Taruhan

Taruhan
It's Okay to Cry


__ADS_3

Ponsel penginggalan Raya ternyata bukan apa-apa. Itu hanya seperti pintu gerbang yang membawa Fabian menuju sebuah tempat di mana ada lebih banyak kebenaran yang tersimpan selama 20 tahun lebih.


Di dalam buku jurnal yang Fabian temukan sebelumnya, ternyata Raya telah menuliskan setiap hal yang terjadi di dalam hidupnya. Mulai dari saat Jeffrey menerobos masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan mabuk, lalu merenggut hal paling berharga yang dia junjung tinggi seumur hidup sebagai seorang wanita. Ketika lelaki itu bangun keesokan harinya dan seolah tidak terjadi apa-apa—berujung pada keputusan dipindahkannya Raya ke luar negeri demi menjaga nama baik keluarga. Ketika Raya dihadapkan pada pilihan yang sulit antara mempertahankan anak yang tumbuh di rahimnya, atau membiarkannya mati tanpa memiliki kesempatan untuk melihat dunia. Sampai ketika Raya jungkir balik mempertaruhkan segala hal yang dia punya agar Fabian bisa tetap lahir dan dia bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu—hal yang dia impi-impikan sejak dulu.


Tak sampai di sana, Raya juga menuliskan secara rinci setiap momen tumbuh kembang Fabian sejak bayi. Hari pertama anak itu bisa membalikkan badannya ke posisi tengkurap. Hari pertama anak itu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya selain asi. Hari pertama ketika anak itu mulai belajar berjalan. Sampai ketika anak itu pertama kali menjejakkan kaki di bangku sekolah dasar. Raya menuliskan semuanya dengan euforia yang megah, sebagai perayaan atas keberhasilannya melahirkan seorang anak tampan yang tidak pernah menangis sekalipun dia tidak bisa bersikap ramah tamah kepada anak itu.


Di buku jurnal itu, Raya juga menuliskan apa saja yang dia lewati selama membesarkan Fabian. Ada masa-masa di mana dia merasa begitu frustrasi hingga berpikir untuk menghabisi nyawa anak itu, lantas menyusul tak lama setelahnya. Dalam tulisannya, Raya berpikir dunia ini terlalu kejam untuk ditinggali oleh anak-anak tak berdosa seperti Fabian, sehingga dia berpikir mati mungkin akan membawa anak itu menuju tempat yang lebih baik.


Sampai akhirnya, dia menyerah. Dari dua kali percobaan yang pernah dia lakukan—semuanya gagal—Raya akhirnya memutuskan untuk tetap membiarkan putranya hidup. Dia hanya bisa membisikkan doa ke telinga Fabian ketika dia datang diam-diam ke kamar anak itu pada tengah malam. Dan Fabian tidak pernah tahu itu, jika dia tidak menemukan buku jurnal ini.


Dari sekian banyak tulisan yang tertuang di sana, ada satu bagian yang paling membuat dada Fabian terasa sesak. Yaitu adanya sebuah kalimat yang selalu Raya tuliskan di setiap dia selesai menulis di satu halaman.


“Semoga kelak, hari baik itu akan segera tiba. Hari di mana saya dan Fabian—putra saya yang tercinta—bisa hidup bahagia tanpa dibayangi rasa takut dan tertekan.”


Kalimat yang kini membuat Fabian mengerti sepenuhnya, bahwa lebih daripada dirinya, Raya jauh lebih terluka.


Membaca isi di dalam buku jurnal milik Raya tanpa terasa telah membuat air mata Fabian kembali menetes. Dia bahkan sejenak lupa, kalau masih ada Sabiru di kamar bersamanya. Ia menolak mengantarkan gadis itu pulang, berniat membuat sedikit keributan agar Baskara datang mengunjunginya demi menghadiahkan sebuah pukulan. Dia harap, dengan begitu, kewarasannya akan sedikit kembali.


Sekarang sudah hampir tengah malam. Jarum pendek di jam dinding sudah hampir menyentuh angka 12. Padahal rasanya, dia baru duduk atas meja belajarnya dan menekuri buku jurnal milik Raya beberapa menit yang lalu.


“Lo nggak serius mau bikin gue nginep di sini, do you?”

__ADS_1


Fabian meletakkan buku jurnalnya, mengusap air mata yang meleleh di pipi lantas memutar kursi sehingga kini dia bisa menatap Sabiru yang duduk di tepian ranjangnya. Gadis itu bersedekap, dan Fabian jelas itu adalah bentuk upaya gadis itu untuk tidak menunjukkan kepadanya something yang menyembul dari balik kaus hitam tebal yang dia kenakan.


“Gue masih berduka, nggak ada tenaga buat anterin lo pulang.” Ucap Fabian. Soal dirinya yang masih berduka adalah fakta, tapi perihal tenaga yang tidak ada untuk sekadar menginjak pedal gas adalah sebuah kebohongan yang dia buat-buat. “Telepon pacar lo gih, minta dia jemput.”


Biru tampak mendengus, lalu bangkit dari duduknya dengan masih melipat kedua lengannya di depan dada. “Bisa jadi reog dia kalau tahu gue masih ada di sini.” Ucap gadis itu. Lalu, dia menyodorkan ponselnya kepada Fabian, menunjukkan room chat dengan Baskara yang di sana, gadis itu menuliskan bahwa dia sudah diantar pulang sejak 3 jam yang lalu.


“Gue terpaksa bohong sama Baskara, demi lo.” Kata gadis itu lagi.


“Nggak ada yang nyuruh lo bohong.” Sahut Fabian acuh tak acuh.


“Terus lo berharap gue gimana? Jujur sama Baskara, terus dia datang ke sini dan kalian baku hantam?”


“Orang gila.”


“Udah dari lama gue gila, Bi.”


Hening. Biru tidak menyahut karena dia sadar ada yang lain dari cara Fabian berbicara. Secara kasat mata, pemuda itu memang tidak terlibat seperti seseorang yang sedang berduka. Tidak ada tangis ratapan, meraung-raung seperti dunianya telah runtuh dan dia tidak memiliki apa-apa lagi di dunia. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan mengapa yang dia lontarkan sebagai bentuk protes terhadap keputusan Tuhan. Tapi, melalui sorot mata yang terlihat rapuh itu, Biru tahu Fabian jelas menangis meraung-raung di dalam hatinya. Pemuda itu mungkin hanya terlalu terbiasa untuk memendamnya sendirian, sehingga ketika ada kesempatan untuk bisa meluapkan segala perasaan yang ada di dalam hatinya sekalipun, dia memilih untuk tetap menyimpannya.


Di tengah keheningan itu, Fabian tiba-tiba saja terkekeh. Terlihat sekali usahanya untuk mencairkan kembali suasana—yang padahal dia sendiri yang telah merubahnya menjadi canggung.


“Serius amat muka lo. Tenang, pacar lo nggak akan gue apa-apain kok—“

__ADS_1


Grep!


Sekarang, giliran Fabian yang membisu. Karena tiba-tiba saja, tubuhnya dipeluk oleh Sabiru. Seakan kekhawatiran gadis itu tentang underwear yang membuatnya begitu heboh beberapa jam lalu, sudah tidak menjadi masalah besar untuknya.


Bukan hanya pelukan, Fabian juga menerima usapan demi usapan di punggungnya yang terasa berat.


“I know you’re not okay. Selama ini, lo mungkin terbiasa buat nggak meluapkan perasaan lo. Tapi, Bi, itu tuh nggak enak. Emosi yang lo pendam itu lama kelamaan cuma akan menumpuk dan malah bikin meledak hebat nantinya.” Kata gadis itu.


“Amarah, kesedihan, kekecewaan. Semua yang lo rasain adalah valid. Lo boleh luapin itu dengan cara teriak, nangis, protes. Apapun itu, yang bisa bikin lo lega.”


“Gue bukan siapa-siapa, dan gue masih nggak tahu apa-apa soal dunia. Tapi kalau lo butuh tempat untuk meluapkan semua perasaan yang lo pendam sendirian selama ini, gue bersedia. Lo bisa datang ke gue. Minta pelukan kayak gini juga nggak apa-apa. Gue bakal kasih, sebagai teman yang pengin hidup lo jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.”


Masih banyak kalimat yang Biru katakan selanjutnya, tapi yang mampu Fabian dengar dan cerna dengan baik hanya sampai di sana. Karena setelahnya, dia merasakan sesak yang luar biasa di dalam dada. Air mata yang dia tahan-tahan, menyembur keluar bagai bendungan yang dibuka, membasahi seluruh bagian wajahnya.


Selama ini, Fabian hanya hidup untuk satu tujuan, yaitu untuk mendapatkan cinta yang layak dari ibunya. Hanya fokus ke sana, sampai-sampai dia lupa bahwa selain ibunya, dia memiliki begitu banyak cinta lain yang tak kalah hebatnya. Teman-temannya, orang-orang yang kebetulan dia bantu saat sedang kesusahan, dan sekarang Sabiru. Dia masih memiliki banyak alasan untuk hidup, terlebih saat dia tahu bahwa untuk tetap bernapas sampai sejauh ini, dia telah menerima begitu banyak pengorbanan dari sang ibu.


Tepat ketika jarum pendek dan jarum panjang secara bersamaan menyentuh angka 12, Fabian menangis sejadi-jadinya di dekapan Sabiru. Mengeluarkan semua emosi negatif yang dia simpan selama 20 tahun lebih dia hidup.


Sementara di luar gerbang rumahnya yang tinggi menjulang, ada Baskara yang sejak berjam-jam lalu berdiam diri di dalam mobil. Pemuda itu datang bukan karena dia khawatir Sabiru tidak akan dipulangkan dengan selamat, melainkan khawatir jika Fabian mungkin jatuh terpuruk dan butuh seseorang untuk memegang lengannya agar tidak jatuh.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2