
"You're strong enough to defend yourself, I know that. So, forgive me?"
Percayalah, menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan, dan Fabian tidak menyukai itu. Tetapi sekarang ini, di hadapan Biru, ia begitu pasrah menunggu sampai bibir tipis gadis itu terbuka untuk sebuah jawaban—yang ia sendiri tidak tahu akan dibuat menunggu sampai kapan.
Sebab kini, si gadis biru malah bergerak menegakkan punggungnya. Tangan dengan jemari lentik itu dipakai mengambil sendok yang teronggok tak berdaya di atas meja, lalu mulai kembali menyendok makanan yang tersaji di sana. Gerakannya sedikit sewot, bahkan cara gadis itu mengunyah pun terkesan asal-asalan agar bulir-bulir nasi itu bisa segera ia telan.
Sampai seperempat habis makanan itu, Biru memberi jeda sebentar. Gadis itu mendongak, menatapnya tajam kemudian berkata, "Ngapain berdiri di situ? Duduk." Dengan nada super ketus yang seharusnya sudah tidak membuatnya heran lagi.
Fabian memperhatikan bagaimana Biru menggeser posisi duduknya demi menyisakan ruang agar ia bisa bergabung di atas sofa. Usai melakukannya, si gadis kembi melahap makanannya dalam kesunyian yang dibiarkan membesar semaunya.
Beberapa saat, Fabian masih mematung di tempatnya. Lalu saat ia sadar Biru hendak kembali membuka mulut, ia cepat-cepat berpindah dari posisinya semula, duduk di sebelah Biru dengan memberikan jarak yang lumayan jauh.
Entah berapa menit yang dia habiskan hanya untuk memandangi Biru yang melahap makanannya dengan sewot. Dan Fabian pun tidak mengerti kenapa ia dengan sukarela memandangi gadis itu, di saat ia bisa melakukan hal lain yang lebih berguna. Memainkan ponsel, misalnya.
"Lo rela jauh-jauh ke sini cuma buat ngomong itu?" tanya Biru, ketika makanannya sisa seperempat lagi.
Akhirnya diajak bicara, tentu saja Fabian lega. Dia pikir keheningan ini akan dibiarkan sampai makanan di dalam kotak itu benar-benar habis tak bersisa.
"Kenapa?" tanya si gadis biru lagi. Sendok yang sedari tadi bekerja keras menyuapkan makanan ke dalam mulut, gadis itu letakkan di atas meja. Kemudian, ia menoleh. Tatapannya tidak setajam tadi, tapi masih jelas terlihat kekesalan di sana. "24 jam lebih lo nggak ngomong apa-apa, dan sekarang datang buat minta maaf. It's kinda weird, y know?"
"Gue cuma mau kasih lo waktu buat meredakan emosi," tutur Fabian apa adanya. Ponsel yang sedari tadi masih ia genggam erat, diletakkan di atas meja. "Karena menurut gue, membahas sesuatu di saat emosi masih naik itu sama sekali nggak akan menghasilkan solusi."
__ADS_1
"Tapi gue masih emosi sama lo, bahkan sampai detik ini."
"I know," seulas senyum tipis dipersembahkan. "Tapi emosi lo yang sekarang nggak setinggi kemarin. Dan gue rasa, kita udah mulai bisa meluruskan kesalahpahaman yang ada."
"Kesalahpahaman? Nggak ada yang kayak gitu,"
"Jelas ada." Potong Fabian. "Lo jelas marah karena berpikir gue ngeremehin lo, don't you?"
Biru geming. Bibirnya setengah terbuka, namun tidak cukup punya niat untuk menggerakkannya demi bisa menjawab pertanyaan Fabian. Maka ia hanya diam, sampai Fabian menjadi orang yang kembali membuka suara untuk memeriahkan suasana.
"As I said before, gue percaya kalau lo mampu membela diri lo. Terbukti dari lo yang tinggal sendirian dan nggak keberatan untuk nerima gue—yang notabene orang asing—bahkan biarin gue tahu kode keamanan di unit lo. Gue yakin lo nggak akan seberani itu kalau nggak punya modal apa-apa untuk membela diri."
"Cuz she's different, Biru. Jasmine itu bukan manusia, dia ular."
Satu alis Biru terangkat, mulai tertarik pada apa yang hendak disampaikan oleh Fabian lebih banyak.
"Lo belum pernah dengar soal mahasiswi yang berakhir drop out karena pihak kampus dimanipulasi sama Jasmine, kan?"
Oh, wow! Itu memang berita baru. Biru tahu Jasmine itu licik, tapi tidak menyangka kalau kelicikannya bisa sampai memengaruhi pihak kampus untuk mengeluarkan seorang mahasiswa. *And that mean*s Jasmine has the power to destroy anyone who tries to messed up with her. Dan Biru agak tidak siap kalau konsekuensinya harus sampai dikeluarkan dari kampus.
"Jasmine selicik itu, dan gue nggak mau lo terluka karena dia. Jadi, Sabiru, tanpa mengurangi rasa hormat gue terhadap lo, dan tanpa berniat untuk meremehkan kemampuan lo untuk membela diri, gue minta tolong sama lo, please, jangan terlibat sama Jasmine." Permohonan itu Fabian sampaikan dengan tulus. Selain karena ia memang khawatir pada Biru, ini juga dia lakukan untuk memenuhi permintaan Baskara perihal menjaga siapapun tetap aman selama masa taruhan berlangsung. Brengsek-brengsek begini, mereka selalu berusaha memastikan keamanan target taruhan mereka adalah yang nomor satu.
__ADS_1
Hela napas yang kemudian menyambut kalimat panjang yang Fabian sampaikan itu meninggalkan tanda tanya baru. Sebab Biru tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Gadis itu malah membereskan kotak makan miliknya, membawanya ke dapur untuk kemudian ia pisahkan isi dan kotaknya barulah ia buang ke tempat sampah yang berbeda.
Fabian sendiri tidak mau lancang mengekori si gadis biru. Jadi dia hanya dengan sabar menunggu sampai gadis itu selesai mencuci tangan dan kembali duduk di sebelahnya setelah meneguk air dari botol air mineral kecil yang dibawa dari dapur.
"Berapa lama lagi waktu yang dikasih sama teman-teman lo sampai kita bisa resmi pacaran?" adalah pertanyaan pertama yang Biru ajukan. Benar-benar di luar konteks, di mana Fabian masih menunggu kejelasan apakah ia sudah dimaafkan.
Meksipun begitu, Fabian tetap menjawab pertanyaan Biru. "Kurang dari seminggu."
"Dan berapa lama kita harus pacaran?"
"Satu bulan,"
"Oke," Biru meletakkan botol air mineral ke atas meja setelah meneguk isinya sekali lagi. "Lupain soal Jasmine, gue udah maafin lo. Sekarang, kita bahas kesepakatan kita dan apa-apa aja yang harus kita lakuin selama kesepakatan ini berlangsung. Ya tentu, biar teman-teman lo percaya kalau taruhan mereka berhasil."
Tahu tidak, kalau sorot mata Biru mendadak jadi cerah ketika membahas lagi soal taruhan? Seakan-akan justru dirinya lah yang akan menang jika taruhan ini berjalan lancar, bukan Fabian dan kawan-kawan.
Fabian merasakan keanehan itu, tetapi ia tetap dengan senang hati menerima uluran tangan Biru, menjabatnya sebagai pertanda bahwa masalah soal Jasmine sudah selesai, dan mereka bisa beralih membahas sesuatu yang lain.
Seperti yang sudah Biru katakan sebelumnya, mereka menghabiskan waktu untuk menyusun rencana. Apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa taruhan berlangsung. Agar Biru tidak lagi bertindak gegabah, seperti ketika mengunggah foto Fabian dan menimbulkan keributan.
Bersambung
__ADS_1