
Sedikit menjauh dari kereamaian Mega, Baskara membawa Fabian menuju salah satu meja di bagian paling sudut dekat pintu keluar bagian belakang. Spot itu sepi, dan lampu yang tergantung di atasnya sengaja tidak dinyalakan oleh Gerald karena spot itu memang sejak awal tidak diniatkan untuk masuk ke dalam list spot yang akan ditempati oleh para tamu undangan.
Suara musik yang berdenatam-dentam mulai kedengaran lebih pelan dan lama-kelamaan teredam ketika Baskara dan Fabian akhirnya duduk bersebelahan. Keduanya duduk di tengah kegelapan, hanya mengandalkan sedikit pantulan sinar lampu dari lantai dansa yang sesekali berpendar ke arah meja mereka.
Di dua menit awal sejak mereka duduk, tidak ada yang bersuara. Tatapan mereka sama-sama tertuju ke arah lantai dansa, di mana Reno dan Juan sudah ikut bergabung dengan tamu undangan yang lain, termasuk empat gadis yang tadi Gerald bawa, meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti irama musik. Sementara Gerald terlihat berdiri di samping sang disc jockey, agaknya tengah memberikan instruksi agar pesta perayaan malam ini bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan keinginannya.
Masuk menit ke-tiga, Fabian menarik pandangannya, lalu ia labuhkan kepada Baskara yang masih setia mengamati bagaimana Reno dan Juan untuk pertama kalinya sudi berbaur dengan orang-orang asing di lantai dansa. Biasanya, sepasang sepupu itu paling anti kalau harus bersenggolan dengan orang lain di langas dansa. Itu sebabnya Gerald selalu menyediakan satu waktu khusus untuk membuat dua cecunguk itu bisa menggeliat di atas lantai dansa, menikmati alunan musik hanya untuk diri mereka sendiri.
"So," Baskara mulai bersuara, dan Fabian dengan sabar menunggu sampai pemuda itu menatapnya. "Can you tell me what really happened? Kenapa Biru bisa sampai punya foto lo?"
Well, itu bukan pertanyaan yang mengejutkan. Fabian tahu Baskara akan menuntut penjelasan sedetail mungkin, tanpa ada sedikit pun yang terlewat.
"Kemarin gue datang ke apartemen Biru," Fabian memulai penjelasannya. "Awalnya cuma mau jengukin dia, I've told you kalau Biru sempat keseleo, right?"
Baskara menganggukkan kepala. Tentu dia ingat, sebab ketika Fabian mengatakan bahwa Biru mengalami cedera di kakinya, Baskara nyaris tidak bisa menahan diri untuk datang menghampiri Biru saat itu juga. Kekhawatirannya bahkan masih ada sampai sekarang, apalagi saat dia menemukan Biru telah absen dari kegiatan perkuliahan selama dua hari.
"Terus? Gimana bisa lo berakhir tidur di atas sofa dan Biru ambil foto lo? Lo nggak nginep di apartemen dia, kan?"
"I did," sela Fabian.
Rasanya ngilu. Baskara sampai harus mengepalkan satu tangannya yang ada di atas pangkuan demi membantu mengendalikan dirinya sendiri. Beruntung lampu di atas mereka tidak menyala, jadi Baskara tidak terlalu khawatir kalau-kalau Fabian bisa membaca raut wajahnya.
"Awalnya, gue udah pamit mau pulang. Tapi tiba-tiba aja Biru nangis, ngeluh kalau kakinya sakit lagi. So, yeah, gue nggak bisa nolak waktu dia minta gue untuk menginap. Gue juga nggak tega ninggalin di sendirian karena di luar lagi hujan badai, takutnya dia butuh sesuatu pas tengah malam."
"Lo segitu pedulinya sama dia?"
__ADS_1
"Sebagai sesama manusia," Fabian berusaha menegaskan. "Kalau itu lo, gue yakin lo juga akan melakukan hal yang sama."
Baskara mengurungkan niatnya untuk menyangkal. Sebab, jika itu adalah dirinya, Baskara bukan cuma akan tinggal. Ia juga akan berteriak sepanjang malam, memaki Tuhan agar bersedia menarik kembali badai-badai yang Ia turunkan karena Baskara tahu betapa tidak sukanya seorang Sabiru jika badai turun tengah malam.
Di hari-hari yang lalu, ketika badai kurang ajar itu datang dan Biru tidak memiliki kesempatan untuk menerima pelukan dari sang ibu, gadis itu akan datang kepadanya. Melalui sambungan telepon, gadis itu akan bicara banyak hal, membahas apapun dan memaksanya untuk mendengarkan. Sampai kemudian terdengar suara napas yang teratur, yang menandakan bahwa gadisnya telah terlelap dan badai yang turun sudah tidak lagi membuatnya terusik.
Mengetahui ada pria lain yang tidur di kediaman gadis itu, menemaninya melewati badai, di mana itu adalah tugasnya dulu tentu membuat hati Baskara semakin terasa ngilu. Tetapi, ini jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kesepian dan luka-luka yang dia berikan kepada Biru ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa bersedia mengatakan alasannya, bertahun-tahun lalu.
"Sorry, gue ceroboh. Gue juga nggak tahu kalau Biru akan punya pemikiran se-random itu untuk ambil foto gue dan share ke medsos."
Baskara menari napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Kali ini gue harus bilang kalau lo memang salah," ucapnya. Ia menatap Fabian sebentar, kemudian melayangkan tatapannya kembali ke lantai dansa. "Yang lain mungkin masih bisa gue tenangin dengan kata-kata, tapi Jasmine ... cewek licik itu pasti akan nuntut sesuatu sebagai ganti untuk nggak mengganggu Biru."
Karena semua orang juga tahu, bahwa tidak ada yang gratis untuk seorang Samara Jasmine. Bahkan untuk membuatnya tidak berkomentar pun, harus ada harga mahal yang dibayar. Dan Baskara tahu, ia yang harus membayar kepada Jasmine kali ini. Entah itu dalam bentuk uang, ataupun hal-hal tidak masuk akal yang hanya akan terpikirkan oleh gadis licik seperti Jasmine.
"My bad," Fabian memelas, membuat Baskara kembali menaruh perhatian kepadanya.
Aura dominan terpancar jelas dari tubuh Baskara ketika tatapan mereka bertemu, dan Fabian terpaksa menelan ludahnya susah payah saat sebuah instruksi keluar dari mulut si pemuda. Katanya, "Soal Jasmine, biar gue yang urus. Tugas lo adalah memastikan Biru aman sampai nanti misi taruhan kita selesai."
Baskara kemudian bangkit dari duduknya, menepuk pundak Fabian beberapa kali lalu berjalan menuju ke lantai dansa. Dan lagi-lagi, Fabian ditinggalkan dengan rasa bersalah yang besar. Karena lagi-lagi, Baskara mengorbankan dirinya sendiri.
...****************...
Jam tiga subuh, musik yang diputar sudah semakin menggema memenuhi seluruh Mega. Orang-orang yang datang untuk perayaan ulang tahun, nyaris semuanya hampir jatuh pingsan karena alkohol yang mereka tenggak sudah melebih batas toleransi masing-masing.
Reno dan Juan sudah lebih dulu pergi, sekitar 30 menit yang lalu setelah Juan memuntahkan isi perutnya di lantai dan membuat beberapa orang berdecak sebal atas kelakuannya tersebut. Sementara Fabian dan Baskara yang tidak terlalu bar-bar seperti yang lain ketika minum, setidaknya masih bisa menegakkan kepala saat duduk di stool bar tempat biasa mereka datang berkunjung untuk dilayani oleh Gerald.
__ADS_1
Gerald sendiri sudah menghilang entah kemana. Mungkin sedang menikmati malam menyenangkan dengan empat gadis yang dia bawa tadi, mengingat tidak ada satupun di antara anggota Pain Killer yang akhirnya mau bermain dengan gadis-gadis itu.
"Kita pesan satu taksi aja," usul Baskara, sembari menggulir layar ponselnya untuk menelepon sopir taksi langganan mereka.
Namun, belum sempat nomor itu ia tekan, sebuah panggilan masuk menahannya. Baskara nyaris berpikir bahwa dirinya gila, sebab nama ayahnya terpampang jelas di layar, dan itu merupakan kejadian yang luar biasa langka.
"Lah, ngapain si om-om nelepon gue?" tanyanya kepada diri sendiri.
Tetapi karena suaranya cukup keras untuk bisa didengar oleh Fabian yang duduk tepat di sebelahnya, pemuda itu pun akhirnya menyahut. "Siapa?" tanya Fabian.
Baskara tidak menjawab, tetapi malah menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Fabian.
Fabian yang sudah mulai mabuk terpaksa memajukan wajah, dan sedikit memicingkan mata untuk sekadar membaca nama siapa yang tertera di layar ponsel Baskara.
"Lah, bokap lo?" tanyanya tidak percaya.
Baskara mengangguk, kemudian menarik tangan Fabian dan meletakkan ponsel miliknya ke tangan pemuda itu.
"Lah? Apaan?" Fabian bingung.
"Lo aja yang angkat, bilang aja gue udah pingsan gara-gara kebanyakan minum." Lalu Baskara menyandarkan kepalanya di atas meja bar, kemudian memejamkan mata dan tidak lagi peduli ketika Fabian melayangkan protes.
Karena suara dering ponsel masih terus terdengar nyaring, dan Baskara tidak terlihat berniat untuk berbicara dengan ayahnya, maka Fabian pun mau tidak mau mewakili sang teman untuk mengangkat teleponnya.
Usai mengambil napas dalam-dalam, Fabian menggeser log hijau, kemudian mengapa Jeffrey dengan suaranya yang serak.
__ADS_1
"Halo?"
Bersambung