
Menghilangnya Baskara untuk merokok akhirnya berbuntut panjang hingga keesokan harinya. Matahari bahkan belum muncul, tetapi Sera sudah berteriak kesetanan kala tak menemukan keberadaan putra semata wayangnya di atas ranjang. Kaki kecilnya bolak-balik ia seret ke kamar mandi, untuk sekadar memastikan apakah putranya ada di sana atau tidak.
"Jeff!" Sera berseru, sekali lagi mengguncangkan tubuh Jeffrey yang bisa-bisanya masih terlelap nyenyak di atas ranjang. Padahal, sudah dari tadi ia berusaha membangunkan lelaki itu untuk memberi tahu bahwa putra mereka menghilang.
Jeffrey yang merasa tidurnya terganggu malah cuma melenguh panjang, menggeliat pelan dengan mata yang masih terpejam.
"Jeff! Bangun, ih!" tidak sabar, Sera menarik paksa lengan Jeffrey, akhirnya membuat lelaki itu mau tidak mau membuka mata seiring dengan tubuhnya yang dipaksa untuk duduk saat nyawanya masih berkeliaran di udara.
"Kenapa, sih?" tanya Jeffrey dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Matanya mengerjap-ngerjap lucu. "Kenapa kamu teriak-teriak terus dari tadi?"
"Baskara nggak ada." Sewot Sera. Matanya sudah tidak lagi fokus pada Jeffrey, beralih pada layar ponsel yang menampilkan deretan nomor telepon yang siap untuk dia tekan.
"Ha? Apa?" tanya Jeffrey lagi, masih setengah sadar.
Sera berdecak sebal. Niatnya untuk menelepon seseorang menggunakan ponselnya seketika urung, karena kini dia lebih bernafsu untuk menempeleng kepala Jeffrey yang tidak kunjung paham situasi genting saat ini.
"Baskara nggak ada! Anak kamu hilang, Jeffrey! Hilang!" seru Sera tepat di depan wajah Jeffrey.
Sudah diteriaki begitu, Jeffrey tetap saja masih membutuhkan banyak waktu untuk mencerna informasi yang Sera sampaikan. Namun, ketika sudah berhasil, lelaki itu langsung melompat turun dari ranjang dan mulai celingukan mencari keberadaan putranya.
"Ke mana dia?" tanyanya polos.
"Kalau aku tahu, aku nggak akan panik!" Sera ngoceh-ngoceh.
Jeffrey tampak terdiam. Mulanya, Sera pikir suaminya itu masih belum sadar sepenuhnya. Namun pikirannya itu salah besar karena tak lama kemudian, Jeffrey melesat keluar dari kamar rawat Baskara. Lelaki itu berlarian tunggang-langgang, membuatnya sedikit kesulitan untuk mengejar.
Koridor rumah sakit mereka susuri bersama-sama. Kepala mereka menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan yang waspada. Jeffrey juga tampak beberapa kali berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Jeff! Tunggu!" teriak Sera sebelum Jeffrey menuju lift. Untungnya pintu lift belum terbuka, jadi ia memiliki waktu untuk menyusul suaminya sebelum ditinggalkan lebih jauh lagi.
"Kita mau cari Baskara ke mana?" tanya Sera dengan napas yang ngos-ngosan.
"Rooftop." Jawab Jeffrey. Ia hanya menatap Sera sekilas, kemudian fokus menunggu lift yang masih berhenti satu lantai di bawah lantai yang kini mereka pijak.
"Rooftop?" tanya Sera bingung. Meksipun begitu, ia tetap ikut bersama dengan Jeffrey masuk ke dalam lift ketika akhirnya benda besi itu terbuka. "Baskara ada di rooftop?" tanyanya lagi setelah pintu lift tertutup. Di dalam lift hanya ada mereka berdua, untungnya. Jadi mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa.
Jeffrey mengangguk. "Aku tadi telepon salah satu relasi di rumah sakit ini untuk cek CCTV dari semalam, dan Baskara terakhir kelihatan naik ke rooftop." Katanya menjelaskan.
Sera tidak bicara apa-apa lagi, hanya fokus menunggu sampai lift yang mereka tumpangi tiba di lantai paling atas.
Dua menit kemudian, mereka akhirnya sampai. Sera buru-buru keluar setelah pintu lift terbuka. Kaki-kaki kecilnya berlarian menaiki satu tangga menuju pintu penghubung ke rooftop rumah sakit, meninggalkan Jeffrey jauh di belakang.
Sampai di ujung tangga, ia melihat dua orang petugas keamanan yang tengah membuka gembok di pintu. Secara serabutan, Sera menerobos dua petugas kemanan itu tepat setelah gembok berhasil dibuka.
"Bas!" teriaknya, memanggil putra kesayangannya yang masih belum nampak di sepanjang matanya memandang.
__ADS_1
Rooftop dalam keadaan kosong. Hanya ada debu-debu yang beterbangan tertiup angin, juga aroma rokok yang terasa begitu menusuk indera penciuman.
Sera berjalan lebih jauh, matanya menyisir sudut demi sudut untuk menemukan keberadaan Baskara. Tapi nihil. Anak itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.
"Bas?! Kamu di mana, Sayang?!" teriaknya lagi. Yang sayangnya hanya disahuti oleh desau angin yang ribut.
Jeffrey dan dua petugas keamanan juga turut mencari. Mereka bertiga berpencar ke seluruh sudut demi mempermudah pencarian. Sedangkan Sera malah berjalan menuju dinding pembatas, melongokkan kepala ke bawah dengan berbagai spekulasi mengerikan.
Untung saja, tidak juga ia temukan sosok Baskara tergeletak bersimbah darah di atas aspal di bawah sana. Karena kalau sampai itu terjadi, Sera mungkin akan segera menyusul detik itu juga.
"Kamu ke mana, sih, Bas?" lirihnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dan air mata mulai menggenang di pipinya yang tirus.
Hampir saja Sera jatuh terduduk lemas. Sudah begitu putus asa mencari keberadaan putranya, ketika sebuah suara yang familiar memanggilnya, membuatnya membalikkan badan cepat dan seketika itu juga menangis sejadi-jadinya.
Bocah yang dia cari sejak tadi, kini berdiri beberapa langkah di depannya, tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi sementara matanya mengerjap-ngerjap lucu antara masih mengantuk atau karena embusan angin yang menerpa terlalu kencang. Bibir anak itu tampak pucat, sudah pasti karena terpaan angin dingin dari semalam.
Sera jelas lega. Buru-buru ia berlari menghampiri putranya, memeluk tubuh tegapnya erat sambil menuntaskan sisa air mata.
"Dih, nangis." Ledek Baskara.
Sera tidak menggubris ledekan itu, malah semakin mengeratkan pelukan dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang putra.
Baskara si bocah tidak tahu diri itu malah terkekeh melihat ibunya menangis tersedu-sedu. Tangannya juga enteng sekali menepuk-nepuk punggung sang ibunda.
"Udahan nagisnya, orang Baskara nggak ke mana-mana, cuma cari angin sebentar." Ucapnya enteng.
Baskara memekik kesakitan sambil memegangi telinganya yang terus ditarik tanpa ampun oleh sang ayah. "Ampun!" teriaknya, namun jeweran yang ia terima malah semakin terasa sakit.
"Papa, ih! Ampun!" teriaknya lagi. Ibunya sudah lepas dari pelukan karena kini ia sibuk mempertahankan hidupnya sendiri.
"Nakal!" oceh Jeffrey. Puas menjewer, telinga Baskara dilepaskan. "Kamu tahu nggak kalau Mama sama Papa panik nyariin kamu?!" lelaki itu melotot sambil berkacak pinggang.
Baskara menciut. Sambil mengusap-usap telinganya yang memerah, ia memasang wajah memelas agar omelan Jeffrey tidak naik ke level yang lebih tinggi.
"Jelasin, kenapa kamu keluar dari kamar rawat malam-malam? Terus, kenapa malah tidur di rooftop kayak gini?" cerocos Jeffrey masih dengan wajah garang.
"Maaf," lirih Baskara. Ia sudah meminta bantuan kepada sang ibu, tetapi perempuan itu menolak dengan menggelengkan kepala. Malahan, tidak lama setelahnya, ibunya juga turut berdiri di sisi ayahnya, ikut-ikutan menginterogasi dirinya.
"Jelasin," titah Jeffrey lagi.
Seperti bocah yang ketahuan mencuri, Baskasa menunduk dengan bibir yang mengerucut lucu sambil memainkan kuku jari.
"Bas," kali ini titahnya datang dari Sera.
Takut-takut, Baskara mengangkat wajahnya. Ia melirik Sera dan Jeffrey secara bergantian, kemudian bergerak pelan mengeluarkan rokok dan pemantik dari dalam saku baju. Sambil nyengir, ia berkata, "Baskara cuma keluar sebentar buat ngerokok. Hehehe."
__ADS_1
Jeffrey memicing menatap rokok dan pemantik yang dia tahu betul adalah miliknya. Lalu, ia kembali menatap Baskara. "Terus kenapa nggak balik lagi ke kamar? Kenapa malah tidur di pojokan kayak gembel?"
"Ya gimana mau balik, orang pas Baskara selesai ngerokok, pintunya nggak bisa dibuka." Adu Baskara. Sempat-sempatnya ia melirik ke arah dua petugas keamanan yang berdiri di belakang Jeffrey, yang kini tampak saling sikut melempar tanggung jawab.
Jeffrey membuang napas kasar, lalu berbalik menatap dua petugas keamanan di belakangnya. "Siapa yang bertugas jaga semalam?" tanyanya, dengan nada super tegas yang sudah pasti membuat lawan bicaranya menciut.
"S-saya, Pak." Ucap salah satu dari mereka, yang tubuhnya lebih kerempeng dan lebih pendek ketimbang rekan kerjanya.
"Jam berapa seharusnya pintu dikunci?" tanya Jeffrey lagi.
"Jam lima sore, Pak." Jawab petugas keamanan itu takut-takut.
"Terus, kenapa semalam pintunya bisa lolos nggak terkunci? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak saya? Kamu berani bertanggung jawab?"
"M-maaf, Pak."
"Maaf kamu nggak guna." Jeffrey bicara dengan nada yang ketus.
Si petugas keamanan yang sedang diomeli menunduk dalam-dalam, sedangkan temannya hanya bisa terdiam tak mampu membantu memberikan pembelaan.
"Ini bukan soal saya yang bisa membayar mahal untuk fasilitas di rumah sakit ini," ucap Jeffrey lagi. "Ini soal tanggung jawab kamu sebagai petugas keamanan, yang harus memastikan bahwa semua orang yang ada di rumah sakit ini berada jauh dari hal-hal yang membahayakan."
"Jeff, udah," bisik Sera. Perempuan itu menarik lengan Jeffrey, bermaksud membujuk sang suami agar berhenti marah-marah pada petugas keamanan yang sudah terlihat ketakutan setengah mati.
"Kamu diam dulu, aku harus bicara sama dia supaya dia mengerti di mana letak tanggung jawab dia." Kata Jeffrey sembari menatap serius ke arah Sera.
Kalau sudah mode Alpha begini, Jeffrey susah sekali untuk dihadapi. Maka, Sera segera mundur, kembali ke sisi Baskara untuk menyaksikan apa yang selanjutnya akan lelaki itu buat.
"Kalau kamu dipecat dari pekerjaan ini, kamu masih bisa mencari pekerjaan yang lain. Tapi kalau anak saya kenapa-kenapa, saya nggak akan bisa mencari gantinya. Dia anak semata wayang saya," nada suara Jeffrey sedikit melemah, tetapi jelas masih terdengar kemarahan di dalamnya.
Mendengar itu, semakin bertambah rasa bersalah yang dimiliki oleh petugas keamanan itu. Yang mulanya hanya menunduk, kini mulai berani mengangkat kepala untuk menyuguhkan tatapan bersalah yang kentara.
"Saya minta maaf, Pak. Saya lalai." Ucap petugas keamanan itu lagi.
Menekan seseorang yang tidak memiliki daya bukanlah sesuatu yang akan Jeffrey lakukan. Jadi, setelah dua kali mendengar permintaan maaf, ia akhirnya mengganggukkan kepala usai mengembuskan napas keras-keras.
"Saya harap, ini kali terakhir kamu berbuat ceroboh. Karena kalau sampai ada anak orang yang terluka karena kecerobohan kamu, saya jamin sisa hidup kamu nggak akan bisa dijalani dengan tenang." Jeffrey memperingatkan.
Kemudian, ia meraih tangan Baskara, menggandeng putranya pergi meninggalkan area rooftop yang diselimuti hawa dingin tidak menyenangkan.
Sera dibiarkan tertinggal, hanya untuk memiliki kesempatan melayangkan satu tamparan keras ke pipi petugas keamanan yang tadi dimarahi habis-habisan oleh Jeffrey. Sebab, ia sudah mati-matian menahan diri untuk tidak bersikap kasar di hadapan suami dan anaknya, karena itu hanya akan memperburuk citra dirinya sebagai seorang istri dan ibu.
"Itu untuk kelalaian yang sudah kamu perbuat, dan hampir membuat anak semata wayang saya celaka." Katanya kepada petugas keamanan yang hanya diam saja menerima tamparan keras dari dirinya.
Tanpa bicara apa-apa lagi, Sera pun berlalu dari sana, menyusul suami dan anaknya yang sudah jauh melangkah di depan.
__ADS_1
Bersambung