Taruhan

Taruhan
Dihukum


__ADS_3

"Papa masih marah sama Baskara?" tanya Baskara pelan kepada Jeffrey yang kini duduk di sisi kanan ranjang. Lelaki itu sedari tadi hanya diam, memfokuskan pandangan pada tablet di tangan.


"Nggak." Jawab Jeffrey singkat. Jari telunjuknya yang panjang menggulir layar tablet, matanya bergerak mengikuti deretan kalimat yang tertera di sana. Raut wajahnya serius, meksipun Baskara tidak yakin apakah ayahnya itu memang sedang bekerja atau hanya sok menyibukkan diri agar tidak ia tanya-tanya.


"Tapi mukanya seram?" cicit Baskara. Takut-takut ia melirik ke arah sang ibu, yang sayangnya tidak banyak memberikan pertolongan.


Sejak mereka kembali dari rooftop pagi tadi sampai kini menjelang makan siang, perempuan itu lebih banyak diam. Tidak terlihat usaha untuk membujuk suaminya agar kembali berbicara. Jangankan membujuk, tampak berusaha mengajak bicara pun tidak.


Suasana suram yang tercipta hampir sama ketika Baskara menemukan ayah dan ibunya terlibat perang dingin di hari yang lalu. Bedanya, sekarang justru dia lah yang menjadi alasan utama mengapa kesuraman ini terjadi.


Memangnya, Baskara juga akan menyangka kalau kaburnya ia hanya untuk merokok bisa memberikan efek yang begini dahsyatnya? Tentu tidak. Bahkan ketika ia tahu dirinya terjebak di atas rooftop, terpaksa menghabiskan malam bertemankan dingin sekalipun, ia tidak pernah menyangka bahwa reaksi ayahnya akan semenyeramkan tadi.


Meksipun lahir dari keluarga yang memiliki status sosial tinggi, Jeffrey hampir tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk marah-marah pada orang-orang yang status sosialnya berada di bawahnya. Jadi, ketika melihat Jeffrey memarahi petugas keamanan di rooftop rumah sakit pagi tadi, sampai membuat lelaki kurus itu gemetar ketakutan, Baskara tahu level amarah yang ada di dalam diri Jeffrey sudah sangat tinggi. Ia yang tadinya masih bisa cengengesan pun mendadak kicep, tak mampu lagi memberikan perlawanan.


"Muka Papa biasa aja," sahut Jeffrey lagi, masih enggan mengalihkan pandangan dari tablet.


Baskara mendengus sebal dan kembali menatap sang ayah. "Itu seram," gumamnya. Semakin lama, ia semakin lekat menatap wajah tampan sang ayah. "Papa seram." Ulangnya. Hanya untuk dihadiahi embusan napas kasar dari sang ayah.


Kemudian, ia melihat ayahnya bergerak pelan meletakkan tablet ke atas nakas. Satu tarikan napas yang begitu dalam diambil sebelum lelaki itu menatapnya, begitu dalam dan lekat. "Papa nggak marah sama kamu," katanya.


"Terus sama siapa?" tanya Baskara. Pernyataan tidak marah padanya dia anggap sebagai tanda bahwa kemarahan itu tertuju untuk orang lain. Bukan begitu?


"Sama diri Papa sendiri." Kata Jeffrey.


Baskara yang awalnya sudah menyiapkan banyak sekali argumen untuk mendebat sang ayah, sontak mengatupkan kembali bibirnya rapat-rapat.


"Papa marah sama diri Papa sendiri karena nggak becus jagain kamu," kata Jeffrey lagi. Melalui tatapan matanya yang begitu intens, Baskara akan meyakinkan diri bahwa apa yang Jeffrey katakan adalah jujur.


Memang, lelaki itu telah menelantarkan dirinya selama bertahun-tahun, membuatnya kerap kali mempertanyakan apakah dirinya masih dicintai atau tidak. Tetapi, Baskara masih selalu bisa merasakan keinginan Jeffrey untuk melindungi dirinya. Semacam naluri seorang ayah, mungkin?

__ADS_1


Suasana suram perlahan-lahan menyingkir, tetapi itu bukan kabar baik. Karena setelahnya, justru tercipta suasana canggung yang begitu asing. Baskara berdeham keras untuk melegakan tenggorokannya yang terasa serak. Kontak mata dengan sang ayah pun ia putus, memilih berpura-pura serius menonton siaran berita yang tayang melalui televisi.


"Jangan kayak gitu lagi,"


Baskara pura-pura tuli. Malahan, ia mencoba bersenandung, mengangguk-anggukkan kepala untuk mengikuti irama musik yang hanya terputar di kepalanya saja. Kembali ia melirik sang ibu yang duduk di sofa, dan yang dia dapati adalah tatapan yang terlalu sulit untuk ia terka sendiri apa maknanya.


"Bas," panggil Jeffrey dengan suara yang tegas.


Mau tidak mau, Baskara menoleh, mengakhiri drama pura-pura tuli yang baru dia jalankan sebentar. "Apa?" sahutnya.


"Jangan kabur-kaburan lagi, apalagi sampai bikin bahaya diri kamu sendiri." Jeffrey mengulangi kalimat yang sebelumnya.


Karena sadar dirinya bersalah, Baskara cuma bisa manggut-manggut saja. Minta maaf sudah, berjanji untuk tidak mengulangi lagi juga sudah. Jadi seharusnya dia sudah aman, kan?


But ... tentu tidak.


Dengan Jeffrey, masalahnya mungkin sudah selesai. Tetapi dengan Sera, Baskara masih harus menjalani negosiasi panjang sebelum sepenuhnya mendapatkan pengampunan dari sang ibu.


"Maaf atuh ih," rengeknya, sebelum sang ibu membuka suara. "Nggak ngulangin lagi, janji." Sambungnya sambil nyengir, tak lupa mengangkat dua jari membentuk huruf V.


"Tiga hari." Celetuk Sera tiba-tiba. Sontak saja, Baskara mengerutkan keningnya kebingungan. Apanya yang tiga hari?


"Jatah kamu dirawat di sini nambah tiga hari. Plus, Mama akan minta dua orang buat jagain di pintu depan, biar kamu nggak punya kesempatan buat kabur-kaburan lagi."


"Nggak mau!" protes Baskara. Dia sudah bosan dengan suasana rumah sakit. Dan, apa katanya tadi? Dia akan dijaga oleh dua orang? Oh, ayolah, dia bahkan bukan anak presiden yang harus dijaga sedemikian rupa!


Tapi keputusan yang sudah Sera buat tidak pernah bisa diganggu gugat. Kalau perempuan itu bilang A, ya harus A. Tidak ada seorang pun dimuka bumi ini yang akan bisa melawan keputusannya.


Mengabaikan Baskara yang kini mengusak rambutnya sendiri frustrasi, Sera berlalu dari sana. Perempuan itu tampak sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, lalu Baskara tidak bisa mendengar banyak ketika tubuh sang ibu menghilang di balik pintu kamar rawat yang ditutup.

__ADS_1


"Pa...." rengeknya kepada Jeffrey. "Nggak mau nambah hari...."


Jeffrey menggeleng pelan. "Itu konsekuensi karena udah bikin Mama khawatir setengah mati." Kata lelaki itu acuh tak acuh. Tablet di atas nakas kembali ia raih, lalu ia tekuri bagai benda paling keramat di jagad raya.


"Papa, maaaaaahhhh." Baskara merengek bagai bayi, namun Jeffrey sama sekali tidak peduli.


...****************...


Tiga hari. Baskara terus mengulangi itu di dalam kepalanya bahkan sampai kini matahari sudah sepenuhnya menghilang dari pandangan.


Saat ini, ia sedang duduk sendirian di atas sofa, memberengut meratapi nasibnya yang sudah bagaikan tawanan perang.


Sesuai yang sudah dikatakan, Sera betulan menempatkan dua orang penjaga berseragam serba hitam di depan pintu kamarnya. Jangankan kabur, melongokkan kepala sedikit saja, Baskara sudah dihadiahi tatapan sangar dari dua orang penjaga laki-laki dengan otot yang segede gaban itu.


Ayah dan ibunya sedang tidak ada di sana sekarang, entah ke mana perginya karena ia sama sekali tidak diberi tahu. Yang Baskara tahu cuma dua orang itu pergi masing-masing, untuk urusan yang berbeda.


Bosan karena hanya duduk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sejak dua jam terakhir, Baskara pun berjalan gontai menuju ranjang pasien. Tubuhnya ia bawa naik, ia hempaskan perlahan setelah meraih ponsel dari atas nakas.


Selama beberapa saat, yang Baskara lakukan hanyalah menggulir layar ponselnya tanpa tujuan yang jelas. Kadang-kadang ia iseng membuka laman Twitter untuk melihat apa yang sedang trending. Kadang-kadang ia pergi ke Instagram untuk mengintip postingan dari beberapa gadis seksi yang ia follow. Dan kadang ia hanya diam terpaku menatapi wallpaper ponselnya yang diisi oleh gambar anjing pudel berwarna putih milik sepupu jauhnya.


Sampai akhirnya, kegiatan itu juga tetap membuat Baskara merasa bosan. Berita yang ia temukan di Twitter tidak terlalu menarik, pun dengan foto-foto gadis seksi di Instagram yang sudah tidak lagi membuat matanya berbinar-binar.


Pukul setengah tujuh, hari Jumat. Tiga temannya mungkin sedang merencanakan untuk hang out di Mega, sedangkan satu gadis kecintaannya sudah pasti tidak akan dengan senang hati datang menjenguk tanpa ajakan seorang Fabian.


"Anjing, lah. Gue doang ini yang nggak bisa ke mana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain juga." Gerutunya. Ia bangkit lagi dari kasur, duduk berpasrah setelah mengacak-acak rambutnya hingga tak berbentuk.


Sempat terpikir di kepalanya untuk merancang skenario kabur yang lebih proper, tapi kemudian dia ingat bahwa hukuman yang akan dia terima sebagai konsekuensinya mungkin akan jauh lebih buruk ketimbang dikurung di kamar rawat selama tiga hari dengan penjagaan ketat.


Akhirnya, yang bisa Baskara lakukan cuma mengembuskan napas kasar berkali-kali.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2