Taruhan

Taruhan
Bukan Rumah


__ADS_3

Menjelang malam, ketika Baskara dan Fabian akhirnya memutuskan untuk berbagi tempat tidur karena Baskara selaku tamu menolak untuk pulang, mereka menghabiskan bermenit-menit hanya untuk berbaring bersebelahan. Pandangan mereka lurus ke atas, pada langit-langit kamar yang gelap, dengan seberkas kecil sinar rembulan yang menelusup masuk melalui celah ventilasi udara.


Di luar, hujan masih turun tipis-tipis. Hawa dingin yang masuk melalui celah pintu balkon yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit sesekali membuat Baskara beringsut ke arah Fabian demi mencari kehangatan. Hanya untuk dihempaskan bagai seonggok barang rongsokan tak berguna.


"Lo tiap hari kayak gini?" tanya Baskara, memecah keheningan yang sedari tadi menari-nari di udara.


Fabian menoleh, di mana ia dapati Baskara tengah mengulurkan tangan kanannya ke atas, seolah hendak meraih bohlam yang terpasang di langit-langit kamarnya, yang kini redup tak benyawa.


"Kayak gini gimana maksudnya?"


"Ya gini. Sunyi, sepi."


Sunyi. Sepi. Dua hal yang sedari dulu Fabian ingin rasakan ketika sedang berada di rumah. Sebab Raya hanya terus membuat keributan yang akhirnya menjadikannya terbiasa.


"Nyokap gue biasanya ngamuk kalau jam segini," ucap Fabian lirih. Pandangannya kembali ia labuhkan ke atas, namun kali ini di langit-langit kamarnya mulai nampak siluet wajah sang ibu yang tidak pernah menampakkan keramahan kepada dirinya. "Biasanya, dia akan mulai banting-banting barang, bikin suara ribut yang bikin kuping sama kepala gue serasa mau meledak."


"Tapi sekarang sunyi?"


Fabian terkekeh pelan. "Karena ada lo, mungkin."


Untuk beberapa detik, Baskara terdiam. Tangannya yang semula terangkat tinggi kini ia turunkan perlahan-lahan. Ia menoleh pada Fabian, menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.


"Kalau gitu, gimana kalau gue tinggal di sini selamanya?" usulnya setelah puas hanya memandangi wajah tampan Fabian.


Di sampingnya, Fabian justru tergelak. Pemuda itu lalu bergerak pelan mendudukkan dirinya hingga selimut yang membalut tubuh mereka tersingkap.


"Lo secinta itu sama gue?" tanya pemuda itu.


Baskara berdecak. Bola matanya yang berputar jengah menjadi tanda betapa ia kesal karena Fabian lagi-lagi menanggapi usulannya dengan candaan. Ia lalu ikut bangkit, sedikit sewot saat menyibakkan selimut hingga kini seluruh tubuhnya terbebas dari balutan kain tebal tersebut.

__ADS_1


"Iya." Katanya. Posisi duduknya kemudian ia buat menghadap ke arah Fabian supaya lebih mudah untuk menunjukkan keseriusannya pada bocah ingusan itu. "Gue secinta itu sama lo. Cinta mati, malah. Jadi, izinin gue tinggal di sini." Imbuhnya.


Gelak tawa yang semula memenuhi udara, perlahan-lahan mereda sebelum akhirnya teredam sepenuhnya. Hening kembali menjadi teman yang begitu akrab, ketika Fabian tidak kunjung membuka mulutnya dan malah memaku tatap dengan Baskara yang bersedekap di depannya.


Detik demi detik berlalu dengan sia-sia. Tidak ada sepatah katapun yang berhasil keluar, pun dengan tatapan keduanya yang sama-sama tidak mau lepas dari satu sama lain. Fabian dan Baskara mendadak bisu. Otak mereka membeku, membuat seluruh sel di tubuh mereka tak lagi mampu bekerja untuk merespons sesuatu.


Sampai kemudian, terdengar gelegar petir yang menyambar begitu dahsyat, tanpa sudi memberikan peringatan terlebih dahulu.


Fabian tersentak, begitu juga dengan Baskara yang serta-merta mengelus dadanya yang berdegup tidak keruan karena datangnya petir sialan itu.


Petir kembali menyambar sebanyak dua kali, disertai embusan angin kencang yang menjadi pertanda bahwa hujan yang semula turun tipis-tipis kini mulai berubah menjadi badai yang mengamuk.


Dengan sigap, setelah mengatasi keterkejutannya atas petir yang pertama kali menggema, Fabian melompat turun dari kasur. Pintu balkon ia tutup rapat, kemudian dia kunci untuk memastikan angin ribut di luar tidak menerobos masuk dan memporak-porandakan apa yang ada di dalam kamarnya. Setelah itu, Fabian kembali berjalan menuju kasur.


"Ini bukan rumah gue," adalah kalimat pertama yang Fabian katakan setelah ia duduk di tepian kasur. Ia duduk membelakangi Baskara, menatap lurus ke arah pintu balkon yang diselimuti gorden.


"Tempat ini nggak cocok dijadikan sebagai tempat tinggal, apalagi disebut sebagai rumah." Kata Fabian lagi, kemudian ia menoleh ke arah Baskara dengan sorot mata yang terlalu sulit untuk dibaca. "Jadi, lo nggak boleh ada di sini. Siapapun nggak boleh ada di sini,"


"Termasuk lo,"


Alih-alih setuju, Fabian malah menggeleng sambil menyunggingkan senyum tipis. "Gue adalah pengecualian."


"Mana bisa gitu?!" sergah Baskara. Sedangkan Fabian masih tetap terlihat tenang. "Kalau ini memang bukan rumah, dan nggak layak buat ditinggalin, berarti lo juga nggak boleh ada di sini. Ayo, kita kabur sejauh-jauhnya dari sini."


Lagi-lagi, Fabian menggeleng. "Hidup gue bermula dari sini, dan kalau harus berkahir, berakhirnya juga harus di sini."


"Nggak akan ada yang berakhir!" sesak merambati dada Baskara begitu cepat saat Fabian mengatakan itu. Ia bahkan merasakan kedua matanya memanas, di mana bulir-bulir air mata telah siap untuk meluncur bebas kalau saja ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri meski hanya sedetik.


Baginya, Fabian bukan cuma sekadar teman. Lebih dari perasaan nyaman yang ia miliki untuk Juan dan Reno, Baskara merasa ia memiliki ikatan batin yang lebih kuat dengan Fabian, meskipun sampai saat ini ia tidak tahu apa alasannya.

__ADS_1


"Bas, lo nangis?" panik Fabian saat menemukan kabut bening menyelimuti mata Baskara. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Baskara, namun pemuda itu menyentak tangannya detik itu juga.


"Bangsat." Suara Baskara mulai kedengaran gemetar. "Ayolah, Bi. Kita kabur aja yang jauh. Lo mau ke mana? Amerika? Korea? Jepang? Inggris? Ke mana pun lo mau, gue akan ikut."


"Bas,"


"Please..." Baskara mulai merengek. Toh, ia juga sudah lelah dengan hidupnya di sini. Memulai kehidupan di tempat baru, di mana tidak ada seorang pun mengenali mereka juga tidak kedengaran buruk.


Namun sekali lagi, Fabian tetap keras kepala dengan pendiriannya untuk bertahan di neraka ini.


"Lo masih punya nyokap, yang akan sedih kalau lo tinggalin sendiri." Kata Fabian.


"Kita bisa kabur bertiga,"


"Nggak segampang itu, Baskara."


Frustrasi, Baskara mengacak-acak rambutnya sendiri. "Terus gimana?"


Fabian malah mengulas senyum tipis. "Ya nggak gimana-gimana. Jalanin aja kayak biasanya. Kita masih bisa have fun dengan minum sampai kembung di Mega. Masih bisa eksis di Neo. Yang paling penting, masih bisa taruhan. Iya, nggak?" celotehnya disertai gerakan menaik-turunkan alis yang seketika membuat air mata Baskara yang semula hendak meluap tiba-tiba saja tertarik kembali ke ruang penyimpanan yang ada.


"Anjing lo!" kesal Baskara.


"Nah, gitu dong marah-marah. Masa ketua geng paling disegani di Neo mewek, sih? Nggak banget." Ejek Fabian. Namun di balik ejekan itu, ia sebenarnya hanya sedang berusaha untuk mengembalikan keceriaan di tengah mendung yang tengah menyelimuti mereka berdua.


"Bacot," omel Baskara. Lalu ia membanting tubuhnya ke kasur, mengambil posisi miring membelakangi Fabian sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya.


Di tempatnya, Fabian kembali terkekeh. Meksipun tidak bisa merealisasikan usulan Baskara, setidaknya ia tetap merasa lega karena tahu ada seseorang yang begitu peduli pada dirinya. Dengan begitu, ia tidak terlalu merasa kesepian sekarang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2