
Baskara tak sanggup menahan gelak tawa setelah menemukan Reno mengekor di belakang sang ibu, bersama dengan Juan dan mereka tampak seperti anak-anak ayam yang takut ketinggalan rombongan. Lalu saat mereka berpisah ketika perempuan anggun itu berbelok ke arah lain, tawanya semakin meledak hingga membuat Reno dan Juan yang berjalan ke arahnya serta-merta mendelik.
“Tutup mulut lo, kalau nggak mau gue sumpal pakai sepatu.” Reno mengancam, sudah siap-siap melepaskan sepatu sneaker warna putih yang dia kenakan untuk membungkam mulut Baskara.
Tapi agaknya, ancaman itu tidak mempan untuk Baskara. Alih-alih berhenti tertawa, bocah tengik itu malah semakin meledakkan tawanya, menambahkan aksen dibuat-buat dengan muka meledek yang benar-benar membuat Reno gemas ingin meraup wajah tampannya.
“Wah, malah nantangin. Pegangin!” titahnya kepada Juan. Bermaksud meminta bantuan pada sepupunya itu untuk menahan lengan Baskara agar tidak kabur selagi ia melepaskan sepatunya.
Juan menurut, lengan Baskara dicekal kuat sehingga sang empunya tak bisa ke mana-mana. Bayang-bayang rasa sol sepatu sudah terasa di ujung lidahnya, membuat Baskara refleks meredakan tawa serta menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Kepalanya menggeleng kuat-kuat.
Sepatu sudah berhasil dilepas, sudah siap untuk dijejalkan ke dalam mulut Baskara. Tapi karena pemuda itu terus berontak, bukannya mendarat di mulutnya yang menyebalkan, sepatu milik Reno malah terhempas jauh karena Baskara tak sengaja menepisnya terlalu kuat menggunakan satu tangan yang bebas. Alhasil, bertambahlah kekesalan Reno karena kini dia harus mengambil sepatunya yang mendarat cukup jauh dari posisinya berdiri.
Dengan hanya mengandalkan satu kaki, Reno melompat-lompat untuk sampai ke lokasi di mana sepatunya mendarat. Agak merepotkan, memang. Dia sudah seperti cosplay menjadi penyandang disabilitas yang hanya punya satu kaki.
Ketika sedikit lagi dia sampai dan sudah bersiap untuk membungkuk mengambil sepatunya itu, sebuah tangan sudah lebih dulu meraihnya. Reno mendongak untuk memeriksa, lantas menemukan Fabian tengah menenteng sepatunya dengan raut wajah kebingungan.
“Ngapain?” tanya pemuda itu.
“Pacar lo tuh sialan!” gerutu Reno. Dengan sewot, dia merebut sepatu miliknya dari tangan Fabian kemudian segera mengenakannya. Seketika sepatu itu berhasil ia kenakan, Reno merasa lega karena satu kakinya yang sedari tadi dia tekuk bisa kembali menjejak ke atas tanah.
“Biru?” tanya Fabian dengan polosnya, membuat Reno seketika mendelik.
“Baskara! Biru mah cuma pacar pura-pura, tiga hari lagi juga habis masa berlakunya!” ujar Reno sewot sendiri.
Fabian membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut. Kemudian, mereka berjalan beriringan menghampiri Baskara dan Juan.
Baskara yang melihat kedatangan Fabian dan merasa mendapatkan bala bantuan lantas berderap mendekat. Persis seperti seorang gadis muda yang nyaris dilecehkan, dia menempelkan tubuhnya pada Fabian, bergelendot manja di lengan pemuda itu sambil memasang wajah sendu. “Ay, tolongin, Ay. Mereka jahat.” Adunya.
Reno memutar bola mata malas. Sudah tidak punya lagi energi untuk merasa geli pada tingkah laku Baskara yang absurd karena pemuda itu sudah terlalu sering melakukannya. Tidak pula mau repot-repot memarahi Fabian karena pemuda itu diam saja meladeni segala tingkah polah Baskara yang di luar nalar.
Sementara Juan mulai menampakkan raut wajah julid yang sama sekali tidak dibuat-buat. Sebagai lelaki sejati, dia sejujurnya merasa geli kalau Baskara sudah mendalami perannya sebagai pacar baik untuk Fabian ataupun Reno. Bukan apa-apa, dia cuma takut kalau bocah tengik itu akan kebablasan. Kan, tidak lucu juga kalau tiba-tiba di antara mereka ada yang belok.
“Ay, kenapa diam aja, sih? Itu mereka mau jahatin aku, loh.” Rengek Baskara. Sekarang bukan cuma raut wajahnya saja yang dibuat-buat, suaranya pun di-setting sedemikian rupa agar terdengar manja.
“Najis banget gue punya teman kayak gini.” Keluh Reno sambil mengusap dadanya sendiri.
“Udah, tinggalin aja. Daripada kita yang ikutan gila.” Juan menarik lengan Reno, lantas menyeret pemuda itu untuk berjalan menjauh dari Baskara yang semakin menempel pada Fabian.
Melihat itu, Baskara kembali tergelak sejadi-jadinya. Tepat ketika Reno dan Juan menghilang di tengah kerumunan mahasiswa lain yang berbondong-bondong hendak menuju ruang kelas, ia melepaskan rangkulannya di lengan Fabian.
“Makanya, jangan lupa minum obat.” Kata Fabian dengan nada datar, kemudian ikutan melenggang pergi sambil menyakui kedua tangannya.
Gelak tawa Baskara baru sepenuhnya mereda saat dirinya benar-benar ditinggalkan sendirian. Ia tersenyum hangat, kemudian bergumam pelan. “Dyo juga harus punya teman-teman kayak mereka bertiga sih, biar keinginan dia buat hidup makin kuat.” Lalu Baskara mengayunkan langkah dengan hati yang terasa jauh lebih ringan ketimbang hari-hari sebelumnya.
...****************...
Kelas selesai lebih cepat karena salah satu dosen pengajar berhalangan hadir. Hal itu jelas merupakan sebuah anugerah, karena 2 mata kuliah yang mereka ikuti sebelumnya sudah cukup membuat kepala mereka berasap.
Baskara bangkit dari kursi, menjadi orang pertama yang mencetuskan ide untuk nongkrong sebentar di gazebo belakang sebelum pergi ke markas besar nanti. Yang lain setuju, jadi mereka berbondong-bondong berjalan keluar kelas, membelah beberapa gerombolan mahasiswa yang berlalu-lalang menghalangi jalan.
Di koridor, mata Baskara tidak sengaja menangkap satu sosok yang tidak asing sehingga langkahnya yang semula terayun lebar seketika terhenti. Reno, Juan dan Fabian pun turut mengentikan langkah, lalu mengikuti ke mana arah pandang Baskara tertuju.
Rupanya, di seberang dekat parkiran, ada Jeffrey yang sedang berbicara dengan seorang dosen. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi dari jarak pandang yang sekarang, raut wajah mereka tampak serius.
__ADS_1
“Nyokap lo tadi pagi juga datang ke sini kan, ya?” Baskara menoleh ke arah Reno.
“Iya.” Reno menjawab cepat. “Katanya mau ada meeting.” Sambungnya, membagikan informasi yang barangkali bisa membantu Baskara menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul di dalam benaknya saat ini.
“Meeting soal apa kira-kira?” tanya Baskara lagi. Tapi pertanyaan itu tidak benar-benar dia tujukan kepada Reno, ataupun teman-temannya yang lain. Lebih kepada pertanyaan yang dia gumamkan sendiri, dan berusaha dia cari jawabannya sendiri.
Tapi siapa sangka, orang yang tidak diberikan pertanyaan tersebut justru bersedia memberikan jawaban. Juan, meskipun awalnya terlihat ragu-ragu, tiba-tiba mengeluarkan suara yang lantas membuat tiga temannya menaruh perhatian penuh. “Kayaknya soal Jasmine.” Begitu kata pemuda berotot tersebut.
Seakan tahu bahwa harus ada penjelasan lebih lanjut perihal jawaban yang dia berikan itu, Juan pun melanjutkan. “Pas lo masih siap-siap di kamar, gue nggak sengaja dengar Mami ngobrol sama seseorang di telepon.” Kata Juan dengan pandangan yang tertuju ke arah Reno. Kemudian, dia kembali menatap Baskara yang notabene merupakan orang pertama yang melontarkan pertanyaan.
“Sekilas, gue dengar Mami nyebut soal anak yang mati bunuh diri. Mami juga nyebut soal cyber bullying dan segala macam soal kebijakan kampus. Jadi kayaknya, meeting yang Mami bilang tadi pagi itu menyangkut soal kematian Jasmine, dan dugaan adanya bullying di kampus kita.” Juan membagikan semua informasi yang dia dengar pagi tadi. “Kayaknya, bakal ada investigasi internal deh. Ya secara lo tahu gimana kampus kita mau citranya tetap baik di mata umum. Pasti lah mereka berkumpul buat nyari solusi yang terbaik. Nyari tahu soal kasus bullying juga, jaga nama baik juga.”
Mereka semua kemudian terdiam cukup lama. Sosok Jeffrey sudah tidak lagi terlihat, karena selagi Juan menjelaskan, lelaki itu sudah masuk ke dalam mobil dan tidak butuh waktu lama untuk mobil itu melaju meninggalkan area kampus.
Di tengah keterdiaman mereka, Baskara kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Kalau pertemuan pagi tadi memang untuk membahas soal kematian Jasmine seperti yang dikatakan oleh Juan, lantas mengapa ayahnya masih ada di sini ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore? Apakah hal-hal yang mereka bahas memang sebanyak itu, sampai-sampai memakan waktu hampir seharian? Rasanya tidak mungkin. Toh ayahnya bukan pengangguran yang bisa duduk lama-lama dalam sebuah pertemuan dengan pengurus kampus yang lain. Ada begitu banyak berkas yang menumpuk di meja kerja lelaki itu setiap harinya, menunggu untuk diteliti sebelum dibubuhi tanda tangan.
Tapi kalau bukan soal itu, lantas untuk urusan apa lagi ayahnya di sini?
“Ya udah lah ya, itu urusan mereka. Lagian juga memang udah seharusnya mereka ikut campur buat memberantas bullying atau apalah itu, biar kesannya nggak kayak makan gaji buta dari duit yang kita bayar tiap semester.” Celetukan Reno itu membuat Baskara tertarik keluar dari dalam pikirannya sendiri.
“Ya udah, ayo cabut. Keburu ada yang nempatin gazebo kita.” Ajak Fabian.
Mereka berempat pun akhirnya melanjutkan langkah menuju gazebo belakang sesuai dengan rencana awal.
...****************...
Mobil lo tinggalin aja di kampus. Jalan dikit ke depan, gue tunggu di pertigaan depan kampus.
“Kalau bukan karena gue sayang, nggak akan sudi gue nurutin kemauan lo!” Biru berjalan sambil terus menggerutu. Kekesalannya juga semakin bertambah saat orang-orang yang dia lewati terus-menerus menatapnya aneh. Seakan mereka tidak pernah melihat gadis cantik jelita seperti dirinya berjalan kaki dari gedung fakultas yang letaknya hampir paling belakang ke gerbang depan kampus.
“Kenapa sih orang-orang itu? Naksir sama gue? Hello!!! Gue udah punya pacar! Nggak kaleng-kaleng lagi pacar gue.” Pokoknya, tidak ada waktu sedikit pun untuk bibir Biru bisa diam.
Di sepanjang langkahnya, dia terus mengoceh. Apapun yang sekiranya mengganggunya pasti dikomentari. Bahkan, sampai seekor kucing yang kawin di semak-semak dekat jalur ia berjalan pun ikut kena semprot. Tidak sopan kawin di tempat umum, katanya. Padahal yang namanya hewan mana peduli di mana mereka kawin. Kan, mereka bukan manusia yang punya kemampuan berpikir menggunakan logika—walaupun jaman sekarang banyak juga manusia yang logikanya sudah tidak jalan, sih. Oops!
Setelah menempuh jarak yang lumayan membuat kakinya pegal dan keringatnya mengucur deras, Biru akhirnya melihat keberadaan Baskara. Pemuda itu nangkring di atas motornya, asik bermain ponsel tanpa tahu bahwa gadis yang dia sayangi telah menempuh perjalan jauh hanya untuk sekadar menemui dirinya.
Napas Biru mulai ngos-ngosan, tapi langkahnya yang tinggal sedikit lagi untuk sampai di hadapan Baskara tetap dia lanjutkan.
“Hai, Baby.” Sapa pemuda itu setelah menyadari kedatangannya.
Biru merengut, tampak tidak suka pada cara Baskara menyambutnya yang terkesan alay. “Nggak usah beba bebi beba bebi! Lo nggak lihat nih badan gue udah penuh keringat?!” Biru menarik-narik kaus bagian depan untuk menunjukkan betapa keringat yang keluar dari tubuhnya telah membuat sebagian besar kausnya menjadi basah.
Alih-alih merasa iba, Baskara malah terkekeh pelan. Ia lalu melompat turun dari motor, mengeluarkan sapu tagan dari dalam tas lantas menggunakannya untuk mengusap keringat yang ada di wajah dan leher Biru. “Mau keringetan kayak gimana juga tetap cantik kok di mata gue. Dan ...” Baskara tahu-tahu memajukan wajahnya, membuat Biru refleks bergerak mundur. “Masih wangi.” Ucap pemuda itu seraya tersenyum tipis.
“Mana ada orang keringetan tetap wangi! Kalau mau gombal, minimal tetap yang masuk akal!” Biru merebut sapu tangan dari tangan Baskara, lalu mengelap keringatnya sendiri.
“Padahal emang benar masih wangi.” Baskara mendumal.
“Nggak usah ngoceh. Mending lo pikirin baik-baik mau ajak gue ke mana. Soalnya kalau tempatnya ternyata nggak asik dan nggak worth it buat usaha gue jalan ke sini, gue bakal pastikan kepala lo kepisah sama badan.”
“Omongan lo ngeri, kayak psikopat!”
“Duh, bodo amat.” Biru melemparkan sapu tangan yang sudah basah ke badan Baskara, kemudian cuek saja mengambil helm berwarna biru muda yang tersangkut di setang motor sebelah kiri. “Ayo jalan, jangan sampai lo mulangin gue kemaleman.” Ajaknya setelah mengenakan helm tersebut.
__ADS_1
Karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah, Baskara pun segera menuruti kemauan sang Tuan Putri. Ia segera naik ke atas motor, tak lupa menurunkan footstep demi memudahkan gadis itu untuk naik.
“Ayo.” Ucapnya.
Biru pun menginjak footstep sebelah kiri sebagai pijakan awal serta menumpukan kedua tangan di bahu kekar Baksara. Bokongnya kemudian mendarat mulus di jok belakang, siap untuk memulai petualangan.
“Udah?” tanya Baskara memastikan kalau Biru sudah duduk dengan nyaman.
“Udah.” Jawab Biru.
“Pega—“
Baskara tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Biru sudah lebih dulu melingkarkan kedua lengan di perutnya serta merebahkan kepala di punggungnya. Ia pun tersenyum, kemudian menyalakan motor lalu segera tancap gas sebelum ada yang memergoki mereka berdua.
...****************...
Biru sepenuhnya kehilangan kata-kata saat Baskara membelokkan motornya ke sebuah tempat yang tidak asing. Markas besar. Ya. Alih-alih tempat hiburan, mal, atau tempat makan kekinian, pemuda itu malah membawanya ke markas besar. Kalau kondisinya sepi dan hanya ada mereka berdua sih, Biru mungkin bisa berpikir positif. Barangkali Baskara sudah menyiapkan kejutan spesial untuk dirinya di sini.
Tapi masalahnya, mereka tidak sendirian. Sudah ada mobil milik Fabian yang parkir di halaman, maka sudah pasti pemuda itu juga ada di sini sekarang. Reno dan Juan juga mungkin turut datang. Karena bukan tidak mungkin mereka bertiga datang menggunakan satu mobil seperti yang sudah-sudah.
"Ayo."
Biru tersentak saat merasakan tangannya tiba-tiba digandeng oleh Baskara. Saking terkejut dan masih speechless, dia sampai tidak punya kesempatan untuk protes dan hanya menurut saja mengikuti langkah yang dibuat oleh Baskara.
Yang terjadi selanjutnya tentu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ketika mereka muncul dari pintu, percakapan yang semula terjadi di antara Reno, Juan dan Fabian pun seketika terhenti. Tiga pemuda itu menoleh, menatap mereka intens lalu terlihat kebingungan saat menemukan tangannya dan tangan Baskara yang saling bertaut.
"Halo, geng!" Baskara menyapa teman-temannya dengan suara lantang.
Jangan pikir dia melakukan itu dengan kondisi hati yang baik-baik saja. Tentu tidak! Semalaman, dia memikirkan soal ini sampai membuat kepalanya nyaris pecah. Dia gugup, tentu saja. Reno yang seketika bisa berubah menjadi singa yang mengaum keras karena lapar jelas merupakan ancaman yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Tapi, berkat sebuah keyakinan pada pedoman yang mengatakan, lebih cepat lebih baik, dia pun akhirnya mengumpulkan semua keberanian di dalam dirinya untuk sampai pada titik ini.
Ya, dia akan mengaku. Soal hubungannya dengan Sabiru, dan tujuan sebenarnya dari menjadikan gadis itu bahan taruhan.
"Anjing."
Belum apa-apa, Baskara sudah dianjing-anjingkan oleh Reno. Pemuda itu bangkit dari duduknya, lantas berjalan menghampirinya sambil berkacak pinggang.
"Apa-apaan ini?!" tanya pemuda itu. Tatapannya kembali jatuh pada tautan tangannya dengan Biru.
"Explain!" titah Reno setelah kembali menatap nyalang ke arah Baskara. "Apa maksudnya gandengan kayak gitu?"
"Calm down, Baby." Baskara berusaha menenangkan singa di dalam diri Reno. Ini bahkan sebelum seperempat jalan, jadi singa itu tidak boleh keluar dulu dari dalam tubuh Reno.
"Tarik napas dulu ... terus buang...." Baskara malah menuntun Reno untuk menarik dan membuang napas secara teratur, seperti seorang dokter yang tengah menuntun ibu hamil yang hendak melahirkan.
"Tarik—"
"NGGAK USAH BASA-BASI! BURUAN JELASIN!!!"
Ekhem... rupanya, upaya untuk menenangkan sang singa tidak berhasil, guys. Singa-nya sudah terlanjur bangun dan susah untuk ditidurkan kembali.
Huh ... kalau sudah begini, bisakah Baskara tetap melanjutkan pengakuan dosanya?
Bersambung
__ADS_1