Taruhan

Taruhan
Konsultasi


__ADS_3

Dokter Abraham selalu punya cara untuk membuat Fabian merasa nyaman. Alih-alih menyuruhnya datang ke tempat praktek dan membuatnya terlihat seperti orang gila sungguhan, lelaki tampan itu selalu mengajaknya bertemu di tempat-tempat yang umum digunakan untuk berbincang dengan teman.


Sore ini, pilihannya jatuh pada sebuah cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat praktek lelaki itu. Cafe dengan tema klasik yang menyuguhkan ketenangan melalui musik yang mengalun apik serta ornamen-ornamen yang cantik.


Di atas meja bundar tempat Dokter Abraham dan Fabian duduk berseberangan, telah tersaji satu Cold Brew dan satu Hot Americano. Fabian mengambil Cold Brew miliknya, memperhatikan air yang menetes dari lelehan es di dalam gelas selama beberapa detik sebelum akhirnya menyedot minuman berbahan dasar kopi tersebut.


Hot Americano milik Dokter Abraham juga turut diambil, disesap perlahan lalu diakhiri dengan bunyi ahh panjang khas bapak-bapak yang begitu ekspresif kala menikmati kopinya.


Lama terdiam dengan minuman masing-masing, Dokter Abraham akhirnya menjadi orang pertama yang buka suara setelah meletakkan minumannya ke atas meja. Dengan tatapan teduhnya yang sama sekali tidak berubah, ia menatap Fabian. Begitu dalam, seperti sengaja ingin membuat pemuda itu tenggelam.


"How's your Mom?" tanyanya.


Fabian menyedot Cold Brew miliknya sekali lagi, lalu meletakkan gelas yang setengah kosong ke atas meja selagi matanya membalas tatapan intens Dokter Abraham. "Saya nggak tahu apakah keadaan dia baik atau buruk," jawabnya. Tak lupa senyum miris yang selalu datang secara otomatis setiap kali ia membicarakan tentang sang ibu.


Dokter Abraham tidak menampakan ekspresi kasihan, itulah kelebihan lelaki itu di mata Fabian. Dengan Dokter Abraham tidak memandangnya sebagai anak yang malang, Fabian jadi merasa lebih nyaman untuk berbagi banyak hal.


Ya, ya. Fabian tahu itu memang sudah menjadi keharusan bagi Dokter Abraham untuk mengerti bagaimana caranya bersikap di depan pasien. Lelaki itu tentu membayar mahal untuk ilmu yang ia peroleh semasa kuliah dulu.


"Akhir-akhir ini, dia sama sekali nggak bikin keributan. Alkohol yang biasa dia konsumsi juga sama sekali nggak disentuh," Fabian mulai bercerita. Semakin banyak kata yang keluar, keberaniannya untuk bersitatap dengan Dokter Abraham justru semakin menipis. Jadi ia buru-buru melarikan pandangan keluar jendela, menatapi apa saja yang tertangkap oleh matanya. "Saya nggak tahu apakah itu pertanda baik, atau justru sebaliknya. Rasanya kayak dia lagi menyiapkan sesuatu yang lebih besar di balik sikap tenangnya."


"Obat yang saya resepkan, masih nggak dia minum sama sekali?"

__ADS_1


Tanpa menolehkan kepala, Fabian menggeleng. "Disentuh pun nggak," ucapnya. Beberapa hari yang lalu, ia menyelinap masuk ke dalam kamar sang ibu untuk memeriksa botol obat yang terakhir kali Dokter Abraham resepkan. Dan hasilnya benar-benar sesuai dugaan. Isi di dalam botol obat itu sama sekali tidak berkurang.


Samar-samar, Fabian mendengar hela napas datang dari arah Dokter Abraham. Hela napas yang belum pernah Fabian dengar selama ia mempercayakan cerita tentang ia dan ibunya kepada lelaki itu.


Untuk itu, Fabian menolehkan kepala. Dan betapa terkejutnya ia kala mendapati, untuk pertama kalinya, Dokter Abraham menampakkan raut sedih yang kentara. Sebagai orang awam, Fabian hanya bisa berpikir bahwa raut sedih itu muncul atas dasar kekecewaan karena Dokter Abraham mungkin merasa telah gagal membantu pasiennya.


Tidak akan pernah terbayang oleh Fabian kalau raut sedih itu hanya pura-pura. Sebuah kamuflase yang sengaja dijalankan untuk menarik simpatinya. Tidak pernah. Karena Fabian itu aslinya bodoh, dan terlalu naif.


"Kita harus bisa membuat Raya menceritakan semua yang menganggunya, Bi." Kata Dokter Abraham sendu. "Kalau nggak, saya juga nggak akan bisa bantu banyak."


"Selama ini Raya cuma mengatakan sedikit sekali informasi, seolah-olah dia nggak percaya sama saya selaku dokter yang hendak membantu dia untuk sembuh."


"Dia memang nggak percaya siapapun, Dok." Fabian menyela. Tarikan napas yang begitu dalam menjadi awal berbagai kenangan buruk yang kembali muncul di kepala. "Sepertinya, semua orang yang ada di muka bumi ini adalah jahat di mata dia."


Sentuhan yang terasa hangat di tangan Fabian membuat suasana hatinya semakin membiru. Lebam-lebam yang hanya disamarkan, diam-diam muncul lagi saat tangan besar Dokter Abraham terus mengusap punggung tangannya dengan gerakan yang teratur. "Kamu nggak boleh menyerah dulu, Bi. Nggak ada di antara kita yang boleh menyerah sebelum Raya berhasil diselamatkan."


"Tapi saya benar-benar udah nggak tahu lagi harus gimana, Dok." Fabian menatap Dokter Abraham frustrasi.


"Pertama-tama, mari pastikan Raya minum obatnya dulu. Obat yang saya resepkan itu gunanya untuk membantu dia mengatur emosi dan suasana hati yang nggak menentu," tutur Dokter Abraham. "Kalau dia udah bisa minum obat secara teratur, dia akan lebih mudah untuk diajak kerja sama."


Fabian tahu. Tetapi, bagaimana caranya? Bagaimana ia bisa membuat ibunya mengonsumsi obat-obat itu?

__ADS_1


"Pasti ada cara untuk membuat Raya mau minum obatnya. Dengan membuat kesepakatan, misalnya." Usul Dokter Abraham.


Mendengar kata kesepakatan, Fabian kembali tersenyum miris. Sebab hanya satu kesepakatan yang terlintas di kepalanya, yang ia tahu sang ibu tidak akan menolaknya. "Saya bisa aja menawarkan satu kesepakatan kepada dia," lirihnya.


"Tapi?"


Fabian geming. Bibirnya tak mampu menjelaskan apa yang sekarang terputar di kepala. Jadi akhirnya, dia hanya bisa menggelengkan kepala.


"Saya akan coba," ucapnya beberapa saat kemudian. Tanpa berusaha menyinggung perasaan Dokter Abraham, ia menarik tangannya yang masih ada di bawah kungkungan lelaki itu. Sebuah senyum Fabian ukir, sebagai tanda terima kasih tambahan karena Dokter Abraham telah bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya setelah sekian lama. "Saya akan coba, Dok. Saya akan coba." Ulangnya.


Kesediaan itu disambut hangat oleh Dokter Abraham. Tampak jelas dari bergeraknya sudut bibir lelaki itu membentuk sebuah senyuman tipis yang menjalar sampai ke mata. "Saya akan selalu ada untuk bantu kamu dan Raya." Kata lelaki itu.


"Terima kasih, Dok." Kata Fabian pelan.


Dokter Abraham membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman yang lebih lebar. Begitu menurut Fabian.


Padahal, senyum itu melebar karena sedari tadi, lelaki itu telah merekam percakapan mereka secara diam-diam melalui alat perekam berbentuk pena yang disimpan di dalam buku catatan keramat yang ia bawa ke mana-mana. Rekaman itu tersambung langsung ke dua ponsel, satu miliknya, satu lagi milik Sera.


Tentu, senyum itu terkembang kala Dokter Abraham membayangkan saat ini Sera tengah mendengarkan obrolannya dengan Fabian. Di mana perempuan itu pasti sedang bersorak gembira karena sejauh ini masih berhasil membuat hidup Raya berantakan.


Hati nurani Dokter Abraham telah terkikis habis. Profesinya sebagai seorang Psikiater sama sekali tidak membuatnya merasa bertanggung jawab atas keselamatan jiwa Fabian dan Raya. Karena kalau urusannya dengan Sera, maka perempuan itu akan selalu menang. Di atas segala-galanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2