Taruhan

Taruhan
Stuck


__ADS_3

Seperti sebuah penyakit, Baskara jadi lebih sering terbangun antara jam satu sampai jam tiga dini hari. Penyebabnya juga tidak jauh-jauh dari perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba saja datang, memaksanya kembali membuka mata padahal sedang terlelap begitu nyaman.


Baskara bangkit dari posisi tidur, terduduk diam di atas ranjang sambil mengamati ranjang sebelah yang kali ini diisi oleh dua orang. Ayah dan Ibunya tidur di ranjang yang tidak terlalu besar itu, saling memeluk bagai dua anak manusia yang telah lama berpisah dan tak ingin saling kehilangan.


Wajarnya, Baskara merasa senang karena kedua orang tuanya sudah tidak lagi menerapkan batas yang kentara seperti sebelumnya. Tetapi realitanya, dia justru merasa resah.


Walaupun sudah berusaha untuk pasrah dan berpikir positif atas membaiknya hubungan kedua orang tuanya, Baskara tetap saja merasa ada yang tidak beres. Seperti ada satu hal lagi yang sengaja disembunyikan dari dirinya, yang kalau ia tahu, mungkin akan membuat dunia mereka hancur berkeping-keping.


Lama sekali Baskara memandang punggung lebar sang ayah yang kini melingkarkan lengan di pinggang sang ibu. Diam-diam, ia mencoba memanggil kembali kenangan-kenangan baik yang terjadi antara ia dan ayahnya di masa lalu, sebelum lelaki itu memutuskan menarik diri selama bertahun-tahun tanpa membawa penjelasan apapun ketika kembali.


Secara garis besar, Baskara tidak menemukan letak cacat dari bagaimana Jeffrey bersikap terhadapnya. Hanya keterdiaman lelaki itu saja yang kadangkala memang menggangu, dan cukup memusingkan karena ia harus menerka-nerka sendiri apa yang sedang lelaki itu pikirkan di kepalanya.


Fabian bilang, ada hal-hal yang sebaiknya memang tidak usah dicari tahu untuk membantu hidup tetap tenang. Tapi, bagaimana jika hal-hal itu justru seharusnya diketahui lebih cepat, sebelum semakin jauh dan memberikan efek yang kian dahsyat?


"Gini nih kalau kebangun sebelum subuh, yang ada otaknya overthinking mulu. Apaaaaa juga dipikirin," ocehnya pelan.


Baskara menggeleng beberapa kali, sekadar mengenyahkan sisa-sisa pikiran acak yang berputar-putar di dalam kepala. Kemudian, ia merasakan tenggorokannya kering dan mulutnya sedikit terasa asam.


Gelas berisi air yang ada di atas nakas kemudian menjadi pilihan pertama untuk melegakan dahaga, lalu sebungkus rokok milik ayahnya yang tertinggal di atas meja dekat sofa adalah pilihan untuk mengenyahkan rasa asam di mulutnya. Mungkin sudah tiga hari ia tidak merokok, dan itu agak menyiksa.


Pelan-pelan Baskara turun dari ranjang. Dingin seketika menjalar ke seluruh tubuhnya ketika kaki telanjang itu bersentuhan langsung dengan lantai rumah sakit. Sambil meringis menahan dingin, Baskara berjinjit menuju meja, menyambar rokok dan pemantik lalu setengah berlari keluar dari kamar rawat sebelum ayah dan ibunya menangkap basah dirinya yang hendak melarikan diri.


Suasana di luar kamar rawat sangat sepi. Sama sekali tidak ada aktivitas yang terjadi. Para petugas medis juga sepertinya sedang menghabiskan waktu untuk beristirahat setelah berjuang keras merawat pasien-pasien mereka yang sekarat.

__ADS_1


Mulanya, Baskara berkeinginan untuk memantik rokoknya di taman depan rumah sakit, sambil duduk di bangku kayu dan memandangi langit menjelang subuh yang pekat. Namun, niat itu ia urungkan kala mendapati di meja administrasi masih ada dua orang petugas perempuan yang berjaga. Mata mereka terlihat bugar, dan Baskara jelas tahu ia tidak akan diperbolehkan keluar dengan baju rumah sakit yang kini ia gunakan. Apalagi kalau alasannya adalah untuk merokok. Ugh! Yang ada dia akan langsung diseret kembali ke ruang rawat, untuk kemudian mendapatkan omelan dari ayah dan ibunya sampai pagi.


Akhirnya, pilihan satu-satunya yang Baskara miliki adalah rooftop rumah sakit. Ia sendiri tidak yakin apakah pintu akses menuju ke sana terkunci atau tidak. Yang pasti, ia harus mencoba terlebih dahulu untuk tahu jawabannya, benar?


Mengendap-endap seperti maling, Baskara berusaha berjalan di spot yang gelap, berusaha keras menghindarkan diri dari tangkapan CCTV. Kalaupun tertangkap, setidaknya wajah tampannya tidak akan kelihatan terlalu jelas. Paling-paling petugas yang mengawasi CCTV hanya akan berpikir bahwa dirinya adalah maling yang hendak mencuri satu set komputer di ruang administrasi.


Setelah perjalanan yang cukup panjang dan menegangkan, Baskara akhirnya tiba di tangga darurat yang akan membawanya menuju lantai paling atas. Untungnya, kamar tempatnya dirawat berada di lantai yang cukup tinggi, sehingga tidak banyak lantai yang tersisa untuk dia daki.


Satu persatu anak tangga ia daki. Minimnya pencahayaan sama sekali tidak membuatnya gentar, karena keinginannya untuk mengisap rokok sudah benar-benar ada di ujung kepala.


Beberapa menit kemudian, sampailah ia di depan pintu yang dicat warna hijau tua. Untungnya, pintu itu tidak dikunci. Mungkin petugas keamanan lupa menguncinya, atau rumah sakit paling top di Jakarta ini memang nyatanya tidak sebaik itu tingkat keamanannya.


Apapun alasannya, Baskara tetap berterima kasih karena ia jadi bisa menerobos keluar dengan mudah.


Suara pintu yang berderit menyatu dengan desau angin yang menerpa tubuh Baskara ketika ia akhirnya tiba di rooftop. Rambutnya beterbangan, beberapa sampai masuk ke mata saking kencang angin menerpa wajahnya.


Rokok dan pemantik hasil curian tadi Baskara keluarkan dari saku baju, lalu ia berhenti persis di depan dinding pembatas rumah sakit. Kedua benda yang sebelumnya ia genggam, kini diletakkan di atas dinding yang tingginya setara dada orang dewasa.


Baskara melongokkan kepala ke bawah dengan kaki yang sedikit berjinjit. Ngeri seketika terasa kala ia menyadari jarak antara rooftop dengan jalanan beraspal di bawah sana begitu jauh. Mungkin berpuluh-puluh meter jauhnya.


Tidak. Tenang saja. Baskara masih cukup waras untuk tidak melompat dari sana. Ia masih takut mati. Masih belum rela kalau nyawanya dicabut sebelum ia berhasil melakukan hal-hal yang ia senangi.


Puas uji nyali, Baskara meraih rokok dan pemantik, kemudian duduk di atas lantai rooftop yang berdebu. Punggung dan kepalanya bersandar di dinding pembatas, satu rokok ditarik lalu diselipkan di antara bibir. Pemantik dinyalakan, namun sialnya angin dingin yang berembus cukup kencang membuat Baskara gagal menyalakan rokok pada percobaan pertama.

__ADS_1


Api yang keluar dari pemantik kemudian baru berhasil membakar ujung rokok setelah percobaan ke-lima, setelah Baskara menggerutu pada angin yang tidak punya belas kasih sekaligus merutuki kebodohannya sendiri yang memilih rooftop sebagai tempat merokok secara sembunyi-sembunyi.


Asap rokok mengepul di depan wajah Baskara kala pemuda itu mengembuskan napas. Bau tembakau yang terbakar seketika memenuhi indera penciuman, yang semula hanya dipenuhi bau obat dan pewangi ruangan beraroma lavender.


Semakin banyak tembakau yang dihirup, semakin memudar pula keresahan yang semula memenuhi dada. Nikotin telah mengambil alih banyak tempat di saluran pernapasannya, membantu membawa keluar pikiran-pikiran buruk melalui asap yang ia embuskan dari mulut.


Satu batang rokok habis tak bersisa hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Belum puas, Baskara menyalakan satu lagi setelah memastikan puntung dari rokok yang sebelumnya padam sempurna.


Di rokok yang ke-dua, pikiran-pikiran acaknya setengah lebih telah pudar. Sekarang, hanya ada beberapa hal yang terputar di kepalanya secara terus-menerus. Siklusnya berulang dari Sabiru, ke Fabian, kemudian ke ayah dan ibunya. Begitu terus, sampai akhirnya rokok ke-dua pun habis dan dia hanya bisa tersenyum sumir di akhir.


Di dalam bungkus, masih ada enam batang rokok yang tersisa. Baskara bisa saja menghabiskan semuanya, kemudian kembali ke kamar sebelum ayah dan ibunya sadar bahwa dia tidak ada di atas ranjangnya. Namun, Baskara tidak melakukannya. Dua batang rasanya sudah cukup. Rasa asam di mulutnya sudah hilang, dan pikiran-pikiran acak yang mengganggu juga sudah lenyap tak bersisa.


Maka, Baskara segera bangkit. Dinginnya angin yang terus-menerus menerpa tubuhnya bisa jadi akan membuatnya lebih lama dirawat, dan ia tidak ingin itu terjadi.


Rokok dan pemantik ia sakui lagi, berserta kedua tangannya yang enggan menerima lebih banyak hawa dingin dari angin yang berembus.


Langkah yang ia ambil kini terasa lebih ringan. Pundak yang semula lesu kini juga bisa sedikit ditegakkan. Baskara merasa lebih baik, hanya berkat bantuan dua batang rokok hasil curian.


Tapi masalah lain kemudian datang ketika tangan Baksara terulur untuk membuka pintu di hadapan. Stuck. Pintunya tidak bisa ditarik, bahkan bergeser sedikit pun tidak.


Saat itulah Baskara sadar, bahwa ia telah terjebak di rooftop. Sendirian. Kedinginan.


"Wah, si anjing." Umpatnya, sebelum akhirnya pasrah dan terduduk lesu di depan pintu sambil memeluk dirinya sendiri.

__ADS_1


Semoga saja tidak turun hujan, atau Baskara akan berakhir mati beku hanya karena keputusan konyol untuk menyesap dua batang rokok.


Bersambung


__ADS_2