Taruhan

Taruhan
Tak Biasa


__ADS_3

Mobil Fabian, Baskara, Juan dan Reno sampai di kampus secara bersamaan. Baskara dan Jeffrey yang pertama kali keluar dari mobil, dan langsung menjadi pusat perhatian karena seluruh isi kampus tentu tahu siapa Jeffrey, yang merupakan salah satu petinggi penting di kampus ini.


Bisik-bisik langsung terdengar di antara para mahasiswa yang berlalu-lalang di sana. Sebagian salah fokus pada kehadiran Jeffrey, yang jarang sekali berada di satu kesempatan yang sama dengan putranya, Baskara. Sebagian menganggumi kekompakan anggota Pain Killer yang datang secara bersamaan pagi ini, sekaligus bertanya-tanya apakah mereka memang janjian untuk datang bersama atau hal itu terjadi karena sudah terjalin ikatan batin yang kuat. Sebagian lagi hanya kembali mengagumi ketampanan dari masing-masing anggota Pain Killer.


Beberapa saat kemudian, Fabian menyusul turun dari mobil di urutan ke-dua, dilanjut Reno dan Juan. Ketiga orang itu langsung saling pandang saat menemukan eksistensi Jeffrey di samping Baskara. Tatapan mereka penuh tanya, dan tentu tidak satupun dari mereka yang berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan itu.


"Papa mau langsung ke gedung rektorat." Kata Jeffrey, setelah menyerahkan kunci mobil kepada Baskara.


Baskara memandangi kunci mobil itu, kemudian beralih menatap sang ayah.


"Papa bawa aja mobilnya, nanti Baskara balik bareng Fabian."


Jeffrey langsung mengangguk, kemudian mengantongi kembali kunci mobil itu di saku kemejanya.


"Ya udah, kalau gitu Papa duluan," pamit Jeffrey.


Sebelum betulan melangkah pergi, Jeffrey menyempatkan diri menghampiri teman-teman putranya. Dia berhenti di depan Reno dan Juan, menyunggingkan senyum kepada sepasang sepupu itu.

__ADS_1


"Ayah kalian sehat?" tanyanya.


Reno dan Juan kembali saling tatap, seperti sedang berkoordinasi tentang siapa yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian, telah diputuskan bahwa Juan lah yang kali ini kebagian peran.


"Sehat, Om." Jawabnya. Senyum disunggingkan dengan paksa, hanya sebagai formalitas dan bentuk rasa sopan kepada orang yang jauh lebih tua.


Jeffrey manggut-manggut, lalu tidak ada lagi pertanyaan yang dia lontarkan kepada Juan dan Reno. Kini, dia beralih kepada Fabian, yang sedari tadi cuma terdiam di samping mobilnya sendiri.


"Bi, sehat?" tanyanya. Untuk Fabian, senyum yang Jeffrey sunggingkan sedikit lebih lebar. Tatapannya juga terasa lebih teduh, lebih ramah dan tidak terkesan hanya berbasa-basi.


"I'm good, Om." Fabian menjawab sekenanya. Tidak ada senyum basa-basi yang dia sunggingkan untuk Jeffrey, karena pada dasarnya dia memang bukan tipikal yang suka melakukan sesuatu hanya demi membangun image anak baik-baik.


Jeffrey mengangguk, "Good, then." Lalu ia menepuk bahu pemuda itu beberapa kali. "If you need something, just tell me." Imbuhnya.


Butuh lebih dari enam detik bagi Fabian hanya untuk menganggukkan kepala. Dia bingung, jujur saja. Karena setahunya, Jeffrey bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi seperti itu. Lelaki itu tidak pernah berusaha mengakrabkan diri sebelumnya, jadi terasa aneh bila sekarang Jeffrey melakukannya.


"Om pergi, ya, titip Baskara." Kali ini, perkataan itu dia tujukan untuk semua teman Baskara, yang ketiganya kemudian mengangguk secara serempak.

__ADS_1


Setelah itu, Jeffrey mengayunkan langkah, berderap meninggalkan Baskara dan teman-temannya.


Selepas kepergian Jeffrey, empat pemuda itu berdiam diri cukup lama, mengikuti ke mana langkah kaki Jeffrey pergi.


Tatapan keempat anggota Pain Killer masih tertuju pada sosok Jeffrey sampai lelaki itu menghilang di balik belokan. Lalu, Fabian menjadi orang pertama yang menarik pandangan dan bergerak mendekati Baskara yang berdiri di sisi mobil.


"Gue nggak lagi salah lihat, kan?" bisiknya.


Baskara menoleh, dan mereka saling tatap sebentar sebelum akhirnya dia menghela napas pelan. "Nggak salah lihat, sih. Tapi gue sendiri juga bingung kenapa manusia itu bisa tiba-tiba muncul seolah nggak terjadi apa-apa."


"Jadi, gue harus senang atau sedih buat lo?" Fabian mengikuti arah pandang Baskara yang kini kembali menatap ke depan, mengais jejak keberadaan Jeffrey yang tertinggal bersama aroma tubuh lelaki itu yang melayang-layang di udara.


"Entahlah, Bi. Gue sendiri nggak ngerti," Baskara memelas.


Fabian menghela napas panjang, hanya sedetik setelah Baskara melakukan hal yang sama.


Sementara itu, Reno dan Juan tidak punya daya lebih banyak untuk berjalan mendekat. Mereka berdua malah terbengong-bengong di tempatnya, ikut-ikutan menatap kepergian Jeffrey dengan isi kepala yang tidak kalah penuh dengan tanda tanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2