
Sedikit menepikan masalah Jasmine dan keberadaan gadis itu yang misterius, anggota Pain Killer memutuskan pergi ke markas besar untuk sejenak beristirahat. Mereka pergi secara terpisah karena Reno dan Juan harus lebih dulu menghadiri acara keluarga yang tidak bisa diganggu gugat, sedangkan Fabian dan Baskara berangkat menggunakan satu mobil setelah sebelumnya melipir ke apartemen Biru untuk menjemput gadis itu.
Yah, entah bagaimana, Biru mulai banyak dilibatkan dalam berbagai agenda perkumpulan mereka. Mungkin, kalau taruhannya sudah selesai, mereka betulan bisa merekrut Biru untuk menjadi anggota Pain Killer yang ke-5. Tidak terdengar seperti ide yang buruk, kan?
Mereka bertiga—Fabian, Baskara dan Biru—tiba di markas besar tepat pukul 5, sebelum hujan akhirnya mengguyur bumi dengan tanpa ampun, tanpa memberikan aba-aba karena ia turun ketika kondisi langit begitu cerah.
"Mendung tak berarti hujan, tak mendung juga bukan berarti tak hujan." Celetuk Baskara tiba-tiba ketika mereka baru saja duduk di atas sofa ruang depan.
Biru tampak melirik sekilas ke arah Baskara, sedangkan Fabian terlihat lebih tidak peduli karena sedang sibuk melepaskan jaket kulit yang membalut tubuhnya. Hujan memang turun, tetapi demi Tuhan hawanya benar-benar panas. Kalau tidak ada Biru di sini, Fabian mungkin juga akan sekalian melepaskan kaus lengan pendek berwarna hitam yang kini ia kenakan.
Selama bermenit-menit kemudian, yang ada hanyalah keheningan. Baskara sibuk memandangi tetes-tetes hujan yang jatuh dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Fabian asyik menggulir layar ponsel—sibuk meneliti satu persatu unggahan yang ada di base kampus untuk diam-diam mencari clue tentang keberadaan Jasmine. Sementara Biru yang duduk di tengah-tengah keduanya hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa.
Beberapa kali Biru melirik ke arah Baskara, beberapa kali itu juga ia mendapati raut wajah pemuda itu terus-menerus berubah. Hal yang sama juga terjadi saat ia melirik ke arah Fabian. Bahkan, perubahan ekspresi di wajah pemuda itu lebih terlihat signifikan dari waktu ke waktu.
Sampai kemudian, Fabian menarik diri dari layar ponsel, menyimpan benda pipih itu ke dalam kantong celana lalu bangkit dari sofa. Biru mengikuti pergerakan pemuda itu, hingga tatapan mereka bertemu di satu titik dan pemuda itu memaku tatap selama beberapa detik dengannya.
"Gue mau ke supermarket bentar buat beli camilan, nggak apa-apa ya lo di sini dulu sama Baskara." Kata pemuda itu dengan entengnya.
Apa yang kedengaran sederhana untuk telinga orang lain jelas menjadi masalah besar bagi Sabiru. Ditinggalkan berdua dengan Baskara, orang yang dibenci setengah mati? Ayolah, jangan bercanda!
"Masih hujan, tunggu reda dulu." Cegah Baskara.
Namun, seperti sudah membulatkan tekad, Fabian tetap meraih kunci mobil yang ia geletakkan di atas meja. "Kelamaan kalau tunggu reda. Lagian hujannya juga nggak terlalu deras, aman lah." Katanya memberikan pembelaan.
Biru hendak mengucapkan kalimat lain untuk mencegah kepergian Fabian, namun bibirnya seolah terkunci dan pada akhirnya tidak ada yang bisa dia lakukan kala Fabian berjalan cepat meninggalkan ruang depan. Tubuh pemuda itu menghilang dari pandangan hanya dalam waktu singkat, lalu deru mesin mobil yang beradu dengan suara hujan menjadi pertanda bahwa bencana lain akan segera datang menghampirinya. Tidak lama lagi.
Ketika suara mobil sudah menghilang—pertanda bahwa Fabian benar-benar sudah pergi—Biru cepat-cepat menggeser posisi duduknya sampai di ujung sofa yang berlawanan dengan Baskara. Ia juga sama sekali tidak berniat melirik untuk memeriksa seperti apa reaksi yang tampak di wajah pemuda itu ketika ia secara terang-terangan menciptakan jarak yang membentang begitu jauh.
Lalu, Biru mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Benda itu menjadi satu-satunya senjata yang bisa Biru gunakan untuk bersikap seolah-olah ia hanya sedang ditinggalkan sendirian. Meskipun pada akhirnya, yang dia lakukan tidak lebih dari sekadar menggulir layar secara terus-menerus demi melihat postingan sampah yang nampak di akun media sosial miliknya.
Gimmick hubungan asmara para artis muda, konspirasi partai politik yang berebut tahta di pemerintahan, kasus tabrak lari yang malah berakhir menjadikan korban meninggal sebagai tersangka—hanya karena si penabrak adalah salah satu oknum kepolisian, dan masih banyak postingan lain yang semakin lama dilihat justru semakin membuat Sabiru muak.
Tapi, mau semuak apapun dia terhadap postingan-postingan tersebut, Sabiru tetap berusaha bertahan. Hanya agar dia tidak punya cukup banyak waktu untuk membiarkan dirinya sendiri terlena. Hanya agar ia tidak memenuhi bisikan setan di telinganya, yang menyuruhnya untuk memulai percakapan dengan Baskara—yang ia yakin sedang memaku tatap ke arahnya.
Dalam beberapa menit, menyibukkan diri dengan ponsel masih terasa efektif. Namun lama-kelamaan kegiatan itu justru menimbulkan denyut-denyut di kepala, yang pada akhirnya membuat Biru terpaksa menarik diri dan meletakkan kembali benda pipih itu ke dalam saku jaketnya.
__ADS_1
Mungkin waktu telah berlalu selama 30 detik penuh semenjak Biru hanya diam menatap lurus ke depan, pada tembok berwarna biru muda di hadapan yang anehnya justru seperti sedang menampakkan refleksi dirinya yang tengah duduk berdampingan dengan Baskara. Sebuah ilusi yang kemudian membuat Biru mendengus sebal.
Suara hujan yang semula terdengar begitu mendominasi di tengah hening yang secara sengaja diciptakan mendadak seperti dibisukan saat rungu Biru mendengar Baskara berbicara dengan nada yang super-lembut. Nada suara yang hanya bisa Biru dengar dari sosok Baskara yang ia kenal pada masa bertahun-tahun yang lalu.
Biru bisa saja terus meyakinkan diri bahwa segala hal tentang Baskara sudah tidak lagi membuatnya tertarik. Namun, kala pemuda itu menyebutkan nama panggilan kesayangan untuk yang ke-2 kalinya dengan nada yang semakin terasa menghanyutkan, Biru tidak kuasa untuk tidak menolehkan kepala.
"How are you, Blue?" tiga kali. Dalam kurun waktu hanya beberapa detik, Baskara telah menyebutkan nama itu sebanyak tiga kali. Hal yang tidak sekalipun terpikirkan oleh Biru, ketika ia memutuskan untuk masuk ke dalam lingkup pertemanan pemuda itu.
Bagaimana kabarmu, katanya. Lantas jawaban apa yang harus Biru berikan, di saat kondisinya jelas tidak baik-baik saja, dan penyebab utamanya adalah orang yang kini menanyakan kabarnya?
Biru tidak akan dengan gamblang mengatakan bahwa ia hancur. Karena itu sama saja dengan ia menunjukkan kelemahan di depan musuh paling ingin dia hancurkan ini. Maka untuk pertanyaan itu, Biru hanya bisa menyuguhkan "Bukan urusan lo." Sebagai jawaban yang ia ucapkan dengan nada super-tegas.
Tidak seperti sosok Baskara yang ia kenal, pemuda di sampingnya itu justru semakin melekatkan tatapan alih-alih melayangkan protes dengan bibirnya. Semakin lama, tatapan itu terasa semakin menghanyutkan, hingga Biru nyaris membawa dirinya sendiri menyelam dengan sukarela sebelum akhirnya betulan tenggelam.
Jelas, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Sebelum ada lebih banyak bisikan tak masuk akal yang terdengar di telinga kanan kiri, Biru segera menarik pandangan. Ia kembali menatap lurus ke depan, dengan raut wajah datar yang dipertahankan setengah mati.
"You know, right. That I still love you," ucap pemuda itu lagi.
Perkataan itu terdengar seperti lelucon garing di telinga Sabiru, jadi ia tertawa hambar sebagai respons. "Bullshit." Katanya kemudian. Berkat sedikit keberanian yang masih dia miliki, Biru berhasil menoleh kembali ke arah Baskara tanpa merubah ekspresi datar di wajahnya. "Orang gila mana, yang jadiin orang yang katanya masih dia sayang jadi bahan taruhan?" tanyanya.
"Bagaimana lo berpikiran untuk menjadikan gue bahan taruhan, udah cukup membuktikan kalau gue memang serendah itu di mata lo." Biru meringis diam-diam usai mengatakan hal tersebut. Karena, dia juga turut andil untuk membuktikan penilaian tersebut. Ia telah membuktikan dengan sukarela, bahwa label murahan sepertinya memang cocok untuk menggambarkan dirinya yang sekarang.
"Itu sebuah kesalahan," Baskara menyahut dengan suara yang pelan. "Gue salah memperkirakan respons lo, Blue."
Biru tersenyum miring, "Karena lo berpikir gue nggak akan menerima orang lain? Karena lo berpikir, gue masih orang yang sama, dengan yang lo sia-siakan di masa lalu?"
"Sorry to say, Baskara. Tapi Sabiru yang dulu lo tinggalin itu udah mati. Dia udah mati, barengan sama perasaan dia yang lo hancurin dengan semena-mena."
Baskara menggeleng pelan atas statement tersebut. "Respons lo memang nggak sesuai dengan apa yang ada di dalam bayangan gue, tapi lo jelas masih orang yang sama. Lo dan perasaan lo, nggak ada yang berubah."
Melihat kepercayaan diri Baskara yang entah didapat dari mana, Biru semakin meradang. Emosinya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Beribu kata umpatan sudah berkumpul di ujung lidahnya, siap untuk dia muntahkan tepat di depan wajah pemuda itu. Tetapi yang akhirnya Biru lakukan justru bangkit dari duduknya, berniat mengakhiri obrolan tidak masuk akal ini secepatnya—sekalian kabur dari sini kalau itu memungkinkan.
Sayangnya, sebelum tubuhnya benar-benar tegak berdiri, tangan Baskara sudah lebih cepat bergerak menarik lengannya hingga membuatnya jatuh di atas panggungkuan pemuda itu. Biru tidak diam saja, ia meronta, meminta dilepaskan selagi ia masih bisa bicara baik-baik dan tidak melakukan kekerasan fisik terhadap pemuda itu.
__ADS_1
"Lepasin!" ia kembali meronta, tapi yang dia dapati justru lengan Baskara melingkar semakin erat di pinggangnya, membuat tubuhnya semakin tidak berdaya di bawah kuasa pemuda itu.
"I swear I'll kill you, Baskara!" ancamnya lagi. Namun tak satupun yang berhasil. Tak peduli diancam sebanyak apapun, pemuda itu tetap kukuh menahan tubuhnya pada posisi yang semula.
"Bantah kalau memang omongan gue salah." Ucap pemuda itu tepat di depan wajahnya.
Biru tidak suka dengan cara Baskara menatapnya saat ini, yang terkesan begitu mengintimidasi dan membuatnya jadi merasa kecil. Secara alami, respons tubuhnya membuatnya membuang muka. Tak lagi memberontak, hanya berusaha sebisa mungkin untuk tidak bertatap muka dengan pemuda yang mengekang tubuhnya posesif.
"Say it." Titah pemuda itu, dengan aura dominan yang seketika membangkitkan kembali sel-sel lemah yang sudah Biru buat tidur untuk sekian lama. "Bilang kalau perasan lo ke gue udah berubah, kalau memang begitu kenyataannya."
"Kita udah selesai." Hanya itu kemudian yang bisa Biru katakan selagi tatapannya berlarian ke sana kemari.
"Ngomongnya sambil ngeliat ke gue. Kalau bisa, gue bakal lepasin lo dan nggak akan ganggu hidup lo lagi. Tapi..." Baskara menjeda ucapannya sebentar, hanya untuk menarik tubuh Biru semakin dekat dengan dirinya. "Kalao lo gagal, maka gue akan kejar lo. Ke manapun. Ke ujung dunia, atau bahkan ke neraka sekalipun."
"Jangan lancang." Biru memperingatkan saat merasakan dagu Baskara bertopang santai di pundaknya. Ia kembali berusaha menjauhkan diri, tapi gagal lagi karena kekuatan yang Baskara miliki jelas lebih banyak ketimbang dirinya.
"Just say it, Blue. Itu bukan persoalan sulit," diam-diam, Baskara mengulas senyum. Ia yakin. Seratus persen. Bahwa perasaan Sabiru terhadap dirinya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Bahwa ia masih memiliki tempat tersendiri di hati Biru, dan tidak semudah itu untuk menyingkirkannya dari sana. Sebab sebagaimana Sabiru adalah cinta pertamanya, ia juga adalah cinta pertama bagi gadis itu.
"Bilang kalau lo udah nggak sayang sama gue," desaknya.
Di saat ia harusnya bisa memberikan apa yang Baskara minta dengan mudah, Biru malah menemukan dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Jangankan bicara, membalas tatapan Baskara saja ia tidak mampu. Sosok Sabiru si tangguh yang dia ciptakan, kini entah hilang ke mana, dan dia kembali menjadi Sabiru yang tak berdaya bahkan ketika Baskara tidak banyak melakukan usaha.
Biru kesal, marah, kecewa. Pada dirinya sendiri. Pada ketidakmampuannya untuk menanamkan lebih banyak keyakinan bahwa Baskara memang bukan apa-apa lagi untuknya. Untuk meyakinkan diri bahwa cinta pertama yang dia agung-agungkan telah lama usai dan sosok-sosok naif itu sudah lama mati. Untuk kembali pada misi balas dendam, yang kini seolah lenyap terbawa angin.
"Gagal." Suara Baskara terasa memenuhi kepala Sabiru. Hingga rasanya, tak ada hal lain yang bisa ia temukan di kepalanya yang kecil itu.
"Lo masih sayang sama gue, Blue." Baskara semena-mena menentukan vonis. Malangnya, Biru tidak bisa memberikan penyangkalan.
"So," Baskara merapatkan kembali tubuhnya ke lengan Biru, bersisik pelan di telinga gadis pujaannya itu. "Gue nggak akan lepasin lo. As I said before, gue akan dapetin lo lagi. Entah gimanapun caranya."
Benar-benar tepat setelah Baskara menjauhkan kembali tubuhnya, terdengar suara deru mobil yang memasuki pekarangan depan. Itu membuat Baskara menoleh ke arah pintu sehingga fokusnya pun berkurang.
Biru memanfaatkannya untuk lepas dari kungkungan Baskara. Secepat kilat ia bangkit lalu berlari menuju kamar mandi, mengutuk dirinya di dalam sana sebanyak ratusan kali karena telah gagal mengendalikan diri.
Sementara di tempatnya duduk, Baskara menyunggingkan senyum simpul. Keyakinannya memang tidak pernah salah. Sabiru memang masih miliknya. Tidak seperti ketika ia melepaskan gadis itu dengan bodohnya, kali ini Baskara akan memastikan gadis itu kembali ke pelukannya. Bahkan jika ia harus membawa gadis itu kabur dari jangkauan pandang semua orang sekalipun, ia tidak akan keberatan.
__ADS_1
"You're mine, Blue. Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang deserve to have you, selain gue."
Bersambung