
Ketika badai yang diperkirakan akan berlangsung selama seharian akhirnya datang juga, Biru melewatinya dengan hati yang berbunga-bunga.
Kini, ia duduk di depan pintu penghubung ke balkon kamarnya, menyingkapkan gorden selebar-lebarnya demi bisa memandangi tetes air yang jatuh dari langit, pun dengan kilatan berwarna putih yang disusul gelegar petir memekakkan telinga. Di tangannya, sudah tersedia sebuah ponsel, menyuguhkan sebuah pemandangan menarik yang membuatnya tidak henti-hentinya tersenyum sejak beberapa menit yang lalu.
Seperti dugaannya, unggahan yang dia buat telah berhasil mengguncangkan jagad Neosantara, terutama para fans garis keras dari geng paling disegani di sana, Pain Killer. Beberapa akun sesama mahasiswa tampak me-retweet unggahannya, beberapa mencomot foto Fabian yang ia unggah tanpa izin kemudian mengunggah ulang di base kampus dengan narasi yang menurutnya lucu.
"Manusia-manusia sampah," bisiknya setelah membaca beberapa cuitan yang kemudian datang sebagai respons atas unggahan sensasional yang ia buat.
Gila! Ini beneran Fabian? Yang bahkan nggak pernah mau kalau ditawarin tidur sama cewek?
Siapa sih ini manusia biru? Kok bisa-bisanya punya foto Fabian?
Ceweknya nggak sih?
Guys, pada akhirnya, salah satu pangeran di Pain Killer menemukan putri yang bikin dia jatuh cinta.
Ini cewek yang kapan hari disamperin Fabian, kan?
Gila! Setelah gue stalk akunnya, ternyata muka dia nggak seberapa!
"Wah, sialan!" gerutu Biru untuk komentar terakhir yang dia baca. "Muka lo udah secantik apa sih, sampai bisa ngatain muka gue nggak seberapa?" sambungnya. Lalu ia bergerak secara impulsif menekan foto profil si pengirim komentar, hanya untuk dibuat berdecak sebal karena menurut pandangannya, gadis bernama Carollina ini jauh sekali di bawah standarnya.
Biru tidak mengatakan Carollina jelek. Hanya saja, tipikal wajah Carollina ini adalah tipikal cantik yang pasaran. Yang tidak perlu sampai mencari ke sudut-sudut kota untuk bisa ditemukan. Karena yang sejenis Carollina ini bisa dengan mudah ditemukan di mana saja. Di pinggir jalan, di pusat perbelanjaan, bahkan di bar tempat para laki-laki kesepian mencari teman.
"Inilah pentingnya mengaca sebelum men-judge orang lain," ucapnya meremehkan. Akun milik Carollina itu kemudian dia masukkan ke daftar hitam, dan dia memutuskan untuk kembali menilik komentar lain yang ia terima.
Gue kira lo tipikal yang nggak bisa disentuh, ternyata sama aja kayak cewek lain di kampus yang dengan gampang masuk ke perangkap yang dibuat sama anggota Pain Killer.
"Cowok kok mulutnya lemes," cibir Biru ketika selesai membaca kalimat itu. Biru tidak mengenal siapa si pemilik akun, tetapi dari foto yang dipasang sebagai profile picture, Biru sepertinya tahu kalau pemuda itu adalah salah satu teman sekelasnya. Entah siapa namanya, karena akun Twitter yang digunakan bahkan bukan nama orang.
Untuk komentar itu, Biru tidak terlalu ambil pusing. Dia juga tidak tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang si pemuda kurang ajar tersebut dan lebih memilih untuk membaca komentar yang lain.
__ADS_1
Oh, ini pelacur yang lagi dijadiin target taruhan sama anggota Pain Killer?
Bam!!! Biru merasakan kepalanya seperti dihantam benda keras saat kata pelacur keluar.
Emosi dalam sekejap sudah berhasil memenuhi kepala Biru, melenyapkan senyum sumringah yang sedari tadi menemaninya melewati badai yang memporak-porandakan banyak hal di luar sana.
Dengan perasaan yang menggebu—dalam artian buruk—Biru mengetikkan sebuah kalimat untuk membalas komentar tersebut. Kalimat yang sama pedasnya, yang sama menyakitkan agar si manusia bernama Samara Jasmine itu tahu bagaimana rasanya dikatai pelacur di depan khalayak umum.
Gue rasa, sugar baby yang hidupnya tergantung sama transferan dari om-om kayak lo nggak pantas menyebut orang lain sebagai pelacur. And, I'm not the prey, baby, I'm the hunter. Begitu tulisnya.
Dan siapa sangka, kalau dia justru mendapat banyak dukungan dari orang-orang yang semula mengatakan ini-itu tentang dirinya. Orang-orang yang tadinya ribut mempertanyakan tentang hubungannya dengan Fabian, kini justru berbalik menyerang Jasmine, ikut-ikutan mengamini apa yang ia katakan sebab reputasi seorang Samara Jasmine sebagai seorang sugar baby memang sudah terkenal di seluruh penjuru kampus. Biru yang awalnya bahkan tidak tahu ada geng elit bernama Pain Killer saja tetap tahu soal Jasmine, dan itu sudah cukup menjelaskan betapa terkenalnya gadis itu.
Di saat Biru berhasil mendapatkan senyumnya kembali, ponselnya malah berdering nyaring, membuyarkan kegembiraan yang semula terasa memenuhi dada selagi ia membaca kalimat-kalimat menusuk yang ditujukan untuk Jasmine.
"See? I'm the hunter, b*tch!" serunya sebelum menggeser log hijau untuk menerima panggilan yang datangnya dari Fabian.
"Lo udah gila, ya?!"
"Kenapa sih, marah-marah? Ngomongnya pelan-pelan aja coba biar gue ngerti," ucapnya santai, mulai menjalankan peran innocent demi memancing emosi Fabian agar lebih naik lagi.
"Ya gimana gue nggak marah-marah? Pertama, lo udah ambil foto gue diam-diam, tanpa ijin, dan itu nggak sopan! Ke-dua, lo posting foto gue dan sengaja tag akun base kampus, alhasil Neosantara jadi ramai gara-gara lo! Sumpah, ya, gue sama sekali nggak ngerti jalan pikiran lo!"
Biru nyaris tergelak karena Fabian mengatakan itu semua dalam satu kali tarikan napas. Dari suaranya, Biru tahu kalau pemuda itu sudah benar-benar emosi. Dan dia suka itu.
"Chill, baby, chill." Kata Biru, hanya untuk membuat Fabian semakin murka.
"Don't fcking baby me!" teriak pemuda itu, yang akhirnya membuat Biru tidak kuasa menahan ledakan tawa. Biru terbahak, sejadi-jadinya sampai nyaris terjungkal dari kursi yang dia duduki.
"Gue serius! Hapus postingannya sekarang!" perintah Fabian dengan nada bicara yang lebih pelan, tetapi masih tersirat jelas emosi di dalamnya.
"Kenapa, sih? Lo takut asrama cewek lo bubar?" tanyanya, sembari memainkan kuku jari tangan yang mulai memanjang.
__ADS_1
"Bukan itu masalahnya!"
"Terus?"
"Lo nggak lihat seberapa banyak komentar jahat yang ditulis buat lo? Buta mata lo, hah?!"
Oh, wow! Di saat Biru berpikir Fabian mencak-mencak karena takut fans garis kerasnya akan mulai membubarkan diri kalau tahu dirinya punya hubungan dengan seorang gadis, ia malah mendapati pemuda itu khawatir tentang komentar kebencian yang dikirim untuknya? Hahaha...lucu sekali!
"Gue yakin DM lo juga penuh sekarang. Jadi, better lo hapus postingan lo sekarang sebelum keadaannya makin kacau."
"Kalau gue nggak mau?"
"Heh!" sentak Fabian. "Lo itu masih mahasiswa baru, dan hidup lo di Neosantara masih lama. Dan lo nggak punya power apa-apa buat bela diri lo seandainya ada yang mau macam-macam karena masalah ini!"
"Tapi gue punya lo?"
"Gue nggak lagi bercanda!"
Biru meloloskan hela napas panjang. "Lo tuh sebenarnya khawatir soal apa, sih? Lo takut kalau gue nggak kuat mental, terus mutusin buat out dari kampus cuma gara-gara omongan nggak mutu dari para fans lo itu?" tanyanya.
Di seberang, Fabian tidak kunjung menjawab. Biru malah mendengar pemuda itu berkali-kali mengembuskan napas kasar.
"Kalau lo khawatir soal itu, tenang aja. Gue nggak selemah yang lo kira. Omong kosong kayak gitu sama sekali nggak berpengaruh apa-apa buat gue, karena gue udah mengalami hal-hal yang lebih buruk dari itu."
"Gue nggak peduli seberapa kuat lo berdasarkan pengakuan lo sendiri. Hapus postingannya sekarang juga, kelar ngampus gue ke apartemen lo."
Dan telepon ditutup secara sepihak, membuat Biru terpaku menatap layar ponselnya yang perlahan-lahan meredup sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
"Reaksi lo lucu, Bi. Thanks udah menghibur gue sore ini. But, I need to say sorry cuz you're not the main character here." Sebab Biru justru menunggu respons dari seorang Pramudya Baskara, yang sampai saat ini tidak kunjung menunjukkan reaksi apa-apa.
Bersambung
__ADS_1