
Tidak seperti Fabian yang hanya akan menemukan kehampaan setiap kali pulang ke rumah, Baskara mungkin sedikit lebih beruntung karena masih ada Sera yang akan menyambut kepulangannya dengan tangan yang terbuka.
Meksipun wanita itu juga kerap kali menyambutnya dengan omelan yang berbeda-beda setiap harinya, Baskara masih merasa beruntung karena setidaknya dia tahu ada yang menanti kepulangannya.
Tetapi, nyatanya kehadiran Sera saja masih terasa belum cukup untuk Baskara. Dia tidak bohong, khususnya akhir-akhir ini, dia mulai merindukan sosok ayahnya yang sudah sejak enam tahun terakhir tiba-tiba saja menarik diri.
Jeffrey, ayahnya itu tiba-tiba saja mulai tidak pulang ke rumah. Awalnya cuma tidak pulang sehari, lalu bertambah menjadi dua hari, sampai sekarang Jeffrey bahkan hanya pulang sesekali dalam beberapa bulan.
Sebagai seorang anak laki-laki, Baskara tentu saja merasa limbung karena sosok ayah yang selama ini dia jadikan panutan tiba-tiba saja menarik diri tanpa sebab yang pasti.
Sampai sekarang, Baskara tidak tahu masalah apa yang terjadi antara ayah dan ibunya. Sebab ibunya tidak pernah mau buka suara, dan ayahnya tentu tidak bisa diajak bicara karena untuk bertemu saja, butuh waktu hingga berbulan-bulan.
Padahal dulu keluarga mereka bahagia. Kedua orang tuanya terlihat saling mencintai, dan berkat cinta itu, Baskara juga merasa bahwa dirinya begitu dicintai dengan sepenuh hati.
Sampai sekarang, Baskara masih merasa buta. Dia tidak berhasil meraba-raba apa yang salah dari hubungan kedua ornag tuanya, sampai kini mereka berjarak begitu jauh.
Dan yang lebih membuat Baskara tidak mengerti adalah, kenapa dia juga dilibatkan dalam masalah itu? Padahal dia tidak tahu apa-apa. Padahal ayahnya masih bisa tetap berbicara dengannya, meskipun hubungan lelaki itu dengan ibunya sudah tidak sebaik dulu lagi.
Enam tahun berlalu, dan Baskara masih dibiarkan kebingungan seorang diri.
Baskara bangkit dari posisi rebahannya di kasur, beringsut ke arah nakas dan membuka laci paling bawah, hanya untuk menemukan selembar foto yang telah usang.
Foto itu dia ambil, dia bawa ke hadapan dan dipandangi untuk waktu yang cukup lama.
Itu adalah foto yang memperlihatkan potret dirinya, ayahnya dan ibunya. Berlatar belakang candi Prambanan, di mana dia terlihat anteng di dalam gendongan sang ayah, sementara sang ibu terlihat merangkul lengan ayahnya dengan mesra.
Kedua orang tuanya tersenyum manis ke arah kamera, sementara Baskara yang kala itu baru berumur dua tahun tampak asik dengan mainan mobil-mobilan kecil di tangannya.
"Padahal kita sebahagia ini dulu," gumamnya. Dirabanya permukaan foto itu dengan perasaan yang carut-marut.
__ADS_1
Lalu tatapannya jatuh pada protret ayahnya dan Baskara memutuskan untuk tenggelam di dalam senyum memabukkan lelaki itu.
Di mata Baskara, Jeffrey adalah sosok laki-laki keren. Di mana Baskara, yang kala itu baru berumur sebelas tahun, pernah berujar pada dirinya sendiri bahwa ketika dewasa nanti, dia ingin tumbuh menjadi laki-laki seperti ayahnya itu.
Ucapan itu masih dia pegang sampai bertahun-tahun setelahnya, bahkan sampai umurnya menginjak delapan belas, ketika dia lulus SMA dan lelaki itu tidak menampakkan batang hidungnya di acara kelulusannya sekalipun, Baskara masih enggan menarik kembali apa yang sudah keluar dari mulutnya.
Sampai ketika usia sembilan belas menyapa, dan Baskara mulai menyadari bahwa Jeffrey sudah sepenuhnya berubah menjadi sosok yang asing, Baskara memutuskan untuk ikut menarik diri.
Tidak pernah lagi terucap olehnya bahwa dia ingin tumbuh menjadi laki-laki seperti Jeffrey. Sebab, lelaki itu telah meninggalkan luka yang teramat dalam untuk dirinya. Luka yang selalu membuatnya bertanya-tanya di mana letak kesalahan yang telah dia perbuat sehingga ayahnya memutuskan untuk menjauh dari dirinya.
...****************...
Tengah malah, Baskara terbangun karena tenggorokannya terasa kering dan serak.
Awalnya dia ingin membiarkan saja hal itu karena sejujurnya dia mengantuk dan terlalu malas untuk turun ke dapur. Apalagi karena dia tahu kalau semua lampu pasti sudah dimatikan dan dia sama sekali tidak serajin itu untuk menekan tombol saklar.
Tetapi karena rasa kering di tenggorokannya semakin parah dan nyaris menimbulkan sensasi terbakar, Baskara akhirnya menyerah. Dia melompat turun dari kasur dan bergegas keluar dari kamar.
Baskara berdecak sebal, tetapi dia tetap melanjutkan langkah dan memutuskan untuk hanya menekan satu saklar yang terletak di dinding pembatas antara ruang tengah dengan dapur.
Namun, ketika lampu itu berhasil dinyalakan dan sinarnya mulai berpendar menerangi bagian dapur, langkah Baskara seketika itu juga terhenti.
Sebab, dia menemukan sosok yang seharusnya tidak ada di sana. Apalagi selarut ini.
Memang, Baskara begitu merindukan sosok itu, sampai-sampai rasanya nyaris gila. Tapi Baskara yakin kalau dia belum benar-benar gila untuk sampai di tahap berhalusinasi akan kehadiran sosok itu sekarang.
Maka, Baskara bisa secara lantang mengatakan pada dirinya sendiri bahwa saat ini dia tidak sedang berhalusinasi. Bahwa sosok yang tengah duduk di salah satu kursi meja makan dan menatapnya dengan sepasang mata elang itu bukanlah sekadar ilusi.
Itu Jeffery. Jelas-jelas Jeffrey, ayahnya yang sudah tidak pulang selama hampir enam bulan.
__ADS_1
"Pa," sapanya pelan. Teramat pelan, karena meskipun dia sudah berusaha meyakinkan diri bahwa sosok Jeffrey adalah nyata, masih ada sebagian kecil dari dirinya yang menganggap ini hanyalah mimpi.
"Papa ngapain di situ?" tanyanya lagi, ketika kakinya berhasil menapak empat langkah jauhnya dari tempat Jeffrey duduk.
Jeffrey tidak menjawab, seolah hendak menegaskan bahwa kehadirannya tidak nyata, dan bahwa Baskara sudah gila karena mengkhayalkan tentang dirinya.
"Mama tahu Papa pulang?" Baskara masih tidak menyerah. Meksipun yang dia dapati hanya keheningan sebab Jeffrey masih bersikeras membungkam mulutnya.
"Pa-"
"Udah malam, kenapa belum tidur?"
Suara itu ... dada Baskara bergetar hebat hanya dengan mendengarnya saja. Suara yang rasanya sudah lama sekali tidak di dengar sedang berbicara langsung dengannya. Suara yang dulu selalu teralun merdu di telinganya, mengudarakan pujian-pujian atas apa yang berhasil dia lakukan.
Setelah sekian lama, suara itu bisa Baskara dengar lagi. Meskipun nyatanya nadanya sudah tidak terdengar sama. Tidak ada lagi kehangatan dari sana. Tidak ada keramahan, yang ada hanya kesan dingin yang terasa menusuk sampai ke tulang.
"Abang haus, Pa. Mau minum." Kata Baskara, susah payah menahan kabut bening yang tiba-tiba muncul menyelimuti kedua matanya agar tidak meluruh menjadi bulir-bulir air mata.
Lalu, yang Jeffrey lakukan selanjutnya telah berhasil membuat pertahanan Baskara runtuh begitu saja.
Ketika Jeffrey bangkit dari duduknya, berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol air mineral dari sana lalu menghampirinya dan mengulurkan air mineral itu kepadanya, Baskara membiarkan air matanya jatuh.
"Selesai minum, langsung naik ke kamar dan tidur." Kata Jeffrey, sebelum melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Baskara yang seketika terduduk lemas di lantai.
Baskara menangis, sejadi-jadinya. Melupakan citranya sebagai anggota geng paling ditakuti di Universitas Neosantara, dan kembali ke setelan awal sebagai anak mami yang cengeng dan manja.
Sementara itu, langkah Jeffrey terhenti di anak tangga ke-delapan. Dia menahan napas, berusaha menahan sesak yang merambati dadanya dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Suara isakan yang lolos dari bibir Baskara serupa belati tajam yang menghunus jantungnya berkali-kali, membuatnya sekarat dan nyaris mati.
__ADS_1
Kemudian, agar dirinya tidak benar-benar mati mengenaskan di depan putranya itu, Jeffrey melanjutkan langkah, berusaha menemukan sedikit saja bagian yang sekiranya masih bisa diperbaiki.
Bersambung