
Bermenit-menit menguras habis air mata yang selama ini ia simpan sendirian, Biru merasakan hatinya terasa kosong. Bukan lega, hanya seperti ada sesuatu yang hilang, namun tetap tidak membuatnya merasa lebih baik.
Di bawah terpaan sinar lampu yang temaram, ia duduk sambil memeluk dirinya sendiri. Di belakangnya, persis di belakang punggungnya, Baskara masih tak beranjak dari posisinya, menyaksikan bagaimana ia menangis seperti orang gila, mengumpat bagai manusia yang tak pernah diajari tata krama.
Beberapa tahun terakhir, Biru telah memenuhi hatinya dengan ambisi untuk membalaskan sakit hati. Namun, ketika waktu akhirnya mempertemukan ia kembali dengan Baskara, yang bisa ditemukan dari dendam itu tak lebih dari sekadar perasaan campur aduk yang ia sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya.
Momen ketika Baskara menyentuh bibirnya beberapa menit yang lalu kembali terbayang jelas di kepala. Di saat ia seharusnya merasa marah, apa yang terasa begitu dominan di dadanya justru letupan-letupan kurang ajar yang membuatnya sadar; ia masih menyayangi pemuda itu. Sebuah fakta yang berulang kali ia tepis, berusaha ia musnahkan setiap kali hendak menyeruak keluar dari dalam kepalanya.
Nyatanya, bertahun-tahun memupuk dendam tak lantas membuat perasaan itu hilang begitu saja. Yang ada, ia malah merasakan betapa nelangsanya ia karena merindukan pemuda itu diam-diam. Bibirnya selalu berkata benci, tapi hati kecilnya terus-menerus merengek untuk diberi validasi. Bahwa perasaan itu masih ada, dan ia tidak bisa semudah itu melenyapkannya.
Satu tarikan napas yang begitu dalam Biru ambil ketika kepalanya semakin terasa penuh dan sesak kembali merambati dadanya. Dengan suara yang bergetar karena sisa-sisa tangis itu masih membayang jelas di pelupuk mata, ia berkata, "Bertahun-tahun gue menderita, Bas. Sibuk mempertanyakan apa yang salah, apa yang kurang dari diri gue sampai-sampai lo setega itu ninggalin gue tanpa sepatah pun kata pamit. Gue menghancurkan diri gue sendiri, membunuh jiwa gue yang lama cuma untuk menghadirkan satu sosok palsu yang—gue kira bisa bikin gue membenci lo dan menghapus semua perasaan yang gue punya."
__ADS_1
"Gue hancur. Gue kesepian. Tapi gue nggak bisa bilang ke siapapun, karena memang nggak ada lagi yang tersisa. Nggak ada lagi yang tinggal di sisi gue setelah lo dan kedua orang tua gue meninggal dunia."
Perlahan, Biru memutar tubuhnya. Dengan mata sembab dan memerah, ia menatap Baskara yang terduduk diam di hadapannya. Nampak jelas bahwa mata indah yang selalu ia puja-puja itu kini berselimut kabut bening yang siap luruh menjadi air mata. Namun Biru tak punya daya untuk melerai air mata itu agar tidak jatuh, karena miliknya sendiri pun bahkan tidak bisa ia kendalikan.
"Biru yang dulu udah benar-benar mati," ucapnya. Terselip senyum miris yang samar kala ia mengingat kembali betapa bahagianya ia dulu. Betapa ia adalah gadis ceria yang bisa tertawa untuk hal-hal yang sederhana. Betapa ia tak menginginkan begitu banyak hal yang muluk di dunia, hanya cukup dengan orang-orang yang ada di sisinya kala itu—termasuk Baskara.
Semakin lama, kabut yang menyelimuti netra Baskara semakin tebal. Tapi anehnya, hujan air mata tidak kunjung turun walaupun Biru bisa melihat bahu pemuda itu mulai bergetar.
Biru ingin berteriak, kalau bisa. Tapi yang terjadi hanya ia kembali menarik napas dalam-dalam sambil mempertimbangkan apakah ia harus melanjutkan kalimatnya atau tidak.
Katanya, kebanyakan cinta pertama memang berakhir sakit. Antara ditinggalkan bertepuk sebelah tangan, atau berakhir menjadi kenangan ketika usia dewasa akhirnya menyadarkan bahwa cinta saja tidak cukup untuk menjalin sebuah hubungan. Tapi, apakah memang ada yang cinta pertamanya meninggalkan luka berlarut-larut seperti yang ia rasakan sekarang?
__ADS_1
"Gue capek, Bas. Gue bingung sama perasaan gue sendiri. Kenapa gue bahkan nggak bisa benci sama lo? Kenapa gue masih sudi duduk berdua di sini sama lo, di saat seharusnya gue usir lo setelah semua yang terjadi? Kenapa gue malah menyeret diri gue sendiri mendekat ke arah lo, padahal gue bisa langsung kabur sewaktu tahu kalau lo ada di sekitar gue. Kenapa ... kenapa gue bahkan masih berharap lo bakal jelasin ke gue alasan lo pergi waktu itu?" air matanya kembali meleleh, dan Sabiru tak punya kekuatan untuk sekadar menyekanya.
"Tell me, Bas. Apa yang salah...." ucapnya lirih di sela-sela isakan yang semakin menjadi.
Baskara ingin menjelaskan semuanya, menceritakan alasan mengapa ia harus melepaskan Sabiru yang rapuh agar tidak ikut hancur bersama dirinya. Namun, bibirnya terkunci rapat. Yang bisa dia lakukan hanya mengumpulkan keberanian lebih banyak, untuk merengkuh tubuh bergetar di hadapannya itu ke dalam pelukan.
"All the problem is me." Kata Baskara setelah berhasil mendekap Sabiru erat-erat. "Gue yang bajingan. Gue yang terlalu pengecut, Blue. Lo nggak perlu mempertanyakan apa yang salah sama diri lo, karena sama sekali nggak ada." Sambungnya sembari mengusap-usap punggung Sabiru.
"Maafin gue, Blue. Maaf...." detik itu juga, air mata yang sedari tadi Baskara tahan mati-matian akhirnya luruh. Ia ikut menangis, dengan Sabiru yang terisak-isak di dekapannya.
Bersambung
__ADS_1