
Dugaan Baskara ternyata benar. Ia masih menemukan ayahnya ada di rumah ketika Fabian mengantarkannya pulang sebelum pukul sebelas malam. Lelaki itu sedang duduk di teras, bertemankan rokok dan satu botol air mineral yang isinya sudah setengah tandas.
Baskara menyeret langkahnya yang tiba-tiba terasa berat setelah mobil Fabian melaju meninggalkan area perumahannya. Padahal tadinya dia berharap bocah itu mau mampir sebentar untuk setidaknya membantunya memecahkan kecanggungan yang terjadi antara dirinya dengan sang ayah.
"Ini urusan internal keluarga, gue nggak boleh ikut campur." Begitulah alasan yang diberikan oleh Fabian sebelum bocah tengik itu tancap gas. Sebuah alasan yang membuat bibir Baskara terus bergerak komat-kamit tanpa suara sampai akhirnya waktu membuatnya terpaksa berhenti menggerutu dan segera masuk ketika gerbang tinggi di hadapan telah dibukakan oleh satpam.
"Habis mampir ke mana?" tanya Jeffrey, tatkala matanya menangkap kehadiran Baskara yang langkahnya sengaja dibuat mengendap-endap.
Rokok yang tinggal sedikit ia matikan, puntungnya dicampakkan begitu saja ke atas asbak, menyusul beberapa puntung lain yang sudah lebih dulu menjadi penghuni.
"Mega," sahut Baskara. Padahal, dia sama sekali tidak menginjakkan kaki ke klub itu. Tapi memang lebih mudah untuk menjawab seperti itu, karena dia tidak ingin ayahnya tahu kalau dia dan teman-temannya memiliki tempat pelarian baru selain Mega.
Baskara sedikit keheranan ketika reaksi Jeffrey kalem saja. Lelaki itu cuma manggut-manggut sambil meraih botol air mineral kemudian menenggak air di dalamnya hingga hampir habis.
"Sama Fabian?" tanya Jeffrey setelah meletakkan kembali botol air mineral ke atas meja.
"Iya." Baskara menjawab singkat.
"Kapan-kapan, ajak dia ke sini."
Baskara menaikkan sebelah alisnya. "Buat apa?" tanyanya kemudian. Satu tangannya bergerak refleks mengambil satu batang rokok dari bungkus yang ada di atas meja, kemudian dengan senang hati menerima ketika Jeffrey menyodorkan pemantik ke arahnya.
Pemantik itu sepertinya memiliki dendam tersendiri kepada Baskara, karena saat pemuda itu mencoba menyalakannya, api yang keluar selalu saja padam sebelum berhasil menyentuh ujung rokok yang sudah dia selipkan di antara bibirnya.
Jeffrey yang melihat hal itu langsung bertindak. Diambilnya lagi pemantik dari tangan Baskara, kemudian dia membantu putranya menyalakan pemantik itu.
__ADS_1
Dan ... walla! Pemantik itu menyala sempurna, apinya berhasil menyulut ujung rokok sehingga kepulan asap mulai beterbangan di udara.
Baskara mengisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asap yang dihasilkan tertelan sebagian dan sebagian lagi dia embuskan secara perlahan. Wajahnya ditolehkan ke arah lain setiap kali hendak mengembuskan asap, supaya asap pekat itu tidak langsung mengenai wajah Jeffrey yang duduk di depannya.
"Papa belum jawab pertanyaan Baskara," tagih Baskara setelah mengisap rokoknya sebanyak enam kali, dan Jeffrey masih tidak kunjung bersuara.
Angin tiba-tiba berembus cukup kencang, membuat abu dari rokok yang sedang Baskara isap beterbangan dan beberapa jatuh mengenai celananya.
Jeffrey, yang masih enggan menjawab malah sibuk membersihkan abu yang menempel di celana Baskara, membuat pemuda itu berdecak pelan.
"Cuma abu, nggak akan bikin Baskara mati." Sindirnya.
Namun, Jeffrey tidak menggubris sindirannya itu dan tetap melanjutkan kegiatannya. "Celana kamu kotor, nanti Mama ngomel." Katanya setelah selesai membersihkan celana Baskara, memastikan tidak ada lagi abu yang menempel di sana.
Jawaban yang Jeffrey berikan berhasil membuat Baskara membeku. Rokok yang semula terus dia isap sampai asapnya memenuhi rongga dada dan membuat paru-parunya menghitam, kini tidak lagi tampak menarik di matanya. Sebab, tatapan Jeffrey yang kini terpaku kepadanya telah berhasil membuatnya terlena. Membuatnya lupa bahwa mereka tidak sedang baik-baik saja.
Di tengah keheningan yang tercipta, suara lembut Sera tiba-tiba saja mengudara, membuat Baskara dan Jeffrey serempak menoleh ke arah pintu.
"Masuk, udah malam." Kata Sera, ditujukan kepada Baskara yang malah bengong, membiarkan rokok yang terapit di sela jemarinya terbakar sedikit demi sedikit hingga hampir habis.
"Abisin ini dulu," ucap Baskara sembari menunjukkan rokok di tangannya kepada Sera. Namun, wanita itu menggeleng cepat.
"Masuk," ulangnya.
Sepanjang dia hidup, Baskara tidak pernah melihat ibunya marah. Bahkan ketika ayahnya menjadi jarang pulang, Baskara masih akan melihat Sera dengan pembawaannya yang tenang.
__ADS_1
Tetapi malam ini, dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat bahwa tatapan Sera terhadap Jeffrey telah berubah. Fakta yang akhirnya membuatnya merasa tertampar, dan seolah diingatkan bahwa keluarganya memang tidak sedang baik-baik saja.
"Kamu juga masuk, Jeff, angin malam nggak bagus untuk kesehatan kamu."
Bahkan dari suaranya saja, Baskara tahu kalau Sera menyembunyikan kemarahan terhadap Jeffrey. Barangkali memang ada yang belum diselesaikan di antara ayah dan ibunya. Jadi, sebagai seorang anak yang tetap ingin kedua orang tuanya akur, Baskara pamit undur diri. Dia berniat memberikan ruang pada Sera dan Jeffrey untuk mengobrol demi memperbaiki hubungan mereka. Tanpa tahu bahwa setelah dia masuk ke dalam rumah, tensi antara Sera dan Jeffrey malah kembali naik.
"Kamu ketemu sama anak itu." Kata Sera setelah memastikan bahwa Baskara tidak lagi bisa mendengar percakapan antara dirinya dengan Jeffrey.
"Sebagai ayahnya Baskara." Jeffrey berusaha membela diri. "Dan aku nggak dengan sengaja muncul di hadapan dia, untuk kemudian mengakui diri sebagai ayah kandungnya." Imbuhnya, untuk mengingatkan kembali pada Sera tentang perjanjian yang mereka buat kemarin, bahwa dia masih diperbolehkan melihat anaknya dari jauh, atau sekadar saling sapa jika tidak sengaja bertemu. Dengan catatan, dia bisa menjaga sikap dan tidak akan bertindak ceroboh.
Sebagai gantinya, dia akan pulang ke rumah.
Berusaha menjadi sosok ayah yang dulu Baskara miliki. Berusaha mengisi kekosongan yang dia tinggalkan selama enam tahun, dan berharap hati Baskara masih cukup lapang untuk menerima kepulangannya.
"Kita udah sepakat soal ini," Jeffrey menegaskan sekali lagi.
"Aku bilang kamu boleh menyapa dia kalau nggak sengaja ketemu di suatu tempat, Jeff." Kata Sera, sambil menahan emosi yang mulai naik sedikit demi sedikit. "Tapi kamu jelas sengaja muncul di hadapan dia hari ini." Lanjutnya.
"Kamu pikir, aku nggak tahu kalau pertemuan kamu dengan rektor pagi tadi sebenarnya cuma alasan, supaya kamu bisa memantau anak itu dan mencari-cari kesempatan untuk bisa bertemu dan membuat pertemuan itu seolah nggak disengaja?"
"Manusia-manusia sialan," cibir Jeffrey, merujuk pada antek-antek yang sengaja Sera sebar ke seluruh penjuru kampus untuk menghalanginya bertemu dengan putranya sendiri. Dia pikir uang yang dia keluarkan sudah cukup untuk membuat beberapa mulut bungkam. Tapi ternyata, dia melupakan para anjing peliharaan Sera yang tidak bisa dibeli dengan uang.
"Kamu yang sialan." Sera menggeram. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, bisa kapan saja dia gunakan untuk memukuli Jeffrey kalau dia mau, karena dia tahu lelaki itu tidak akan berusaha menahan ataupun membalas perbuatannya.
"Sekali lagi aku tahu kamu berusaha berbuat curang, aku nggak akan segan-segan untuk betulan menyingkirkan anak itu dari muka bumi ini." Ancam Sera. Kemudian, perempuan itu membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sera meninggalkan Jeffrey sendirian. Tapi anehnya, justru Sera lah yang merasa kesepian.
Bersambung