Taruhan

Taruhan
Cukup


__ADS_3

Suasana di markas besar seketika terasa begitu mencekam selama dan sesudah Baskara menjelaskan perihal hubungannya dengan Sabiru.


Reno selaku guru BK di Pain Killer tak habis-habisnya menghujaninya dan Biru dengan tatapan tajam, tampak bengis bagai titisan iblis.


Juan mungkin masih bisa lebih kalem, tapi raut wajah pemuda itu jelas menunjukkan betapa kesalnya ia karena Baskara hampir saja membawa mereka dalam sebuah pertumpahan darah. Pertanyaannya hanya satu sekarang. Bagaimana jika Fabian sempat benar-benar jatuh cinta pada Biru, dan pemuda itu enggan mengalah? Apakah Baskara si otak udang ini akan mengajak Fabian duel, untuk menentukan siapa yang lebih pantas bersanding dengan Sabiru?


Agak goblok kalau sampai itu benar-benar kejadian.


Sementara itu, Fabian yang memang sudah lebih dulu mengetahui semuanya, hanya diam menyaksikan bagaimana tangan Baskara saling bertaut dengan milik Biru. Dalam pandangannya, mereka kini tampak seperti dua murid SMA yang ketahuan mojok di toilet ketika jam pelajaran olahraga dan sedang disidang oleh guru BK yang terkenal killer abis.


Perut Fabian rasanya geli, seperti ada belasan pasang tangan yang menggelitikinya secara bersamaan hingga membuatnya nyaris memuntahkan tawa—kalau saja dia tidak sempat beradu tatap dengan Reno yang bola matanya sudah nyaris keluar, mungkin dia benar-benar akah tergelak sampai guling-guling di atas lantai.


“Jadi intinya, lo sama dia pernah pacaran sewaktu SMA, terus putus tanpa alasan yang jelas dan lo punya inisiatif buat deketin dia lagi—dengan cara jadiin dia bahan taruhan sebagai pancingan?” tanya Reno sekali lagi.


Baskara mengangguk takut-takut. Terlihat tautan tangannya dengan Biru semakin erat.


Reno mendengus keras. “Tolol.” Cibirnya dengan suara pelan dan tatapan yang masih menghunus tepat ke mata Baskara. “Ini ending-nya aman. Coba lo pikir kalau Fabian atau Biru beneran jatuh cinta? Apa nggak kelabakan sendiri lo nantinya?” sambung sang pemuda dengan suara yang kembali meninggi.


Baskara tidak menyahut, sebab tahu bahwa dirinya memang bersalah. Bukan cuma Biru, tapi pertemanan mereka juga ikut dipertaruhkan dalam hal ini. Wajar kalau Reno sampai mencak-mencak seperti itu.


“Lo tuh cerdas, Bas, tapi juga tolol.” Makin-makin Reno menumpahkan kekesalannya. Dia bahkan sampai menunjuk-nunjuk ke depan wajah Baskara. Lalu, dia beralih menatap Biru yang sedari tadi lebih banyak diam. “Lo juga sama aja tololnya kayak cowok lo.” Katanya.


Sama seperti Baskara, Biru juga tidak punya pembelaan apa-apa. Karena kenyataannya dia memang tolol, persis seperti yang Reno katakan kepadanya. Lebih dari itu, Biru juga merasa dirinya jahat. Hei, tujuan awalnya mendekati Fabian kan memang untuk membuat pertemanan pemuda itu dengan Baskara renggang, ingat? Apa jadinya kalau hal itu benar-benar terjadi?


“Duh, nggak tahu deh! Pusing gue sama kelakuan kalian.” Reno mengacak rambutnya frustrasi. Rasanya lebih memusingkan daripada ketika ia harus memikirkan strategi untuk menghindari berbagai macam les yang ibunya siapkan dulu.


Menyadari situasinya semakin tidak kondusif, Fabian akhirnya melibatkan diri. Ia yang semula bersandar santai di sofa sambil mengunyah permen karet, mulai mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Permen karet yang sudah tak ada rasanya itu ia lepehkan di atas selembar tisu, lantas dibungkus dan dibuang ke dalam tong sampah kecil tak jauh dari tempat mereka berlima duduk.


“Udah Ren,” ucapnya. Ia menatap Reno dengan sorot mata teduh dan segaris senyum yang menenangkan. “Semuanya udah lewat. Yang terpenting sekarang pertemanan kita tetap baik-baik aja, dan Baskara juga bisa meluruskan kesalahpahaman antara dia dan Biru. Gue rasa itu udah cukup, nggak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.”


Juan mengangguk setuju, tapi kemudian kembali menciut kala Reno menatap nyalang ke arahnya. Pemuda itu seakan tidak ingin ada yang berbelok dari sisinya, sebelum dia benar-benar meredakan emosi.


“Terus gimana sama anak-anak lain di Neo? Kalau mereka tahu Baskara sama Biru pacaran, padahal sebelumnya Biru pacaran sama lo—karena taruhan—apa yang bakal mereka pikirin soal kita?”


“Sejak kapalan penilaian mereka penting buat kita?” Fabian menyela. Masih dengan suara yang tenang, sama sekali tak tampak berniat memperkeruh suasana. “Kita Pain Killer, nggak hidup dari penilaian orang-orang.”


Reno mengembuskan napas kasar, lalu merubah posisi tubuhnya menghadap Fabian. “Tetap aja, itu bakal menimbulkan keributan. Dan lo pikir, hidupnya Biru bisa tenang setelah mereka tahu? Nggak ingat lo alasan kenapa gue sama Clarissa sampai harus backstreet selama ini?” saat menyebutkan nama Clarissa, Reno terlihat meringis. Dadanya sudah pasti perih mengingat kisah cintanya yang kandas begitu saja.


“Memangnya siapa yang bilang Baskara sama Biru bakal announce soal hubungan mereka ke orang-orang? Nggak ada, Ren. Mereka datang ke sini, kasih tahu kita yang sebenarnya, ya biar kita tahu, biar nggak ada rahasia di antara kita—sebab kita adalah keluarga. Tapi anak-anak Neo adalah persoalan lain, mereka nggak terkait apapun sama kita, jadi nggak ada yang perlu mereka tahu.” Fabian berusaha menjelaskan melalui sudut pandangnya.


Kalau diibaratkan sebuah persidangan, Fabian kini sedang mengambil peran sebagai penasehat hukum untuk Baskara dan Biru selaku terdakwa, sedangkan Reno adalah hakim ketua dan Juan adalah salah satu juri yang terlibat dalam pengambilan keputusan.


“Mundurin dikit pemikiran lo, jangan kejauhan. Dan soal Clarissa, lo juga masih bisa perjuangin dia kayak Baskara perjuangin Biru sekarang. Lo bisa kok minta bantuan sama kita-kita buat dapetin dia lagi, kalau lo memang mau.”


“Ini bukan karena gue iri—“


“Nggak ada yang bilang lo iri, Reno Irvansyah.”

__ADS_1


Reno seketika bungkam. Selama mereka berteman, Fabian hampir tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya dengan suara yang demikian penuh penekanan. Maka ketika itu terjadi, Reno tahu satu sisi Fabian yang jarang muncul akhirnya terbangun setelah tidur panjang yang lelap.


Tak banyak yang menyadari bahwa Fabian sebenarnya adalah seorang Alpha. Salah satu yang paling dominan di antara mereka jika saja pemuda itu mau bergerak. Hanya saja, sisi dominan itu selalu ditidurkan oleh sang empunya, yang lebih memilih untuk menjalani peran sebagai submissive di dalam kelompok pertemanan mereka.


“Kita masih utuh, jadi gue rasa nggak ada yang perlu dibesar-besarkan lagi. Dan gue harap, pembahasan ini cukup sampai di sini aja. Tolong jangan diributin lagi.”


Tak ada yang bersuara. Karena toh, apa yang Fabian sampaikan sudah seperti vonis final yang tidak bisa diganggu gugat.


Reno boleh jadi berperan sebagai hakim ketua, tapi setelah Fabian yang merupakan penasehat hukum menyodorkan bukti-bukti bahwa klien-nya tidak bersalah, maka Reno pun tak dapat berbuat apa-apa.


Suasana mencekam berubah menjadi kesunyian yang panjang setelahnya. Masing-masing dari mereka sibuk merenung, hingga yang terdengar hanyalah deru napas mereka yang saling tumpang-tindih.


...****************...


Di balkon lantai 2, Fabian dan Baskara duduk berdampingan dengan tatapan yang menerawang ke arah jalanan. Pada lalu-lalang kendaraan yang saling sikut untuk sampai ke tujuan lebih dulu, juga pada tiang-tiang lampu jalan yang menjulang tinggi. Langit di atas mereka berwarna kelabu, dengan sedikit semburat oranye sisa senja yang belum sepenuhnya habis.


Di lantai bawah sana, Biru ditinggalkan sendirian. Dibiarkan tenggelam dalam keheningan yang menerjang lebih keras sejak kepulangan Reno dan Juan setengah jam sebelumnya.


Baskara mengembuskan napas pelan. Bibirnya terbuka untuk menyambut batang rokok yang mengepulkan asap tebal. Lintingan tembakau itu ia hisap dalam-dalam, lalu asapnya dia embuskan secara perlahan, sedikit demi sedikit seperti sedang menitipkan beban di dadanya untuk ikut dibawa keluar.


Di sampingnya, Fabian lebih khidmat lagi menghisap rokoknya sendiri. Sisi Alpha-nya sudah kembali tidur, sehingga kini dia telah menjadi dirinya yang semula. Yang tenang. Yang tak mudah terusik. Dan yang menjadi paling diam.


“Sorry.” Kata Baskara di tengah keheningan yang ada.


Fabian menoleh, pada Baskara yang kini tampak menerawang lebih jauh ke seberang jalan. “Buat?” tanyanya.


“Udah nyeret kalian semua ke dalam kekacauan.” Baskara menghela napas, kemudian menoleh ke arah Fabian. “Gue terlalu pengecut buat tiba-tiba muncul di hadapan Biru lagi, dan malah jadiin agenda taruhan kita sebagai pancingan. Itu goblok, I know.”


“Tapi Reno nggak baik-baik aja,”


“Dia bakal baik-baik aja.” Tegas Fabian. “Paling 2 atau 3 hari dia ngambek, nanti juga baik lagi. Daripada lo mikirin soal Reno, mending lo pikirin Biru. Lo pikirin gimana caranya buat bikin dia stay, dan nggak ninggalin dia lagi kayak yang lo lakuin dulu.”


Karena Baskara tak kunjung menyahut, Fabian melanjutkan. "Lo nggak percaya kalau pertemanan kita itu hebat? Beginian doang mah nggak akan bikin kita renggang, Bas."


"Semuanya akan oke, percaya sama gue." Fabian bangkit, lalu menepuk-nepuk celananya yang terkena abu rokok sebelum berlalu dari sana. "Kalau rokok lo udah habis, cepetan turun. Kasihan Biru lo tinggalin sendirian. Gue mau pulang game bentar di kamar." Pamitnya, kemudian benar-benar berlalu dari sana sebelum Baskara mengiyakan.


Bermenit-menit setelah kepergian Fabian, Baskara masih tak beranjak dari tempatnya. Rokok miliknya jelas sudah habis, tertisa puntung yang teronggok di atas asbak dan abu yang bercecer di sekitarnya. Kepalanya mendadak kembali terasa penuh dengan pertanyaan, "Sudahkah langkah yang dia ambil ini tepat untuk kebaikan semua?"


Tapi sampai berasap kepalanya, tak ada jawaban untuk pertanyaan tersebut.


"Nggak ngerti deh gue. Bodo ah," pasrahnya, kemudian bangkit dan berjalan masuk seperti yang sebelumnya Fabian titahkan.


...****************...


Mobil yang dikendarai Jeffrey memasuki halaman rumah, tepat ketika mobil Sera lebih dulu parkir di garasi. Lelaki itu meninggalkan mobilnya di halaman, menolak untuk memarkirkannya dengan benar dan malah berderap menghampiri Sera dengan sebuah amplop berwarna cokelat di tangan kanannya.


Melihat suaminya datang dengan raut wajah tegang dan langkah yang terkesan terburu-buru seperti itu, Sera tahu ada yang tidak beres. Dia hanya tidak tahu apa.

__ADS_1


“Masuk. Kita perlu bicara.” Titah Jeffrey, kemudian lelaki itu berjalan mendahului Sera masuk ke dalam rumah.


Masih sambil menerka-nerka permasalahan apa lagi yang akan diributkan oleh Jeffrey, Sera membuntuti suaminya itu. Mereka kemudian duduk berhadap-hadapan di ruang tamu, dengan Jeffrey yang masih menatapnya dengan sorot mata tajam.


“Samara Jasmine.” Kata Jeffrey tiba-tiba.


Sera tidak bisa menyembunyikan keterkejutan saat mendengar nama itu disebut oleh suaminya. Dan hal itu justru membuat Jeffrey menarik satu sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah seringaian tipis yang menyeramkan.


“Kenapa kaget? Nama itu kedengaran nggak asing buat kamu?” tanya Jeffrey masih mempertahankan seseringaiannya.


Tak ingin semakin dicurigai, Sera berusaha untuk mengontrol dirinya agar tetap terlihat tenang. “Ginana bisa itu kendengaran asing buat aku? Dia temannya Baskara, kan? Cukup dekat kalau aku lihat-lihat.” Ucap Sera dengan tenang.


Mendengar itu, Jeffrey tertekeh dengan raut wajah meremehkan. “Cuma itu? Bukan karena kamu dan dia punya kesepakatan sebelumnya—sebelum dia mati?”


“Jangan ngomong sembarangan.”


“Nggak ada yang ngomong sembarangan.” Jeffrey lalu mengeluarkan isi di dalam amplop cokelat yang dia bawa. Isinya beberapa lembar foto, yang kemudian ia surukkan ke hadapan Sera. “Anak itu ketemu kamu sebanyak 2 kali sebelum dia mati.”


Sera membeku menatap foto-foto yang terpampang di atas meja. Di sana, terlihat ia dan Jasmine duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe. Ada pula satu foto yang memperlihatkan ketika dia menyurukkan kunci mobil dan surat kepemilikan apartemen kepada Jasmine.


“Kesepakatan macam apa yang kamu buat sama dia, sampai kamu rela kasih imbalan yang nggak main-main nominalnya ke anak itu?”


“Bukan urusan kamu.”


“Urusan aku, karena sampai detik ini, kamu masih istri aku!” sergah Jeffrey. “Terlebih ini mungkin ada kaitannya sama Baskara. Dan dia anak aku, jadi jelas aku perlu tahu.”


Sera mengangkat kepalanya, menantang Jeffrey dengan tatapan nyalang yang terasa menusuk. “Istri? Anak? Lucu.” Ucapnya seraya tersenyum miring. “Setelah sibuk mengurusi anak haram itu, aku pikir kamu udah nggak akan ingat lagi kalau aku ini istri kamu, dan Baskara adalah anak yang kamu sayang-sayang dari bayi.”


“Stop sebut dia sebagai anak haram, Sera. Dia punya nama, namanya—“


“Berani kamu sebut namanya di depan aku, aku pastikan besok dia mati.” Sera menyela. Tekadnya terlihat kuat dari bagaimana ia mengeraskan otot-otot di sekitar leher, juga kedua tangannya yang mengepal erat di atas pangkuan.


Jeffrey yang tidak habis pikir pada betapa mudahnya Sera mengatakan akan merenggut nyawa orang lain pun menghela napas panjang. Di titik ini, dia merasa sudah sepenuhnya kehilangan sosok Sera yang dia kenal pertama kali. “Kenapa nyawa orang lain selalu terlihat nggak berharga di mata kamu, Sera?”


“Dan kenapa kamu selalu menuduh aku terlibat dalam setiap kemalangan yang menimpa orang-orang di sekitar kita? Raya, anak haram kamu, dan sekarang Jasmine. Kenapa kamu selalu melihat aku sebagai kriminal?” Sera bertanya balik.


“Karena mereka semua terkait dengan Baskara.” Jawab Jeffrey. “Sedari dulu, apapun yang mengganggu Baskara, pasti akan selalu kami singkirkan tanpa pikir panjang. Babby sitter yang nggak sengaja bikin badan Baskara kena gigitan nyamuk sampai ruam di mana-mana, sopir yang telat datang jemput Baskara sampai bikin anak kati sendirian di sekolah yang udah sepi, bahkan ibu kandung kamu sendiri yang nggak sengaja bikin Baskara dirawat di rumah sakit karena nggak tahu kalau anak kita punya alergi sama bulu kucing. Kamu menyingkirkan semua orang, menjauhkan mereka dari Baskara cuma karena kesalahan kecil yang mereka lakukan.”


“Aku tahu kamu menyayangi Baskara, tapi cara kamu melindungi dia semakin lama semakin keterlaluan, Sera. Dulu, kamu cuma menjauhkan orang-orang yang sekiranya membahayakan untuk anak kita, tapi sekarang, kamu bahkan rela mengotori tangan kamu untuk menghilangkan nyawa orang lain—dengan dalih untuk melindungi Baskara.”


“Kamu nggak pernah jadi seorang ibu, jadi kamu nggak tahu kenapa aku melakukan itu.” Sera berusaha membela diri. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia lakukan adalah benar, dan Jeffrey hanya terlalu melebih-lebihkan.


“Aku memang nggak pernah jadi seorang ibu, tapi aku juga seorang ayah. Aku nggak mengandung, melahirkan ataupun menyusui Baskara. Tapi aku menyayangi Baskara sama besarnya dengan rasa sayang kamu ke dia. Ini bukan soal siapa yang lebih sayang atau nggak, Sera. Ini soal bagaimana keterlaluannya tindakan kamu. Ada banyak cara untuk melindungi anak kita, nggak harus dengan melukai orang lain.”


"Tolong, Sera. Cukup sampai di sini aja. Jangan ada lagi orang-orang yang terluka dalam upaya kamu melindungi anak kita." Jeffrey memperlihatkan raut wajah memohon. Berharap Sera mengerti bahwa dia hanya tidak ingin perempuan itu terjerumus semakin jauh. "Jangan jadi manusia yang buruk hanya untuk jadi ibu yang baik di mata anak kita. Kalau Baskara tahu, dia nggak akan suka."


"Aku harap, Jasmine jadi yang terakhir. Tolong jangan ada lagi."

__ADS_1


Usai mengatakan itu, Jeffrey membereskan lagi foto-foto yang berserakan di atas meja, memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat lantas membawanya pergi dari hadapan Sera.


Bersambung


__ADS_2