Taruhan

Taruhan
Kasak-kusuk


__ADS_3

Hari ke-empat sejak misi baru mereka resmi dijalankan, Baskara mengumpulkan teman-temannya untuk melihat progres dari usaha pertama yang mereka lakukan kemarin.


Siang ini, setelah kelas ke-dua selesai, mereka berkumpul di gazebo belakang fakultas. Ditemani berkaleng-kaleng minuman bersoda dan beberapa bungkus rokok yang berserakan di hadapan mereka yang kini duduk dengan posisi melingkar.


"Gimana?" Baskara, selaku penggagas misi, membuka suara lebih dulu.


"Belum," Reno menjadi yang pertama menjawab pertanyaan itu setelah memeriksa ponselnya.


"Gue juga belum," sahut Juan, menjawab tepat setelah memeriksa ponselnya juga.


Sementara itu, Fabian terdiam cukup lama. Dia juga masih belum mendapatkan notifikasi bahwa permintaan pertemanan yang dia kirimkan kepada Biru telah diterima, hanya saja, ada satu hal yang mulai mengganggu pikirannya sekarang.


Ini tentang pertemuannya yang tidak disengaja dengan Biru di klub yang biasa dia datangi dengan anggota Pain Killer yang lain Jumat malam kemarin. Dia bingung, haruskan dia mengatakan hal itu kepada teman-temannya, atau dia simpan cerita itu sendirian?


Informasi itu mungkin akan berguna bagi mereka untuk mencari cara agar bisa mendekati Biru. Tetapi, entah kenapa, Fabian tiba-tiba merasa tidak ingin pertemuan malam itu akan dilihat oleh Biru sebagai sesuatu yang disengaja. Dia tidak ingin Biru tahu bahwa dirinya sedang dijadikan target taruhan.


Sedangkan Baskara selalu menjadi yang paling peka ketika Fabian mulai terdiam dan terlihat menarik diri dari obrolan, langsung menepuk bahu Fabian ketika pemuda itu tampak melamun, membuat pemuda itu mengangkat pandangan dan tatapan mereka bertemu.


"Lo gimana? Udah di acc belum?" tanyanya.


Fabian menggelengkan kepala. Sepenuhnya menelan kembali informasi yang hampir dia sampaikan kepada tiga temannya dan memilih untuk menyimpannya sendirian.


Toh, pertemuan itu memang tidak disengaja dan bukan merupakan bagian dari rencana mereka untuk mendekati Biru. Jadi, seharusnya tidak masalah kan kalau dia menyembunyikan hal itu dari tiga temannya yang lain?


Biarkan saja mereka mencari cara lain untuk mendekati Biru, dan melancarkan misi taruhan mereka kali ini.


"Kalau gitu, coba kalian batalin dulu deh permintaan pertemanan kalian. Abis itu, kirim lagi, biar notifikasinya muncul lagi di akun dia." Usul Baskara.


Juan dan Reno tidak butuh waktu lama untuk mengikuti apa yang Baskara usulkan, sedangkan Fabian malah kembali terdiam dan akhirnya tidak ikut membatalkan permintaan pertemanan yang sudah telanjur dikirim.


"Udah?" tagih Baskara.


Reno dan Juan menggangguk, sementara Fabian yang sebenarnya tidak ikut melakukan apa yang Baskara perintahkan juga tetap ikut mengangguk meksipun sedikit lebih terlambat.

__ADS_1


"Bagus. Kalau sampai besok belum di acc juga, lakuin aja lagi apa yang gue bilang terus-menerus. Biar dia lama-lama penasaran dan mulai cari tahu soal kita."


"Kalau sampai akhir dia tetap nggak terima dan nggak mau cari tahu soal kita, gimana?" tanya Juan yang mulai pesimis karena biasanya mereka tidak butuh waktu selama ini untuk mulai mendekati para target.


"Kalau sampai akhir tetap nggak mau didekati lewat sosial media, ya kita dekati secara langsung." Kata Baskara, dengan senyum tipis yang tersungging penuh arti.


"Maksud lo?" tanya Reno.


"Kita samperin dia langsung ke fakultasnya, biar sekalian seluruh Fakultas Sastra tahu kalau kita lagi dalam misi untuk mendapatkan hatinya Biru."


"Tapi itu menyalahi kode etik kita, Bro. Kan kita selalu menjalankan misi secara diam-diam, supaya target kita nggak merasa risih." Juan merasa keberatan.


"Bercanda," ucap Baskara sembari terkekeh dan mengibaskan tangan di depan wajah Juan.


"Kalau nggak di acc permintaan pertemanan di sosmed, gue bakal bantu cariin nomor kontak dia. Kita gas dia di sana."


"Kenapa nggak dari kemarin aja lo berinisiatif nyariin kita nomor kontaknya?!" kesal Reno, merasa apa yang mereka lakukan sekarang ini hanya membuang-buang waktu saja.


"Ya pelan-pelan, atuh, Boy. Mana bisa langsung gas gitu aja. Bertahap, brader." Kata Baskara dengan gaya sok bijak, yang justru membuat Reno merasa muak.


Sementara itu, Fabian kembali tenggelam dalam dunia yang dia ciptakan sendiri. Mulai merasa ragu apakah misi ini harus dilanjutkan atau tidak, mengingat betapa tangguh dan keras kepalanya sosok Biru yang dia temui di klub kemarin malam.


Karena kalau sampai tidak ada yang berhasil mendapatkan hati anak itu, maka ini akan jadi kegagalan pertama bagi Pain Killer dalam menjalankan misi. Dan sebagai konsekuensinya, Baskara pasti akan melakukan sesuatu terhadap gadis itu karena telah mengacaukan misi mereka.


Entahlah, Fabian juga bingung. Apakah dia sedang mengkhawatirkan citra geng mereka, atau justru mengkhawatirkan nasib Biru ke depannya.


...****************...


Biru sedang menikmati makan siangnya di kantin fakultas, ketika dari meja di seberangnya terdengar kasak-kusuk yang cukup mengganggu.


Meja berisikan empat orang gadis itu terdengar paling bising. Di mana keempat gadis di sana berbicara keras-keras sembari menunjuk ke arah ponsel milik salah satu di antara mereka.


Mulanya, biru tidak terlalu peduli pada apa yang mereka bicarakan. Dia hanya merasa ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya supaya bisa segera pergi dari sini karena kepalanya mulai pusing mendengarkan ocehan empat gadis itu.

__ADS_1


Namun, ketika ada satu nama yang disebut dalam obrolan mereka, Biru secara refleks menajamkan indera pendengaran dan menguping obrolan mereka yang tersisa.


"Iya, semalam Baskara menang balapan lagi."


"Hadiahnya si Jasmine, kan? Anak Fakultas Ekonomi semester empat itu?"


"Yang katanya peliharaannya Om-om perut buncit?"


"Iya, yang itu."


"Dih, kok Baskara doyan sih sama ayam kampus kayak gitu?"


"Yah, namanya juga laki-laki. Mau dikasih bentukan kayak gimana juga pasti mau-mau aja, apalagi gratis."


"Iya juga, sih. Tapi kalau Jasmine itu udah next level banget, harusnya Baskara nggak usah deket-deket sih, ngeri bakal jadi ATM berjalan selanjutnya."


"Lo pikir Baskara segoblok itu? Memangnya nggak pernah dengar kalau Baskara nggak akan pernah tidur sama satu cewek yang sama lebih dari sekali?"


"Soal itu sih, gue tahu. Tapi memangnya, itu beneran? Bukan cuma rumor?"


"Beneran, lah. Udah jadi rahasia umum kali."


"Bener banget, makanya kan banyak yang bangga kalau bisa tidur sama Baskara. Berasa habis menang piala Oskar."


Biru tersenyum miring mendengar ocehan empat gadis tersebut. Entah apa yang sebenarnya sedang mereka diskusikan, yang jelas, yang bisa Biru tangkap dari obrolan itu adalah bahwa sosok bernama Baskara yang sedang mereka bicarakan adalah laki-laki bajingan yang sukanya meniduri banyak perempuan.


Lalu, senyum miringnya semakin menjadi-jadi saat wajah dan nama Baskara yang dia kenal mampir ke kepala. Dia pikir, cuma Baskara yang dia kenal saja yang bajingan, ternyata ada juga Baskara lain yang bahkan jauh lebih bajingan.


Menjijikkan. Hanya satu kata itu yang kemudian bisa dia pakai untuk mendeskripsikan sosok Baskara yang sedang menjadi topik pembicaraan itu, yang bahkan belum dia lihat secara langsung seperti apa wujudnya.


Ternyata, mendengar cerita tentang laki-laki bernama Baskara itu telah membuat nafsu makannya menghilang. Padahal makanan masih lebih dari setengah, dan dia biasanya bukan tipikal yang suka menyia-nyiakan makanan.


Akhirnya, Biru bangkit dari duduknya. Terpaksa membiarkan makanannya tersisa banyak dan bergegas pergi meninggalkan area kantin yang suasananya memang sudah mulai tidak kondusif.

__ADS_1


Lebih baik dia pergi ke tempat lain, untuk menetralkan kembali isi kepala yang telah terkontaminasi oleh omongan-omongan empat gadis tadi yang menjijikkan.


Bersambung


__ADS_2