
"Kenapa kepala gue lo pukul?!" protes Fabian, tidak terima mendapatkan pukulan sebab ia tidak merasa telah melakukan kesalahan apapun.
"Mata lo jelalatan!"
"Ya terus gue harus ngeliat ke mana, anjir? Ke atas?" kepala Fabian didongakkan sampai level maksimal, untuk kemudian dia bawa kembali ke posisi semula lalu ia memicing ke arah Biru.
"Ke mana kek, asal jangan ngeliatin badan gue!" tangan Biru bergerak memeluk dirinya sendiri. Tatapannya juga menjadi waspada kalau-kalau Fabian tiba-tiba akan menyerangnya.
Mendengar ocehan tidak masuk akal dari mulut Biru membuat Fabian mengembuskan napas keras-keras. "Keliatan juga enggak, Biru! Rata doang itu, rata!" sambil menunjuk ke arah dada Biru yang kini ditutupi kedua tangan.
Bukan mereda, kehebohan Biru malah semakin menjadi-jadi. "Lo body shaming gue, hah?!" teriak gadis itu histeris, sudah seperti hendak dilecehkan saja.
"Astaga, nggak gitu maksudnya, Sabiru." Saking frustrasinya, Fabian sampai mengacak rambutnya sendiri. "Gue cuma mau bilang kalau badan lo nggak keliatan juga bentuknya gimana! Itu bathrobe tebel, anjir, setebel dosa gue."
"Alasan!" sergah Biru. Sekarang gadis itu malah beringsut ke sisi kasur yang lain, menjauhkan diri dari Fabian. "Bilang aja lo mau ngatain gue tepos!"
"Ah, udahlah, terserah lo aja!" Fabian sontak berdiri dari duduknya. Bertepatan dengan itu, ponsel miliknya di atas nakas berdering nyaring. Masih sambil sewot, ia menyambar ponsel itu kemudian langsung menggeser log hijau tanpa berniat memeriksa siapa yang menelepon.
"Halo!" sapanya dengan nada sewot.
"Delivery, Mas."
"Oke, saya turun sekarang!" sambungan terputus, dan Fabian memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana.
Sebelum berbalik pergi, dia menatap Biru yang masih menampakkan ekspresi horor. "Diem dulu lo! Gue mau ambil makanan kita dulu di bawah!" ia memperingatkan. Kemudian, dia bergegas keluar dari kamar, berlarian keluar menghampiri tukang delivery yang tadi dia sewoti gara-gara terbawa emosi karena ulah Biru.
Biru yang diperingatkan begitu cuma mendecih, lalu perlahan-lahan menyingkirkan kedua tangan dari depan dada. "Dasar cowok! Di mana-mana sama aja! Mesum!" omelnya. Meksipun dia tahu yang bisa mendengar omelan itu hanyalah benda-benda mati yang ada di dalam kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Fabian muncul lagi sambil membawa satu kantong belanja ukuran sedang. Pemuda itu berjalan cepat ke arahnya, lalu kembali duduk di kursi setelah meletakkan kantong belanja berisi makanan itu ke atas nakas.
"Makan dulu, nanti kita gelut lagi." Katanya, sembari mengeluarkan satu kotak makanan dari kantong lalu disodorkan ke arah Biru.
"Oke." Biru menyambut kotak makanan itu dengan senang hati. Tanpa perlu basa-basi, kotak makanan itu dia buka, menampilkan nasi dan ayam yang masih mengepulkan asap.
Air liur yang berkumpul di dalam rongga mulutnya seketika membludak, bagai air rob yang tiba-tiba datang menyerbu dan hampir muncrat keluar ketika bendungan telah penuh.
Ketika baru berhasil menyantap makanan yang tersaji di depan mata, Biru dibuat kesal saat helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai berkali-kali jatuh mengenai nasi sehingga membuat beberapa butir nasi menempel di sana. Itu menyebalkan, karena dia baru saja mencuci rambutnya kemarin. Sedangkan untuk mengikat rambutnya sendiri sudah tidak mungkin karena tangannya terlanjur kotor.
Biru lupa, kalau saat ini ia sedang ada bersama Fabian, yang love language-nya adalah act of service level mentok. Tanpa banyak ba-bi-bu, pemuda itu mengeluarkan sebuah ikat rambut dari dalam saku jaket miliknya, kemudian menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Mau gue iketin, nggak?"
Keberadaan ikat rambut itu sendiri nyatanya lebih menarik perhatian Biru ketimbang sosok yang kini menunggu jawabannya. Ia hanya bertanya-tanya, dari mana pemuda ini mendapatkan ikat rambut, di saat Biru jelas-jelas tahu kalau Fabian tidak memiliki saudara perempuan?
"Heh! Malah bengong!"
Semilir angin yang menerpa wajahnya berhasil membuat Biru terbangun dari lamunan. Pertanyaan tadi dia telan lagi, urung untuk dia muntahkan dan dia lebih memilih untuk menganggukkan kepala.
"Madep sana dikit," titah Fabian.
Tidak banyak protes, Biru menurut. Dia sedikit membalikkan tubuhnya agar helaian rambutnya bisa dijangkau oleh Fabian. Lalu, saat jemari Fabian menyentuh rambutnya, dan tanpa sengaja salah satu jari pemuda itu mengenai tengkuknya, Biru berani sumpah bahwa sekujur tubuhnya tiba-tiba saja merinding.
"Udah,"
"Hah? O-oh, oke. Makasih." Biru tergagap karena sensasi merinding yang masih dia rasakan.
Sedangkan Fabian yang innocent, tidak tahu kalau dia baru saja membuat anak gadis orang merinding disko akibat sebuah sentuhan tidak disengaja dan memilih untuk segera melahap makanannya karena memang sudah lapar sejak tadi.
Biru juga ikut melahap makanannya, dalam diam. Sebab selera makannya tiba-tiba saja hilang setelah merinding di tubuhnya tidak kunjung berkurang.
...----------------...
"Kalau besok mau gue jemput buat ke kampus, kabarin aja." Kata Fabian sambil mengenakan jaketnya. Malam sudah larut, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas dan rasanya tidak etis kalau dia berlama-lama di rumah seorang gadis yang tinggal sendirian.
"Oh, iya sih, better istirahat dulu aja emang." Fabian sambil manggut-manggut. "Terus, kalau nyerinya makin kerasa besok, kasih tahu gue, nanti gue anterin lo ke dokter." Sambungnya usai menyambar kunci motor dan ponsel dari atas nakas.
"Hmm." Biru hanya bergumam, tapi matanya sama sekali tidak lepas dari wajah tampan Fabian.
"Jangan hmm doang!" tiba-tiba saja, Fabian menyentil dahinya, membuat Biru memekik kesakitan.
"Sakit, anjir!" keluhnya sambil mengusap keningnya sendiri.
"Ya lagian, gue udah ngomong panjang lebar, lo cuma jawab hmm doang." Fabian tidak mau disalahkan.
"Iya, iya! Lo cerewet banget, sumpah!" sejujurnya, Biru ingin misuh-misuh sekarang, tetapi dia tahan mati-matian dan dia cuma sedikit melotot saja ke arah Fabian.
"Ya udah, gue balik."
"Tunggu!" cegah Biru sebelum Fabian mulai membalikkan badan.
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Fabian malas.
"Tolongin gue," Biru memelas.
"Iya, apaan?" Fabian yang mulai tidak sabaran. Masalahnya, dia juga mulai mengantuk dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah supaya bisa tidur.
"Tolong ambilin baju, dingin."
Ingin rasanya Fabian menendang kepala Biru sampai copot kala gadis itu melemparkan tatapan memelas ke arahnya. Karena dia kembali mengingat bagaimana gadis itu mencak-mencak kepadanya tadi saat dia mengingatkan untuk memakai baju.
Dan sekarang apa? Gadis itu memintanya untuk mengambilkan baju di saat ia sudah bersiap untuk pulang? Memang dasar kurang ajar!
"Bi...."
"Bawel," Fabian menyela sebelum rengekan Biru semakin menjadi-jadi. Dengan malas, ia berjalan menuju lemari pakaian di kamar itu.
"Mau diambilin baju yang kayak gimana? Lingerie? Bikini? Atau apa?" celetuknya asal.
Dia pikir, Biru akan kembali mengoceh, tapi ternyata tidak, gadis itu hanya langsung menyebutkan baju apa yang ingin dipakainya.
"Setelan baju tidur yang warna navy. Ada gue gantung di dalem lemari,"
Fabian mengikuti arahan Biru. Dibukanya pintu lemari, dan matanya langsung menemukan baju tidur yang Biru maksud. Langsung saja dia ambil setelan baju tidur itu kemudian dia bawa kepada Biru.
"Nih," ia menyodorkan baju tidur kepada Biru. "Underware-nya nggak sekalian?" tanyanya asal.
"Nggak!" Biru langsung melotot. "Pulang sana! Ngeres banget otak lo!"
Nah, kan. Mengomel lagi saja kerjaan manusia bernama Sabiru ini. Untung saja Fabian adalah anak baik, bersahaja dan stok sabarnya seluas samudra. Karena kalau tidak, Biru mungkin akan berakhir menjadi rempeyek di tangannya karena terlalu banyak mengomel.
"Otak lo tuh yang ngeres. Orang gue cuma nanya soal underwear, barang yang semua orang juga punya." Fabian bersedekap, bibirnya agak mencong-mencong sedikit saat berbicara.
"Bacot, ah! Udah sana balik!" tak berhati, tak berperasaan, begitulah nilai seorang Biru di mata Fabian sekarang. Sebab gadis itu mendorong-dorong tubuhnya dan mengusirnya secara terang-terangan.
"Nggak tahu terima kasih emang!" gerutu Fabian. Ia berjalan menuju pintu sambil sewot.
"Makasih!" seru Biru ketika Fabian sudah hampir mencapai pintu.
Fabian menghentikan langkahnya, membalikkan badan kemudian mengacungkan jari tengah ke arah Biru sambil berkata, "Sama-sama!" kemudian melenggang pergi tanpa menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Yak! Fabian! Tutup dulu pintunya!!!" teriak Biru, namun percuma karena Fabian sudah memutuskan untuk tidak berbalik lagi.
Bersambung