
“Lo sendirian? Fabian sama Avatar ke mana?” Reno tampak mengedarkan pandangan kala mendapati hanya ada Baskara yang duduk sendirian di sofa ruang depan.
“Bian lagi ke supermarket, Biru ada tuh lagi ke toilet.” Jawab Baskara santai.
Reno manggut-manggut, lalu segera mengambil posisi duduk di samping Baskara.
Tak lama setelahnya, Juan muncul dari pintu depan sambil membawa kantong kresek hitam. Pemuda itu lalu meletakkan kantong kresek tadi di atas meja, sebelum akhirnya ikut duduk di atas sofa.
“Apaan?” tanya Baskara. Ia bergerak maju, mengintip ke dalam kantong kresek hitam tersebut dengan cara menyibakkannya sedikit. Alangkah terkejutnya ia, kala mendapati ada tiga botol Soju di dalam kantong kresek tersebut. “Lo ngapain bawa alkohol, anjir?” ia sedikit mendelik.
“Kali aja lo pada mau minum.” Juan menjawab santai. “Lagian, muka lo tegang amat, kayak baru pertama kali lihat alkohol aja.” Sambungnya, menyadari ekspresi wajah Baskara terlalu berlebihan untuk ukuran seseorang yang bisa menenggak bir bagai minum air putih.
“Ya masalahnya ada Sabiru, dia nggak minum.”
“Ya urusan dia, lah. Kenapa gue jadi yang harus ngertiin? Perkara dia nggak minum alkohol ya tinggal nggak usah ikut minum,”
Baskara mendesah pelan. Ingin mendebat lebih jauh, namun kesempatan yang ia miliki nyaris tak ada ketika sosok Biru muncul dari balik pintu kamar mandi dan berjalan menghampiri mereka. Gadis itu melayangkan tatapan ke depan, jelas tidak ingin beradu tatap dengannya setelah apa yang terjadi sebelumnya.
“Boleh bagi rokok, nggak?” tanya gadis itu, entah kepada siapa.
“Marlboro, mau?” tak biasanya Reno bersikap ramah-tamah kepada manusia lain. Tentu saat kalimat itu keluar, Juan dan Baskara refleks saling pandang dalam keterheranan.
“Boleh. Koreknya sekalian,”
Tanpa ba-bi-bu, Reno mengeluarkan bungkus rokok dan pemantik dari tas selempang miliknya lalu mengoper benda tersebut kepada Biru.
“Thanks.” Ucap Biru. Ia menarik sebatang rokok dari dalam bungkus, kemudian mengembalikan sisanya kepada si empunya. “Gue bisa ngerokok di mana?” tanyanya.
“Teras depan aja. Asbaknya ada di bawah meja.” Reno memberikan arahan.
Biru mengangguk paham. “Kalau gitu, gue ke depan bentar. Koreknya gue pinjam dulu nggak apa-apa, kan?”
“Santai.” Jawab Reno.
Biru pun berjalan keluar meninggalkan ruang depan.
Selepas kepergian Biru, Juan dan Baskara serempak melabuhkan tatapan keheranan yang semula hanya mereka bagi untuk berdua, kepada Reno. Pemuda mungil yang duduk di antara mereka itu diam saja, seolah tidak bisa menangkap sinyal keheranan yang padahal jelas sekali mereka tunjukkan.
“Sejak kapan lo se-care itu sama orang?” tanya Juan menyelidik.
Reno menoleh. Barulah ketika itu, ia sadar sikapnya terhadap Sabiru telah menimbulkan banyak pertanyaan baru bagi teman-temannya. “Kenapa?” ia balik bertanya.
__ADS_1
“Ya aneh. Nggak biasanya lo begini. Atau jangan-jangan....” Juan memanjangkan kata terakhir, untuk kemudian dia tinggalkan menggantung di udara dalam waktu yang cukup lama.
“Apa?”
“Lo naksir sama Sabiru?”
“Ngawur!” Reno mengibaskan tangannya di depan wajah Juan, menimbulkan sensasi semriwing dari angin kecil yang berembus.
“Ya terus apa alasannya? Kenapa lo baik sama dia? Ini bukan lo banget,” Juan masih tidak puas pada jawaban yang Reno berikan. Well, itu bukan sebuah jawaban juga sebenarnya. Hanya penyangkalan kecil tanpa sebuah penjelasan lebih detail.
Reno tidak langsung menjawab. Pemuda itu malah menoleh ke arah Baskara yang duduk di sisi kirinya dan sedari tadi hanya diam. “Gue mau rekrut dia jadi anggota Pain Killer yang ke-5.”
“HAH?!!!!” seru Juan dan Baskara bersamaan.
...****************...
Sebuah ide untuk melakukan permainan sederhana tercetus setelah mereka menghabiskan beberapa bungkus camilan dan minuman kaleng. Ide itu datangnya dari Reno, yang sempat ditolak oleh Baskara namun kemudian tetap dilaksanakan karena mayoritas dari mereka tidak keberatan.
Saat ini, mereka duduk melingkar di atas lantai. Di tengah-tengah mereka telah tersedia satu botol Soju yang masih tersegel, sebuah seloki dan satu botol Soju yang sudah kosong.
“Ready?” tanya Reno selaku pencetus ide sambil menatap peserta lain satu persatu.
Tiga orang mengangguk serempak sebagai tanda kesiapan, sedangkan satu orang lagi (Baskara) hanya diam dengan raut wajah yang terlalu sulit untuk dibaca.
Reno menatap teman-temannya sekali lagi, kemudian mulai berhitung mundur dan berseru “Go!” disusul gerakan memutar botol Soju kosong yang semula ia pegang.
Aturan permainannya sederhana. Reno akan memutar botol Soju tersebut, dan ketika botol kaca itu berhenti berputar, mereka akan memeriksa ke arah mana ujung botol itu menunjuk. Orang yang ditunjuk lalu akan dihadapkan pada dua pilihan: menerima tantangan yang diberikan oleh seseorang yang duduk di sebelah kanan, atau meminum Soju yang telah dipersiapkan.
Putaran pertama berlangsung selama 17 detik. Semua yang turut serta dalam permainan tampak memfokuskan pandangan ke arah botol itu ketika semakin lama perputarannya semakin melambat. Baskara yang semula tampak enggan pun juga terlihat mulai bisa menerima keadaan, ikut harap-harap cemas menanti botol itu berhenti berputar.
Korban pertama yang ditunjuk oleh botol itu adalah Reno sendiri. Semua mata tertuju padanya, namun yang paling terlihat bersemangat adalah Juan yang duduk di sebelah kanannya.
“Telepon Clarissa, ajakin dia balikan.” Titahnya. Sambil menunggu Reno menentukan pilihan, Juan bergerak membuka penutup botol Soju, lalu menuangkan cairan bening itu hingga memenuhi seloki.
Juan sudah yakin bahwa Reno akan memilih meminum Soju yang dia tuangkan, karena mengubungi Clarissa untuk minta balikan adalah sebuah tindakan bunuh diri yang ekstrem.
Clarissa adalah mantan pacar Reno. Gadis pertama yang berhasil membuat seorang bad boy kelas kakap macam Reno tobat sebentar. Mereka menjalani hubungan secara diam-diam agar tidak menimbulkan kehebohan. Hanya anggota Pain Killer saja yang mengetahui hubungan mereka. Namun 5 bulan yang lalu, Reno diputuskan karena ketahuan tidur dengan jablay yang ditemui di Mega dalam keadaan mabuk berat.
Akibat kejadian putus itu, Reno nyaris seperti orang gila. Pemuda itu lebih sering datang ke klub, lebih sering tidur dengan sembarang perempuan, dan jadi tidak bisa membuka hati untuk gadis-gadis lain sebab ia masih begitu jatuh untuk Clarissa. Sayangnya Reno terlalu gengsi, sehingga ia tidak berusaha untuk mendekati Clarissa lagi dan membiarkan hubungan mereka kandas tanpa menunjukkan usaha lebih untuk memperbaikinya.
“Nih, minum.” Kata Juan karena Reno tak kunjung menentukan pilihan.
__ADS_1
Namun siapa sangka, kalau Reno malah mendorong seloki menjauh lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Tak perlu banyak langkah menggulir layar, sebab setelah ponsel itu menyala dan Juan memencet angka 1, panggilan otomatis tertuju pada nomor kontak Clarissa. Tidak lupa Reno menyalakan loud speaker agar teman-temannya yang lain bisa mendengar ketika Clarissa mengankat panggilan.
“Kenapa?” suara Clarissa terdengar ketus.
“Ayo balikan.” Kata Reno tanpa berbasa-basi.
Terdengar hela napas panjang dari seberang. “Lo lagi mabok?”
“Gue lagi main game sama anak-anak. Mereka minta gue telepon lo buat ngajak balikan.”
Juan sepenuhnya kehilangan kata-kata mendengar pengakuan Reno tersebut. Apa ini? Kenapa Reno justru membuat citranya semakin buruk di mata Clarisa?!
Sudah tidak perlu ditanyakan lagi seperti apa respons Clarissa selanjutnya. Gadis itu memutus sambungan telepon secara sepihak. Sedangkan Reno tampak biasa saja—walau sumpah demi Tuhan, Juan tahu pemuda itu sedang merutuki dirinya sendiri.
“Next. Kali ini lo yang putar botolnya.” Reno menggeser botol kosong ke arah Juan agar pemuda itu mengambil gilirannya.
Dengan perasaan yang jadi serbasalah, Juan memutar botol sekuat-kuatnya. Selagi menunggu botol itu berhenti, ia terus-menerus menatap Reno, berusaha membaca ekspresi wajah yang sesungguhnya tersembunyi di balik raut wajah datar yang pemuda itu tunjukkan.
Korban ke-2 dari putaran botol itu adalah Baskara, dan Fabian adalah orang yang duduk di sebelah kanannya.
“Gue nggak tahu harus bikin dare apaan. Lo minum aja deh,” ucap Fabian sambil menyodorkan seloki.
Baskara menerima seloki dan langsung menenggak isinya hingga tandas.
Kemudian, game berlanjut sampai beberapa putaran lagi. Ujung botol berhenti beberapa kali di orang yang sama, dan ketika tantangan-tantangan telah habis, orang yang ditunjuk tidak punya pilihan selain menenggak Soju di dalam seloki.
“Satu putaran lagi. Kalau kali ini Sabiru yang kena, kita stop.” Kata Reno, karena memang hanya Sabiru yang belum pernah ditunjuk. Ia mencetuskan ide untuk bermain game ini agar ia bisa bersenang-senang. Namun sampai beberapa kali putaran, dia malah menjadi satu-satunya orang yang belum sempat memberikan tantangan.
Tugas memutar botol untuk terakhir kalinya diambil oleh Baskara. Tidak seperti ketika teman-temannya yang lain memutar botol dengan nafsu yang menggebu-gebu sehingga membuat botol itu berputar kencang dan membutuhkan waktu yang lama untuk akhirnya berhenti, Baskara lebih memilih untuk memutar botol itu pelan.
Bagai sebuah keajaiban, putaran pelan itu akhirnya berhenti dengan ujung botol menunjuk ke arah Sabiru. Reno berseru senang, sampai bertepuk tangan heboh saking antusiasnya.
“Akhirnya giliran gue!”
Sabiru menggeleng pelan melihat betapa bersemangatnya Reno sekarang. Ya wajar sih, selain karena belum mendapat kesempatan untuk memberikan tantangan, Reno juga menjadi orang yang paling banyak menenggak Soju sepanjang berlangsungnya permainan.
“Gue harus ngapain?” tanya Biru. Ia sama sekali tidak berpikiran macam-macam saat Reno menatapnya dengan senyum tipis yang tersungging. Pikirnya, Reno hanya terlalu antusias.
Namun, kekita titah dari Reno akhirnya keluar, bukan cuma Biru yang kehilangan kata-kata, melainkan semua orang yang ada di sana.
“Cium orang yang duduk di sebelah kiri lo.”
__ADS_1
Bersambung