
Sesampainya di rumah sakit, ternyata sudah ada Reno dan Juan. Biru sama sekali tidak terkejut karena itu adalah hal yang wajar, mengingat selain Fabian mereka juga merupakan teman dekat Baskara.
Yang tidak wajar adalah saat Biru mendapati kehadiran Jasmine, yang kini duduk bersama Baskara di ranjang pasien. Seolah tidak puas hanya dengan duduk berdampingan, gadis itu juga terlihat menggamit mesra lengan Baskara dan kepalanya bersandar nyaman di bahu pemuda itu. Baskara juga tampak tidak keberatan sama sekali diperlakukan seperti itu oleh Jasmine. Malahan, Biru melihat justru tiga teman Baskara lah yang merasa risih dan terganggu dengan kehadiran manusia setengah ular bernama Samara Jasmine itu.
"Thanks udah mau jengukin gue," kata Baskara, dengan tatapan yang tertuju lurus ke arahnya.
Biru jelas sudah men-setting raut wajahnya agar tetap terkendali saat berada di depan pemuda itu. Dan percayalah, dia sudah ahli. Hanya di saat sedang sendiri saja Biru sering kehilangan kendali, kalau sedang berhadapan langsung dengan pemuda yang ia anggap sebagai musuh bebuyutannya itu, Biru sama sekali tidak merasa goyah.
"Gue cuma nemenin Fabian," ucapnya datar. Seolah ingin membuktikan bahwa tatapan mata Baskara tidak lagi mampu membuatnya melemah, Biru membalas tatapan itu hingga mereka berdua terpaku cukup lama.
"Apapun alasannya, gue tetap mau bilang makasih." Kata pemuda itu lagi.
"Terserah." Ucap Biru masih dengan nada yang datar. Kemudian, ia menatap datar Jasmine yang terlihat cengar-cengir seolah sedang meledek dirinya. Seolah gadis itu sedang ingin pamer kepadanya karena Baskara mengijinkan tubuhnya digelendoti seperti itu.
"Anyway," kata Biru. Tatapannya kembali pada Baskara setelah puas menguliti sosok Jasmine diam-diam. "Lo nggak merasa gatal ditempeli sama ular kayak gitu?" tanyanya dengan nada menyindir.
Sontak semua orang yang ada di sana, kecuali Jasmine, tergelak mendengar sindirannya itu.
Namun, hal yang tak terduga kemudian terjadi saat Baskara justru meraih tangan Jasmine, kemudian menautkan jemari mereka erat-erat. "Nope." Ucapnya. Kembali, tatapan mereka terpaku cukup lama. "I'm happy. Dia justru kasih gue kekuatan, biar cepat keluar dari sini."
Jasmine yang mendengar itu jelas tersenyum senang, berbanding terbalik dengan tiga teman Baskara yang mendecih tidak suka. Jelas sekali Biru sadari bahwa kebencian itu ada di benak teman-teman Baskara. Sama seperti dirinya, tiga pemuda itu juga mungkin sedang menyusun rencana untuk menendang Jasmine jauh-jauh dari sana.
"Pas pemeriksaan kemarin, otak lo lupa nggak ikut diperiksa, ya?" tanya Reno, jelas untuk menyindir kelakukan Baskara yang ada-ada saja malah memuji keberadaan Jasmine. Ia tahu Baskara hanya membual, tetapi hal itu tetap saja membuatnya kesal.
Menanggapi sindiran itu, Baskara hanya mengendikkan bahu. Genggaman tangannya dengan Jasmine masih tidak juga dilepas, meskipun kini matanya jelas khusyuk menelisik setiap inci bagian wajah Sabiru yang dia rindukan setengah mati dengan senyum tipis yang terkulum.
"Bokap nyokap lo ke mana?" suara Fabian mengudara, membuat Baskara mau tidak mau mengalihkan pandangan dari pusat dunianya.
"Lagi keluar cari makan." Jawab Baskara. Barulah setelah menjawab, genggaman tangan dengan Jasmine dilepaskan dan ia bergerak membetulkan posisi duduk sehingga kepala Jasmine yang semula bersandar di bahunya juga otomatis terhempas.
Fabian manggut-manggut. "Lo sendiri udah makan?" tanya pemuda itu.
"Belum. Lo mau nyuapin gue?" goda Baskara, sembari menaik-turunkan alisnya.
Reno dan Juan yang duduk berdampingan di sisi kanan ranjang sontak menunjukkan gestur seperti orang yang hendak muntah melihat kelakuan genit Baskara. Meksipun ujung-ujungnya mereka tetap dibuat tergelak saat Fabian dengan savage menjawab "Nggak sudi."
"Gue sama Biru belum makan," kata Fabian kemudian.
Merasa memiliki kesempatan untuk balas dendam, Baskara dengan raut wajah tengil membalas. "Ya terus?" yang kemudian kembali menghadirkan gelak tawa hanya di antara Reno dan Juan.
"Ya gue mau keluar bentar sama Biru buat makan. Kali aja lo mau nitip sesuatu pas nanti gue balik," Fabian menjawab sambil sewot.
__ADS_1
Baskara pun tergelak, kemudian menggelengkan kepala pelan setelah gelak tawanya usai. "Gue udah kenyang. Lo pastiin aja cewek lo makan dengan benar, jangan sampai anak gadis orang lo bikin kurus kerempeng nggak keurus." Lagi-lagi, Baskara menatap Biru dengan cara yang berbeda. Entah apakah ada yang menyadarinya atau tidak, karena sekarang Baksara juga tidak terlalu peduli.
"Ya udah, gue keluar bentar." Seperti sudah menjadi kebiasaan, Fabian tanpa aba-aba meraih tangan Biru dan menggandengnya. Jangankan untuk orang-orang yang melihat, untuk Biru sendiri, hal itu juga masih cukup mengejutkan. "Lo sama Reno mau ikut, nggak?" tawarnya kepada Juan.
"Mau ikut nggak?" Juan malah bertanya balik kepada Reno.
Beberapa detik Reno berpikir. Kemudian, pemuda itu bangkit dari kursi. "Ayo, deh. Gue juga laper," ucapnya.
Juan pun mengangguk dan turut bangkit dari kursi. Namun, sebelum mereka berempat pergi meninggalkan kamar rawat Baskara, mereka serempak menatap ke arah Jasmine dengan penuh rasa curiga.
"Lo jangan macam-macam sama teman gue." Kata Reno memperingatkan.
Jasmine yang dasarnya tidak takut apa-apa, cuma mengendikkan bahu tidak peduli.
Reno kesal sekali. Ia sudah hendak berlari ke arah Jasmine untuk menjambak rambut gadis itu, namun urung karena matanya sudah lebih dulu menangkap Baskara yang mengangguk sambil mengulaskan senyum tipis.
"Gue ini pawang ular," kata Baskara santai. "Lo semua nggak perlu khawatir. Just take your time." Kemudian melambaikan tangan sebagai tanda selamat jalan.
Juan menjadi orang pertama yang mengambil langkah maju, disusul Reno kemudian Fabian dan Sabiru.
Hening langsung merayap dengan cepat selepas kepergian empat orang itu. Senyum yang Baskara sunggingkan juga seketika lenyap seiring dengan tak lagi adanya mereka dalam jarak pandang.
Raut wajah Baskara berubah 180 derajat saat menoleh ke arah Jasmine. "Lo jangan macam-macam sama Sabiru." Ia memperingatkan.
Kemudian, sebuah kecupan didaratkan di pipinya, dan Baskara tidak bisa berbuat apa-apa. Demi menjaga Sabiru agar tetap aman dari serangan gadis ular berbahaya ini, ia rela mengorbankan dirinya sendiri. Menahan diri untuk tidak menampar wajah ayu Jasmine atas kelancangan yang sudah berkali-kali gadis itu perbuat terhadap dirinya.
...****************...
Empat manusia tadi memutuskan untuk makan di sebuah warteg yang letaknya di seberang rumah sakit. Untuk Sabiru, makan di warteg adalah sebuah hal yang biasa. Tetapi untuk Reno, Juan dan Fabian, warteg mungkin adalah sebuah tempat yang berangkali akan menjadi pilihan terakhir untuk didatangi.
Setidaknya, itu adalah yang Biru pikirkan mengingat betapa famous tiga pemuda ini. Semua juga tahu betapa mewah gaya hidup mereka, di mana datang ke kampus dengan kendaraan yang berbeda setiap hari jelas bukan merupakan sesuatu yang sulit.
Akan tetapi, pemikiran itu seketika lenyap kala mendapati tiga pemuda itu makan dengan lahap. Mereka juga tidak terlihat kesulitan untuk menentukan menu apa yang hendak mereka pilih untuk mengisi perut yang keroncongan. Bukan cuma lahap, Biru juga mendapati Juan meminta piringnya diisi ulang.
"Kenapa?" tanya Fabian, membuat Biru yang awalnya asyik memandangi Reno dan Juan makan sampai lupa menyentuh makanannya sendiri praktis menoleh ke arah pemuda itu.
"Nggak apa-apa." Jawabnya. Supaya tidak ditanya lebih lanjut, Biru segera menyendokkan nasi bertabur sambal goreng kentang ke dalam mulut lalu mengunyahnya secara perlahan.
"Lo heran, ngeliat gue dan teman-teman gue makan di warteg?" tanya Fabian lagi.
Biru menoleh lagi pada pemuda itu, yang kini kembali menyantap makanannya yang sisa sedikit. "To be honestly, yes." Jujurnya. "Dan gue rasa, nggak akan ada yang menyangka kalau anggota geng paling disegani di kampus bisa makan di tempat kayak gini."
__ADS_1
"Tempat kayak gini?" tanya Fabian dengan dahi yang berkerut.
Biru mengangguk. Gelas berisi air putih ia sambar dan isinya segera ia teguk. "Orang-orang kayak kalian bukannya selalu menganggap kalau tempat-tempat kayak gini terlalu jorok dan nggak higienis?" tanyanya setelah meletakkan kembali gelas ke atas meja.
Diam-diam, Biru melirik lagi ke arah Juan dan Reno yang memang duduk di kursi yang berbeda dengan mereka. Sehingga kecil kemungkinan dua orang itu bisa mendengar obrolan antara dirinya dengan Fabian.
Biru baru menoleh ke arah Fabian lagi saat mendengar pemuda itu justru terkekeh. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Yang kaya itu orang tua kami, Bi. Tanpa mereka, kami cuma gelandangan yang nggak punya tempat tinggal." Kata Fabian. Piring di hadapannya yang sudah kosong lantas disingkirkan. Air di dalam gelas ia teguk pelan-pelan, lalu diletakkan kembali ke tempat semula seiring dengan matanya yang kembali terfokus pada Biru.
"Kami sering kok makan di warteg dan warung-warung pinggir jalan. Soalnya, kami sadar kalau sewaktu-waktu semua fasilitas yang kami punya bisa ditarik sama orang tua kami." Biru mendengarkan penjelasan Fabian dengan saksama. "Dan kalau nggak membiasakan diri makan semua makanan yang ada, kami bakal kesusahan nantinya." Lanjut pemuda itu.
Biru akui, untuk beberapa alasan, kepribadian Fabian dan teman-temannya memang pantas untuk diacungi jempol. Yah, walaupun lebih banyak yang pantasnya diacungi jempol ke bawah, sih. Tapi dari penjelasan Fabian barusan, Biru setidaknya yakin kalau seburuk-buruknya orang pasti tetap ada sisi baiknya. Begitu juga sebaliknya.
"Bagus, deh." Hanya itu tanggapan Biru, lalu ia kembali melanjutkan aktivitas makan dengan fokus.
Beberapa menit kemudian, semua orang sudah selesai makan. Fabian menjadi orang yang mengajukan diri untuk membayar semua makanan yang mereka santap.
Selagi menunggu Fabian membayar, Biru berdiri di depan bangunan warteg bercat hiaju tersebut. Tatapannya terlempar jauh ke depan, pada gedung rumah sakit di mana Baskara kini sedang mereka tinggalkan sendirian bersama dengan Jasmine.
Entahlah, Biru hanya merasa tidak nyaman mendapati Jasmine di sekitar pemuda itu. Rasanya ada emosi yang perlahan-lahan naik setiap kali gadis itu berusaha mendekatkan diri dengan Baskara, dan pemuda itu sama sekali tidak berusaha menjauhkan diri.
Cemburu? Oh, tidak. Biru tidak sudi mengakui perasan itu sebagai sebuah rasa cemburu. Ia hanya akan menganggap itu sebagai penghalang untuk rencana belas dendamnya.
Karena, bukankah lebih baik kalau Baskara masih tergila-gila padanya, supaya dia bisa menghancurkan pemuda itu lebih mudah? Kan, tidak akan seru kalau ternyata pemuda itu sudah jatuh cinta pada gadis lain. Benar, kan?
"Mau rokok, nggak?" tepukan di bahu yang datang tiba-tiba dari arah belakang nyaris membuat jantung Biru jatuh bergedebuk di tanah. Begitu berbalik, ia menemukan Fabian menyodorkan sebungkus rokok ke arahnya sementara di bibir pemuda itu sendiri telah terselip sebatang rokok yang belum dinyalakan.
Biru menatap rokok yang Fabian sodorkan sebentar, kemudian menarik sebatang setelah melirik sekilas ke arah Reno dan Juan yang berdiri di belakang Fabian.
"Korek," pintanya. Fabian pun mengulurkan pemantik kepadanya, mempersilakan dirinya menggunakan pemantik keramat milik pemuda itu lebih dulu.
Tanpa ba-bi-bu, Biru langsung menyalakan rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Asap-asap yang keluar dari embusan napasnya beterbangan, mencemari udara sore yang sudah lebih dulu bercampur dengan debu dan polusi yang datang dari kendaraan bermotor yang berlalu-lalang.
"Lah, dia doyan ngerokok ternyata." Tanpa menoleh pun, Biru tahu kalau itu suara Reno. Beberapa kali berinteraksi, Biru telah menghafal dengan baik suara teman-teman Fabian itu.
"Rokoknya nggak kaleng-kaleng lagi," suara Juan menyahut.
Biru mengabaikan ocehan keduanya, memilih untuk fokus menikmati rokoknya selagi tatapannya kembali tertuju pada gedung rumah sakit di seberang.
Di belakangnya, Fabian turut mengikuti arah pandang. Rokok yang terselip di sela bibir dan belum sempat dinyalakan itu diturunkan, beralih ke sela-sela jemari panjangnya yang lebih cocok dimiliki oleh perempuan.
__ADS_1
What really happened between you and Baskara, Sabiru? batin pemuda itu.
Bersambung