
Ketika Biru sampai di apartemen dengan dua kantong belanjaan berukuran besar di tangan, matahari sudah sepenuhnya pulang dan malam mulai merangkak naik.
Dengan sisa tenaga yang masih dia miliki setelah berkeliling pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan kebutuhan yang telah habis, Biru membawa dua kantong belanjaan itu ke dapur, meletakkannya di atas meja makan selagi dia melesat ke depan kulkas.
Keadaan kulkasnya masih sama seperti yang terakhir kali dia periksa, kosong melompong. Saking kosongnya, dia sudah tidak perlu lagi memikirkan untuk menyediakan ruang bagi bahan-bahan kebutuhan yang baru saja dia beli.
Setelah memetakan di mana dia akan meletakkan bahan-bahan itu berdasarkan jenis dan kemungkinannya diambil lebih dulu, Biru pun kembali ke meja makan dan meraih satu kantong belanjaan yang berisi beberapa botol air mineral ukuran dua liter. Segera ditatanya botol-botol itu di tempat yang sudah tersedia.
Selesai dengan botol-botol air mineral, Biru beralih ke kantong belanjaan yang satu lagi. Di sana, ada berbagai jenis makanan isntan. Mulai dari mi instan, bubur instan, sereal, oatmeal, frozen food dan beberapa makanan kaleng yang hanya tinggal dipanaskan saja sebelum dimakan.
Iya, Biru membeli segala jenis makanan siap saji itu karena dia tidak bisa memasak. Dia bahkan selalu gagal saat menanak nasi, antara nasinya akan menjadi mentah, atau berubah menjadi bubur karena dia memasukkan terlalu banyak air.
Biru bukannya pasrah saja dengan keadaannya yang tidak bisa memasak. Sampai akhir tahun kemarin ketika dia masih tinggal di Surabaya bersama Tante Maya (adik kandung ayahnya), Biru masih terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan memasaknya. Namun nihil, yang ada dia hanya membuat dapur milik tantenya berantakan.
Alhasil, Tante Maya tidak lagi memperbolehkannya menapakkan kaki di dapur, kalau tujuannya adalah untuk memasak. Wanita itu akan mengomel dengan kecepatan penuh dan memaksa dirinya untuk duduk manis menunggu makanan siap dihidangkan di depannya.
Itu juga yang sebenarnya menjadi salah satu alasan yang membuat Tante Maya sempat menentang keras idenya untuk pindah kembali ke Jakarta. Wanita itu khawatir dia tidak akan bisa makan dengan baik di sini.
Dan, ya ... wanita itu memang benar. Selama hampir satu tahun dia tinggal sendirian di Jakarta, apa yang Biru konsumsi benar-benar sembarangan. Biru hanya memakan apa yang sekiranya paling mudah untuk dibuat, tanpa peduli pada kandungan gizi dan rasa dari makanan itu sendiri.
"Ha ... kalau Tante May tahu gue cuma bisa stok makanan siap saji kayak gini, gue pasti bakal langsung diseret balik ke Surabaya." Monolognya. Lalu dia terkekeh saat membayangkan ekspresi wajah Tante Maya saat wanita itu mengomelinya.
Tapi, mungkin seharusnya Biru tidak perlu memikirkan Tante Maya sampai sebegitunya. Karena tidak lama berselang setelah bibirnya kembali terkatup, ponsel dari dalam saku jaket bergetar, menandakan adanya panggilan masuk.
Biru mengeluarkan ponselnya, nama Tante Maya tertera di sana, lengkap dengan foto si kembar yang dijadikan foto profil. Log hijau digeser, dan panggilan video itu pun tersambung.
Biru berjalan kembali ke meja makan, duduk di salah satu kursi sembari menunggu Tante Maya berbicara dari seberang telepon karena agaknya koneksi internet sedikit tidak stabil.
"Halo, Bi!" sapa Tante Maya pada akhirnya. Suaranya masih seceria biasanya, jenis suara yang bisa membangkitkan kembali semangat yang semula redup.
"Halo, Tan." Biru balik menyapa.
"Kamu baru pulang dari kampus?" tanya Tante Maya, barangkali karena melihat Biru masih berpakaian rapi. Karena kalau cuma di rumah, Biru biasanya cuma akan mengenakan kaus oblong dan celana pendek di atas lutut.
__ADS_1
"Iya, nih. Capek banget jadi mahasiswa, mau nikah aja." Guraunya, yang seketika membuat Tante Maya memekik dari seberang.
"Baru juga semester dua, udah ngeluh capek aja! Lagian, kamu pikir nikah enak? Enggak! Capek juga!"
Biru terkekeh melihat ekspresi Tante Maya yang heboh. Padahal, dia cuma bercanda. Tapi tantenya itu selalu menanggapi guyonannya dengan cara heboh seperti itu. Kadang saking hebohnya, Biru sampai mempertanyakan status Tante Maya sebagai adik kandung almarhum ayahnya. Karena, mereka berdua adalah dua orang dengan sifat yang sangat bertolak belakang.
"Omong-omong, kamu habis belanja?" dalam sekejap, nada suara Tante Maya berubah lagi. Kembali ke mode normal dan sudah tidak ngegas lagi.
"Iya, nih, belanja stok makanan sama air minum." Jawab Biru, berusaha untuk tidak memperpanjang obrolan mereka tentang belanjaan karena perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Dan benar saja, sebelum dia sempat mengalihkan pembicaraan, Tante Maya sudah lebih dulu menemukan keberadaan beberapa bungkus makanan siap saji yang mencuat keluar dari dalam kantong belanja yang tadi dia letakkan di atas pantri.
"Udah berapa kali Tante bilang, Biru!!! Jangan makan makanan instan kayak gitu terus! Nggak sehat!" omel Tante Maya.
"Ya gimana, kan Biru nggak bisa masak." Biru menjawab sesuai fakta. Toh tantenya itu tahu kalau dia tidak bisa memasak, benar?
"Beli di warteg! Beli di restoran rumahan! Nggak susah, Biru. Nggak susah!"
"Susah, Tan. Jauh, Biru malas jalan."
"Kalau gini caranya, Tante beneran bakal pindah ke Jakarta. Biar ada yang bisa masakin kamu!"
"Mana bisa gitu? Kerjaan Richard kan di Surabaya."
"Richard biar tinggal di sini, Tante sama si kembar yang bakal pindah ke Jakarta!"
"Aneh, masa suaminya mau ditinggalin cuma demi keponakan, sih?" cibir Biru. Tak habis pikir mengapa Tante Maya bisa berpikir demikian.
Kalau kalian pikir apa yang Tante Maya katakan itu hanya gurauan, kalian salah besar. Sebab wanita itu selalu serius dengan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Jadi, Biru harus selalu memutar otak agar Tante Maya tidak bisa merealisasikan ide-ide gilanya itu.
"Kamu bukan cuma ponakan Tante! Kamu separuh napas Tante, Bi!"
"Cih, lebay." Cibir Biru lagi. Meksipun dia tahu bahwa wanita itu berkata jujur.
__ADS_1
Sejak kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat ketika umurnya enam belas, Tante Maya menjadi satu-satunya orang yang bersedia secara sukarela merawat dirinya dengan penuh kasih sayang. Wanita itu tidak ragu untuk memboyongnya ke Surabaya, memaksa suaminya mengajukan pemindah-tugasan dari Jakarta ke Surabaya agar mereka bisa hidup dengan lebih tenang di kota itu.
Sebab, Jakarta menyimpan banyak luka untuk Biru.
Bukan cuma soal kematian kedua orang tuanya saja (yang bahkan sampai saat ini tidak pernah ditemukan jasadnya karena pesawat yang mereka tumpangi jatuh ke perairan lepas), tetapi juga soal sakit hatinya yang ditimbulkan oleh pemuda bajingan bernama Baskara.
"Biru nggak apa-apa, nggak usah khawatir." Katanya, setelah keterdiaman yang cukup lama.
"I know you're not, Bi."
"Sekarang mungkin belum sepenuhnya baik-baik aja, tapi perlahan-lahan semuanya bakal membaik. Tante May tenang aja, oke?"
Terdengar hela napas berat dari seberang. Tatapan Tante Maya tiba-tiba berubah sendu, membuat atmosfer yang terasa di sekitar Biru juga ikut membiru.
Lalu, sebelum perasaan sedih itu semakin menyebar ke mana-mana, suara gaduh dari seberang telepon membuat Biru bernapas lega.
Itu suara si kembar, yang entah sedang memperebutkan apa.
"Anaknya tuh urusin dulu," ucap Biru.
Tante Maya mendengus sebal. Tapi tak urung tetap beranjak dari tempatnya dan menghampiri sepasang anak kembarnya yang sedang bermain di ruang tamu.
"Celia, Cello! Mami bilang apa tadi? Jangan berebut mainan!"
Biru tergelak kala mendapati sepupunya yang baru berusia lima tahun itu menatap sang ibu sebentar, sebelum akhirnya kembali berebut maninan.
"Astaga! Ini cebong dua bener-bener duplikatnya si Richard! Rusuh banget, rusuh!" Omel Tante Maya, entah kepada siapa.
"Ya udah, urusin aja dulu dua cebongmu itu. Nanti kita sambung lagi kalau duo cebong itu udah tidur."
"Hah ... ya udah, Tante tutup dulu teleponnya. Nanti Tante hubungi kamu lagi."
"Iyaaa ... "
__ADS_1
Telepon pun ditutup, dan Biru kembali dibiarkan bergelung dengan kesepian yang terasa sampai ke tulang-tulang.
Bersambung