Taruhan

Taruhan
About Sera, Jeffrey, and Raya


__ADS_3

Seraphina Lazuardy dilahirkan di keluarga bahagia, dibesarkan sebagai putri tunggal kesayangan dan tumbuh menjadi perempuan cantik berhati lembut nan menawan. Ayahnya merupakan sulung dari empat bersaudara, sukses menjadi pebisnis kaya raya di usianya yang terbilang masih muda, yaitu 32 tahun. Ibunya seorang direktur di rumah sakit swasta terbesar di Indonesia, posisi yang tidak main-main untuk perempuan muda berusia 29 tahun yang merupakan bungsu di keluarganya.


Sebagai anak tunggal dari keluarga kaya raya, hidup Sera tentu saja terjamin. Semua kebutuhannya dipenuhi, baik secara materi maupun secara kebutuhan emosional. Ia dididik dengan lembut, tetapi tetap diajarkan bagaimana bertanggung jawab atas setiap pilihan yang dibuat, sehingga bukan cuma cantik dan penyayang, Sera juga tumbuh menjadi perempuan cerdik dan tangguh.


Kehidupan bahagia Sera bersama kedua orang tuanya juga akhirnya membawanya bertemu dengan Jeffrey, laki-laki tampan yang kemudian mempersunting dirinya setelah menjalani masa pacaran selama tiga tahun. Bersama Jeffrey, Sera bertekad untuk membangun keluarga kecilnya sendiri, agar ia bisa meneruskan bagaimana cara kedua orang tuanya menyayangi dirinya selama ini.


Seolah Dewi Fortuna memang selalu berada di pihaknya, Sera juga semakin dibuat terasa melayang-layang di udara kala dirinya dinyatakan hamil ketika usia pernikahannya dengan Jeffrey memasuki tahun pertama. Semua yang terbaik telah Sera dan Jeffrey persiapkan untuk calon buah hati mereka. Hunian yang nyaman, jaminan pendidikan dan segala hal yang akan diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang sang buah hati telah mereka upayakan sedemikian rupa.


Hidup mereka akan berjalan sempura, kalau saja Jeffrey tidak membuat kesalahan yang pada akhirnya membangunkan sisi jahat di dalam diri Sera demi melindungi keutuhan keluarga kecil mereka yang baru akan dimulai.


Malam itu, ketika perusahaan milik ayag Sera sedang menggelar pesta ulang tahun di salah satu hotel milik keluarga, sebuah insiden terjadi. Di mana hampir semua orang yang menghadiri pesta terlalu larut dalam kemeriahan yang ada, sampai tanpa sadar telah menenggak terlalu banyak alkohol sehingga membuat kesadaran mereka berada di ambang batas bawah.


Dan di antara banyaknya manusia-manusia yang mabuk itu, Jeffrey menjadi salah satunya.


Dalam keadaan setengah sadar, Jeffrey berjalan sempoyongan menuju salah satu kamar di hotel tersebut yang memang di sediakan satu untuk setiap tamu undangan yang datang. Ia menerobos masuk begitu saja begitu melihat seorang perempuan tengah terduduk di atas kasur dalam pencahayaan kamar yang redup. Jeffrey pikir perempuan itu adalah Sera, dan dalam keadaan tidak sadar itulah, Jeffrey meniduri perempuan itu.


Menjelang subuh, ketika kesadarannya perlahan-lahan kembali, Jeffrey terkejut bukan main karena yang dia temukan tertidur di sebelahnya ternyata bukan Sera, melainkan Raya, anak tiri dari salah satu paman Sera yang baru bergabung menjadi anggota keluarga Lazuardy beberapa bulan sebelumnya.


Jeffrey panik. Ia kalut, sehingga dengan gerakan serabutan, ia mengenakan kembali pakaiannya kemudian berlari keluar dari kamar, meninggalkan Raya yang kala itu belum sadarkan diri dari tidurnya.


Dengan kekalutan yang semakin menguasai diri, Jeffrey berlarian menghampiri Sera di dalam kamarnya. Ia berlutut, memohon ampun kepada sang istri yang kala itu tengah mengandung anak mereka. Jeffrey menangis, meraung, bahkan berkali-kali menampar dirinya sendiri sebelum akhirnya menceritakan semua yang terjadi kepada Sera dengan kalimat yang tersendat-sendat.


Sera yang mendengar penuturan Jeffrey juga tidak kalah kalut. Ia juga panik, takut kalau Raya akan buka mulut dan membongkar semuanya di hadapan seluruh anggota keluarga Lazuardy. Lebih parahnya lagi, perempuan itu mungkin akan membongkar aib ini ke hadapan publik, mengingat ia bukanlah keluarga kandung Lazuardy dan tidak akan ikut menanggung rugi sebanyak yang akan Sera dan keluarga besarnya tanggung.


Berbekal kekalutan itu, Sera bergegas menemui pamannya, memohon agar dibantu membungkam mulut Raya agar perempuan itu tidak membeberkan aib ini kepada siapapun. Pamannya setuju, dan langsung membuat keputusan untuk memboyong Raya dan ibunya ke Australia agar perempuan itu tidak punya kesempatan untuk buka suara, bahkan kepada ibunya sendiri.


Untuk solusi yang pamannya berikan, Sera sangat berterima kasih. Dan ia dengan senang hati merelakan beberapa aset yang ia miliki untuk diberikan kepada sang paman sebagai ucapan terima kasih.


Sera pikir, masalahnya sudah selesai sampai di sana. Karena setelah kepindahan pamannya dan keluarga kecil mereka ke Australia, Sera kembali bisa menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Jeffrey seperti sebelumnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Ia memutuskan untuk tidak membahas hal itu lagi dengan Jeffrey, karena ia yakin malam itu Jeffrey benar-benar tidak sengaja dan lelaki itu masih sangat mencintainya. Kelahiran putra mereka yang kemudian mereka beri nama Baskara juga turut menjadi faktor pendukung yang membuat hubungan mereka semakin harmonis. Yang jelas, hidup Sera dan Jeffrey benar-benar baik-baik saja selama beberapa tahun.


Sampai kemudian, Sera mendengar dari pamannya bahwa Raya telah kembali ke Indonesia bersama dengan putranya. Perempuan itu terus berbuat onar di negeri orang sehingga pamannya mau tidak mau harus mengirimkan Raya untuk tinggal di Jakarta lagi, setelah menandatangani perjanjian bahwa Raya akan hidup dengan tenang bersama putranya dan tidak pernah menampakkan dirinya lagi di depan keluarga besar Lazuardy.


Di tengah kesibukannya menjadi seorang ibu untuk Baskara, Sera terpaksa meluangkan waktu untuk menempatkan beberapa orang di sisi Raya demi memastikan perempuan itu menjaga jarak dari keluarganya. Sera tidak ingin Raya tiba-tiba datang dan mengacaukan keluarga kecilnya yang bahagia.


Tapi sialnya, Dewi Fortuna ternyata sudah tidak seasik itu kepadanya. Mungkin jatah keberuntungan yang ia miliki sudah habis, sehingga entah bagaimana caranya, tepatnya enam tahun yang lalu, Jeffrey tiba-tiba saja mengetahui bahwa Raya telah kembali. Bahwa perempuan itu ternyata mengandung anaknya dan membesarkannya seorang diri.

__ADS_1


Jeffrey yang di malam kejadian menangis sejadi-jadinya di kaki Sera, meminta untuk diselamatkan dan agar dirinya tidak ditinggalkan, tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang ingin sok peduli pada nasib Raya. Jeffrey memohon kepada Sera untuk dipertemukan dengan Raya, dengan dalih bahwa ia harus bertanggung jawab atas anak yang Raya lahirkan karena biar bagaimanapun, anak itu adalah darah dagingnya.


Sera jelas menolak keras permintaan Jeffrey itu. Ia bersikeras mengatakan bahwa hidup Raya baik-baik saja, dan segala kebutuhan perempuan itu serta anaknya sudah dijamin oleh pamannya.


Akan tetapi, Jeffrey menjadi keras kepala. Lelaki itu secara diam-diam mencari keberadaan Raya, hingga membuat hubungan mereka perlahan-lahan merenggang karena Jeffrey sering bepergian ke luar kota dalam upayanya menemukan perempuan itu.


Puncaknya terjadi sekitar dua tahun lalu, ketika Jeffrey akhirnya tahu bahwa Raya tinggal di Jakarta, di sebuah rumah yang nyatanya tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal selama ini.


Jeffrey semakin menjadi-jadi, berkali-kali berusaha mencuri kesempatan untuk menemui Raya dan anaknya tanpa sepengetahuan Sera. Hal itu membuat Sera geram, sehingga ia harus mengerahkan banyak sekali orang hanya untuk memastikan Jeffrey tidak bisa melancarkan niatnya.


Namun tindakan Sera itu justru membuat Jeffrey marah, lelaki itu malah mengatainya jahat karena telah berusaha memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya sendiri.


Padahal, Sera melakukan itu untuk melindungi keluarga kecil mereka. Agar keluarga kecil mereka yang bahagia tetap bisa utuh, dan Baskara tidak kehilangan ayahnya.


Tapi di mata Jeffrey, Sera justru terlihat jahat?


Kalau begitu, apa salahnya kalau Sera betulan berubah menjadi jahat, sesuai dengan apa yang Jeffrey pikirkan tentang dirinya?


"Anak itu nggak salah apa-apa,"


Sera mengangguk, mengiyakan perkataan Jeffrey yang keluar setelah sekian lama mereka hanya terdiam dan saling duduk berseberangan di ruang tengah.


"Anak itu nggak salah, kamu yang salah." Akhirnya, Sera bersedia juga untuk buka suara. Ditatapnya Jeffrey datar, selagi ia bergerak menautkan kedua tangannya di atas pangkuan dan menegakkan punggungnya yang semula bersandar di sofa selagi mendengar Jeffrey mengoceh.


"Kamu yang bikin dia lahir ke dunia, dari rahim seorang ibu yang nggak pernah menginginkan kehadirannya." Suara Sera begitu tenang, bagai aliran air tak berombak yang malah bisa saja membuat banyak orang tenggelam.


"Anak itu punya gangguan mental karena ibunya nggak pernah bersikap selayaknya seorang ibu, dan aku cuma berusaha membantu dia untuk meredakan kecemasan yang dia miliki dengan bantuan Abraham. Jadi, di mana letak salah aku?"


"Dosisnya nggak harus sebanyak ini, Sera!" Jeffrey menaikkan suaranya.


"Aku bukan dokter," sedangkan Sera masih mempertahankan nada bicaranya tetap anggun dan tenang. "Kamu harusnya tanya sama Abraham, kenapa dia kasih obat dengan dosis segitu, bukan malah marah-marah ke aku."


"Lagipula, kamu nggak pernah benar-benar tahu gimana kondisi anak itu, Jeff. Jadi gimana kamu bisa tahu kalau obat itu nggak sesuai dengan kebutuhannya?"


"Itu karena kamu nggak pernah kasih aku kesempatan untuk ketemu sama dia!"


"Dan mengakui diri sebagai ayahnya?" Sera melepaskan tautan tangannya, sedikit memajukan tubuhnya untuk menatap Jeffrey dengan lebih jelas. "Kamu pikir, anak itu akan berterima kasih sama kamu kalau kamu muncul di hadapan dia sekarang? Kamu pikir, dia akan menangis terharu karena sosok yang selama ini dia cari-cari ternyata adalah orang yang sama dengan yang dia panggil Om, dan setahu dia adalah ayah dari sahabatnya sendiri?"

__ADS_1


"Mengakui diri kamu sebagai ayahnya cuma akan bikin pertemanan dia dan Baskara hancur. Oh, nggak cuma itu. Kamu juga akan kehilangan mereka berdua, Jeff. Pada akhirnya, kamu nggak akan dapat apa-apa."


"Demi Tuhan, Sera!" Jeffrey mengusap wajahnya kasar beberapa kali. "Aku cuma mau kamu kasih aku ijin untuk ketemu sama dia, supaya aku bisa pantau gimana kehidupan dia selama ini! Aku nggak pernah bilang akan mengaku sebagai ayahnya!"


"Selama ini kamu menempatkan begitu banyak orang di rumahnya dan di kampus, sampai-sampai aku sama sekali nggak punya kesempatan untuk memantau dia dari jarak dekat. Kamu seegois itu, Sera."


"Semua aku lakukan demi Baskara,"


"Stop jadikan Baskara sebagai alasan!" sergah Jeffrey. Matanya mulai memerah, menahan amarah yang sudah lama sekali ingin dia biarkan tumpah ruah. "Kamu lakuin ini semua untuk memenuhi ambisi kamu soal keluarga bahagia. Kamu cuma lagi berusaha membohongi diri kamu sendiri dengan membuat orang-orang percaya kalau kita baik-baik aja!"


"Kamu yang minta diselamatkan malam itu," Sera berusaha menahan diri agar tidak ikut terpancing emosi. Tangannya kembali saling bertaut, erat sekali sampai kuku jarinya yang cukup panjang mulai melukai punggung tangannya sendiri. "Kamu nangis-nangis di kaki aku, minta aku untuk nggak pergi ninggalin kamu karena kamu bilang bener-bener nggak sengaja melakukan itu semua ke Raya."


"Sekarang, setelah aku membantu kamu menjaga nama baik kamu biar tetap bersih, kamu malah bilang aku egois?"


Tidak ada yang suka ketika kesalahannya yang telah lewat diungkit lagi setelah sekian lama. Begitu juga dengan Jeffrey yang sudah mulai muak karena Sera selalu menggunakan kesalahannya untuk membuatnya tinggal di sisi perempuan itu sampai sekarang.


Jeffrey ingin menyudahi rasa bersalah yang ia miliki, baik kepada Sera maupun kepada Raya. Ia hanya tidak tahu dari mana harus memulai, dan Sera selalu bertindak seolah tidak ingin membiarkannya lepas dari rasa bersalah yang kian hari kian terasa menyiksa.


Keinginan Jeffrey hanya sederhana saja padahal. Ia hanya ingin sedikit memberikan perhatian kepada Fabian untuk membuat anak itu tidak terlalu merasa kesepian. Tapi rupanya, keinginan sederhana itu tampak begitu sulit untuk bisa Sera kabulkan.


"Oke," Jeffrey akhirnya menyerah setelah tahu tidak akan ada solusi dari obrolan mereka malam ini. "Aku nggak akan minta kamu untuk ijinin aku ketemu sama Fabian. Tapi tolong, suruh Abraham berhenti resepin obat ini buat Fabian. Aku nggak bisa lihat anak aku menderita karena obat-obatan sialan itu."


Kemudian, Jeffrey bangkit dari duduknya setelah menyambar botol obat yang ada di atas meja lalu menyakuinya kembali. Jeffrey lalu berjalan meninggalkan Sera, menapaki satu persatu anak tangga sambil memikirkan upaya lain untuk mengirimkan Fabian dan Raya ke tempat lain yang jauh dari jangkauan Sera.


Iya, kalau dia tidak bisa menemui Fabian dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah selama anak itu masih tinggal di Indonesia, maka Jeffrey akan mengusahakan yang terbaik untuk menjauhkan Fabian dari Sera, sejauh-jauhnya demi keamanan anak itu.


Di ruang tengah, Sera masih enggan beranjak bahkan setelah hampir lima belas menit kepergian Jeffrey. Berkali-kali ia menarik dan membuang napas secara perlahan untuk menenangkan gejolak yang ada di dalam dirinya.


Sampai kemudian, suara Baskara mengalun begitu lembut menyapa indera pendengarannya.


Sera mengangkat kepala, dan menemukan Baskara berdiri di ambang perbatasan ruang tengah dengan ruang tamu. Melalui tatapan matanya yang sayu, Sera tahu anaknya itu sedang dalam keadaan setengah sadar dari pengaruh alkohol.


"Kamu pulang sama siapa?" tanya Sera lembut, ia juga perlahan bangkit dan menghampiri Baskara.


"Naik taksi." Aroma alkohol yang menguar dari belah bibir Baskara ketika pemuda itu menjawab pertanyaannya terasa begitu menusuk ke dalam indera penciuman. Namun, sebagai seorang ibu, Sera mengabaikan aroma menyengat itu dan memilih untuk menuntun Baskara naik ke kamarnya.


Tubuh bongsor putranya semakin terasa berat saat Sera merasa kesadaran Baskara semakin menipis. Lalu sebelum langkah mereka sampai di anak tangga terakhir, Sera merasakan dadanya seperti dihujam ratusan pisau di saat yang bersamaan ketika Baskara yang setengah sadar bergumam pelan sembari menatap sayu ke arahnya.

__ADS_1


Katanya, "Mama sama Papa lagi nggak baik-baik aja, kan?" kemudian bibir pemuda itu terkatup seiring dengan matanya yang juga ikut-ikutan tertutup. Baskara jatuh di pelukan Sera, yang seketika itu menangis sejadi-jadinya karena merasa telah gagal menciptakan keluarga bahagia untuk putra satu-satunya yang ia miliki.


Bersambung


__ADS_2