Taruhan

Taruhan
Hancur


__ADS_3

Keesokan harinya, Baskara telah kembali ke setelan awal. Menjadi pribadi yang cerah dan bersemangat, seolah air mata yang dia tumpahkan semalam bukanlah apa-apa. Seiring dengan kesadarannya yang berangsur kembali, sikap pengecutnya juga tumbuh lebih besar ketimbang kemarin.


Pusing masih sedikit terasa di kepala, tetapi hal itu tidak menyurutkan niat Baskara untuk tetap turun dari kasur dan berjalan sempoyongan keluar dari kamar. Satu tangannya berada di kepala, memukul-mukul pelan kepala bagian belakang untuk melenyapkan sakit yang masih tersisa. Sedangkan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk berpegangan ketika ia berjalan pelan-pelan menuruni satu persatu anak tangga.


Kemudian, sesampainya ia di dapur, Baskara disuguhi pemandangan tak biasa. Di mana ibunya telah berdiri anggun di sisi meja makan, sementara sang ayah duduk di salah satu kursi sembari menyesap teh dalam cangkir.


"Morning, baby." Sapa ibunya kala menemukan keberadaannya yang berdiri di area pembatas ruang tengah dengan dapur.


Baskara membalas ucapan selamat pagi itu dengan sebuah kecupan ketika ia sampai di sisi sang ibu. Sementara untuk sang ayah, tidak ada yang bisa Baskara berikan selain tatapan keheranan yang tidak dapat lagi disembunyikan.


"Kok Papa di rumah?" pertanyaan itu lolos setelah Baskara mendudukkan dirinya di sisi kiri sang ayah. Pertanyaan yang akhirnya membuat ayahnya meletakkan cangkir teh dan beralih menatapnya lekat-lekat.


"It's Saturday," jawab Jeffrey.


"I know," Baskara menyela. Ia menerima gelas susu yang ibunya ulurkan, meminumnya sedikit kemudian kembali mencurahkan perhatian kepada ayahnya. "Tapi Papa biasanya sibuk meskipun itu hari Sabtu ataupun Minggu."


Baskara menunggu cukup lama, hanya untuk sebuah hela napas yang dia sendiri bahkan tidak tahu apa artinya. Seperti yang sudah-sudah, dia tidak diberikan penjelasan lebih lanjut atas setiap pertanyaan yang dia ajukan kepada ayahnya. Paling banter, ia hanya akan mendapatkan pengertian dari sang ibu, yang sudah seperti juru bicara bagi sang ayah yang suka mendadak bisu kalau dia melontarkan pertanyaan yang jawabannya mungkin terlalu sulit untuk dijelaskan.


"To be honestly, Baskara senang Papa pulang." Katanya kemudian.


Susu yang masih tersisa banyak dia tenggak secara terburu-buru, membuatnya nyaris tersedak dan berakhir merasakan perutnya terasa tidak nyaman karena volume susu yang masuk secara bersamaan di satu waktu. Gelas yang sudah kosong kemudian dia letakkan di atas meja, lalu Baskara bangkit dari duduknya, memasukkan kedua tangan ke saku celana sembari kembali melemparkan tatapan kepada ayahnya.


"Tapi kalau Papa pulang cuma untuk pergi lagi dalam waktu yang cukup lama, Baskara rasa better Papa pulang tiga bulan sekali kayak biasanya juga nggak apa-apa." Lalu ia menyunggingkan senyum tipis, yang langsung sirna dalam beberapa detik saja.


Tidak ada tanggapan apapun yang dia terima dari sang ayah, hanya tatapan yang terasa asing, yang rasa-rasanya sudah tidak lagi bisa membuat dadanya terasa meletup-letup penuh sukacita. Pun ketika ia menoleh kepada sang ibu, Baskara juga tidak menemukan tatapan yang semestinya ia temukan di mata seorang wanita yang masih begitu mencintai prianya. Seolah mereka memang sudah rusak, namun terlalu egois untuk bisa melepaskan genggaman tangan masing-masing.


"Baskara nggak butuh ada Papa, kalau cuma raganya aja." Baskara kembali menatap ayahnya, yang masih mengunci bibirnya rapat-rapat. "Cari dulu jiwa Papa yang hilang itu, ajak dia pulang. Baru Baskara akan percaya kalau keluarga kita memang baik-baik aja."


"Dan untuk Mama," tatapan Baskara beralih kepada ibunya. "Cukup. Mama nggak perlu lagi berpura-pura kalau semuanya baik-baik aja. Usaha Mama untuk bikin Baskara percaya kalau keluarga kita baik-baik aja udah maksimal, itu udah cukup. Jadi sekarang Mama bisa lebih jujur sama perasaan Mama sendiri. Mama boleh nangis, Mama boleh ngamuk, Mama boleh berantem sama Papa di depan Baskara. Itu boleh, nggak masalah."

__ADS_1


"Bas," suara Sera terdengar lirih.


Untuk ibunya, Baskara selalu menyediakan stok senyum tulus, tak peduli meski hatinya sedang hancur sekalipun. Seperti sekarang ini, ketika sudut-sudut bibirnya terangkat dan ia mengeluarkan satu tangan dari saku untuk menggenggam milik ibunya yang saling bertaut di atas meja.


"Mama udah jadi ibu yang terbaik," ucap Baskara sembari sedikit membungkukkan badannya ke arah sang ibu. "Sekarang, waktunya Mama memperjuangkan kebahagian Mama sebagai seorang manusia. Kalau Mama merasa kebahagiaan itu nggak datang selagi Mama masih menjadi istri Papa, maka Baskara nggak keberatan kalau kalian harus pisah. Apapun itu, Baskara cuma mau yang terbaik untuk kalian berdua." Lalu Baskara menegakkan kembali tubuhnya, menarik tangannya dan menyakuinya kembali.


"Mama dan Papa yang paling tahu gimana hubungan kalian yang sebenarnya. Jadi, Baskara harap, kalian bisa bijak untuk menentukan jalan mana yang harus diambil." Kata Baskara dengan sok bijaknya. Padahal, setengah mati dia menahan takut kalau-kalau ayah dan ibunya betulan akan berpisah. Tapi kalau dipikir-pikir, kondisinya sekarang juga tidak ada bedanya dengan anak-anak yang orang tuanya bercerai, bahkan mungkin lebih parah.


"Ha ... Baskara nanti mau ke Bian, ya. Mau main game bareng." Celetuk Baskara beberapa detik kemudian, memecahkan keheningan yang semakin lama menjelma menjadi semakin besar dan berkuasa. "Mama sama Papa gunain aja waktu yang ada untuk berdiskusi. Kalau udah ada keputusannya, nggak usah ragu untuk kasih tahu Baskara. Apapun itu, pasti Baskara dukung kok."


Setelahnya, Baskara menatap ibu dan ayahnya secara bergantian, menyunggingkan senyum ala kadarnya lalu membalikkan badan dan berjalan santai kembali ke kamarnya. Langkahnya terayun begitu ringan, ia bahkan bersenandung lagu-lagu riang selama kakinya melangkah.


Sementara di dapur, keheningan kembali tercipta. Karena baik Jeffrey ataupun Sera, sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana. Semuanya sudah terlalu kusut untuk bisa dicari titik awalnya.


...****************...


Namun hari ini, Sabtu berjalan lain untuk dirinya. Keinginannya untuk bermain game seharian terpaksa dia urungkan, sebab suara benda pecah belah terus saja mengganggu rungunya bahkan meskipun headphone sudah dia tempelkan ke telinga.


Maka dengan sisa-sisa mabuk yang masih belum sepenuhnya hilang, Fabian keluar dari kamar dan bergegas menuruni tangga menuju gudang penyimpanan bir di bagian belakang rumah.


Pintu ruangan itu terbuka sedikit, namun Fabian tidak bisa melihat apa-apa karena semuanya gelap. Ibunya memang tidak pernah menyalakan lampu di ruangan itu, entah karena terlalu malas, atau memang itu tujuannya agar dia tidak ditemukan dengan mudah ketika pingsan. Mungkin ibunya berharap seseorang akan kesulitan menemukan tubuhnya yang sudah mati? Bisa jadi.


Fabian menerobos masuk setelah terdengar sekali lagi suara benda pecah. Aroma alkohol seketika menyeruak memenuhi indera penciumannya, membuatnya berprasangka bahwa benda-benda yang sedari tadi dipecahkan oleh ibunya adalah botol-botol berisi koleksi bir yang selama ini disayang-sayang oleh wanita itu seperti anaknya sendiri.


Dan benar saja, ketika Fabian menggunakan senter dari ponselnya untuk mencari keberadaan sang ibu, ia menemukan wanita itu tengah memegang sebuah botol bir yang siap untuk dia hantamkan ke tembok di hadapannya. Gerakan wanita itu praktis saja terhenti saat senter menyorot ke wajahnya, dan tatapan datarnya seketika berubah tajam saat tahu bahwa Fabian lah yang telah menginterupsi kegiatannya.


"Keluar!" usir wanita itu. Botol bir di tangan ia letakkan kembali ke dalam rak, kemudian ia berjalan menghampiri Fabian dengan mempertahankan tatapan tajam kepada pemuda itu.


"Keluar!" ulangnya. Tapi kali ini disertai dengan gerakan tubuh yang mendorong kasar dada Fabian sehingga membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Namun, Fabian memutuskan untuk tidak mengalah hari ini. Sebelum kakinya menyentuh area luar gudang penyimpanan, Fabian mencekal lengan ibunya. Ia cengkeram kuat-kuat kedua lengan itu sehingga membuat sang empunya meringis dan tidak lagi memiliki kekuatan untuk mendorong tubuhnya seperti tadi. Tatapan tajam itu Fabian balas, tidak kalah tajam dan menusuk.


"Lepas!" Raya meronta, namun Fabian sama sekali tidak menunjukkan belas kasihnya. Yang ada, cengkeraman pemuda itu malah semakin kuat, dan tatapannya pun semakin tajam.


"Stop bikin keributan," ucap Fabian dengan suara rendah, namun begitu terdengar mengintimidasi. "Bian cuma mau main game dengan tenang, jadi Mama tolong jangan ribut terus kayak gini."


"Lepas! Kamu nggak ada hak untuk atur-atur saya!"


"Ada!" Fabian memekik tepat di depan wajah Raya. "Bian ini anak Mama! Mau Mama menyangkal seratus juta kali pun, Bian tetap anak yang lahir dari rahim Mama! Jadi Bian punya hak untuk atur-atur Mama, demi kebaikan kita berdua!"


"Cih!" Raya menarik paksa lengannya dari cengkeraman Fabian, dan berhasil karena agaknya Fabian lengah ketika mencurahkan seluruh tenaganya untuk berteriak.


Raya bergerak mundur, menjaga jarak yang cukup jauh dengan tatapan yang masih menantang ke arah Fabian. "Satu-satunya kebaikan yang bisa kamu berikan untuk saya adalah kalau kamu mati."


Deg!


Fabian merasakan dadanya dipukul satu kali, menggunakan palu godam raksasa yang berhasil menghancurkannya dalam sekejap. Ia tahu, itu adalah keinginan yang selalu ingin ibunya wujudkan. Tetapi, untuk pertama kalinya, ia mendengar keinginan itu langsung dari mulut ibunya, dan itu menyakitkan.


"Mengandung dan melahirkan kamu adalah bencana untuk saya." Kata Raya lagi. Di sudut-sudut matanya, terdapat bulir air mata yang siap untuk meluncur bebas ketika mendapatkan ijin. "Saya merelakan banyak hal hanya supaya kamu bisa hidup. Dan setelah kamu hidup, saya masih harus berkorban lebih banyak lagi! Kamu bencana, Fabian! Bencana!" Raya berteriak histeris. Kemudian menangis sejadi-jadinya seperti orang gila.


Setelah puas hanya mendengar ibunya menangis, Fabian mengembuskan napas panjang. Mungkin, memang sudah saatnya dia berhenti mempertahankan kehidupan sialan ini. Kehidupan yang bahkan sama sekali tidak bisa dia nikmati, meskipun dia bisa membeli apapun dengan uang yang mengendap di tabungan pribadinya.


"Oke." Kata Fabian pelan. Ia menatap lekat ibunya, kemudian melanjutkan. "Nanti Bian mati. Nanti, setelah Mama sembuh. Setelah Mama nggak banting-banting barang lagi. Setelah Mama rutin minum obat, dan nggak konsumsi alkohol lagi."


"Jadi, kalau Mama mau Bian cepat mati, yang anteng, jangan ribut."


Kemudian Fabian berjalan keluar dari gudang penyimpanan, meninggalkan ibunya yang menangis sendirian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2