Taruhan

Taruhan
Crying All Night Long


__ADS_3

"Halo,"


Setidaknya, butuh lebih dari enam detik bagi Jeffrey untuk mencerna suara yang menyapa dari seberang telepon, dan akhirnya menyimpulkan bahwa suara itu bukan milik putranya, Baskara. Jeffrey memang sudah lama tidak bertegur sapa dengan Baskara melalui sambungan telepon, tetapi hal itu tidak serta-merta membuatnya lupa pada suara anaknya sendiri.


"Halo?" sapa orang itu lagi, membuat Jeffrey gelagapan karena belum sepenuhnya sadar dari lamunan.


"Ada apa, Om?" tanya suara itu, yang kemudian Jeffrey sadari adalah suara Fabian.


Jeffrey tidak langsung menjawab, dan malah melirik Sera yang tengah duduk di atas sofa ruang tengah sambil memperhatikan dirinya yang tengah menelepon. Beberapa saat lalu, ketika ia sedang sibuk di ruang kerja, Sera tiba-tiba saja menerobos masuk, dan tanpa tedeng aling-aling memintanya untuk menelepon Baskara yang tidak kunjung pulang sampai subuh hampir menjelang.


"Om?" tagih Fabian.


"Baskara ada?" tanyanya, dan dari situ, dia tahu ada perubahan ekspresi di wajah Sera yang begitu kentara. Perempuan itu semakin terlihat curiga, dan Jeffrey tidak punya waktu untuk menjelaskan ketika Fabian kembali bersuara.


"Baskara ada Om, tapi udah tepar." Jelas Fabian.


"Kalian di mana? Di Mega?"


"Iya, Om."


"Oke, tolong jaga Baskara sebentar, saya ke sana sekarang jemput dia."


"Oh ... oke, Om."


"Makasih," Jeffrey mengakhiri telepon tersebut. Ponsel ia masukkan ke saku celana, kemudian dia berjalan menghampiri Sera yang masih belum beranjak dari posisinya.


"Anak itu?" todong Sera langsung.


Jeffrey mengangguk, karena percuma juga dia berbohong kepada Sera. Perempuan itu jelas tidak bisa dikelabui, dan Jeffrey juga tidak ingin membuat segalanya menjadi semakin rumit.


"Aku aja yang jemput Baskara," Sera sudah bangkit dari duduknya, namun Jeffrey segera menahan pergerakannya.


"Jeff,"


"Aku aja," tegas Jeffrey. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia kembali berani mengeluarkan nada suara itu kepada Sera. "Cuma jemput Baskara, nggak akan aneh-aneh." Sambungnya.


Mendengar itu, Sera mendengus. Terlalu banyak hal yang terjadi di dalam hidupnya dan Jeffrey, yang memmbuatnya tidak bisa lagi semudah itu percaya pada semua ucapan suaminya itu.


Menyadari Sera tidak kunjung menjawab perkataannya dan malah menatapnya tajam, Jeffrey bergerak lebih dekat. Kedua bahu Sera ia sentuh, ia berikan usapan pelan selagi mata mereka saling bertatapan. "Aku udah janji nggak akan berinteraksi sama anak itu lagi, oke?" ucapnya, dengan nada lemah lembut.

__ADS_1


Sera tidak serta-merta percaya, tetapi ia tetap menganggukkan kepala. Dengan gerakan pelan, dia memundurkan tubuh, membuat tangan Jeffrey terjatuh dari bahunya. "Tapi kalau kamu bohong, aku nggak akan segan-segan bikin anak itu hilang dari dunia." Ancamnya.


Tidak seperti bagaimana Jeffrey selalu menanggapi ancamannya dengan emosi yang meluap-luap, Sera malah mendapati Jeffrey tersenyum sembari menganggukkan kepala.


"Kamu tidur lagi aja, nggak usah nungguin aku sama Baskara." Kata Jeffrey, lagi-lagi dengan suara lembut.


"Aku tunggu kalian, buat memastikan kalau Baskara baik-baik aja."


"Ya udah, iya. Aku jalan sekarang, ya."


Sera pikir, melihat senyum manis Jeffrey dan suaranya yang lembut ketika berbicara sudah merupakan sesuatu yang aneh. Tapi ternyata, ada hal yang lebih aneh lagi, yaitu saat Jeffrey tahu-tahu mengecup keningnya singkat sebelum berlalu pergi dari hadapannya.


...****************...


Baskara dan Fabian saling pandang selama beberapa detik ketika mereka mendapati Jeffrey berjalan dari pintu depan klub. Parasnya yang rupawan dan tubuhnya yang masih terlihat tegap di usianya yang tidak lagi muda, kehadiran Jeffrey membuat beberapa mata terpaku cukup lama ke arahnya. Mungkin mereka berpikir, siapa gerangan sosok om-om tampan itu, dan apa hubungannya dengan Gerald?


"Itu beneran bokap gue?" bisik Baskara kepada Fabian.


"Kalau gue lihat dari cara jalannya sih, iya." Sahut Fabian asal.


Baskara mendecih, kemudian memicing sebentar ke arah Fabian yang malah cekikikan melihat ekspresi wajah kesal yang ia tunjukkan.


"Oy!" Baskara refleks menyahut. Kemudian, saat tatapanya dengan Jeffrey bertemu, di mana lelaki itu sudah berdiri menjulang di depannya dan Fabian, Baskara cuma bisa terkekeh sambil menggaruk lehernya salah tingkah. "Eh, Papa..." katanya, masih sambil nyengir kuda.


Fabian yang duduk di sampingnya juga ikut terkekeh, merasa tergelitik pada kelakuan Baskara yang ada-ada saja.


"Ayo pulang, Mama udah nungguin kamu dari tadi." Jeffrey mengulurkan tangan, membuat Baskara kembali menoleh ke arah Fabian dengan tatapan kebingungan.


"Bas?"


"Iya, iya." Uluran tangan Jeffrey disambut oleh Baskara. Dan karena alkohol yang pemuda itu minum cukup banyak, tubuhnya jadi sempoyongan ketika dipaksa berdiri secara tiba-tiba. Untungnya Jeffrey memiliki otot yang kuat, sehingga dia bisa menahan tubuh Baskara agar tidak tersungkur ke lantai.


"Sekalian anterin Fabian?" tanya Baskara setelah berhasil berdiri dengan benar.


"Fabian naik taksi aja, ya? Soalnya Mama udah ngomel-ngomel," kata Jeffrey sembari menarik lengan Baskara agar berdiri di sampingnya.


"Tapi, kan-"


"Saya bawa Baskara pulang dulu, makasih udah bantu jagain dia tadi." Kata Jeffrey kepada Fabian, memotong ucapan Baskara yang belum selesai.

__ADS_1


"Iya, Om. Hati-hati di jalan," Fabian menjawab disertai dengan senyum basa-basi.


Tapi anehnya, senyum itu sama sekali tidak bersambut. Jeffrey melenggang pergi begitu saja, membawa serta Baskara yang jalannya juga sudah tidak bisa tegak lagi. Sikap Jeffrey yang demikian tentu terasa aneh, namun Fabian memutuskan untuk tidak peduli.


Setelah sosok Baskara dan Jeffrey menghilang, Fabian ikut menyusul keluar karena sopir taksi yang dia telepon juga sudah hampir sampai.


...****************...


Seharusnya, Baskara langsung tidur saja begitu sampai di rumah. Tidak usah ide untuk mengguyur kepalanya menggunakan air dingin dengan dalih untuk menghilangkan pusing di kepalanya akibat alkohol yang dia tenggak selama di Mega.


Karena sekarang, pusing itu bukannya mereda, tetapi malah justru semakin menjadi-jadi ketika matanya menolak untuk dipejamkan dan nama serta wajah Biru justru muncul secara terang-terangan.


Baskara bangkit dari tidurnya, menyandarkan punggung ke headboard ranjang kemudian meraih ponsel yang semula ia letakkan di atas nakas.


Alkohol yang ada di dalam tubuhnya masih menyisakan efek yang luar biasa, membuat perasaan yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri, ia sembunyikan di balik sikap jahil dan ucapannya yang terkesan ceplas-ceplos akhirnya meledak juga. Hanya sesaat setelah ia membuka galeri ponsel dan menemukan wajah Biru di sana.


Penyesalan, rasa bersalah dan kerinduan bercampur aduk memenuhi benak Baskara, membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.


Bayangan betapa bahagianya ia dan Biru ketika masih menjadi sepasang kekasih yang didukung oleh semua penghuni di SMA tempat mereka bersekolah dulu, seketika membuat sesak yang ada di dada Baskara semakin terasa menyiksa. Sebab kini, semua itu hanya menjadi kenangan karena hubungannya dengan Biru tidak lagi ada di level baik-baik saja.


Semua ini salahnya, yang terlalu pengecut dalam menghadapi cobaan hidup dan berpikir bahwa lari meninggalkan Biru adalah jalan paling bijak untuk diambil saat itu. Dengan pemikiran konyol, sesederhana ia tidak ingin Biru ikut hancur bersamanya.


Waktu itu, tepatnya satu minggu sebelum kelulusan SMA, Baskara memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Biru. Ia membawa gadis itu naik ke rooftop sekolah, hanya untuk meninggalkan gadis itu sendirian setelah mengucapkan kata putus dengan begitu kejam. Ia bahkan tidak berusaha menjelaskan, kenapa hubungan mereka harus berakhir di saat tidak ada masalah apapun yang terjadi di antara mereka.


Kabar buruknya, badai lain datang menghampiri Biru tiga belas hari setelahnya. Tepatnya beberapa hari setelah acara kelulusan, Biru mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya terlibat dalam kecelakaan pesawat dan jasadnya belum kunjung ditemukan. Baskara tahu Biru hancur, tetapi dia sudah terlalu jauh untuk bisa menggenggam tangan gadis itu untuk membantunya mendapatkan kekuatan.


Nyatanya, usaha Baskara untuk melindungi Biru agar tidak ikut hancur bersama kesehatan mentalnya yang menurun karena perubahan sikap ayahnya yang tiba-tiba, justru membawanya dalam penyesalan tak berujung ketika melihat betapa hancur Biru sebelum Tante Maya membawa gadis itu pindah ke Surabaya.


Baskara ada di sana, ketika Biru menangis meraung-raung memanggil nama kedua orang tuanya hanya sesaat sebelum Tante Maya menyeret tubuhnya untuk masuk ke dalam pesawat. Dan Baskara tidak bisa melakukan apa-apa selain bersembunyi layaknya seorang pengecut. Ia tidak punya keberanian untuk muncul di hadapan Biru, untuk sekadar mengucapkan maaf atas luka yang dia berikan kepada gadis itu.


Dan sikap pengecutnya itu masih ada sampai sekarang. Ketika Tuhan bersedia memberinya satu lagi kesempatan untuk bisa berjumpa dengan gadis itu, alih-alih kata maaf dan permohonan pengampunan yang ia berikan, Baskara justru mencetuskan sebuah ide gila untuk menjadikan Biru bahan taruhan.


"Seharusnya, gue bisa lebih berani buat muncul di depan lo tanpa harus menarik perhatian lo dengan cara kayak gini, Blue." Rengeknya, namun tidak ada yang berubah karena nasi telah menjadi bubur. Sekarang, ia hanya bisa berharap semoga Fabian dan Biru tidak saling jatuh cinta, dan taruhan yang ia cetuskan ini tidak akan membawa lebih banyak rasa sakit kepada gadis itu.


Hari ini, ketika subuh hampir datang sedikit lagi, Baskara menangis sejadi-jadinya dalam pengaruh alkohol yang menguasai hampir setiap sel di tubuhnya.


Karena kalau sedang dalam keadaan seratus persen sadar, Baskara akan menekan perasaannya kuat-kuat, bersikap seolah dia adalah manusia paling tangguh di dunia, yang tidak bisa terluka karena apapun juga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2