Taruhan

Taruhan
Berkunjung


__ADS_3

Keesokan harinya, Fabian dibuat keheranan sekaligus kesal karena dia menjadi satu-satunya anggota Pain Killer yang datang menghadiri kelas. Reno, Juan dan Baskara ternyata terlalu banyak menenggak alkohol saat di Mega, sehingga sampai matahari muncul dan bersinar terik di atas kepala, tiga orang itu masih belum berhasil sadar dari mabuknya.


Susana kelas tentu tidak akan sama tanpa kehadiran tiga cecunguk sialan itu. Sebab, selama dua tahun berkuliah di sini, mereka hampir tidak pernah absen. Sekalipun absen, hanya akan satu atau dua dari mereka yang absen, tidak pernah sampai hanya menyisakan satu anggota seperti ini.


"Brengsek ya lo pada!" gerutu Fabian kepada seseorang melalui sambungan telepon ketika ia berjalan menuju parkiran setelah menyelesaikan total lima kelas yang ia miliki hari ini dengan kebosanan yang nyaris menelannya hidup-hidup.


"Ya maaf," sahut orang di seberang telepon, yang tidak lain adalah Baskara. "Lagian, lo juga yang nolak buat gabung semalam. Coba kalau lo gabung, kan kita bisa mabok dan bolos kelas bareng-bareng." Baskara melanjutkan dengan begitu entengnya. Fabian bahkan bisa membayangkan betapa tengil ekspresi yang Baskara tunjukkan sekarang. Menyebalkan!


"Kayaknya kalian emang sengaja mau bolos tanpa gue, deh." Tuduh Fabian, sembari mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku jaket dan langsung melesat masuk ke dalam mobilnya untuk menghindari tatapan orang-orang yang masih tertuju padanya.


Di sepanjang langkahnya mulai dari keluar ruang kelas sampai ke parkiran, Fabian tahu orang-orang di sekitar terus melemparkan tatapan, dan itu tentu saja membuatnya kembali merasa tidak nyaman. Jadi sebaiknya dia segera kabur dari sini sebelum tatapan itu semakin membuatnya tidak nyaman sampai harus menelan obat penenang lagi seperti kemarin.


"Mana ada. Kami bertiga cuma kelewat senang karena cewek-cewek yang dipesan sama Juan ternyata oke punya. Yaa, lo tahu lah standarnya si Juan kayak gimana."


Fabian berdecak mendengarkan penjelasan Baskara, membuatnya ingin mengomel dan dia tidak perlu membuang waktu untuk merealisasikan niatnya. "Ngeseks mulu yang ada di otak lo pada!" suaranya mulai meninggi, tetapi Baskara di seberang sana malah terkekeh geli.


Mesin mobil yang memang telah ia nyalakan kemudian mendorongnya untuk menginjak pedal gas dan mulai memutar kemudi. Kecepatan mulai ditingkatkan setelah ia meletakkan ponsel di satu tempat khusus di dashboard mobil dan ia juga telah menyalakan loud speaker.


"By the way, gimana sama si Biru? Kalian ngobrolin apa kemarin pas di gazebo belakang? Lo belum sempat cerita." Cerocos Baskara hanya tiga detik setelah kekehannya mereda.


"Dia cuma nanya kenapa gue tiba-tiba pergi pas lagi ngobrol sama dia di fakultasnya kemarin pagi."


"Lo tiba-tiba pergi? Kenapa?"


"Asam lambung gue tiba-tiba naik, kan gue udah cerita." Fabian membelokkan kemudi ke sebuah supermarket sekitar enam ratus meter dari kampus.


"Dia beneran nyamperin lo cuma untuk nanyain itu?"


"Iya." Sahut Fabian singkat. Mobil ia parkirkan di area parkir depan, kemudian dengan gerakan pelan ia melepaskan sabuk pengaman lalu mengambil ponselnya dan mematikan loud speaker sebelum menempelkan benda itu di telinga.


"Niat amat."


"Gue juga nggak ngerti. Mungkin dia udah mulai terpesona sama gue?" Fabian terkekeh kecil setelah mengatakannya. Masalahnya, dia jelas tahu kalau apa yang dia katakan kepada Baskara adalah omong kosong belaka. Apanya yang terpesona, di saat nyatanya ia dan Biru malah melakukan kesepakatan konyol tanpa sepengetahuan siapa-siapa?


Bukannya rentetan omelan atau jawaban apapun yang Fabian terima setelahnya, melainkan sebuah hela napas yang ia sendiri tidak tahu kenapa Baskara melakukannya.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Nothing. Gue mau mandi dulu deh, biar agak ringan kepala gue. Nanti gue telepon lo lagi buat lanjutin pembahasan kita soal Biru."


Baskara itu kurang ajar dan tidak punya sopan santun jika itu ada hubungannya dengan kegiatan menelepon. Karena, sebelum Fabian sempat menjawab, bocah sialan itu sudah menutup telepon dengan sepihak. Meninggalkan Fabian yang kemudian hanya bisa menatap nanar layar ponselnya yang menghitam.


"Wah, si anjing." Gumamnya, yang hanya bisa didengar oleh pengharum mobil yang digantung di bagian depan dan bergoyang-goyang seolah sedang meledek.


...****************...

__ADS_1


Fabian bukan tipikal yang suka menghabiskan uang untuk berbelanja hal-hal yang menurutnya tidak terlalu dibutuhkan. Tetapi sore ini, dia menghabiskan lebih dari satu juta untuk membeli beberapa hal di supermarket yang ia kunjungi.


Hal-hal yang dia beli itu di antaranya adalah bahan-bahan makanan, beberapa jenis camilan dan minuman ringan, serta beberapa peratalan pelengkap lain seperti tisu dan sabun cuci piring.


"Kayaknya gue emang udah gila," ucapnya sembari memandangi troli berisi lima kantong belanja berukuran besar.


Meskipun sambil menggerutu dan sesekali masih menyesali uang yang ia keluarkan dari kartu miliknya, Fabian tetap memindahkan satu persatu kantong belanja dari troli ke dalam bagasi mobilnya yang sudah terbuka sebelumnya.


Selesai memasukkan semua kantong belanja, Fabian menutup pintu bagasi kemudian mendorong troli dan mengembalikan ke tempat yang semestinya.


Langit sudah hampir gelap ketika Fabian kembali berjalan ke sisi mobilnya, tampak menggeser layar ponsel beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil sambil menunggu seseorang yang sedang ia telepon mengangkat panggilannya.


Bertepatan dengan mesin yang menyala dan mulai menderu, telepon di angkat, membuat Fabian mau tidak mau harus mengurungkan niat untuk langsung tancap gas karena dia tidak keburu menyalakan loud speaker seperti ketika ia bertelepon dengan Baskara sebelumnya.


"Halo?" orang yang ia telepon menyapa, dengan suara yang terdengar sedikit serak, khas orang yang baru bangun tidur.


"Lo baru bangun tidur?" tuduh Fabian.


"Iya. Kenapa emangnya?" si pemilik suara serak itu terdengar tidak suka atas pertanyaan yang ia berikan.


"Najis, cewek apaan jam segini baru bangun?" cibir Fabian. Karena dia memprediksi bahwa sebentar lagi akan ada teriakan membahana dari seberang telepon, Fabian segera melakukan langkah antisipasi dengan menyalakan loud speaker dan meletakkan ponsel di atas dashboard.


Dan sesuai dugaannya, Biru memang berteriak sekuat tenaga hingga membuat Fabian membayangkan otot-otot di sekitar leher gadis itu yang pasti bermunculan secara serempak.


"Nggak usah telepon gue kalau lo cuma mau ngeledek!" seru Biru lagi, namun Fabian justru tergelak. Pedal gas yang sedari tadi memandangnya, meminta untuk disentuh, akhirnya ia injak dan mobil kembali melaju dalam kecepatan pelan.


"Dengar," Fabian menyahut dengan nada kelewat santai.


"Terus kenapa nggak jawab?!"


"Gue harus jawab apa kalau yang lo lakukan cuma teriak-teriak?"


Sekarang, gantian di seberang yang hening. Saking heningnya, Fabian sampai berpikir kalau jangan-jangan Biru kembali jatuh tertidur.


"Halo? Lo nggak lanjut tidur lagi, kan?"


"Nggak."


Fabian mengulum senyum. Entah kenapa, respon sewot Biru justru membuatnya terhibur. Karena setidaknya, ia tahu bahwa Biru tidak sedang berpura-pura menjadi gadis baik hati, lugu dan super ramah untuk memikat perhatiannya. Tidak seperti gadis-gadis lain yang selama ini dijadikan target taruhan oleh dia dan teman-temannya.


"Ya udah, cuci muka gih. Gue lagi on the way ke apartemen lo. Jangan sampai pas gue sampai sana nanti, lo masih bau iler."


Hari ini, mungkin memang harinya bagi Fabian untuk dicampakkan. Sebab lagi-lagi, tanpa diberikan respons apapun, telepon ditutup secara sepihak oleh lawan bicaranya.


Tetapi dari dua telepon yang ditutup secara sepihak itu, Fabian memberikan respons yang berbeda. Kalau dengan Baskara dia berakhir ngomel-ngomel dan memaki pemuda itu habis-habisan, maka dengan si gadis biru, Fabian cuma menyunggingkan senyum tipis lalu menginjak pedal gas semakin dalam.

__ADS_1


Karena, di dalam bayangannya, ia melihat Biru dengan pipi bersemu merah yang lucu.


...****************...


Prakiraan cuaca bukanlah sesuatu yang terlalu bisa dipercaya. Sebab, pagi tadi sebelum Fabian berangkat kelas, ia diberitahu bahwa cuaca akan cerah sepanjang hari. Dan dia sempat percaya karena pada kenyataannya, matahari masih bersinar cerah sampai ketika ia berada di supermarket.


Namun, dalam sekejap saja, cuaca cerah itu berubah menjadi mendung hanya sesaat setelah ia memarkirkan mobil di basement gedung apartemen miliki Biru. Dan tidak butuh waktu lama juga, hujan turun deras seiring dengan langkahnya yang kepayahan dengan lima kantong belanja ukuran besar di tangan.


Kerja kerasnya membawa lima kantong belanja itu seolah tidak cukup, karena lagi-lagi, ia harus memutar otak untuk memasukkan enam digit angka ke pintu sebab Biru sudah pasti tidak akan sudi merayap ke pintu depan untuk menyambut kedatangannya.


Usai memindahkan semua kantong belanja ke satu tangan (dan membuat lengannya berat sebelah) Fabian segera menggunakan tangannya yang bebas untuk memasukkan kode keamanan. Pintu pun terbuka dan ia segera melesat masuk membawa serta beban berat di lengan kirinya.


Sampai di dalam, Fabian disambut dengan pemandangan tidak mengenakkan, di mana ia mendapati banyak sekali bungkus makanan yang tercecer di atas meja ruang tengah. Bukan cuma bungkus makanan, Fabian juga menemukan bergumpal-gumpal tisu berserakan di lantai, juga beberapa botol air mineral ukuran tanggung yang kosong bergelimpangan.


Daripada apartemen, Fabian merasa tempat ini justru terlihat seperti tempat pembuangan.


"Oh, udah sampai?"


Fabian memicing ke arah Biru yang barusan keluar dari dalam kamar. Gadis itu berjalan menghampirinya dengan terpincang-pincang, dan sesekali tertangkap oleh mata Fabian ketika Biru meringis saat langkahnya mungkin terasa tidak tepat sehingga membuat pergelangan kakinya yang masih cedera kembali terasa sakit.


Fabian mengempaskan lima kantong belanja ke lantai dan bergegas menghampiri Biru untuk membantunya berjalan. Kemudian, tubuh kecil gadis itu dia dudukkan di atas sofa, setelah sebelumnya dia menyingkirkan satu kaleng minuman bersoda yang teronggok di sana.


"Lo jorok banget anjir." Bibir Fabian mencela, berbanding terbalik dengan tangannya yang bergerak cekatan memunguti sampah yang berserakan dan mengumpulkannya di satu tempat.


"Gue nggak jorok." Biru berusaha membela diri. "Cuma belum sempat beres-beres aja. Lo tahu, lah, kaki gue masih sakit."


"Alasan." Kata Fabian, tidak menerima alasan tidak masuk akal yang Biru sampaikan.


"Lo bisa jalan ke dapur buat ngambil camilan dan minuman, mustahil kalau lo nggak bisa buang sampah yang jaraknya nggak lebih jauh." Mode mengomel Fabian sudah mulai keluar, membuat Biru cuma bisa memutar bola mata malas sembari memperhatikan pemuda itu yang kemudian bergerak cekatan memasukkan sampah ke dalam tong sampah yang sebelumnya lelaki itu seret ke ruang tengah.


"Lo sengaja mau ngerjain gue karena tahu gue bakal datang buat jengukin lo, kan?" Fabian menatap Biru penuh curiga setelah memasukkan sampah terkahir ke dalam tong sampah.


Yang ditatap cuma mendengikkan bahu, menolak untuk memberikan tanggapan.


"Nggak lo, nggak Baskara, sama aja semuanya. Demen banget ngerjain gue," omel Fabian lagi.


Namun kali ini, berkat satu nama yang keluar dari bibirnya, ia tanpa sadar telah berhasil membuat tubuh Biru menegang. Raut tidak nyaman jelas terlihat di wajah gadis itu ketika Fabian berjalan menjauhinya untuk mengembalikan tempat sampah ke posisi semula.


"Baskara itu ... orangnya kayak gimana?" tanya Biru ragu-ragu ketika Fabian tengah memunguti lima kantong belanja yang tadi dia campakkan di atas lantai.


Pertanyaan itu tentu saja membuat Fabian berhenti dari kegiatannya dan beralih menatap Biru. "Kenapa tiba-tiba nanya soal Baskara?"


Biru diam-diam meremas ujung kausnya ketika tatapan Fabian terasa menelisik jauh ke manik matanya. "Lo sering sebut-sebut nama dia, jadi gue mulai penasaran. Kalian dekat?" setelah susah payah menahan diri, pertanyaan itu lolos dengan suara yang tenang.


Fabian mengangguk tanpa ragu. "Udah kayak saudara," jelas Fabian, kemudian ia kembali meneruskan kegiatannya memungut kantong belanjaan lalu membawanya ke dapur.

__ADS_1


Setelah Fabian lenyap dari pandangan, senyum licik kembali terbit di wajah Biru. "Udah kayak saudara," ia mengulangi kalimat yang Fabian ucapan sebelumnya. "So, gue emang nggak salah menargetkan lo untuk membantu menghancurkan Baskara, Bi."


Bersambung


__ADS_2