
Hari senin yang dihindari pada akhirnya datang juga. Biru melenguh, menggeliat dari dalam selimut karena merasa masih belum puas mengarungi dunia mimpi. Suara alarm dari ponselnya kedengaran nyaring, namun yang Biru lakukan justru menggeser layar ponselnya ke atas sehingga bukannya berhenti, alarm itu hanya akan ditunda untuk kembali berbunyi 5 menit lagi. Itu bukan yang pertama, ia sudah melakukannya sebanyak 6 kali. Kalau saja ponsel itu bisa bicara, ia mungkin akan meneriaki Biru dengan lantang agar gadis itu segera bangkit dari tidurnya.
“Please ... masih ngantuk.” Keluhnya dengan mata yang terpejam erat ketika suara alarm kembali terdengar.
Sayangnya, dia tidak bisa menunda lagi, sehingga mau tidak mau dia pun menyembulkan kepala dari dalam selimut.
Masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang berceceran, Biru bergerak perlahan mendudukkan dirinya. Matanya mengerjap beberapa kali, sementara kedua lengannya ditarik ke atas sebagai awal dari kegiatan meregangkan otot-otot yang kaku.
Kelas pertamanya akan dimulai pukul 9, dan sekarang sudah pukul 7 lewat 49 menit. Bukannya bergegas agar tidak terlambat, Biru malah menyandarkan punggungnya di headboard ranjang, kemudian melamun.
Definisi sebenar-benarnya dari melamun karena dia hanya diam dengan tatapan kosong—sekosong kepalanya yang tak berisi apapun.
Kurang lebih 7 menit Biru bertahan seperti itu, sampai dering yang muncul dari ponselnya memaksanya bangun dan kembali ke dunia nyata.
Nama Baskara muncul di sana, dengan sedikit perubahan pada adanya emotikon hati berwarna merah di belakangnya. Stop! Jangan hakimi dulu. Itu sama sekali bukan inisiatif biru, melainkan ide random Baskara yang seenak jidatnya merubah nama kontak di ponsel Biru menjadi seperti itu. Supaya lebih sweet, katanya.
Halah! Kebiasaan. Kalau sedang bucin, memang semua hal akan dilakukan. Ibarat tai kucing pun bisa berubah menjadi rasa cokelat, kalau dimakannya bersama dengan sang pujaan hati.
Dengan malas, setelah membiarkan ponselnya berdering cukup lama, Biru pun menggeser layarnya ke kanan lalu menempelkan benda pipih itu di telinga. “Halo?” sapanya. Suaranya masih kedengaran serak. Karena jujur saja, tenggorokannya terasa kering sekarang.
“Udah bangun?” tanya Baskara.
Biru menahan diri untuk tidak mengumpat di pagi hari, jadi dengan bibir yang nyaris terkatup rapat, ia menjawab. “Kalau belum bangun, gue nggak akan bisa angkat telepon lo.”
Pemuda yang diseberang terdengar berdecak, lalu kembali bersuara tidak lama setelahnya. “Kelas pertama jam berapa? Gue jam 10.”
“Jam 9.”
Biru beringsut dari posisinya, menjejakkan kaki ke atas lantai yang dingin. Ia meringis kala merasakan dinginnya lantai menyentuh telapak kakinya yang telanjang. Ough! Ini bahkan baru terkena lantai, dan hanya telapak kakinya saja. Bagaimana nanti kalau seluruh tubuhnya terkena guyuran air dari shower?
Hmmm ... haruskan ia menjadikan ini sebagai alasan untuk tidak mandi?
"Buseeeeetttt! Kelas jam 9, tapi jam segini baru bangun? Ya telat nanti, dodol!"
"Lo nggak usah ribut, ini gue lagi mau siap-siap. Lagian, tahu dari mana lo kalau gue baru bangun?"
"Kedengaran dari suara lo! Ya udah sono mandi. Mandi, ya! Jangan sampai enggak! Soalnya balik kampus gue mau ngajakin lo jalan, nggak ada waktu buat balik dulu mandi!" lalu telepon ditutup.
Sudah biasa. Itu bukan hal baru lagi. Pemuda itu memang suka seenaknya sendiri, jadi Biru hanya akan membiarkannya tanpa berniat mengambil pusing. Ponsel yang telah kembali padam dia lemparkan ke atas kasur, lalu ia berjalan menuju kamar mandi.
Sialan. Pupus sudah harapannya untuk sekadar cuci muka dan menggosok gigi. Ini semua gara-gara Baskara!
"Lagian mau ngajak jalan ke mana, sih? Kurang apa kemarin gelendotan sama gue seharian?!" Biru menggerutu, tapi kakinya tetap lanjut berjalan.
...****************...
Usai mematikan telepon secara sepihak, Baskara kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Ia meraih underware dari tumpukan khusus di walking closet miliknya, lantas mengenakannya. Berlanjut dengan kaus dan celana jeans warna hitam yang sudah lebih dulu dia persiapkan. Yep. Dia baru saja selesai mandi ketika memutuskan untuk menelepon Biru. Sisa-sisa air bekas mandi bahkan masih tampak di beberapa bagian tubuhnya, membuatnya tampak berkilauan ketika tertimpa cahaya lampu di atasnya.
Beres mengenakan pakaian, Baskara berjalan kembali menuju kamar. Ia berdiri di hadapan cermin besar, hanya untuk mematut dirinya sekaligus merapikan rambutnya sedikit. Cukup menggunakan tangan, tidak perlu sisir ataupun bantuan gel rambut karena tipikal rambutnya termasuk mudah diatur. Rambut sudah rapi, beralih lah ia mengambil botol sunscreen, mengeluarkannya sedikit lalu membalurkannya ke wajah, leher dan bagian lengannya yang tidak tertutup pakaian. Ia bukan tipikal yang se-rempong itu merawat diri terutama wajah. Tapi kata ibunya, sunscreen adalah sesuatu yang wajib. Maka ia tidak boleh melupakannya.
"Dah, cakep." Pujinya pada diri sendiri sambil menepuk kedua belah pipinya sebagai sentuhan terakhir. Kemudian, dia berjalan menuju meja belajar, meraih tas selempang lantas mengenakannya. Jaket hitam kesayangannya juga tak lupa dia bawa sebelum benar-benar keluar dari kamar. Dan di dekat pintu, dia berhenti sebentar untuk memutuskan, akan naik apa dia ke kampus hari ini?
Mobil? Motor? Mobil? Motor?
Dia mempertimbangkan sebanyak 7 kali, lantas memutuskan meraih kunci motor yang baru saja dikembalikan oleh Fabian kemarin. Sebenarnya ada motor lain yang bisa dia pakai, tapi karena rasanya sudah lama dia tidak menunggangi Cimol kesayangan, maka di pagi yang cerah ini, dia akan membawa anak kesayangannya itu kembali ke jalanan.
__ADS_1
Pintu kamar kemudian Baskara tutup, tak lupa dikunci karena dia mulai benci kalau ibunya menyelinap masuk sembarangan. Bukan apa-apa, terakhir kali perempuan itu melakukannya, satu botol parfum miliknya berakhir mengenaskan di atas lantai karena ibunya tak sengaja menyenggol ketika sedang beres-beres. Padahal dia sudah sering mengatakan untuk tidak perlu repot-repot membereskan kamarnya karena itu merupakan tanggung jawabnya sendiri. Tapi, yah ... ibunya keras kepala.
Tidak seperti kebanyakan orang yang benci hari senin, Baskara mungkin jadi sebagian kecil yang justru bersemangat setiap kali hari senin datang. Tidak ada alasan khusus, dia hanya suka saja ketika bisa berkumpul dengan teman-temannya setelah libur 2 hari.
Sambil bersiul-siul, Baskara menuruni tangga. Satu tangannya masuk ke saku celana jeans, satu lagi dia pergunakan sebagai tempat menyampirkan jaket.
Saat sampai di anak tangga terakhir, ia berhenti sebentar untuk memeriksa kondisi di meja makan yang ternyata kosong. Pikirnya, tumben sekali ayah dan ibunya belum duduk berdua di sana untuk sarapan bersama. Tapi Baskara memutuskan untuk tidak ambil pusing lalu melanjutkan langkahnya menuju garasi.
Cimol terlihat bersinar terang di antara kendaraan miliknya yang lain. Walaupun selama berada di rumah Fabian, anak itu tidak pernah dipakai, tapi Baskara tahu Fabian tetap merawatnya dengan baik. Semua itu tergambar jelas dari penampilan Cimol yang masih sama kinclongnya seperti kali terakhir sebelum ia diserahkan kepada Fabian. Suara auman-nya juga masih terdengar seksi ketika Fabian mengantarkannya pulang tadi malam.
"Baby," sapa Baskara kepada Cimol. Body kekarnya dia usap dengan penuh kasih sayang, lalu ditepuk-tepuk pelan di bagian tangki bensin.
"You miss Papa?" tanyanya. Jelas tidak ada jawaban. Horor lah kalau sampai si Cimol bisa menjawab dengan geberan atau lampu depan yang tiba-tiba berkedip.
"Ya, ya. Papa juga miss you." Wiss, lah. Tidak usah dibayangkan. Pokoknya Baskara sudah seperti orang gila yang terus-menerus mengajak Cimol berbicara. Untung saja tidak ada tetangga yang bisa melihat kelakuan absurd-nya karena pagar di rumahnya yang menjulang tinggi—setinggi harapan orang tua. Kalau tidak, sudah pasti banyak yang melaporkannya ke rumah sakit jiwa untuk dijemput paksa secepatnya.
Puas melepas rindu secara singkat dengan Cimol, Baskara pun menunggangi anak itu dengan hati-hati. Kunci motor dimasukkan ke dalam slot kemudian diputar sebanyak 2 kali. Terdengarlah suara Cimol yang merdu, mendayu-dayu bagai seorang Diva yang tengah melantunkan lagu cinta.
Sudah tak sabar untuk membawa Cimol menjelalah, tuas gas pun ditarik dan ia siap berkelana.
"Let's goooo, Baby!"
...****************...
Selayaknya orang-orang kebanyakan yang membenci hari senin lebih banyak ketimbang hari-hari lain, Reno dan Juan pun mendapatkan kesulitan untuk membawa diri mereka keluar dari dunia mimpi. Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka bahkan sudah berkali-kali mengetuk pintu, namun dua pemuda itu masih enggan beranjak dari posisi nyaman masing-masing.
Reno bergelung di dalam selimut, dengan posisi meringkuk seperti bayi di dalam kandungan. Udara sama sekali tidak terasa dingin, tapi begitulah biasanya dia tidur. Sedari kecil, dia tidak pernah bisa tidur kalau tidak menggunakan selimut. Tidak peduli seberapa panas udara di sekitar, bahkan jika itu bisa membuatnya berubah serupa kepiting rebus, Reno akan tetap membalutkan selimut tebal ke tubuhnya—atau dia tidak akan tidur sama sekali.
Sementara Juan, pemuda itu berbaring telentang di samping Reno dengan tubuh bagian atas yang terekspos karena kaus yang dia kenakan sudah bercecer di atas lantai. Semalam, sempat terjadi mati listrik sehingga membuat air conditioner tidak berfungsi. Makanya bocah itu melepaskan kaus pendek yang dia kenakan lalu mencampakkan begitu saja di atas lantai. Ketika listrik akhirnya menyala, dia sudah terlanjur terlelap sehingga tak punya kesempatan untuk mengenakan kembali kausnya.
"Den! Bangun atuh!" teriak Mbok Yayuk lagi dari luar pintu.
Tapi tetap saja, tidak ada hasil. Juan hanya menggeliat pelan, sekadar merubah posisi telentangnya yang terlalu bar-bar menjadi miring ke kanan, menumpukan satu kaki di atas tubuh Reno hingga membuat pemuda mungil di dalam selimut itu menggerutu pelan.
"Udah siang, Den! Nanti Ibu sama Bapak ngamuk loh!" Mbok Yayuk masih tidak menyerah untuk membangunkan sepasang sepupu yang selalu kebo itu.
Tapi seberapa keras pun Mbok Yayuk berteriak, Juan dan Reno seakan tuli. Malang sekali nasib wanita sepuh itu harus merawat dua bocah menyebalkan macam mereka.
Sejenak, tak ada lagi suara Mbok Yayuk yang berteriak sekuat tenaga. Tapi kehebohan lain lantas datang dari orang yang berbeda. Pintu kamar yang sebenarnya memang tidak dikunci itu didobrak dari luar, menimbulkan suara debaman keras yang seketika membuat Juan dan Reno terlonjak kaget dalam tidurnya.
Seorang wanita berpenampilan anggun dalam balutan dress semiformal berwarna biru tua menerobos masuk. Tampak wanita itu menggulung lengan dress-nya yang panjang hingga ke batas siku sambil terus berjalan menghampiri ranjang dengan tatapan yang nyalang.
Sepasang sepupu yang kini bergerak pelan mendudukkan diri di atas kasur itu pun tak diberikan kesempatan untuk mengumpulkan kesadaran saat kedua tangan wanita tadi dengan entengnya menjewer telinga mereka berdua. Membuat keduanya mengaduh kesakitan sembari berusaha melepaskan jeweran.
"Bangun! Kuliah!" seru wanita tadi.
"Iya, iya! Nggak perlu pakai kekerasan dong, Mami!" pekik Reno, masih berusaha meloloskan diri.
"Kamu kalau nggak dikerasin suka ndablek!" wanita yang merupakan ibunda Reno itu tak mau mengalah atas argumen putranya. Jeweran diperkuat, kali ini disertai gerakan menarik agar dua pemuda itu segera turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Kalau perlu, biar mereka mandi berbarengan saja!
"Mi, ampun, Mi." Juan ikut-ikutan mengeluh. Badannya kekar, tapi kalau dihadapan ibunya Reno, dia tak ubahnya semut kecil di bawah telapak kaki raksasa. "Mi...." rengeknya.
Wanita itu akhirnya melepaskan jewerannya, tapi tatapan nyalangnya masih dia tumpahkan untuk dua anak manusia di hadapan. "Buruan mandi. Hari ini, Mami yang anterin kalian ke kampus." Titahnya.
Reno yang awalnya masih ogah-ogahan, dan masih berusaha menghilangkan rasa sakit akibat jeweran sang ibu, seketika membuka matanya lebar-lebar hingga bola matanya nyaris keluar. Ibunya, akan ke kampus? Untuk apa?
__ADS_1
"Mami ngapain ke kampus?" pertanyaan yang terlintas di kepala Reno itu akhirnya diwakilkan oleh Juan. Pemuda itu menatap ibunda Reno serius, menanti jawaban.
"Ada meeting. Udah, kalian cepat mandi. Mami tunggu di bawah." Lalu wanita itu melenggang pergi.
Reno menatap ngeri sosok ibunya yang berjalan menjauh. Dan ketika tubuh ramping itu menghilang, ia baru sadar bahwa sedari tadi, Mbok Yayuk nemplok di sisi pintu, menyaksikan semua hal yang menimpa dirinya dan Juan tanpa bisa melakukan apa-apa sebagai bentuk pertolongan.
"Kita end." Ucap Reno sambil menunjukkaan gestur seolah-olah sedang menggorok lehernya sendiri.
Mbok Yayuk yang melihatnya malah hanya menggeleng pelan, kemudian melenggang pergi tanpa berpamitan. Pintu kamar yang terbuka lebar bahkan tidak ditutup lagi oleh wanita itu.
"Mandi bareng?"
Reno menoleh kembali pada Juan, lalu terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, ia menghela napas panjang.
"Mau gimana lagi?" sahutnya. Kemudian, mereka berdua berjalan menuju kamar mandi untuk benar-benar mandi secara bersamaan.
...****************...
Pertama kalinya selama ia hidup, Fabian takut menjejakkan kakinya di dapur. Alasannya jelas karena sang ibu, yang tiba-tiba saja menjadi rajin berkutat dengan berbagai peralatan masak yang selama ini menjadi teman baiknya. Kemarin, setelah ibunya membuatkan sarapan—yang ternyata tidak mengandung racun—Fabian pikir itu benar-benar hanya upaya untuk mendukung kesepakatan. Tapi ketika ibunya juga menyiapkan makan siang dan makan malam, Fabian mulai merasa itu berlebihan.
Sekarang sudah hampir jam 9, dan dia harus bergegas keluar dari kamar agar tidak terlambat datang ke kampus. Kondisi jalanan cukup macet saat ia memeriksa melalui aplikasi di ponselnya. Jadi lebih baik dia berangkat lebih awal untuk menghindarkan diri terjebak kemacetan.
Akhirnya, karena sudah tidak mungkin mengurung diri lebih lama lagi, Fabian pun bangkit dari kursi. Tas punggung yang tersampir di sandaran kursi dia raih, kemudian dia sampirkan ke satu sisi bahu. Jaket hitamnya yang kembaran dengan Baskara dia jinjing, dan kunci mobil juga sudah dia kantongi terlebih dahulu.
Dengan hati yang was-was, dia melangkah keluar dari kamar. Tak henti-hentinya dia merapalkan doa di dalam hati, semoga saja sikap aneh yang ibunya tunjukkan benar-benar hanya akan terjadi seharian kemarin. Karena kalau itu masih berlanjut, Fabian mungkin benar-benar akan berpikir kalau ibunya sebentar lagi akan mati.
Tapi seakan doa yang dia lantunkan sudah tidak mujarab lagi, harapannya pupus seketika bahkan ketika langkahnya baru sampai di anak tangga ke-5. Aroma masakan yang menguar kuat jelas menjadi pertanda bahwa ibunya lagi-lagi telah berkutat di dapur menyiapkan sarapan.
Fabian termenung cukup lama di tempatnya. Membiarkan aroma masakan masuk ke dalam indera penciumannya, hingga memancing cacing-cacing di perutnya untuk bereaksi.
"Ada tali nggak sih? Kok gue mendadak pengin keluar lewat balkon aja, biar kayak di film-film action yang keren itu." Gumamnya, sembari membayangkan dirinya turun melalui balkon kamarnya menggunakan tali tambang yang terikat kuat di pembatas balkon. Tubuhnya meluncur ke bawah dengan bebas, tanpa hambatan seperti dia telah terlatih melakukannya.
Tapi kemudian, realita menamparnya keras-keras. Bukannya terjun dengan mulus seperti yang ada di dalam bayangannya, telapak tangannya hanya akan berakhir terluka karena tergores permukaan tali tambang yang kasar.
Sadar bahwa bayangan selamanya hanya akan tetap jadi bayangan, Fabian pun akhirnya melanjutkan langkah. Pikirnya, dia hanya tinggal terus melangkah, tidak usah tengok kanan kiri, tidak usah menyahut kalau ibunya memanggil dan tidak usah mau kalau ditawari untuk sarapan lebih dulu.
Kedengaran gampang. Tapi soal realitanya, ya kita lihat saja nanti.
Saat Fabian sampai di anak tangga terakhir, ia melihat Raya sedang melepaskan apron hitam yang membalut tubuhnya, pertanda bahwa kegiatan memasaknya telah usai. Itu didukung dengan nampaknya beberapa masakan yang terhidang di atas meja, masih mengepulkan asap.
Fabian refleks menjulurkan lidah, menjilat bibir bawahnya sendiri yang mendadak terasa kering. Aroma yang menguar dari asap-asap makanan yang mengepul terlalu kuat untuk bisa Fabian abaikan. Cacing-cacing di perutnya pun berubah menjadi reog dalam sekejap, seolah sudah tidak diberi makan selama setahun.
Kalau sudah begini, apakah dia akan bisa menolak jika Raya menawarkan sarapan?
"Dih, percaya diri itu penting, tapi sadar diri juga jauh lebih penting. Emang yakin banget bakal ditawarin sarapan?" gumamnya, lalu tertawa sumbang untuk menertawakan pemikirannya sendiri yang terlalu jauh.
Akhirnya, Fabian melanjutkan langkah. Dengan pemikiran bahwa Raya bisa saja memasak semua itu untuk dinikmati sendiri.
Akan tetapi, keyakinan itu lagi-lagi buyar saat suara jernih Raya mengudara, menyebarkan daya magis yang langsung menguasai seluruh jiwa dan raga Fabian.
Perempuan itu berkata, "Sarapan dulu." Yang anehnya, tidak bisa dibantah sama sekali oleh Fabian yang langsung menganggukkan kepala patuh.
Pada akhirnya, sebesar apapun usaha yang Fabian lakukan untuk menghindari ibunya, cinta yang dia miliki untuk perempuan itu memang selalu lebih besar. Dirayu sedikit saja, dia pasti akan luluh. Kalau kali ini ada racun di dalam makanannya, dan yang kemarin itu hanyalah pancingan semata, Fabian rasa dia tetap tidak akan menyesal.
"Ya, terserah lah." Bisik Fabian di dalam hati, lalu dia berjalan mendekati meja makan lantas menarik kursi dan duduk di atasnya.
__ADS_1
Bersambung