
Setibanya di rumah sakit, Sera menemukan Jeffrey sudah lebih dulu sampai. Lelaki itu berdiri di depan kamar rawat Baskara, membelakangi dua penjaga yang masih patuh berdiri di tempat mereka berada.
"Dari mana?" tanya lelaki itu, hanya terdengar seperti sebuah basa-basi yang tidak disertai dengan kepedulian sama sekali.
"Ada urusan sebentar," jawab Sera singkat. Tanpa berniat membangun lebih banyak obrolan dengan sang suami, Sera menerobos tubuh tegap Jeffrey dan langsung masuk ke dalam kamar rawat Baskara.
Di dalam, di atas ranjang yang nyaman, Baskara terlelap. Pemuda itu tidur dengan posisi miring ke kanan, menghadap ke pintu dengan satu tangan sebagai bantal. Wajahnya tidak sepucat tadi pagi ketika pertama kali ditemukan berada di rooftop, tetapi bocah itu masih terlihat begitu kelelahan.
Sera berjalan mendekati ranjang. Dengan gerakan yang teramat pelan, ia menjatuhkan bokongnya di atas kursi. Matanya tidak lepas dari wajah sang putra, sampai kemudian tangannya terulur mengusap pipi Baskara yang terlihat lebih tirus dari beberapa bulan sebelumnya.
Naluri seorang ibu telah membawa Sera tenggelam dalam perasaannya sendiri. Usapan-usapan yang ia berikan ke pipi putranya kini juga merembet ke kening, rambut, bahkan bahu tegap sang putra yang ini terkulai lesu.
Sera sadar. Sangat sadar bahwa putranya telah melewati banyak rasa sakit karena dirinya. Karena ketidakmampuannya untuk menjaga Jeffrey tetap berada di sisi mereka beberapa tahun terakhir. Dan meksipun sekarang Jeffrey sudah kembali, Sera tahu luka batin yang Baskara derita sudah kadung membekas, terlalu sulit untuk disembuhkan.
Maka yang bisa Sera usahakan sekarang hanyalah menghadirkan sosok Jeffrey yang lama hilang, serta menyingkirkan satu persatu hal yang akan membuat lelaki itu kembali menarik batas dan membuat anaknya semakin menderita.
__ADS_1
"Kamu minta dua penjaga di depan itu untuk larang siapapun masuk selain kita?" gerakan tangan Sera yang sedang membelai helaian rambut Baskara terhenti. Ia menoleh pada Jeffrey yang kini telah berdiri di sampingnya.
"Iya," jawabnya pelan, sengaja menurunkan nada suaranya agar tidak mengusik tidur nyenyak sang putra.
"Kenapa?"
Sera sepenuhnya menjauhkan tangan dari rambut Baskara. Ia kemudian memutar posisi duduknya agar bisa menatap Jeffrey dengan lebih mudah, walaupun ia tetap harus ekstra mendongak karena Jeffrey tidak kunjung menarik kursi untuk duduk di sebelahnya. "Apanya yang kenapa?" ia balik bertanya.
"Ya kenapa harus sampai segitunya? Kamu se-enggak mau itu teman-temannya Baskara datang menjenguk?"
"Ya terus apa alasannya? Apa alasan yang lebih masuk akal? Tell me," tantang Jeffrey.
"Ada yang mengancam keselamatan Baskara." Potong Sera cepat. Tatapannya terhadap Jeffrey mulai menajam, seiring dengan emosi yang perlahan-lahan naik karena Jeffrey terus saja berpikiran buruk terhadap dirinya.
"Maksudnya?" Jeffrey kebingungan. "Siapa yang mengancam keselamatan Baskara?"
__ADS_1
"Ada." Jawab Sera. "Dan yang kamu bisa lakukan cuma menuduh aku yang bukan-bukan," sudah tak terkira lagi rasa kecewa Sera terhadap Jeffrey. Hanya karena seorang anak haram, suaminya itu telah banyak berubah, dan perlahan-lahan menjadi sosok yang asing.
"Kasih tahu aku siapa orangnya,"
Sera tersenyum meremehkan, kemudian ia bangkit dari duduknya hanya untuk menantang Jeffrey dengan tatapan matanya yang sinis. "Nggak perlu. Toh, dari dulu kamu juga nggak pernah peduli apa anak aku terluka atau nggak."
"Jangan mulai,"
"Kamu yang jangan mulai." Sera menggeram. Nyaris kelepasan mengeluarkan nada tinggi kalau saja ia tidak sambil melirik ke arah Baskara untuk mengintip kondisi sang putra.
Menarik napas dan membuangnya secara perlahan adalah satu-satunya cara yang bisa Sera ambil untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia kembali ke posisi duduknya, menyentuh lagi wajah sang putra dengan penuh kasih sayang. "Semuanya akan oke, aku yang akan urus. Satu-satunya yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah gimana caranya untuk sembuhin luka yang ada di hati anak aku, atas kepergian kamu enam tahun lalu."
"Anak kita," Jeffrey mengoreksi. Mendengar Sera terus-menerus menyebut Baskara dengan anak aku membuat rasa bersalah yang ia pupuk di dalam dada kian tumbuh subur dan menyiksa.
Tidak ada sahutan dari Sera, seakan perempuan itu mendadak tuli dan kehadiran Jeffrey hanya serupa debu yang beterbangan tertiup angin dari air conditioner yang disetel pada suhu sedang.
__ADS_1
Bersambung