
Bagi seorang Seraphina Lazuardy, tidak ada istilah kehilangan sesuatu di dalam hidupnya. Yang ada, dia bisa mendapatkan semua yang dia inginkan dengan mudah. Tanpa banyak berusaha, tanpa banyak merengek kepada kedua orang tuanya. Jadi, ketika dia tahu ada orang lain yang bisa membuatnya merasakan apa itu kehilangan, dia tidak bisa tinggal diam.
Setiap hari, di dalam kepalanya, sejak malam di mana Jeffrey menangis bersimpuh di kakinya, dia telah memikirkan bagaimana caranya mencegah kehilangan itu terjadi. Mendepak Raya ke luar negeri bahkan bukan satu-satunya rencana yang dia miliki. Pernah di satu titik, dia bahkan berharap bisa membunuh perempuan itu dengan tangannya sendiri. Padahal, jauh—jauh sekali—di dalam hatinya, dia tahu bahwa Raya tidak bersalah.
Kini, setelah 20 tahun lebih keinginan itu dia simpan di dalam kepalanya, Sera akhirnya betulan bisa melenyapkan Raya. Namun, dia justru kehilangan semuanya.
Putra tercinta yang dia jaga mati-matian, Baskara, pergi meninggalkan dirinya, hanya dengan meninggalkan sepucuk surat sebagai salam perpisahan agar kelak ketika dia telah mendapatkan vonis untuk kejahatan yang telah dia perbuat terhadap Raya, Sera tidak terus bertanya-tanya mengapa putranya tidak pernah datang berkunjung ke penjara.
Sedangkan Jeffrey, lelaki itu datang minggu lalu, menyurukkan selembar kertas berisi gugatan cerai yang barangkali telah dia simpan cukup lama di laci meja kerjanya. Tapi anehnya, Sera tidak merasa keberatan untuk membubuhkan tanda tangan. Perceraian tidak lagi menjadi momok menakutkan baginya. Karena kini, dia bahkan sudah tidak punya apa-apa.
“Kalian seharusnya bisa hidup bahagia tanpa harus mengusik hidup kami, Sera.”
Suara sialan itu terdengar kembali. Sejak tiga hari belakangan, Sera mulai mendengarkan suara-suara yang dia tahu, seharusnya tidak dia dengar.
Sebab, Raya sudah mati, di depan matanya sendiri. Jadi mustahil kalau perempuan itu masih bisa berbicara dengannya, kecuali jika dia benar-benar mulai menjadi gila.
“Dari dulu, keinginanku cuma satu, yaitu hidup bahagia dengan putraku. Tapi kamu, yang bahkan sudah memiliki segalanya, masih enggan membiarkan kami bahagia hanya karena ketakutan yang ada di kepala kamu.”
“Tapi ketakutan itu nyata. Kalau aku nggak berusaha menjauhkan Jeffrey dari kalian, keluarga kami sudah lama akan hancur.” Untuk pertama kalinya, Sera bersedia menyahuti suara tersebut.
Di sel penjara yang dingin, sambil menunggu sidangnya dimulai, Sera berbicara seorang diri. “Cinta Jeffrey ke anak itu udah bikin dia melupakan anaknya sendiri, Raya. Dan kamu berharap aku akan membiarkan itu semua terjadi?”
“Tapi sekarang, kamu malah kehilangan semuanya.”
Sera tertawa gamang, pada sosok Raya yang duduk di hadapannya. Perempuan itu mengenakan gaun berwarna putih, rambut panjangnya terurai dan ada noda merah yang merembes di dadanya. “Karena kamu.” Tuduhnya.
Sosok Raya di hadapannya menggeleng pelan. Sorot matanya masih saja tampak teduh walaupun waktu telah berlalu, dan banyak sekali hal buruk telah dia lakukan pada perempuan itu. “Karena ambisi kamu untuk menciptakan keluarga bahagia bagai di dunia fantasi, juga karena ketakutan berlebih yang sekarang—aku yakin—kamu sadar bahwa itu tidak terbukti.”
“Bahkan jika kamu membiarkan Jeffrey tahu dia memiliki seorang anak lain yang lahir dari kesalahannya, dia nggak akan meninggalkan kamu dan Baskara. Dia masih mencintai kamu, Sera. Sama besarnya seperti saat pertama kali kalian jatuh cinta.”
__ADS_1
“Tahu apa kamu soal itu?”
“Orang buta pun bisa melihat betapa lelaki itu masih mencintai kamu, Sera. Ketakutan kamu lah yang membuat rasa cinta itu menjadi tak nampak.”
“Dia nggak akan mengajukan gugatan cerai kalau memang masih mencintai aku.” Selepas mengatakan itu, Sera mengalihkan pandangan ke arah lain. “Tapi dia melakukannya seminggu yang lalu.”
“Karena dia gagal membuat kamu percaya bahwa cintanya masih ada.”
Sera terkekeh. “Kamu cerewet juga ternyata, ya?” ucapnya, kembali menoleh ke arah sosok Raya.
Untuk beberapa lama, tak ada lagi yang keluar dari bibir Sera. Tatapannya terpaku pada manik Raya. Sedangkan yang ditatap masih tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Sampai kemudian, air mata Sera menetes. Dia tidak tahu kenapa air mata itu jatuh. Padahal, dadanya sama sekali tidak terasa sakit. Tidak ada perasaan sedih yang dia rasakan. Tapi air mata masih terus menetes sampai akhirnya dia terisak-isak sendirian.
Sipir perempuan yang berjaga di depan selnya cuma bisa menghela napas rendah. Lebih daripada orang lain, dia lah yang menjadi saksi betapa hancurnya kehidupan seorang Seraphina Lazuardy.
...****************...
Di tangan kirinya, Jeffrey membawa sebuket bunga Lily. Ragu-ragu, buket bunga itu dia letakkan di atas pusara Raya, seraya dia mendudukkan dirinya secara perlahan.
“Selamat sore, Raya.” Sapanya. Pada gundukan tanah bisu yang tidak akan bisa menyahuti sapaannya.
“Maaf karena saya baru bisa berkunjung setelah sebulan lebih berlalu.” Kemudian, dia menarik napas begitu dalam.
“Anak-anak kita, pergi menyembuhkan diri mereka sendiri. Dan saya, sebagai ayah mereka, tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan mereka dari tempat saya berdiri.”
“Mereka anak-anak baik. Meskipun saya nggak ikut mengurus Fabian, dan ada waktu di mana saya pergi begitu jauh dari hidup Baskara, saya tahu mereka masihlah anak-anak baik yang tidak akan menyakiti orang lain.”
“Maaf, Raya. Sikap pengecut saya telah membawa kita menuju bencana ini. Kalau saja saya memiliki sedikit lebih banyak keberanian, kita mungkin bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.”
__ADS_1
Tapi, sesal sudah tidak berarti. Tak ada yang bisa dirubah dari apa yang telah terjadi. Jadi seberapapun dia menangisi kepergian kedua putranya, Jeffrey tahu air matanya hanya akan menjadi sia-sia.
Sekarang, yang bisa dia lakukan hanyalah menjalani sisa hidupnya dengan biasa-biasa saja, sambil menunggu kedua putranya kembali, sebelum nanti dia menutup mata.
“Saya dan Sera memutuskan untuk bercerai.” Akunya tiba-tiba. “Bukan. Saya bukannya udah nggak mencintai dia lagi. Saya hanya merasa ... hidup Sera bisa berjalan lebih baik, seandainya dia tidak bersama dengan laki-laki bajingan seperti saya.” Di akhir kalimatnya, Jeffrey tersenyum miris.
Melepaskan Sera, setelah semua yang mereka lalui selama ini sebenarnya sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Sejak awal, sejak ia memutuskan untuk menikahi perempuan itu, tujuannya memang hanya satu. Dia ingin hidup bersama dengannya, selama mungkin, sampai mereka tua dan tak lagi ingat nama masing-masing.
Dulu, semuanya terlihat mungkin. Tapi sekarang, Jeffrey sadar bahwa tidak semua hal harus berjalan persis seperti apa yang dia inginkan dan angankan. Ada bagian-bagian ketika dia harus merelakan, bahwa sebagian hal memang bisa berjalan jauh dari apa yang dia pikirkan. Dia tidak boleh lupa, bahwa dia hanyalah seorang wayang, yang harus tunduk pada apa yang dalang inginkan dalam sebuah pertunjukan.
“Raya,” panggilnya. Meskipun tetap tidak ada sahutan, dia melanjutkan. “Saya harap, kamu bahagia di sana. Terima kasih karena kamu sudah tabah menghadapi semuanya sendirian. Sekarang, kamu bisa beristirahat dengan tenang. Saya memang bukan ayah yang baik untuk anak-anak kita, tapi meskipun jauh dari sini, saya tetap akan mengusahakan yang terbaik untuk mereka.” Kalimat panjang itu nyaris Jeffrey ucapkan hanya dalam satu kali tarikan napas. Hingga ketika dia sampai di akhir kalimat, napasnya terasa payah.
Untuk itu, dia kembali terdiam, demi mengatur napasnya agar kembali normal. Lalu sesaat setelahnya, dia bangkit.
“Selamat sore, Misella Arraya Haris. Sampai jumpa lagi, lain waktu.” Pamitnya. Lalu, Jeffrey pergi dari sana. Meninggalkan buket bunga Lily di atas pusara Raya sebagai kenang-kenangan sebelum dia kembali lagi ke sini, entah kapan.
Mungkin nanti, ketika anak-anak mereka telah kembali. Atau barangkali, justru ketika raganya telah mati dan seseorang menguburkannya juga di sini.
...-Tamat-...
Hai, Rain di sini!
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mencintai anak-anak baik ini sampai sekarang.
Kisah Pain Killer berhenti di sini, karena mereka harus menyembuhkan diri mereka masing-masing untuk sementara waktu.
Tapi, kalau ada kesempatan, nanti kita ketemu lagi pas mereka udah sama-sama sembuh, oke?
Last but not least, I love you guys, to the moon and back!
__ADS_1
Regards
Rain