Taruhan

Taruhan
Accident


__ADS_3

Sejak motornya melaju melewati Sabiru dan tatapan mereka bertemu, Baskara telah memenuhi kepalanya hanya dengan nama gadis itu. Tidak sedetik pun ia hilang, telah terpatri di sana bahkan untuk waktu yang lama.


Tuas gas memang masih ia tarik sampai mentok, tetapi fokusnya sudah tidak lagi tertuju pada jalur balapan yang ia lewati. Motor yang semula melaju cepat di urutan pertama pun, kini sudah terpukul mundur menjadi urutan ke-tiga setelah dua motor lain berhasil menyalip.


Kini, keinginan untuk menang balapan sudah bukan menjadi prioritas utama bagi Baskara. Ia justru banyak memikirkan tentang bagaimana caranya ia menarik Sabiru kembali ke pelukannya. Apakah harus menggunakan cara halus, atau ia harus menyeret gadis itu secara paksa.


Apapun caranya, Baskara merasa ia harus segera menarik Biru kembali sebelum gadis itu betulan jatuh pada pesona seorang Fabian. Bagi Baskara, ia bisa melepaskan gadis manapun untuk Fabian—atau teman-temannya yang lain—kecuali Sabiru. Kalau harus baku hantam sekalipun, Baskara tidak akan keberatan asal itu bisa membuatnya mendapatkan gadis itu kembali.


Egois. Memang. Sedari dulu, kalau urusannya adalah Sabiru, Baskara tidak pernah keberatan untuk menjadi orang paling egois sedunia.


Semakin habis jalur balapan yang ia lalui, pikiran Baskara semakin ribut. Dan kabar buruknya, fokusnya tidak kunjung kembali bahkan ketika ia nyaris mendekati garis finish. Di mana di depan kini ada tikungan, dan ia gagal mengendalikan motornya sehingga kuda besi itu berakhir oleng, membuatnya terjatuh di jalanan kemudian berguling-guling sampai akhirnya tubuhnya berhenti ketika punggungnya menatap trotoar.


Baskara meringis menahan sakit yang terasa di punggungnya, sudah tidak punya lagi waktu untuk memikirkan bagaimana nasib motornya yang ringsek di tengah jalan. Empat motor lain yang ada di belakangnya satu persatu berhenti, mereka berbondong-bondong memarkirkan motor asal dan lansung menghampiri untuk  memberikan pertolongan.


"Bas!" teriak salah seorang dari mereka, yang kemudian Baskara kenali sebagai Reno. "Lo masih oke?" tanya pemuda itu panik.


Dengan ngilu yang teramat di punggungnya, Baskara berusaha bangkit. Helm full face yang berat ia lepaskan dengan susah payah, hanya untuk menyuguhkan senyum konyol yang seketika membuat Reno mencak-mencak.


"Bangsat! Ini bukan waktunya lo senyum kayak gitu!" tanpa tahu kalau area punggung Baskara cedera, Reno semena-mena melayangkan pukulan.


Meskipun tidak terlalu keras, tetapi pukulan itu mendarat di bahu bagian belakang, dekat sekali dengan area punggung yang rasanya seperti patah, sehingga Baskara tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesakitan yang langsung ditangkap oleh Reno, Juan dan dua orang teman yang lainnya.


"Sakit banget?" tanya Juan panik. Pemuda berotot itu siap siaga di belakang tubuh Baskara.


Baskara hanya menganggukkan kepala. Rasa sakit di punggungnya bahkan kini telah berhasil membuat kepalanya terasa berdenyut hebat. Ia memejamkan mata serta menggigit bibir bawah untuk sekadar menahan diri dari rintihan yang menurutnya tidak akan keren sama sekali.


Juan, tanpa banyak bicara langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana. Tangannya bergerak lincah mencari nomor seseorang, kemudian men-dial nomor itu hanya sedetik setelah menemukannya.

__ADS_1


Beruntung ia juga tidak harus mendengar terlalu banyak nada tunggu karena seseorang di seberang langsung mengangkat teleponnya.


"Halo?"


"Bubarin anak-anak, Baskara jatuh di lintasan." Titahnya.


"Parah?" seseorang itu terdengar panik.


Juan yang tidak ingin menambah kepanikan, berusaha sebisa mungkin untuk menjawab dengan tenang. "Sejauh ini gue nggak lihat ada luka luar, tapi punggung dia kayaknya cedera." Ia menjelaskan. "Bilang sama anak-anak, bubarnya jangan rusuh, takut ada petugas yang lagi patroli." Imbuhnya. Mengingat balapan yang mereka lakukan sekarang ini adalah balapan liar, Juan tentu saja tidak ingin pihak kepolisian sampai menciduk mereka karena urusannya akan panjang.


"Oke, gue sekalian siapin mobil buat bawa dia ke rumah sakit."


"Sip. Cepetan, ya."


"Iya."


"Selain di punggung, mana lagi yang sakit?" tanyanya, sembari mengedarkan pandangan untuk meneliti bagian tubuh Baskara yang mungkin terluka.


Baskara menggeleng lemah. "Nggak tahu, yang di punggung sakit banget sampai gue nggak bisa ngerasain yang lain."


"Kayak gitu masih bisa senyum-senyum lo tadi?!" Reno sewot.


Baskara melirik Reno sekilas, kemudian kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Juan. "Kan biar lo semua nggak khawatir." Elaknya.


Reno hanya berkomat-kamit tanpa suara, kemudian menginstruksikan kepada dua teman yang lain untuk mengurus motor Baskara yang ringsek.


Dua orang teman yang diberi amanah segera bergerak dengan cekatan. Sedangkan Reno dan Juan fokus untuk memastikan bahwa tidak ada luka Iain yang mengkhawatirkan selain yang ada di punggung Baskara.

__ADS_1


Sampai beberapa menit kemudian, sebuah mobil Fortuner berhenti di seberang. Dari dalamnya, muncul Fabian yang langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri, raut wajahnya jelas panik dan itu sama sekali tidak dapat disembunyikan.


Akan tetapi, kehadiran sosok lain yang turut berlarian di belakang Fabian adalah distraksi lain yang akhirnya berhasil membuat senyum Baskara samar-samar terbit di tengah ringis kesakitan.


Sabiru ikut hadir di sana. Dan meskipun samar, Baskara bisa melihat gadis itu juga tengah merasa khawatir.


"Gotongnya boleh asal? Gue takut cedera di punggung dia makin parah kalau kita asal angkut," cerosos Fabian. Khawatir juga kalau tindakan mereka malah akan memperburuk kondisi Baskara. Karena kalau saja mereka tidak sedang menjalankan balapan liar, Fabian akan lebih memilih menelepon ambulans untuk menjamin keselamatan pemuda itu.


"Bismillah aja," celetuk Reno, tanpa pikir panjang.


Di tengah usaha menahan rasa sakit, Baskara masih sempat-sempatnya mengoreksi. "Lo non-muslim, by the way." Yang tentu saja membuat sepasang tanduk di kepala Reno muncul tiba-tiba.


"Ini bukan waktunya bercanda, jadi mending lo diam aja." Kata Reno sambil mendelik.


Baskara tidak lagi menyahut, karena setelah itu, Juan dan Fabian segera bergotong royong mengangkat tubuhnya ke mobil. Reno yang dianggap paling ahli dalam hal mengemudi akhirnya ditugaskan sebagai sopir, sedangkan Biru yang sadar tidak bisa membantu banyak hanya mengekor di belakang sambil menenteng helm full face milik Baskara yang semula teronggok di atas aspal.


Di kursi penumpang belakang, Baskara didudukkan di tengah, diapit oleh Juan dan Fabian. Sehingga mau tidak mau, Biru terpaksa duduk di kursi penumpang depan, menemani Reno yang kemudian mengemudi secara ugal-ugalan.


"Yang santai, bangsat! Salah-salah kita semua malah masuk UGD!" protes Baskara dari belakang.


Reno tidak menggubris ocehan itu, dan malah semakin dalam menginjak pedal gas. Tangannya begitu terampil memutar kemudi, membawa mobil mereka nyelap-nyelip di antara kendaraan lain yang memadati jalanan.


Semua orang yang ada di dalam mobil itu panik, sehingga mungkin tidak akan ada yang sadar bahwa saat ini Biru tengah mencuri pandang ke arah Baskara melalui kaca spion tengah.


Gadis itu meremas kedua tangannya yang ada di atas pangkuan. Diam-diam menggigit pipi bagian dalam untuk meredakan kekhawatiran terkait kondisi Baskara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2