Taruhan

Taruhan
Home


__ADS_3

Manusia bisa berkehendak, tetapi Tuhan selalu punya kuasa untuk menentukan apa yang seharusnya terjadi dan apa yang tidak.


Di saat Fabian sudah menggebu-gebu hendak melajukan motornya menuju markas besar, hujan tiba-tiba saja turun begitu deras. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan yang pantas sehingga pemuda itu berakhir mencaci maki ramalan cuaca yang tidak pernah pas. Akhirnya, motor dikembalikan ke garasi, dengan sisa-sisa air hujan yang sempat tampias membasahi beberapa bagian si kuda besi.


Sambil menggerutu, Fabian berjalan kembali ke dalam rumah. Langkahnya mengentak-entak, seolah mampu meleburkan apa saja yang ia pijak dengan kekuatan yang ada di dalam dirinya.


Namun, belum sampai kedua kakinya memijak bagian dalam rumah, rungunya mendengar suara deru mesin mobil yang bersahutan-sahutan dengan suara derasnya air hujan.


Fabian menoleh, melemparkan tatapannya jauh ke seberang, menembus gerbang yang tinggi menjulang hanya untuk mendapati mobil Baskara sudah mejeng di tepi jalan. Kaca mobil diturunkan perlahan, menampakkan sosok pemuda dengan rambut acak-acakan dan raut wajah yang tidak kalah berantakan. Dari sana, Fabian sadar bahwa suasana hati Baskara tidak jauh berbeda dengan dirinya.


Seluruh emosi dan kekesalan yang menumpuk di dada Fabian seketika sirna, luruh bersama debu yang tersiram air hujan.


Dengan langkah yang ringan dan kesukarelaan yang besar, ia berlarian menuju gerbang, menerobos hujan yang tadi sempat dia caci maki tanpa ampun. Gerbang tinggi itu ia buka gemboknya, lalu ia geser sampai terbuka lebar sehingga mobil Baskara bisa melaju masuk ke pekarangan.


Yang tadinya ia begitu kesal karena air hujan sedikit membasahi baju dan rambutnya, kini Fabian malah dengan sukarela menjadikan dirinya sepenuhnya basah di bawah guyuran hujan. Ia bahkan tersenyum begitu lebar saat kakinya terayun menghampiri Baskara yang sudah membuka pintu mobil, bersiap untuk keluar.


"Mau hujan-hujanan?" tanya Baskara, dan Fabian tidak perlu berpikir lebih lama untuk menganggukkan kepala.


Baskara lalu turun dari mobil, bergabung dengan dirinya memasrahkan diri di bawah tetesan air hujan yang jatuh semakin deras dari langit.


Untuk beberapa saat, mereka hanya diam. Saling pandang dan saling berkejaran melalui tatapan mata mereka yang sama-sama menelisik lebih dalam. Sampai kemudian, Baskara bergerak iseng, mengentakkan kaki kirinya kuat-kuat sehingga membuat kubangan air kecil yang ada di bawah kakinya membludak. Air itu menyiprat, mengenai kaki Fabian hanya dalam waktu singkat.


Tidak terima, Fabian pun membalas dengan melakukan hal yang sama. Lalu perang tidak dapat lagi dihindarkan. Mereka saling mengentakkan kaki, sesekali menahan tubuh satu sama lain agar entakan yang dibuat tidak terlalu kuat sehingga cipratannya juga tidak sebanyak sebelumnya.


Selama bermenit-menit melakukan hal itu, mereka akhirnya lelah juga. Tetapi, bukan berarti mereka akan berhenti. Alih-alih menepikan tubuh mereka ke teras untuk berteduh, keduanya malah berlarian, berputar-putar mengelilingi halaman rumah Fabian yang luas.


Mereka tertawa, terbahak-bahak dibawah guyuran hujan sambil saling berkejaran. Mereka juga terjatuh, berguling-guling di atas rerumputan, membuat pakaian yang mereka kenakan kotor terkena tanah dari rumput-rumput tak berdosa yang ikut tercabut ketika mereka berguling-guling di atasnya.


"Mata gue pedih," keluh Baskara. Namun ia masih tidak rela melepaskan pelukannya terhadap Fabian yang kini duduk di hadapannya.


"Sama. Hidung gue juga gatel, kayaknya kemasukan tanah." Fabian ikut mengeluh. Kalau biasanya ia akan menendang tubuh Baskara agar menjauh darinya, kali ini ia biarkan saja si bocah yang usianya hanya lebih tua beberapa bulan darinya itu gelendotan. Ia bahkan tidak keberatan ketika Baskara menyandarkan dagu di bahunya, seolah-olah bahunya adalah tempat beristirahat paling nyaman.


"Bi,"


"Hmm?"


"Kabur yuk, ke luar negeri." Ucap Baskara.


"Nanti, tunggu duit gue banyak dulu." Fabian beralasan.

__ADS_1


Merasa jawaban Fabian tidak sesuai dengan keinginannya, Baskara sontak melepaskan pelukan lalu memicing tidak suka ke arah pemuda itu. "Duit lo udah banyak, anjir. Udah bisa buat bikin ruko Mixue enam biji." Celoteh Baskara.


Hadirnya Mixue di tengah obrolan mereka seketika membuat Fabian merasa tergelitik. Merk dagang es krim yang sedang hit itu memang beberapa kali menjadi perbincangan, bahkan beberapa mahasiswa di kampus suka bercanda kalau mereka tidak boleh meninggalkan bangunan milik mereka terlalu lama karena takut akan diambil alih oleh pemilik usaha Mixue. Namun, mendengar merk dagang itu disebut oleh seorang Baskara ternyata memberikan efek lucu yang berkali-kali lipat lebih hebat.


Fabian tergelak sejadi-jadinya. Ia bahkan menolak berhenti tertawa meskipun Baskara memukul lengannya beberapa kali.


"Apa yang lucu sih?!" protes Baskara setelah tenaganya tidak lagi mampu membuat Fabian menghentikan gelak tawanya.


"Mixue ... ahahaha ... Mixue, anjir." Fabian bicara putus-putus, kemudian tertawa lagi. "Lo tahu, nggak? Apa yang ada di kepala gue pas lo sebut merk itu?"


"Nggak." Baskara sudah tampak kesal.


Barulah Fabian meredakan tawanya, menyisakan senyum manis yang biasa dia gunakan untuk memikat kaum hawa.


"Gue kebayang lo berubah jadi boneka salju yang ada di logo Mixue, terus nyanyiin mars Mixue sambil pantat lo geol-geol." Usai bicara, Fabian kembali tergelak. Bayangan seorang Baskara dalam kostum boneka salju yang lucu, memegang tongkat bersisi es krim cone serta pantatnya bergoyang-goyang benar-benar membuat perut Fabian terasa keram.


Oh, ayolah. Kalian harus membayangkannya sendiri untuk tahu apa yang Fabian rasakan sekarang.


Sementara itu, Baskara yang wajah dan tubuhnya dijadikan bahan imajinasi konyol oleh Fabian cuma bisa berdecak berkali-kali.


Ia sepenuhnya kehilangan kata-kata, dan berakhir membiarkan Fabian menertawakan dirinya sepuasnya. Untuk kemudian, ia ikut terbahak-bahak bersama Fabian ketika pemuda itu bangkit, lalu mempraktekkan sendiri bagaimana boneka salju di dalam bayangannya itu berjoged.


Siang itu, di bawah langit yang sedang bermuram durja, Fabian dan Baskara menjelma menjadi anak-anak kecil belum ternoda. Mereka menepikan segala resah yang ada, mengusir segala sedih dan kepiluan yang mereka simpan di dalam dada untuk waktu yang cukup lama. 


Bermain hujan-hujanan itu melelahkan, percayalah. Tetapi, efek yang didapat setelahnya sungguh sebanding dengan lelah yang diterima. Karena, setelah mereka masuk ke dalam rumah dan mandi menggunakan air hangat, Fabian dan Baskara merasakan semangat mereka yang semula redup kembali menyala, bahkan cenderung lebih terang.


Beban yang ada di pundak mereka seolah ikut terbuang bersama tawa yang mereka lepaskan tanpa beban. Dan kini, dalam balutan satu selimut yang sama, dua anak manusia itu sedang menikmati waktu duduk di atas ranjang, dengan tatapan yang tertuju pada layar televisi yang menampilkan serial kartun yang umumnya akan ditonton oleh anak-anak usia sekolah dasar.


"Mending nonton Fifty Shades of Grey aja nggak sih?" usul Baskara, meksipun tangannya tetap bergerak memasukkan camilan ke dalam mulut dan matanya tetap sibuk menatap layar televisi.


"Nonton itu sama lo mah rugi," celetuk Fabian, membuat Baskara menoleh dan hidung mereka nyaris bertemu karena di saat yang bersamaan, Fabian juga ikut menolehkan kepala.


"Si goblok!" pekik mereka berbarengan. Tubuh mereka refleks mundur, dan berkat pengereman yang tepat, mereka berdua sama-sama selamat dari tragedi terjungkal yang memalukan.


"Lo kalau mau nengok, minimal kasih aba-aba dulu!" omel Fabian, sembari membetulkan kembali posisi duduknya dengan memberikan jarak yang lebih banyak antara dirinya dengan Baskara.


"Ya lo juga sama!" Baskara tidak mau kalah. Tapi, tidak seperti Fabian yang menjauhkan diri, ia malah bergerak mendekat sambil menarik selimut yang membalut tubuh mereka agar kembali rapat.


"Jangan jauh-jauh, dingin, bego." Selanya sebelum Fabian berhasil membuka mulutnya.

__ADS_1


"Gue ada selimut lagi di lemari, lo mau?" tawar Fabian. Dia pikir, Baskara benar-benar kedinginan dan butuh satu selimut untuk dirinya sendiri. Ia tidak paham, kalau sebenarnya Baskara hanya ingin saling berdekatan dengan dirinya, untuk menebus kesepian yang ditinggalkan atas kepergian Jeffrey bertahun-tahun lalu.


"Nggak usah, satu aja cukup." Jawab Baskara. Ia tidak ingin bermelankolis, maka sebelum perasaannya kembali menjadi kelabu, ia mengungkit lagi topik yang mereka bahas sebelumnya. Tentang menonton serial barat bertajuk Fifty Shades of Grey.


"Rugi lah," sahut Fabian.


"Ya ruginya kenapa, Bambang!" Baskara mulai sedikit kesal.


"Kalau gue pengin, gimana? Masa prakteknya sama lo?"


Wah. Benar-benar hanya satu kata itu yang terlintas di kepala Baskara ketika mendengar jawaban Fabian. Karena ... ia tidak menyangka kalau temannya itu ternyata punya pikiran juga ke arah sana. Saking tidak pernahnya melihat Fabian berpacaran, Baskara sampai berpikir kalau jangan-jangan bocah itu memang memiliki kelainan.


Ternyata oh ternyata, Fabian masih normal. Hanya otaknya saja yang terlalu logis sehingga menahan diri untuk hal-hal yang menurutnya oke-oke saja kok untuk dilakukan.


Jangan ditiru ya, teman-teman. Itu memang pemikiran Baskara saja, yang menganggap bahwa **** bebas itu adalah sebuah kewajaran asal bisa menjamin kesehatan diri masing-masing dan partner yang diajak main.


Well, kembali pada Baskara. Pemuda itu terdiam cukup lama, tercengang, dan terlalu kehilangan kata-kata.


Sayangnya, ketika otaknya kembali bekerja, jawaban yang dia berikan malah membuat perang lain di antara dirinya dan Fabian dimulai.


"Ya nggak apa-apa kalau lo mau coba," ucapnya enteng.


Tidak usah tanyakan apa yang terjadi selanjutnya. Fabian yang kesabarannya kadang bisa lebih tipis ketimbang tisu wajah dibagi tiga, sontak menerjang tubuh Baskara yang belum siap untuk menerima serangan apa-apa. Tubuh yang lebih bongsor itu ia jatuhkan ke kasur, ia duduki perutnya dan tangannya sudah mencengkeram kaus bagian depan yang Baskara kenakan.


"Mata lo coba-coba! Gue masih normal!" protesnya.


Lalu pergelutan tidak dapat lagi dihindarkan. Mereka saling menyerang, meskipun konteksnya hanya bercanda. Selimut, seprai dan bantal sudah tidak lagi berada di tempatnya. Bahkan, beberapa bulu dari dalam bantal berhamburan keluar, melayang-layang di udara sebelum akhirnya jatuh dengan estetik di atas lantai kamar yang menjad saksi bisu ketika tubuh dua pemuda itu tersungkur jatuh ke atasnya dan suara pekikan menggema memenuhi kamar.


"Tulang di punggung gue kayaknya patah deh," keluh Baskara, susah payah bangkit dari posisi jatuhnya yang telentang dengan satu kaki yang masih nyangkut di atas kasur.


Sedangkan Fabian yang jatuh tersungkur dengan posisi telungkup, tengah meringis menahan pedih di lutut dan telapak tangannya yang dia gunakan sebagai tumpuan agar wajahnya tidak jatuh lebih dulu ke lantai yang keras.


"Dengkul gue lecet, kayaknya ada tulang yang geser, sakit." Fabian ikut-ikutan merengek sembari memegangi lututnya sendiri.


Kemudian, tanpa dikomando, mereka bergerak mendekat, saling memeluk lalu menangis meraung-raung berdua.


Iya, itu hanya bercanda. Mereka hanya sedang mendramatisir suasana. Karena setelahnya, mereka kembali duduk bersebelahan, saling pandang selama beberapa saat sebelum akhirnya terbahak-bahak berdua.


Di tengah gelak tawa yang tercipta begitu membahana, Fabian mencuri pandang ke arah Baskara. Diam-diam menyelipkan sebuah angan yang kiranya terlalu mustahil untuk bisa dikabulkan. Ia ingin, setidaknya, sekali saja seumur hidup, Tuhan memperbolehkannya untuk memiliki Baskara sebagai saudara. Sebagai tempat pulang ketika ia tidak memiliki siapa-siapa, termasuk ibunya.

__ADS_1


Gue sayang banget sama lo, Bas. Bisiknya, lalu ia kembali tenggelam dalam gelak tawa yang ia ciptakan sejadi-jadinya.


Bersambung


__ADS_2