Taruhan

Taruhan
Don't Mess Up With Her


__ADS_3

Sampai di lokasi balapan, suasana sudah ramai. Total ada tujuh peserta yang hendak ikut dalam balapan malam ini, termasuk Baskara, Reno dan Juan. Ketiganya sudah bersiap di atas motor masing-masing. Geberan dari tuas gas yang ditarik dalam-dalam menggema bersahut-sahutan. Sorakan penyemangat dari para suporter yang hadir juga turut memeriahkan suasana.


Di sana, ada pula sosok Jasmine. Si kuntilanak—sebutan baru dari Fabian—muka tembok yang tidak tahu malu, tersenyum begitu cerah di sisi Baskara yang tidak terlihat nyaman sama sekali kala bahunya diusap-usap oleh gadis itu.


"Gue nggak boleh nyari masalah sama dia, kan?" bisik Biru. Matanya mengawasi pergerakan Jasmine yang kian menjadi-jadi menggerayangi tubuh Baskara. Ada perasaan aneh yang menyambangi dirinya kala menemukan bahwa Baskara sama sekali tidak berusaha menghindar saat tubuhnya digerayangi.


Bahkan, ketika tatapan mereka akhirnya bertemu dan ia bisa melihat pemuda itu tersenyum melalui matanya ketika wajahnya tertutup helm full face, Biru merasa Baskara seolah sengaja ingin membiarkan Jasmine menyentuh lebih banyak—entah untuk alasan apa.


"Nggak. Kalau lo macam-macam, gue seret lo pulang." Sama seperti Biru, tatapan Fabian juga tidak lepas dari sosok Jasmine dan Baskara. Rasa-rasanya, ingin sekali dia menyeret kuntilanak itu menjauh, memasukkannya ke dalam botol lalu menghanyutkannya ke sungai agar mengalir sampai jauh.


Namun, tak ada yang bisa Fabian lakukan karena toh Baskara juga tidak terlihat berniat untuk menyingkirkan kuntilanak itu.


"Kalau dia yang macam-macam duluan sama gue, gimana?" tanya Biru. Setelah sekian lama waktu berlalu, ia akhirnya melepaskan pandangan dari Baskara untuk kemudian menatap Fabian yang berdiri di sampingnya.


Yang laki-laki turut menoleh, memaku tatap sebentar sebelum akhirnya kembali melayangkan tatapan ke depan. "Dia yang gue seret," ucapnya pelan, namun tetap terdengar tegas dan terkesan meyakinkan.


Kemudian, tak ada lagi obrolan basa-basi di antara mereka ketika salah seorang pemuda yang semula ada di kerumunan penonton berjalan menuju ke garis start. Pemuda dengan tato bunga mawar di leher itu mengeluarkan sebuah kain berwarna biru, lantas menggantungkan kain itu di udara selagi matanya menatap satu persatu peserta balapan.


Jasmine si kuntilanak, dan beberapa gadis lain yang juga turut berdiri di sisi para peserta balapan menyingkir, paham bahwa keluarnya kain itu adalah pertanda kalau balapan akan segera dimulai.


Setelah memastikan tidak ada lagi gadis yang berada di lintasan, pemuda tadi mulai memasang kuda-kuda lalu berhitung mundur, mulai dari tiga.


"Tiga,"


"Dua,"


"Satu,"


"Go!" serunya, seiring dengan kain yang dikibaskan ke bawah sebagai pertanda dimulainya balapan.


Tujuh motor melaju kencang dalam waktu yang bersamaan. Suara deru yang menggema bercampur dengan sorakan riang dari orang-orang yang datang mencari hiburan.

__ADS_1


Tidak seperti yang lain, yang begitu antusias mengikuti jalannya balapan, Biru malah terpaku di tempatnya setelah tadi sempat beradu tatap lagi dengan Baskara tepat ketika motor yang pemuda itu lajukan lewat di depannya. Sel-sel di tubuhnya seolah kehilangan fungsi, dan ia hanya serupa patung tak bernyawa yang kebetulan terdampar di tengah keramaian.


"Gue ke sana bentar, lo di sini aja, jangan ke mana-mana." Suara Fabian menjadi penyelamat pada akhirnya.


Biru menoleh sebentar ke arah pemuda itu, lalu menganggukkan kepala sebagai tanda pemberian izin agar pemuda itu bisa menghampiri si pemuda bertato yang tadi.


Tapi sepertinya, keputusan untuk membiarkan Fabian pergi adalah salah. Karena baru saja pemuda itu sampai di seberang, si kuntilanak Jasmine sudah berdiri di sampingnya, menatapnya dengan tatapan penuh penghakiman seolah ia adalah manusia paling hina di dunia.


Mengingat Fabian sudah mewanti-wanti agar ia tidak mencari masalah, Biru pun berusaha bersikap tenang. Ia labuhkan pandangan ke sekeliling, pada hingar bingar manusia di sekitarnya. Mereka bicara di saat yang hampir bersamaan, menimbulkan suara yang saling tumpang tindih.


"Gimana rasanya jadi bahan taruhan?"


Berkat pertanyaan itu, Biru terpaksa menarik pandangannya lalu melabuhkannya ke arah Jasmine. Mendapati gadis di hadapannya itu tersenyum meremehkan, Biru membalasnya dengan senyum tipis yang tak kalah sengit. "Seru. Mau coba?" dengan nada tengil yang sempurna.


Tidak seperti gadis-gadis lain yang akan langsung kena mental setelah ia beri jawaban tak terduga, Jasmine justru melebarkan senyum. Tampaknya, gadis itu sama sekali tidak menyurutkan niat untuk tetap mengganggu Biru, tanpa sepengetahuan Baskara dan teman-temannya.


"Harus gue akui, nyali lo emang keren." Sekilas, kalimat itu mungkin terdengar seperti sebuah pujian. Namun Biru jelas tahu kalau Jasmine hanya akan menambahkan kalimat lain yang bertujuan menurunkan harga dirinya hingga level paling bawah. Jadi ketika gadis itu kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan, Biru sudah menyiapkan mental.


Kali ini, giliran Biru yang tersenyum miring. "Lo yakin banget kalau Fabian bakal putusin gue?" tantangnya. Dengan berani, ia menatap mata Jasmine. "Gimana kalau ternyata Fabian justru jatuh cinta sama gue, terus nggak mau putus setelah masa taruhan mereka berakhir?" sambungnya.


Tiba-tiba saja, Jasmine tergelak. Gelak tawa yang menggelegar itu berhasil mencuri perhatian dari orang-orang di sekitar, termasuk Fabian yang seketika langsung memasang sikap waspada.


Usai tawanya mereda, Jasmine berjalan lebih dekat ke arah Biru. Dengan tangannya yang terlipat di depan dada, Jasmine menatap Biru dari atas sampai bawah, memindai penampilan gadis yang hanya beberapa senti lebih pendek darinya itu tanpa ada satu sisi pun yang terlewat.


Kemudian, masih dengan tatapan meremehkan, ia berkata, "Kepercayaan diri lo juga patut diacungi jempol." Sembari mengeluarkan ibu jari tangan kanannya tepat di depan wajah Biru. "Tapi, ada saatnya lo harus tahu kapan menjaga kepercayaan diri itu biar nggak bikin lo terlalu berharap." Imbuhnya.


Biru memutuskan tidak menyahut. Dia dengarkan saja setiap kata yang keluar dari bibir Jasmine dengan telinga yang terbuka lebar, juga tatapan yang terkesan datar.


"Kemungkinan Fabian jatuh cinta sama lo itu ada. Ada banget malah," kata Jasmine lagi.


"Tapi, kemungkinan untuk dia nggak mutusin lo itu hampir nggak ada sama sekali. Lo tahu kenapa?" Jasmine sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap wajah Biru semakin intens seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh helaian rambut Biru yang menjuntai menutupi pipi tirusnya.

__ADS_1


"Karena Baskara nggak akan biarin itu terjadi. Dia nggak akan biarin siapapun melanggar aturan dasar yang udah mereka terapkan sedari dulu. Dan ... " helaian rambut halus yang berhasil Jasmine sentuh kemudian ia selipkan ke belakang telinga Sabiru. "Lo nggak secantik itu untuk bisa bikin Fabian ngelawan titahnya Baskara."


Puas berceloteh, Jasmine menegakkan kembali tubuhnya. Bertepatan dengan itu, Fabian muncul. Pemuda itu dengan sigap menarik lengan Biru, menyembunyikan tubuh gadis itu di belakang tubuhnya sementara matanya menatap nyalang ke arah Jasmine.


"Lo udah janji buat nggak ganggu Sabiru lagi," ucap Fabian memperingatkan.


"Gue nggak ganggu dia," Jasmine berkilah. Gadis itu mengintip ke arah Sabiru yang disembunyikan, berusaha melemparkan tatapan memprovokasi agar lawannya mau keluar dan mereka bisa memulai keributan. "Kita cuma ngobrol sebentar kok. Biasalah, obrolan para cewek."


Fabian hendak membuka mulutnya, namun tepukan pelan di lengannya yang berasal dari belakang tubuh membuatnya mengurungkan niat. Sabiru yang ia sembunyikan dengan susah payah di belakang tubuh malah bergeser dengan santainya. Gadis itu juga menatapnya lekat, seakan ingin memberi tahu bahwa ia tidak perlu sampai bertindak sejauh ini.


Jasmine yang berpikir pancingannya berhasil, sontak bersorak riang dalam hati. Senyumnya merekah sekali, seperti matahari pagi yang bersinar setelah sekian purnama tertelan mendung.


Namun, alih-alih mendapatkan keributan seperti yang dia inginkan, gadis itu malah mendapati Biru tersenyum tipis. "Gue nggak pakai silikon." Kata Biru, membuatnya menaikkan sebelah alisnya dalam kebingungan.


Batinnya, apa-apaan Sabiru ini? Kenapa tiba-tiba membalas soal silikon?


"Ini asli," kata Biru lagi, sembari menunjuk dadanya sendiri. "Nanti gue spill deh kiat-kiat biar bikin dia sehat dan kenyal." Lanjut Biru, menekankan kata dia sambil melirik dua benda kenyal kebanggaannya itu.


Jasmine yang tidak menduga bahwa Biru akan tiba-tiba membahas sesuatu seperti itu langsung kicep. Bibirnya yang terbiasa melontarkan kalimat-kalimat pedas penuh bisa seketika terkatup rapat. Pun dengan otaknya yang tiba-tiba saja kehilangan kemampuan untuk merespons ucapan lawan bicaranya dengan cepat.


Kini, Jasmine justru tampak seperti orang bodoh. Sedangkan Biru sudah tersenyum geli mendapati lawan bicaranya mati kutu dengan cara yang tak terduga.


"Nanti DM gue aja, biar gue spill kiat-kiatnya secara eksklusif buat lo."


Sebelum Jasmine nyerocos lagi, Biru segera menarik lengan Fabian, mengajak pemuda itu berlalu dari sana sambil mati-matian menahan gelak tawa.


Baru beberapa langkah mereka pergi, Biru terpaksa mengerem mendadak saat Fabian dengan polosnya bertanya, "Itu beneran asli? Cara ngeceknya gimana?" sembari melirik ke arah dadanya.


Kesal, Biru melayangkan pukulan ke kepala Fabian, membuat si empunya memekik keras sehingga beberapa orang yang ada di sana juga turut menaruh perhatian kepada mereka berdua.


"Berani lo nanya begitu lagi, gue patahin biji lo!" ancamnya, lalu ia kembali melanjutkan langkah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2