Taruhan

Taruhan
Mengintai


__ADS_3

Semalam, setelah Fabian pergi dari apartemennya, Biru menghabiskan waktu untuk mencari tahu tentang Fabian—dan dua teman yang ikut mengiriminya pesan tempo hari.


Dan, bingo! Ternyata bukan cuma informasi tentang Fabian dan dua temannya, Biru juga mendapatkan informasi tentang satu orang lagi. Informasi tentang si Baskara yang namanya sudah sering dia dengar di mana-mana, dan berpikir bahwa orang yang sedang dibicarakan itu adalah orang yang berbeda dari yang dia kenal.


Namun ternyata, dia salah besar. Baskara si brengsek yang namanya sering disebut-sebut oleh teman-teman seangkatannya itu ternyata memang Baskara yang sama dengan yang dia kenal. Baskara yang menghancurkan hatinya, dan membuatnya tidak lagi percaya pada siapa-siapa.


Berkat keahliannya mencari tahu, Biru mendapatkan informasi bahwa Baskara dan Fabian berteman lebih lama ketimbang dua teman mereka yang lain. Bahkan bisa dibilang, Baskara dan Fabian sudah seperti saudara.


Lalu, dengan bermodalkan informasi itu, dia jadi punya satu rencana untuk melancarkan balas dendam. Untuk memuaskan hasratnya melihat Baskara hancur, seperti ketika lelaki itu menghancurkannya bertahun-tahun yang lalu.


Awalnya, dia cuma mau berteman dengan Fabian karena merasa pemuda itu cukup asik untuk diajak nongkrong. Tetapi kini, dia jadi bernafsu untuk membuat hubungan mereka berjalan lebih jauh, untuk membuat Baskara sakit hati.


Lagipula, Biru juga tahu kalau Fabian mendekatinya karena rupanya Baskara yang telah mengusulkan untuk menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan.


Itu adalah keputusan bodoh, tentu saja. Karena untuk apa juga Baskara menjadikannya bahan taruhan? Apa pemuda itu berpikir dia masih gadis bodoh yang sama, seperti yang dia tinggalkan bertahun-tahun lalu?


Tentu saja tidak. Setelah dihancurkan menjadi kepingan-kepingan kecil tak berarti, Biru yang dulu sudah sepenuhnya mati. Biru yang sekarang adalah bentuk baru, yang diciptakan dengan kekuatan lebih banyak agar tidak hancur lebih mudah.


"Bertahun-tahun berlalu, masih aja brengsek." Gumamnya, dari balik buku yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya agar Baskara dan teman-temannya yang duduk beberapa meter dari tempatnya tidak mengetahui keberadaannya di kantin ini.


Di seberang sana, Biru melihat Baskara dan satu orang teman—yang paling mungil di antara empat—sedang berdebat hebat. Sementara Fabian dan satu orang lagi teman—yang ototnya besar—megendap pergi ke meja sebelah. Sepertinya, dua orang itu tidak terlalu menyukai keributan.


Lalu, Biru kembali menaruh perhatian penuh kepada Baskara yang masih saja asik berdebat. Tidak heran, sih, anak itu memang dari dulu tidak bisa diam. Cerewetnya tidak ketulungan, dan cenderung senang membuat keributan.


Dirasa sudah cukup mengintai, Biru bergerak pelan, mengendap-endap pergi dari kantin Fakultas Teknik sebelum empat pemuda yang sedang mendebatkan sesuatu tentang dirinya itu menangkap basah dirinya ada di sana. Karena kalau itu terjadi, rencananya tidak akan seru lagi.


Di sepanjang perjalan kembali menuju gedung fakultasnya, Biru tidak henti-hentinya mengutuk Baskara, sekaligus merutuki keputusannya sendiri karena telah memilih untuk kembali ke Jakarta dan bahkan berkuliah di tempat yang sama dengan pemuda itu. Padahal, dia berharap tidak akan lagi bertemu dengan manusia itu di sisa umurnya.


Saat langkahnya hampir mencapai koridor yang menghubungkan dengan ruang kelas, ponsel di dalam saku celana berbunyi sehingga dia terpaksa menghentikan langkahnya. Benda pipih itu dia keluarkan, memunculkan nama Tante Maya yang seketika membuat kekesalannya menguap bersama udara yang lewat.


Usai memastikan raut wajahnya kembali berseri, Biru menggeser log hijau, hingga nampak lah wajah tante kesayangannya itu di layar.

__ADS_1


"Hai, Bi!" sapa Tante Maya riang.


"Hai," Biru balik menyapa. Dia memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di koridor, mengabaikan dua orang mahasiswi yang lewat dan menatapnya sinis.


"Gimana kuliah? Aman?"


"Gini-gini aja," Biru menjawab seadanya.


"Ha ... kamu tuh kayaknya emang nggak niat kuliah, deh. Udah, balik aja ke Surabaya."


"Bercanda!" Biru setengah berteriak. "Asik-asik aja kok di sini, sumpah!"


Di seberang, Tante Maya tergelak. Sadar kalau Biru lebih takut disuruh pulang ke Surabaya ketimbang harus tinggal sendirian dan merana di Jakarta.


"Si kembar mana?" tanya Biru setelah tawa Tante Maya di seberang mereda.


"Ada, lagi sama bapaknya."


"Dikasih cuti,"


Biru menaikkan sebelah alis. Pasalnya, dia tahu betul kalau perusahaan tempat Richard bekerja cukup strict dan jarang sekali mengijinkan karyawannya ambil cuti.


"Tumben," ia bergumam. Tetapi karena suaranya masih cukup keras, Tante Maya masih bisa mendengarnya, kemudian menghela napas panjang di sana.


"Iya, soalnya selama seminggu ke depan dia bakal dikirim ke Jakarta untuk urus project baru. Ya gitu, dibaik-baikin dulu biar mau disuruh urus project itu." Tante Maya kedengaran begitu nelangsa, dan jelas tidak bisa berbuat apa-apa karena perusahaan tempat Richard bekerja sekarang adalah perusahaan yang telah membantu keluarga mereka bangkit dari keterpurukan.


Bisa dibilang, pekerjaan yang kini Richard geluti telah banyak berjasa, sehingga lelaki itu jadi sulit untuk meninggalkannya, bahkan ketika banyak perusahaan lain yang menawarkan gaji dan posisi lebih baik.


Biru tidak berusaha menyahuti aduan Tante Maya itu, karena memang tidak ada yang mereka bisa lakukan atas hal tersebut.


"Omong-omong ... kamu masih contact sama Gerald setelah makan malam waktu itu?" Tante Maya kembali bersuara setelah hening merayap cukup lama.

__ADS_1


"Nggak juga, sih. Tapi, beberapa hari yang lalu, aku datang ke klub tempat dia kerja."


"Kamu mabuk?!" seru Tante Maya. Suaranya yang menggelegar membuat beberapa orang yang kebetulan lewat langsung menaruh perhatian kepada Biru yang duduk sendirian.


Biru memutar bola mata malas. Bisa tidak, sehari saja Tante Maya tidak heboh seperti ini? Ya, ya. Biru tahu itu mustahil. Tante Maya memang terlahir seperti itu, dan dia hanya harus menerimanya dengan lebih lapang dada.


"Cuma minum Lemonade," ucapnya setelah terdiam selama beberapa saat. "Lagian, aku ke sana juga karena Gerald yang undang. Sebagai bentuk rasa sopan, ya aku datang, lah."


"Si Gerald minta dipenggal kepalanya! Bisa-bisanya dia nyuruh kamu datang ke klub!" Tante Maya masih saja heboh.


"Udah, nggak usah sewot." Biru berusaha menenangkan. "Gerald tahu kok kalau aku nggak minum, udah diwanti-wanti juga sama Richard."


"Tetap aja! Lain kali, jangan mau kalau dia undang kamu ke klub lagi. Biar Tante bilang sama maminya, supaya dia diomelin."


"Nggak perlu bawa-bawa Tante Inka juga, dong. Udah ah, nggak usah bahas soal Gerald lagi. Mending Tante May ke si kembar deh, aku mau lihat mereka."


"Kebiasaan, suka ngalihin pembicaraan!"


"Buruan, Tan. Dikit lagi aku ada kelas." Biru mendesak.


Tante Maya kembali berdecak, meksipun akhirnya wanita itu tetap melangkah pergi untuk mencari anak-anaknya.


Biru dengan sabar menunggu sampai Tante Maya tiba di tempat si kembar tengah berada. Lalu, saat si kembar menyapanya dengan riang, Biru sepenuhnya tenggelam di dalam euforia yang terlalu sulit untuk dijelaskan.


Sampai-sampai dia tidak sadar kalau Baskara sedang bersembunyi di balik tembok, menguping segala hal yang dia bicarakan dengan Tante Maya melalui sambungan telepon.


Biru salah ketika berpikir bahwa dia telah lolos dengan mudah dari agenda penyusupannya ke Fakultas Teknik. Sebab, Baskara sebetulnya tahu kalau dia ada di sana, dan pemuda itu langsung balik mengikutinya ketika dia berusaha melarikan diri diam-diam.


Biru seharusnya tidak lupa, kalau Baskara adalah selicik-liciknya manusia, dan dia masih terlalu jauh untuk bisa mengimbangi kecerdikan pemuda itu.


"Nice try, baby." Gumam Baskara, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengambil satu foto lagi untuk dia simpan di galeri selamanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2