Taruhan

Taruhan
Beautiful Eyelashes


__ADS_3

Fabian berdiri cukup lama di depan sebuah pintu unit apartemen. Beberapa kali dia memeriksa ponselnya, untuk memastikan bahwa unit apartemen ini memang sudah sesuai dengan alamat yang Biru kirimkan kepadanya.


Setelah yakin dia tidak salah alamat, Fabian memencet tombol sebanyak dua kali dengan jeda hanya beberapa detik. Selagi menunggu pintu di hadapannya terbuka, Fabian memeriksa room chat grup Pain Killer yang tiba-tiba saja menjadi senyap setelah terakhir kali Reno mengumpat kepada Baskara yang malah menertawakan nasib buruknya karena telah tertolak oleh Biru.


Kemudian, Fabian menutup room chat grup, beralih ke room chat antara dirinya dengan Baskara. Tidak ada tulisan online dibawah nama kontak pemuda itu, membuatnya sedikit merasa khawatir karena tidak biasanya Baskara tiba-tiba menghilang tanpa pamit terlebih dahulu.


Dengan pertimbangan yang minim, Fabian akhirnya mengetikkan beberapa kata di sana, sekadar untuk memastikan bahwa Baskara baik-baik saja.


Tetapi, kekhawatirannya malah semakin menjadi-jadi saat pesan yang dia kirimkan cuma berakhir centang satu, yang berarti Baskara mematikan ponselnya. Ini juga merupakan sesuatu yang aneh, karena pemuda itu tidak pernah membiarkan ponselnya mati walaupun hanya sedetik. Sebab, nyawanya ada di sana.


Fabian hendak mengirimkan pesan sekali lagi, namun urung karena pintu di hadapannya tiba-tiba saja terbuka.


Fabian menaikkan pandangan, dan seketika itu juga perhatiannya langsung tercuri oleh bagian dada Biru yang sedikit terbuka.


"Lo yakin mau pakai baju kayak gitu?" dia menunjuk belahan rendah Biru menggunkanan ponselnya.


Biru mengikuti arah yang dia tunjuk, terdiam sebentar sebelum kembali menatapnya dan menyunggingkan senyum miring.


"Kenapa? Takut gagal fokus?" tantang gadis itu, seolah tidak takut kalau dia bisa saja tiba-tiba khilaf dan menerobos masuk ke dalam apartemen untuk berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya.


"Gue sih nggak masalah lo mau pakai baju apapun," sahut Fabian santai.


Sekali lagi, dia mengamati penampilan Biru dari atas sampai bawah. Tidak ada yang aneh, cuma kaus V-Neck dengan belahan rendah itu saja yang cukup mengganggu penglihatannya.


"Tapi, emangnya lo rela badan lo dinikmatin sama cowok-cowok secara gratis?" tanyanya, setelah kembali memaku tatap dengan Biru.


"Kalau gue sih, big no. Pelacur aja dapat bayaran buat service yang dia kasih, masa lo kasih gratisan?" senyum miring tersungging, membuat ekspresi wajah gadis di depannya seketika berubah.


Mendengar ucapan Fabian barusan, nyali Biru yang semula besar tiba-tiba saja menyusut. Tiba-tiba saja dia merasa malu, seolah dia sudah dengan sengaja menjatuhkan harga dirinya sendiri hanya untuk mengetes bagaimana reaksi pemuda itu.


Terlebih saat Fabian membandingkan dirinya dengan pelacur. Sungguh, Biru merasa benar-benar seperti perempuan rendahan.

__ADS_1


Lalu tanpa berucap apa-apa, Biru membalikkan badan, setengah berlari kembali ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Dia bahkan tidak mempersilakan Fabian masuk, tidak juga menutup kembali pintu apartemennya sebagai langkah pencegahan karena bisa saja Fabian memanfaatkan kecerobohannya itu untuk menyerangnya.


Entahlah, Biru lebih sibuk menyelamatkan harga diri ketimbang nyawanya sendiri.


"Ceroboh banget jadi orang," gumam Fabian, memutuskan untuk tetap berdiri di ambang pintu karena si empunya tidak mempersilakan dia masuk. Brengsek-brengsek begini, dia masih punya etika dan sopan santun. Jadi dia tidak akan asal menerobos begitu saja.


Lagipula, kalau sampai ada gosip buruk tentang dirinya yang menerobos ke tempat tinggal seorang gadis, bukan cuma dia yang akan kena dampak buruk, tetapi juga anggota Pain Killer yang lain. Dan, dia tidak mau itu terjadi.


Selang lima menit kemudian, Biru kembali dengan setelan yang baru. Sebenarnya, gadis itu hanya mengganti kausnya saja, dengan kaus yang ukurannya lebih besar dan potongan lehernya bahkan tidak menampakkan tulang selangka. Dia juga menambahkan jaket kulit warna hitam untuk membalut tubuh kurusnya.


"Nah, gini kan lebih enak dilihat." Komentar Fabian, tiba-tiba saja menyunggingkan senyum yang membuat Biru agak tidak siap menerimanya.


"Lo ke sini naik motor atau mobil?" tanya Biru, berusaha mengalihkan perhatian Fabian yang masih tertuju lurus pada tubuhnya.


"Motor." Jawab Fabian, sembari mengangkat kembali pandangannya.


"Gue nggak punya helm, kita pakai mobil gue aja."


Biru cuma membulatkan mulutnya, kemudian melangkah keluar dari apartemen dan menuntun Fabian untuk mengikuti langkahnya setelah memastikan pintu apartemen tertutup dengan baik.


Di sepanjang perjalanan menuju basement, mereka berdua hanya diam. Sampai kemudian, ketika mereka tiba di samping motor sport milik Fabian, Biru buka suara.


"Lo sering balapan juga?" tanyanya, sambil mengamati body motor yang kinclong.


"Gue nggak pernah ikut balapan,"


Biru menoleh ke arah Fabian, agak tidak percaya pada informasi yang pemuda itu berikan.


"Kenapa?"


"Takut mati,"

__ADS_1


Jawaban jujur nan polos itu berhasil membuat Biru tergelak. Gadis itu terbahak-bahak sembari memegangi perutnya, sebelum akhirnya perlahan-lahan meredakan tawa lalu menyambar helm yang tergantung di setang motor.


"Mau balapan atau nggak, kalau waktunya mati, ya tetap bakal mati." Katanya, sambil memasang helm ke kepalanya yang kecil. Dia pikir helm yang Fabian bawa akan kebesaran di kepalanya, tapi rupanya pemuda itu sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Mungkin karena sudah terbiasa mengajak pergi anak gadis orang? Entahlah.


Biru tidak suka adegan romantis seperti yang ada di drama-drama Korea, tapi sialnya, hari ini dia harus mengalami sendiri salah satu adegan itu karena helm yang Fabian bawa ternyata cukup sulit untuk dikaitkan.


Maka dengan sedikit menurunkan gengsi, Biru meminta tolong Fabian untuk membantunya mengaitkan pengait helm tersebut.


Fabian iya-iya saja. Dia memajukan tubuhnya, sedikit menunduk untuk membantu Biru mengatasi kesulitannya.


Selagi Fabian membantu, Biru malah salah fokus pada salah satu bagian di wajah Fabian yang baru kali ini bisa dia lihat dengan jelas.


Bulu mata. Lelaki itu memiliki bulu mata yang panjang dan lentik, seperti milik perempuan. Cantik sekali.


"Bulu mata lo cantik," celetuknya, tanpa tedeng aling-aling.


Fabian cuma terkekeh mendengar pujian mendadak itu. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa kini jantungnya mulai sedikit berulah.


"Bagi resepnya, gue juga mau kayak gitu." Celoteh Biru lagi.


"Nggak ada, yang kayak gini cuma ada satu di dunia, yaitu gue. Kalau mau punya bulu mata kayak gini, lo harus terlahir kembali sebagai gue." Fabian menjawab asal, kemudian segera menunggangi motornya.


"Ayo naik, keburu malam." Titahnya kepada Biru, setelah dia membantu gadis itu menurunkan foot step motornya.


"Gue serius, kasih tahu tips and tricks biar bisa punya bulu mata lentik kayak gitu." Bisik Biru, setelah dia berhasil mendudukkan bokongnya di jok penumpang.


Fabian cuma terkekeh pelan, masih enggan menyahuti soal tips and tricks memanjangkan bulu mata.


"Pegangan, gue mau ngebut soalnya." Kata Fabian sebagai gantinya, lalu tuas gas ditarik secara tiba-tiba sehingga membuat tubuh Biru terhuyung ke depan dan gadis itu mau tidak mau memeluk perut pemuda itu agar tubuhnya tidak terjengkang ke belakang.


Di balik helm full face yang dia kenakan, Fabian full senyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2