Taruhan

Taruhan
Ancaman


__ADS_3

Sera baru sampai di depan kamar rawat Baskara ketika ponselnya berdering nyaring. Otomatis, ia mengurungkan niat untuk membuka pintu dan lebih dulu memeriksa benda pintar yang ia simpan di dalam tas jinjingnya itu.


Alisnya terangkat satu kala menemukan sebuah nomor asing tengah memanggil. Ia menimbang sebentar, sebelum akhirnya menggeser log hijau untuk menerima panggilan.


"Halo?" sapanya.


"Halo, Tante." Suara seorang gadis muda menyapa dari seberang telepon. Suaranya tidak terlalu asing, hanya saja Sera juga belum terlalu familier dengan suara jernih itu.


"Siapa? Ada perlu apa?" tanyanya to the point. Terlalu malas berbasa-basi karena ia harus segera masuk untuk memastikan putranya yang ia tinggal selama beberapa jam dalam keadaan baik-baik saja di dalam kamar rawatnya.


Mempercayakan dua orang untuk berjaga di depan pintu saja tentu tidak serta-merta membuat Sera merasa lega. Sebab ia tahu Baskara punya banyak akal kalau anak itu memang mau melarikan diri dengan cara yang lain.


"Saya Jasmine, Tante. Temannya Baskara." Jawab si gadis.


Sera terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat apakah Baskara pernah menyebutkan nama Jasmine di tengah-tengah obrolan tentang teman-temannya. Dan meskipun pada akhirnya ia tetap tidak menemukan bahwa pemuda itu pernah mention seseorang bernama Jasmine, Sera tetap dengan sabar meladeni sang gadis.


"Ada apa, ya?" tanyanya. Menggunakan tangan, ia mengisyaratkan kepada dua penjaga di depan kamar rawat Baskara untuk melongok ke dalam, demi mengecek apa yang sedang Baskara lakukan. Sementara ia berjalan agak menjauh ke sisi kanan demi menghindari tertangkapnya ia dalam jarak pandangan sang putra. "Saya lagi sibuk, jadi saya akan berterima kasih sekali kalau kamu mau langsung to the point." Sambungnya setelah menemukan spot yang dirasa aman.


"Saya perlu menyampaikan sesuatu kepada Tante. Tapi, mohon maaf sebelumnya, saya harus menyampaikannya secara langsung, nggak bisa melalui telepon. Kalau Tante berkenan, bisa kita bertemu?"


Tanpa rasa curiga sama sekali, Sera menyahut, "Kapan? Di mana?"


"Sekarang? Di Cafe Daun, letaknya nggak jauh dari rumah sakit tempat Baskara di rawat kok Tante. Saya harap, Tante bersedia sih. Soalnya saya nggak tahu apa bisa menyampaikan ini ke Tante kalau bukan sekarang."


"Ini soal apa?" selidik Sera, mulai merasa ada yang tidak beres dari cara Jasmine berbicara. Gadis itu terkesan ingin membuatnya terlihat seperti datang dengan sukarela, di saat nyatanya gadis itu telah menyisipkan kata-kata yang secara tidak langsung telah memaksanya untuk datang.


"Soal Baskara dan ...." Jasmine memberi jeda cukup lama, membuat Sera yang kesabarannya tidak sebanyak itu sontak menggertakkan gigi geregetan.


"Dan apa?" tanyanya.


"Fabian." Ucap Jasmine. "Ini soal Baskara dan Fabian." Gadis itu mengulangi.


Sebenarnya, Sera tidak memiliki pikiran apapun soal apa yang akan Jasmine sampaikan mengenai Baskara dan Fabian. Namun disebutnya nama Fabian, yang disandingkan dengan nama putra kesayangannya sontak membuat Sera berucap impulsif mengiyakan.


"Saya ke sana sekarang." Katanya. Tak mau mendengar lebih banyak, telepon ia matikan dan benda pipih itu kembali ia masukkan ke dalam tas.


Sera berjalan menghampiri dua penjaga yang telah kembali pada posisi siaga yang semula, pertanda tugas yang dia berikan untuk mengecek kondisi Baskara sudah dilaksanakan dengan baik.


"Tuan Muda sedang tidur, Nyonya." Kata salah satu di antara mereka sebelum Sera bertanya.


Sera menganggukkan kepala. "Saya ada urusan mendadak. Tolong kalian pastikan nggak ada siapapun selain Jeffrey yang keluar masuk kamar rawat Baskara selama saya nggak ada. Tolong pastikan juga semua kebutuhan Baskara terpenuhi, tanpa kalian harus meninggalkan tempat kalian barang sesenti pun." Titahnya.


"Baik, Nyonya." Kedua penjaga itu mengangguk patuh tanpa banyak pertanyaan.


Sera pun bergegas pergi dari sana dengan mengayunkan langkah lebar-lebar.


...****************...

__ADS_1


Cafe Daun yang Jasmine sebutkan hanya berjarak sekitar enam ratus meter dari rumah sakit sehingga Sera bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki. High heels tujuh senti yang melekat di kaki jenjangnya bukanlah sebuah halangan karena ia telah terbiasa.


Dari luar, cafe tampak sepi. Cahaya dari lampu kemuning yang menjadi ciri khas di sana berpendar menerangi beberapa bagian, juga orang-orang yang duduk menyebar di seluruh bagian.


Sera berjalan pelan memasuki area cafe, sambil matanya menyapu setiap kursi yang nampak di depan matanya untuk mencari keberadaan gadis muda bernama Jasmine itu.


Tak terlalu sulit tenyata untuk menemukan Jasmine, karena rupanya, gadis yang ia cari adalah gadis yang sama dengan yang membuat Baskara terlihat tidak nyaman tempo hari. Bukan wajahnya yang membuat Sera dengan mudah mengenali, melainkan gaya berpakaian yang terlihat jauh lebih glamor untuk ukuran mahasiswi seumuran putranya, juga ciri khas yang terletak dari bagaimana cara gadis itu menyugar rambut panjangnya menggunakan jemari lentik yang dicat warna merah terang.


Sera melihat gadis itu bangkit dari kursi, menyambutnya dengan senyum yang terkembang sampai ke telinga. Namun, Sera tahu senyum itu tidak tulus karena lengkungan di bibir itu tidak menjalar sampai ke mata.


Meksipun demikian, Sera tetap menerima sambutan itu dengan baik. Ia menurut ketika Jasmine menarik sebuah kursi dan mempersilakan ia untuk duduk. Ia bahkan masih terima-terima saja saat Jasmine sekonyong-konyong memesankan minuman, tanpa mau bersusah payah bertanya ia ingin dipesankan apa.


"As I said before, Jasmine," ucap Sera mengawali karena Jasmine masih sibuk berbicara dengan pelayan yang mencatat pesanan. "Saya sibuk, jadi mari persingkat waktunya dengan nggak terlalu banyak melakukan yang nggak perlu."


Jasmine tersenyum tipis kepadanya, lalu kembali berbicara dengan pelayan perempuan. "Tolong antarkan secepatnya, calon mertua saya lagi buru-buru." Kata gadis itu.


Sera tidak mengerti kenapa Jasmine bisa begitu percaya diri menyebut dirinya dengan kata calon mertua, namun ia tidak punya waktu untuk protes karena rasa penasaran akan apa yang hendak disampaikan oleh Jasmine jauh lebih kuat.


"Tante ke sini jalan kaki?" tanya gadis itu.


Menyebalkan. Sera rasanya ingin sekali menjambak helaian rambut yang terlihat halus itu, tetapi sekuat tenaga ia menahan hasratnya untuk sebuah pencitraan. Ibunda Pramudya Baskara tidak boleh terlihat arogan, itu yang selalu ia ingat di dalam kepala setiap kali akan kehilangan kontrol diri.


Dengan senyum yang dibuat-buat, Sera menatap gadis muda di hadapannya itu. "Saya buru-buru, Jasmine. Tolong kerja samanya." Katanya dengan nada selembut kapas, namun tetap penuh dengan penekanan.


Kalau boleh jujur, Sera baru pertama kali bertemu dengan anak muda yang nyalinya sebesar Jasmine ini. Karena bahkan setelah ia bicara dengan penuh penekanan seperti tadi, gadis di hadapannya ini masih sempat-sempatnya cekikikan.


"Saya rasa kamu nggak tuli, Jasmine." Sera sembari tersenyum sinis. "Saya sibuk, jadi jangan buang-buang waktu." Sambungnya. Senyum sinisnya makin lebar, yang sialannya, malah membuat Jasmine tergelak.


Kalau mereka tidak sedang berada di ruang publik, Sera mungkin akan membungkam mulut lancang Jasmine menggunakan tangannya sendiri, tidak memberi ampun sampai gadis itu lemas kehabisan napas.


Usai menghabiskan beberapa detik mendengarkan gelak tawa Jasmine yang menyebalkan, Sera akhirnya bisa sedikit bernapas lega ketika gelak tawa Jasmine mereda. Gadis itu kemudian mengeluarkan earphone dari dalam tasnya, kemudian benda mungil itu disodorkan kepada dirinya.


"Buat apa?" tanya Sera.


Jasmine tersenyum penuh arti, "Pakai aja, Tante. Saya mau Tante mendengarkan sesuatu yang menarik," sambil menggoyang-goyangkan ponsel yang ada di tangan.


Sera tidak suka diperintah, karena sedari dulu, dia lah yang terbiasa memberi perintah kepada orang-orang kepercayaan ayah dan ibunya. Tetapi malam ini, di hadapan bocah ingusan yang tidak tahu diri ini, Sera harus menurunkan ego demi memenuhi rasa penasarannya yang terasa mencekik di tenggorokan.


Perlahan, Sera mengambil satu sisi earphone untuk kemudian ia pakai di telinga kanan. Lalu ia melihat Jasmine mengetuk layar ponselnya, dan ... terdengar lah sesuatu yang seketika membuat urat-urat dia sekitar leher Sera menegang. Kepalan di satu tangannya semakin kuat, sementara matanya telah dengan sendirinya menajam menatap sosok Jasmine yang kini tersenyum sumringah.


Rupanya, Jasmine telah memiliki sesuatu yang begitu besar. Sebuah senjata yang bisa meluluhlantakkan kehidupan yang sedang ia usahakan untuk kembali baik-baik saja. Entah bagaimana ceritanya, gadis itu kini tengah memperdengarkan kepada dirinya rekaman percakapan antara dirinya dengan Jeffrey tempo hari. Semuanya, dari awal sampai akhir. Di mana Jeffrey berkali-kali mempertegas bahwa Fabian adalah darah dagingnya sendiri.


Suara yang keluar dari earphone sudah tidak lagi menarik minat Sera. Benda mungil itu ia lepaskan, lalu dilempar begitu saja ke atas meja di hadapan sang empunya.


"Mau apa kamu dengan rekaman itu?" tanyanya.


Jasmine memungut earphone miliknya dengan senyum yang kian merekah. Bukannya takut, ia malah memasang earphone bekas dipakai Sera ke telinganya sendiri, menikmati drama keluarga yang tersaji tanpa susah payah ia berusaha mencari tahu.

__ADS_1


"Jawab." Tagih Sera. Kesabarannya sudah hampir habis, jadi kalau Jasmine tidak kunjung membuka mulut, ia mungkin akan benar-benar menjambak rambut gadis itu sampai botak tak bersisa.


Namun lagi-lagi, kesabarannya diuji ketika Jasmine memutuskan untuk menyelesaikan rekaman sampai habis sebelum menjawab pertanyaannya.


Dengan lagak jemawa, Jasmine menegakkan punggungnya. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja, sedangkan tubuhnya sedikit condong ke depan seolah ingin menantang Sera.


"Kira-kira ... apa yang bisa Tante berikan untuk saya, demi menjaga agar rekaman itu nggak bocor ke publik?" tanya gadis itu.


Sera tanpa ragu menjawab, "Apapun. Apapun yang kamu minta, saya akan kabulkan. Uang? Mobil? Rumah? Perhiasan? Tinggal bilang, saya akan sediakan untuk kamu sekarang juga."


"Wah...." Jasmine kembali tergelak. Punggungnya terhempas ke kursi seiring dengan gelak tawanya yang semakin menjadi-jadi, diringi tepuk tangan meriah yang kemudian membuat beberapa pengunjung cafe mencurahkan perhatian kepadanya. "Tante se-enggak mau itu Baskara tahu?"


"Tinggal sebut nominalnya, Jasmine, jangan bikin kesabaran saya habis." Ancam Sera.


Jasmine pura-pura takut mendengar ancaman itu. Namun sedetikpun kemudian, ia tersenyum licik. "Seharusnya, Tante bicara dengan cara yang lebih ramah kepada saya. Karena ... posisi Tante sama sekali nggak menguntungkan sekarang. Saya bisa aja tetap membocorkan rekaman ini tanpa meminta imbalan apapun kepada Tante. Toh, saya nggak rugi apa-apa."


"Kamu akan langsung bocorkan rekaman itu tanpa minta ketemu sama saya, kalau kamu memang nggak berniat minta sesuatu." Sera tidak mau kalah. Posisinya boleh jadi tidak aman, tetapi mempertahan harga diri, terlebih di depan anak ingusan macam Jasmine ini tetap menjadi prioritas nomor satu.


Perlahan, Sera memajukan tubuhnya, matanya menatap lekat sosok Jasmine. "Bilang aja kamu mau apa, akan langsung saya kabulkan saat ini juga. Let's make it easy, girl."


Senyum Jasmine perlahan-lahan luntur, raut wajahnya pun menjadi lebih serius sekarang. "Apapun?" tanyanya.


Sera mengangguk yakin. "Apapun."


Jasmine sok-sokan berpikir keras, padahal sebenarnya dia sudah menyiapkan apa-apa saja yang hendak ia minta kepada Sera. Lalu dengan tidak tahu dirinya, ia berkata, "Satu unit apartemen mewah dengan fasilitas yang lengkap, satu unit mobil baru, dan ... jaminan keamanan saya selama kuliah di Neo. Apa itu berlebihan?"


Sera menggeleng. Tidak ada yang berlebihan untuk dirinya kalau urusannya adalah materi. "Ada lagi?" tanyanya.


"Baskara-"


"Nggak dengan Baskara." Potong Sera, memperingatkan. "Minta apapun, sebanyak apapun, selain Baskara."


Jasmine tampak menghela napas. "Saya cuma mau bilang, tolong bikin Baskara dan teman-temannya menjauh dari satu anak gadis bernama Sabiru. Saya nggak suka sama dia, itu aja."


"Oke," Sera segera mengiyakan. "Semua yang kamu minta akan tersedia dalam tiga hari."


Jasmine tersenyum cerah. "Makasih, Tante." Ucapnya.


Sera tidak menimpali, dan justru segera bangkit dari kursi. "Kamu pastikan remakan itu aman sampai nanti semua yang kamu inginkan terwujud. Kalau sampai bocor, nyawa kamu yang jadi taruhannya."


"Selama Tante nggak ingkar janji soal apa yang saya minta, saya juga akan pastikan rekaman ini aman." Jasmine ikut bangkit dari kursi. Lalu gadis itu menyodorkan tangannya kepada Sera, yang tentu saja hanya dilirik sekilas oleh perempuan itu lalu diabaikan begitu saja.


"Satu lagi, tolong kamu jaga jarak dari Baskara. Anak saya nggak nyaman sama kamu," itu adalah kalimat terakhir yang Sera katakan sebelum ia berlalu dari hadapan Jasmine.


Sampai di luar cafe, Sera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Aku mau kamu urus satu orang lagi,"


Bersambung

__ADS_1


Yeuuu... macem-macem si Jasmine. Nggak tahu aja emaknya Baskara mah sikopat wkwk


__ADS_2