Taruhan

Taruhan
Lemonade Date


__ADS_3

Fabian kira Biru akan mengajaknya ke klub lain yang mungkin lebih sering gadis itu kunjungi. Ternyata, dia salah. Gadis itu malah membawanya ke sebuah warung pecel lele yang ada di pinggiran jalan dekat kampus. Warung pecel lele itu tidak terlalu ramai, mungkin karena sempat turun hujan dan orang-orang jadi enggan keluar rumah karena hawa dingin yang menyerang.


"Kenapa? Nggak biasa makan di pinggir jalan?" tanya Biru tiba-tiba, membuatnya menolehkan kepala.


"Bukan," sahut Fabian. "Gue cuma bingung aja, soalnya lo bilang mau gue traktir Lemonade. Dan ... there is no Lemonade here, I guess?"


"Ada," tanpa aba-aba, Biru tiba-tiba saja menarik lengannya, menyeretnya mendekat ke arah warung pecel lele.


Fabian menurut saja, pasrah saat gadis itu menekan kedua bahunya untuk membuatnya duduk di atas kursi kayu panjang. Di sebelahnya, ada sepasang muda mudi (sepertinya merupakan sepasang kekasih) yang seketika menghentikan kegiatan makan mereka sejenak karena kehadirannya dan Biru yang grasah-grusuh.


"Ayam atau lele?" tanya Biru.


Fabian mengalihkan pandangannya dari sepasang muda mudi tadi, menoleh ke arah Biru yang sudah berhadap-hadapan dengan si penjual laki-laki.


"Ayam," jawabnya.


"Nasi uduk atau biasa?" tanya gadis itu lagi.


"Biasa,"


Biru menganggukkan kepala, lalu segera menaruh perhatiannya kepada penjual di hadapan.


"Dua ayam, ya, Mas. Satu pakai nasi uduk, yang satu lagi nasi biasa." Biru mulai mengorder.


"Minumnya?" sela seorang gadis belia yang ikut berjaga di warung itu.


"Biasa, Lemonade."


Fabian melongo saat Biru betulan menyebut Lemonade. Dan, lebih melongo lagi saat si gadis belia menganggukkan kepala dengan senyum yang terkembang sempurna. Kemudian, Fabian melihat gadis belia tadi melesat untuk menyiapkan Lemonade yang Biru pesan.


Sampai ketika Biru akhirnya mengambil posisi duduk di sampingnya, Fabian masih menatap gadis itu dengan terheran-heran.


"Beneran ada Lemonade?" tanyanya.


Biru menoleh, menatap sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi lalu mengangguk.


"Kok bisa?"


"Bisa, lah. Gue yang minta menu itu ditambahkan di sini." Biru berkata dengan entengnya, sembari menekuri ponsel yang dalam sekejap telah mencuri fokusnya.


"Gue nanya serius," kesal Fabian, karena dia pikir Biru sedang bercanda dengannya. Mungkin sebagai bentuk balas dendam karena dia pernah bilang pada gadis itu tentang pemantik buatannya sendiri.


"Gue juga serius. Kalau nggak percaya, lo tanya aja sama Indah." Biru menjawab dengan masih tidak mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Indah siapa anjir?"


Berhenti sejenak dari kegiatannya menggulir layar, Biru menoleh ke arah Fabian, hanya untuk mengembuskan napas pelan kemudian melayangkan pandangannya ke arah gadis belia yang sedang sibuk membuat Lemonade.


"Cewek itu namanya Indah," jelas Biru.


"Sok tahu lo!" Fabian mendengus. Lagi-lagi, dia berpikir kalau Biru hanya asal bicara.


"Dih, ya udah kalau nggak percaya." Biru masa bodoh, lalu kembali menekuri ponselnya.


Beberapa saat setelahnya, gadis belia yang Biru namai Indah datang menghampiri mereka dengan dua gelas Lemonade di tangan kecilnya.


Fabian memperhatikan gelas-gelas itu dengan saksama. Dari penampilannya, itu memang Lemonade yang sesungguhnya. Tidak tahu kalau rasanya, apakah sama dengan Lemonade yang biasa dia minum atau tidak.


"Dua Lemonade spesial untuk Kak Biru dan pacarnya," kata gadis belia itu, sembari melirik ke arah Fabian dan tersenyum tipis.


"Dia bukan pacar gue." Tegas Biru, sedikit melotot ke arah si gadis belia yang justru terkekeh mendengar ucapannya.


"Sekarang memang bukan, tapi besok kan nggak ada yang tahu." Goda gadis itu lagi.


"Nggak usah banyak omong, sana bantuin abangmu nyiapin makanan." Biru mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah si gadis.


Si gadis terkekeh, kemudian bergerak mundur dan hendak menghampiri kakak laki-lakinya yang sedang menggoreng ayam. Namun, gerakannya terhenti Karena Fabian memanggil namanya.


"Nama lo ... beneran Indah?" Fabian bertanya balik.


Si gadis tidak langsung menjawab, dia menoleh sebentar ke arah Biru, kemudian kembali menatap Fabian dan mengangguk.


"Kalau Kak Biru bilang nama saya Indah, berarti nama saya memang Indah." Lalu gadis yang mengaku bernama Indah itu berlalu dari hadapannya, dengan meninggalkan lebih banyak tanda tanya.


Fabian menoleh, memicing ke arah Biru ketika gadis itu terkikik geli di sampingnya.


"Apanya yang lucu?" tanyanya.


Biru tidak menjawab, malah dengan tak berdosanya mulai menyeruput Lemonade buatan Indah.


...****************...


Kenyang memakan dua porsi nasi ayam, Fabian berjalan kembali menuju motor setelah membayar. Biru dia tinggalkan begitu saja di warung karena gadis itu masih asik mengobrol dengan Indah, atau siapapun lah itu namanya.


Fabian duduk di atas bangku beton di dekat tempat motornya terparkir. Dikeluarkannya sebungkus rokok dari dalam saku celana, lengkap beserta pemantik kesayangannya.


Ketika dia berhasil menarik satu batang rokok, menyelipkannya ke bibir dan hendak menyalakan pemantik, matanya menangkap sosok Biru yang berjalan ke arahnya dengan langkah yang terlihat begitu ringan. Ada satu kantong kresek warna hitam di tangan gadis itu, tampak mengayun ke depan dan ke belakang seirama langkah yang gadis itu ambil.

__ADS_1


"Nih," Biru menyodorkan kantong kresek itu setibanya gadis itu di hadapannya.


Fabian mengurungkan niatnya untuk menyalakan rokok, mengapit rokok itu di kedua jari tangan kanan sementara tangan kirinya terulur mengambil plastik yang Biru sodorkan.


"Apaan?" tanyanya.


"Satu porsi pecel ayam, lengkap sama lalapan dan esktra sambal." Biru mengatakannya sambil tersenyum.


"Buat?"


"Buat lo, lah. Ini dari si Indah, katanya dia senang lihat lo makan dengan lahap tadi."


"Stop sebut dia Indah, kalau kenyataannya nama dia bukan itu." Sewot Fabian. Kantong kresek tadi dia letakkan di sisi kiri tubuhnya, lalu dia menginstruksikan kepada Biru untuk duduk di ruang kosong di sisi kanan.


Biru menurut, segera duduk lalu mencomot satu batang rokok yang tergeletak di ruang kosong antara dirinya dan Fabian.


"Dia oke-oke aja kok gue panggil Indah," ucap Biru, sembari menyelipkan rokok ke bibirnya.


"Tapi dia punya nama,"


"Dia nggak suka sama namanya. Bawa ingatan buruk, katanya." Usai mengatakan itu, Biru meraih pemantik yang masih ada di tangan Fabian lalu menggunakanannya untuk menyalakan rokok.


"Gue lagi bujuk Mas Yogi buat urusin perubahan namanya si Indah, mumpung umurnya belum tujuh belas dan belum bikin KTP." Katanya, setelah mengembuskan asap rokok dari dalam mulutnya.


"Terus data-data di sekolah dia gimana? Lo nggak mikir sampai ke sana?" rokok milik Fabian ikut dinyalakan, dihisap perlahan-lahan dan asapnya ditahan sedikit lebih lama di tenggorokan.


"Indah nggak sekolah,"


Saat Biru mengatakan itu, Fabian melihat ada garis senyum miris yang muncul, membuatnya yakin ada sesuatu yang lebih besar dari fakta bahwa Indah sudah putus sekolah.


"Sekolah bukan tempat yang aman bagi semua orang, dan Indah adalah salah satu yang nggak beruntung dengan lingkungan sekolahnya."


"Terjadi sesuatu sama dia di sekolah?" selidik Fabian.


Biru mengangguk, dengan tatapan yang menerawang jauh ke depan. Rokok di sela-sela jemari dia biarkan terbakar sedikit demi sedikit tanpa ada minat untuk mengisapnya lagi.


"Sesuatu yang mengerikan, yang bikin mimpi sederhana dia untuk lulus sekolah supaya bisa kerja kantoran pupus seketika." Senyum miris yang awalnya cuma samar, kini semakin terlihat jelas.


"Gara-gara segelintir manusia bajingan, anak nggak berdosa itu kehilangan mimpinya. Dan, lebih bajingan lagi karena orang-orang yang terlibat sama sekali nggak mendapatkan hukuman." Ketika Biru menoleh dan tatapan mereka bertemu, Fabian bisa merasakan percampuran antara rasa marah, sedih dan kecewa yang teramat dalam dari sorot mata gadis itu.


Malam itu, Fabian menemukan satu lagi sisi lain dari seorang Sabiru. Sisi yang membuatnya semakin ingin mendekat, dan menjelalah lebih jauh ke dalam diri gadis itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2