Taruhan

Taruhan
Menjadi Pusat Perhatian


__ADS_3

Hari Senin adalah hari paling menyebalkan. Biru yakin ini bukan cuma opininya saja, karena di banyak kesempatan, ia telah menemukan statement ini keluar dari mulut banyak orang.


Beberapa hari tidak menginjakkan kaki di kampus membuatnya merasa sedikit asing. Di mana satu-satunya yang membuatnya percaya ia tidak pergi ke tempat yang salah adalah bisik-bisik yang kini kedengaran samar di telinga. Juga tatapan tidak suka yang jelas ditujukan kepada dirinya di sepanjang langkahnya menuju ruang kelas.


Biru tidak suka menjadi pusat perhatian. Ia tidak suka dirinya digunjingkan. Tapi kalau hal itu harus ia lalui untuk menuju pembalasan dendam yang sempurna, Biru tidak akan keberatan.


"Sumpah ya, tapi Biru emang cantik. Aura dia juga badass abis cuy, agak nggak heran kalau semisal Fabian beneran naksir, nggak cuma jadiin dia bahan taruhan."


"Nggak ah, menurut gue dia sama aja kayak bahan taruhan mereka yang lain."


"Tapi, keberanian dia buat ngelawan Jasmine patut diacungi jempol, sih."


"Dia nggak mungkin seberani itu kalau nggak punya bekingan nggak, sih? Gue curiga dia sebenarnya juga salah satu anak yang berpengaruh."


"Semacam hidden child gitu maksud lo? Kayak yang ada di drama-drama viral itu, yang nyamar jadi anak biasa, padahal sebenarnya anak orang berpengaruh?"


"Itu agak berlebihan sih."


"Tapi dia beneran berani, anjir."


"Kalau Fabian beneran pacaran sama dia, bukan cuma taruhan, gimana dong? Ih, gue belum siap kalalu salah satu pangerannya Pain Killer sold out."


"Nah, itu dia. Padahal agenda taruhan mereka kan seru ya, hiburan gitu buat kita-kita juga."


Dan masih banyak lagi kalimat yang ia dengar dengan usaha ekstra menajamkan indera pendengaran.


Bisik-bisik itu juga masih terdengar di ruang kelas. Namun Biru tidak lagi berusaha menajamkan indera pendengaran untuk menguping apa yang sedang mereka gunjingkan karena sudah pasti itu tidak berbeda jauh dari apa yang sudah ia dengar.


Biru duduk di posisi seperti biasa. Mengeluarkan satu persatu alat tempur dari dalam tas kemudian menghabiskan waktu bermain ponsel sebentar selagi menunggu dosen pengajar masuk ke dalam kelas.


Sedang asik scroll sosial media untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di seluruh belahan dunia, sebuah ide brilian tiba-tiba saja muncul di kepala.

__ADS_1


Dengan senyum yang terkembang, jemari lentiknya menari-nari di atas keypad, menuliskan pesan untuk kemudian ia kirimkan kepada Fabian.


Tiga detik setelah tanda centang dua berwarna abu-abu muncul di bagian bawah pesan yang ia kirimkan, dosen pengajar memasuki kelas. Ponsel ia letakkan di atas meja, lalu ia sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada dosen yang bercuap-cuap di depan kelas.


...****************...


Lima menit sebelum kelas dimulai, Fabian terpaksa mengeluarkan kembali ponsel yang telah dia masukkan ke dalam saku jaket. Hanya untuk disuguhi satu pesan yang dikirimkan oleh Sabiru.


Gue tadi ke kampus naik ojol. So, kalau nggak merepotkan, boleh gue nebeng lo nanti pas pulang?


Fabian menggeleng pelan setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh gadis itu, lalu mengetikkan ok sebagai sebuah jawaban karena dia terlalu malas berdebat. Lagipula, dia yang akan datang mengunjungi Biru, jadi seharusnya orang-orang paham kalau saat ini mereka—anggota Pain Killer—sedang dalam misi taruhan.


Usai membalas, Fabian kembali mengantongi ponselnya dan fokus menatap layar di depannya yang masih padam. Sebab dosen pengajar belum juga menampakkan batang hidungnya.


Sementara itu, di sebelahnya, Baskara diam-diam mengamati semua gerak-geriknya sejak tadi, tanpa ia sadari. Pemuda itu terus memaku tatap, mencuri pandang pada teks yang tertera di ponsel, hanya untuk berakhir mengatupkan bibir rapat-rapat dengan gigi yang saling bergemeletuk di dalam sana. Satu tangannya yang ada di atas pangkuan terkepal kuat, tetapi raut wajahnya masih saja di-setting sedemikian rupa agar tetap terlihat baik-baik saja.


...****************...


Di depan ruang kelas, Biru menunggu dengan senyum yang terkembang sampai ke telinga. Gadis itu juga sempat melirik sinis ke adah duo gadis pembuat onar yang kini tak lagi mampu berkutik saat berhadapan dengan dirinya.


Suara-suara yang teredam bagai dengungan sekelompok lebah sudah tidak lagi Biru hiraukan. Ia dengan senang hati menerima uluran tangan Fabian ketika pemuda itu akhirnya sampai di hadapannya, dengan raut wajah datar yang sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya.


"Kaki lo udah beneran sembuh?" tanya Fabian ketika mereka berjalan melewati segerombolan mahasiswa.


Perlu Biru akui bahwa respons Fabian untuk setiap keributan yang terjadi di sekitar mereka cukup oke. Alih-alih merasa terganggu, Biru melihat pemuda itu santai saja dengan tatapan yang lurus ke depan.


"Kalau kaki gue masih sakit, lo mau gendong gue?" goda Biru. Ia perlu sedikit menempelkan tubuhnya kepada Fabian untuk bisa membisikkan kalimat itu. Tentu saja, agar orang-orang yang mereka lewati tidak mendengar rencana mereka.


Fabian melambatkan langkahnya, menoleh sedikit ke arah Biru. "Dan bikin orang-orang ini ngereog?" tanyanya. Tidak sampai Biru menjawab, ia sudah kembali melanjutkan. "Sorry, nggak dulu. Gue lagi males nyari gara-gara."


Kalimat itu membuat Biru tergelak, yang tentu saja jadi menarik lebih banyak perhatian. "Seru tahu, berasa jadi artis dadakan." Candanya.

__ADS_1


"Pala lo artis," cibir Fabian. Kemudian, entah bagaimana, genggaman tangan malah semakin ia eratkan dan langkah yang diayunkan juga kian lebar. Setiap masa orang yang ada di sana masih terus memandang, bahkan sampai kini mereka menjauh dari area fakultas menuju parkiran.


"By the way," Biru melepaskan genggaman tangan Fabian ketika mereka sampai di samping mobil pemuda itu. "Habis ini, lo mau ke mana?"


"Kenapa?"


Biru berdecak pelan. "Kalau ditanya tuh jawab, bukannya malah nanya balik."


"Mau cabut sama teman-teman gue. Kenapa?"


"Yah, padahal gue mau ngajakin lo nonton film horor di apartemen gue."


"Gue nggak suka nonton film horor."


"Kenapa? Takut?" sindir Biru. Mukanya sudah dalam mode julid.


Namun, Fabian tetap santai saja saat menjawab. "Nggak logis." Disertai raut wajah yang masih saja datar.


"Hah?"


"Film horor itu nggak logis. Nggak ada ceritanya orang yang udah mati bisa bangkit lagi cuma buat jadi hantu dan nakut-nakutin manusia." Dengan santainya, Fabian membuka pintu mobil bagian penumpang. Tak lupa ia persiapkan tangannya di bagian atas, sebagai langkah pencegahan agar si biru yang ceroboh tidak melukai kepalanya saat hendak masuk ke dalam mobil.


Bukannya masuk, Biru malah mematung, bengong menatap Fabian selagi otaknya mencerna alasan yang pemuda itu berikan kepadanya.


"Hah?" cicitnya.


"Hah heh hah heh mulu lo. Buruan masuk! Gue udah ditungguin sama teman-teman gue!" tak sabar, Fabian menarik lengan Biru. Didorongnya pekan tubuh gadis itu dengan tetap memastikan kepalanya aman, kemudian pintu ditutup secepat mungkin sebelum bibir cerewetnya kembali merepet.


Secepat kilat, Fabian berlarian menuju sisi pengemudi, melompat naik dan segera tancap gas karena dia sadar orang-orang mulai semakin memperhatikan mereka.


Dan seperti biasa, semua itu disaksikan oleh Baskara yang berdiri diam di satu sudut yang jauh dari jangkauan orang-orang. Pemuda itu menyakui kedua tangannya, dengan tatapan yang tak lepas dari mobil yang membawa Biru dan Fabian sampai akhirnya mobil itu benar-benar lenyap dari pandangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2