Taruhan

Taruhan
The Deal


__ADS_3

Gazebo belakang fakultas menjadi satu-satunya tempat yang terpikirkan oleh Fabian untuk mengajak Biru bicara.


Sejak beberapa menit yang lalu, ia dan Biru duduk berdampingan di atas gazebo. Tatapan matanya melayang jauh ke depan, pada pohon asem yang terombang-ambing tertiup angin. Dilihat-lihat, pohon malang itu nyaris serupa dengan dirinya. Yang kini tengah terombang-ambing di tengah perasaannya sendiri sambil menunggu Biru melayangkan segala cacian yang mungkin saja akan terdengar menyakitkan.


Tapi telah ditunggu sekian lama, Biru tidak kunjung buka suara juga. Padahal langit sudah mulai berwarna jingga dan matahari sialan yang tadi bersinar terik di atas kepala sudah sepenuhnya berada di sisi barat, hanya tinggal hitungan menit dan ia akan sepenuhnya tenggelam.


"I'm sorry." Kata Fabian usai mengembuskan napas pelan.


Biru yang tadinya menengadah menatap langit di atas mereka, kini menoleh dengan satu alis yang terangkat. "For what?" tanya gadis itu.


"Lo pasti berondong chat ke gue karena baca cuitan di base kampus, right?" tebak Fabian. Karena memang cuma alasan itu saja yang terpikirkan olehnya. Menurutnya, Biru tidak akan punya alasan lain untuk memberondongnya dengan banyak pesan kalah bukan untuk marah-marah setelah melihat cuitan di base kampus.


"So, you know that I texted you and you didn't text me back? Oh, you didn't even read the messages I've sent." Biru mengomel panjang lebar.


"Sorry, I'm just a little bit ... busy?" Fabian mencoba ngeles.


Tapi Biru bukanlah gadis yang mudah dikelabui. "I know you're not. Lo cuma berusaha menghindar dari gue, don't you?" tembaknya tepat sasaran.


Pada dasarnya, Fabian tidak terlalu pandai berbohong terhadap orang-orang yang auranya lebih dominan. Dan sayangnya, Biru termasuk ke dalam salah satu orang dominan tersebut.


"Y-yeah...." akunya sambil mengusap tengkuknya untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba saja datang.


"Stupid." Cibir Biru tiba-tiba.


"Huh?"


"Kenapa juga lo harus menghindar dari gue?"


"Cuz I feel ... sorry?" Fabian menghela napas kemudian, lalu kembali melayangkan tatapan ke depan kala manik Biru serasa menusuknya.


"God ... sorry for what, Fabian?" Biru mulai gemas. Ia bahkan menarik jaket Fabian agar kembali menatapnya. "Ngadep sini kalau lagi ngomong." Sinisnya.


Hela napas Fabian kembali mengudara, entah untuk apa. "Lo tahu lah buat apa. Cuitan yang di base kampus nggak akan tiba-tiba ada kalau nggak ada sebabnya."


Berbanding terbalik dengan Fabian yang sudah panik, Biru masih tetap santai. "I don't fcking care about the base, tho." Kata Biru enteng.


Namun, sedetik kemudian, gadis itu kembali bersuara dengan nada yang lebih antusias. "But, lo bakal dapat apa kalau bisa pacarin gue?" tanyanya, yang hampir saja membuat Fabian tersedak air liurnya sendiri.


Sepanjang sejarah taruhan yang ia dan anggota Pain Killer lakukan selama dua tahun ini, tidak ada satupun dari gadis-gadis incaran mereka yang bertanya seperti ini. Mereka malah akan pura-pura tidak tahu kalau sedang dijadikan bahan taruhan, padahal diam-diam bersuka hati dan telah menyiapkan berbagai agenda untuk dilakukan selama masa kencan satu bulan.

__ADS_1


Manusia bernama Eleena Sabiru ini memang agak lain. Mungkin asalnya memang bukan dari bumi, jadi komponen di dalam otaknya berbeda dengan manusia kebanyakan.


"Malah bengong! Jawab!" dengan tidak berperasaannya, Biru memukul bahu Fabian sampai membuat pemuda itu terhuyung ke samping dan nyaris jatuh tersungkur ke tanah yang kotor.


"Kasar banget, anjing!" Fabian kelepasan mengumpat. Dan sepersekian detik setelahnya, dia segera mengatupkan bibir rapat-rapat saat Biru terlihat memicing ke arahnya.


"Lo juga anjing," Biru berucap pelan, sama sekali tidak seperti seseorang yang sedang mengumpat. "Buruan jawab, lo dapat apa kalau bisa pacarin gue?" tagihnya lagi.


Usai kembali ke posisi duduknya semula sambil mendengus kasar, Fabian menjawab. "Cimol." Yang malah membuat Biru kembali memekik tepat di telinganya.


Telinga Fabian seketika berdenging. seperti baru saja ada gong besar yang ditabuh tepat di dekat gendang telinganya.


"Gue cuma dianggap seharga cimol?" tanya Biru tak terima. Pikirnya, murah sekali harga dirinya kalau disamakan dengan seporsi cimol yang harganya cuma beberapa ribu. Katanya geng paling disegani, kok taruhannya cuma berupa cimol, sih? Nggak banget!


"Ducati Panigale V4," celetuk Fabian sebelum bibir Biru semakin memberengut.


"Hmm?"


"Cimol itu nama motornya Baskara, Ducati Panigale V4. Lo searching aja sendiri kalau penasaran berapa harganya." Kepercayaan diri Fabian yang semula tidak ada, mulai perlahan-lahan meluncur usai menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana raut wajah Biru tiba-tiba berubah cerah setelah mendengar penjelasannya tentang Cimol.


Fabian pikir, Biru berbeda. Ternyata sama saja. Sepertinya, di dunia ini memang tidak ada perempuan yang benar-benar bisa menolak godaan harta duniawi.


Melihat itu, Fabian tentu saja kebingungan. Dan lagi, apanya yang deal? Mereka bahkan tidak sedang membahas kesepakatan apapun.


"Ayo kita pacaran."


Dua kali. Tolong ingatkan. Fabian sudah dua kali hampir tersedak air liurnya sendiri karena celetukan Biru yang terkesan asal dan tidak dipikiran dulu baik-baik.


"Lo lagi dijadiin bahan taruhan sama gue dan teman-teman gue loh ini?" Fabian menjelaskan sekali lagi. Siapa tahu saja otak Biru sedang sedikit miring, dan penjelasannya barusan bisa membantu gadis itu mendapatkan kembali kinerja otaknya yang prima.


"Gue tahu. Makanya, ayo kita pacaran." Tidak sabar menunggu Fabian meraih uluran tangannya, Biru menggunakan satu tangannya yang lain untuk membuat tangan Fabian mau berjabatan dengan miliknya.


"Apa-apaan!" Fabian segera menarik kembali tangannya. "Gue nggak lagi bercanda, lo itu cuma dijadiin bahan taruhan."


"Gue tahu, Fabian. Astaga ... gue nggak goblok, kok." Biru makin merasa gemas.


"Kalau udah tahu, lo harusnya kabur. Ngapain malah ngajakin gue pacaran?"


"Soalnya gue juga mau manfaatin lo."

__ADS_1


Tiga kali. Hampir tersedak air liur sendiri sebanyak tiga kali. Setelah ini, ingatkan Fabian untuk tidak usah lagi menghitung berapa banyak ia akan hampir tersedak.


"Di fakultas gue ada cowok yang rese abis. Dia gangguin gue terus, padahal gue udah judes ke dia dan nggak nanggepin dia sama sekali."


"Terus?"


"Ya gue awalnya mau manfaatin lo buat bikin cowok itu nggak berani macam-macam lagi sama gue. Dan yah ... kebetulan banget lo juga lagi jadiin gue bahan taruhan. Jadi, kenapa nggak kerja sama aja kita?"


Oke. Sekarang, ingatkan Fabian kalau Biru memang spesies langka yang mungkin hanya ada satu-satunya di muka bumi. Karena bagaimana bisa ada seorang gadis yang mau menawarkan kesepakatan tidak masuk akal seperti ini? TIDAK ADA!


"Mau nggak?"


Fabian menarik dan membuang napas secara perlahan. Otaknya yang sudah ikut-ikutan tidak beres malah menyumbangkan ide gila untuk menyetujui kesepakatan yang Biru tawarkan.


Tapi masalahnya, itu terlihat sedikit tidak alami. Bagaimana kalau nanti teman-temannya tahu soal kesepakatan ini, dan malah menimbulkan masalah baru?


"Mikir gitu doang aja lama, kayak lagi mikir solusi buat menyelamatkan negara aja." Biru mencibir.


"Lo serius nggak sih?" tanya Fabian yang masih ragu-ragu.


Biru memutar bola mata kesal sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "Gue nggak akan datang jauh-jauh ke sini kalau nggak serius."


Fabian kembali terdiam untuk menimbang sekali lagi. Namun saat tangan Biru terulur di hadapannya untuk yang ke-dua kalinya, Fabian tidak kuasa untuk mengabaikannya.


Tangan yang ukurannya sedikit lebih kecil dari miliknya itu ia jabat, selagi mata mereka saling tatap.


"Deal," ucap Fabian. Kemudian jabat tangan itu disudahi.


"Tapi lo harus jaga kesepakatan ini cuma di antara kita, okay? Gue nggak mau ada orang lain yang tahu kalau kita cuma akan pura-pura pacaran."


"Iya, gue tahu."


"Bagus." Biru lalu bangkit dari duduknya. "Kalau gitu, gue balik duluan. Makasih udah mau meluangkan waktu buat bikin kesepakatan ini sama gue." Katanya, kemudian segera membalikkan badan dan berjalan menjauhi Fabian.


Tetapi sebelum langkahnya terayun lebih dari lima kali, Biru berhenti dan kembali menoleh ke arah Fabian yang rupanya juga baru saja ikut bangkit dari duduknya.


"Anyway, chat yang gue kirim ke lo bukan soal ini. So, lo bisa cek sebelum nanti pesannya gue tarik lagi." Katanya, disertai senyum tipis penuh arti lalu dia kembali membalikkan badan dan berlalu pergi.


Oke, sedikit lagi lo bisa masuk ke lingkungan perteman mereka, Biru. Bisik Biru kepada diri sendiri seiring langkahnya yang semakin jauh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2