, tanpa sisa." Sera memperingatkan usai melihat Jasmine meletakkan kembali hadiah yang dia berikan ke atas meja.
Jasmine tersenyum simpul. Sebuah ponsel ia keluarkan dari dalam tas, kemudian di depan mata Sera, ia menghapus file rekaman yang ia miliki. "Done, Tante."
"Kamu yakin nggak menyimpan duplikatnya?" tanya Sera memastikan.
Tanpa ragu, Jasmine menganggukkan kepala. "Cuma ini satu-satunya file yang saya punya."
Sera menatap tepat ke manik Jasmine untuk membaca lebih jauh apakah ada kebohongan yang terpancar di sana atau tidak. Namun, baru enam detik, dia sudah menyerah. Bukan apa-apa, ia hanya mengganggap hal itu sia-sia. Karena ... keputusan akhirnya akan tetap sama. Entah Jasmine masih memiliki file rekaman itu atau tidak, Sera akan tetap meminta bayaran atas kelancangan gadis itu ikut campur ke dalam urusannya.
"Oke. Saya percaya," ucapnya tenang. Ia kemudian meraih tas tangan yang dia letakkan di kursi sebelah lalu bangkit dari duduknya. "Saya rasa, sampai di sini saja hubungan kita. Tolong jangan melampaui batas lagi, saya serius." Sera memperingatkan. Tapi dari raut wajah Jasmine yang masih terlihat tenang, gadis itu sepertinya punya insting yang buruk soal mempertahankan diri. Tidak apa-apa, justru bagus karena itu artinya akan lebih mudah bagi Sera untuk membuat gadis itu bungkam.
Tak sepatah katapun lagi yang keluar setelahnya. Sera segera pergi dari cafe, menghampiri Abraham yang telah menunggunya di dalam mobil—siap menerima perintah selanjutnya.
Bersambung
__ADS_1