
Empat belas hari setelah kematian Samara Jasmine, orang-orang mulai menjalani kehidupannya dengan normal. Seakan kepergian gadis itu tidak pernah menjadi sesuatu yang menggemparkan. Kebijakan baru dari pihak kampus yang kemudian menempatkan beberapa staf khusus untuk memantau berbagai hal yang diunggah di base kampus pun sudah diterima dengan lapang dada oleh semua penghuni Neo. Tak ada lagi protes yang mereka layangkan seperti sebelumnya karena toh ternyata efeknya cukup siginifikan untuk memberantas adanya unggahan dengan ujaran kebencian.
Selain kebijakan dalam membuat unggahan di base kampus, pihak kampus juga mewajibkan seluruh penghuni Neo—entah itu mahasiswa, dosen ataupun staf—untuk mengikuti sesi konseling yang diadakan secara bergilir setiap 2 minggu sekali. Semua biayanya ditanggung oleh pihak kampus, sebagai upaya untuk mencegah orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Neo terserang penyakit mental yang bisa berujung pada tindakan bunuh diri.
Hari ini, giliran Biru yang mendapatkan sesi konseling dengan tenaga profesional setelah kelasnya selesai. Tidak sendiri, dia bersama dengan beberapa orang lain dari jurusan yang berbeda, kini sedang duduk di kursi tunggu, menunggu antrean untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang disediakan khusus untuk sesi konseling ini. Ruangan itu dulunya merupakan gudang penyimpanan alat-alat bekas pakai dari berbagai komunitas yang ada di Neo, dan berhubung banyak komunitas yang akhirnya tak berjalan lagi, ruangan itu pun dipilih untuk dialihfungsikan menjadi ruangan yang sekarang.
Sudah sekitar 25 menit Biru menunggu. Beberapa orang yang turut menunggu bersama dengannya tampak saling mengobrol, membangun koneksi dengan satu sama lain. Tapi Biru tidak tertarik untuk ikut terjun ke dalam obrolan itu, lebih memilih menekuri ponselnya yang padahal tidak menunjukkan sesuatu yang menarik. Isinya cuma itu-itu saja ketika dia membuka semua akun media sosial yang dimiliki. Hanya seputar gosip viral para artis, korupsi dan kasus-kasus viral lain yang terkadang terlalu dilebih-lebihkan untuk membuat kehebohan.
Ting!
Satu notifikasi muncul di ponselnya ketika Biru sedang membaca artikel tentang kasus penganiayaan seorang remaja oleh anak dari salah satu petinggi dirjen pajak. Karena nama Baskara dengan emotikon hati warna merah yang muncul di sana, Biru buru-buru mengecek pesan apa yang pemuda itu kirimkan untuk dirinya. Yeah, akhir-akhir ini pemuda itu menjadi sedikit cerewet. Semenit saja dia telat membalas pesan, pemuda itu akan uring-uringan. Ini benar-benar seperti mereka kembali ke tahap awal di mana mereka baru mulai berpacaran.
Hari ini jadwal konseling?
Ternyata, begitu isi pesan yang dikirim oleh Baskara.
Iya.
Singkat, padat, jelas dan menyebalkan. At least lo bisa basa-basi buat balik nanyain gue sesuatu.
Gue lagi nggak mood basa-basi, ananda Pramudya Baskara yang terhormat. Anw, kalau lo udah selesai kelas, mending melipir ke kantin. Tolong beliin gue roti sama air mineral, perut gue sakit, kayaknya asam lambung gue naik.
Pergi lo dari sana. Cari makan sama gue, nggak usah ikut konseling.
Pala lo. Dikit lagi giliran gue, nggak usah aneh-aneh. Udah, tolongin aja beli yang gue mau. Nanti gue samperin lo buat ambil.
Satu balasan lagi masuk, tapi Biru tidak sempat membacanya karena seseorang baru saja keluar dari pintu, dan seseorang lain datang menyusul sambil memanggil namanya. Sudah gilirannya untuk masuk ke dalam ruangan, jadi ponsel yang sedari tadi dia tekuri kemudian dimasukkan ke dalam tas dan dia segera masuk agar tidak membuat orang lain menunggu.
Saat melangkah masuk, dia disambut oleh seorang wanita sekitar usia 30-an yang tampak cantik dengan riasan natural di wajahnya. Rambutnya pendek sebahu, lurus dan berwarna cokelat gelap. Manik matanya berwarna cokelat terang, hidungnya mancung dan bibirnya yang kecil tampak tersenyum lembut—selembut warna blouse yang dikenakan oleh wanita tersebut; warna peach.
“Silakan duduk.” Wanita itu mempersilakan ia untuk duduk di sebuah kursi kayu di seberang meja.
Biru menurut. Kursi kayu itu dia tarik ke belakang, lalu dia duduki pelan-pelan. Tatapannya tak terlepas dari wajah ayu wanita di depannya. Seakan sudah sepenuhnya tersihir oleh kecantikan alami yang dipancarkan dari seluruh bagian di tubuh sang wanita.
“Oke, Biru. Kita mulai sesi konselingnya, ya. Kamu bisa curahkan semua yang kamu rasakan akhir-akhir ini. Santai saja, tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena di sini, kita adalah teman.” Kata wanita itu dengan suara yang jernih menenangkan.
Biru mengangguk pelan, seraya menarik napasnya dalam-dalam sebelum mulai membuka mulutnya untuk berbicara.
...****************...
__ADS_1
Tidak sampai 1 jam kemudian, Biru sudah selesai dengan sesi konselingnya. Dia berjalan keluar dari dalam ruangan dengan hati yang benar-benar terasa jauh lebih ringan. Beban berat yang dia pikul sendirian selama ini, terasa terangkat banyak sehingga membuat bahunya bisa kembali tegak.
Dari ruang konseling, Biru berjalan menyusuri koridor. Niatnya, dia hendak mencari keberadaan Baskara untuk menagih roti dan air mineral yang dia minta. Tapi yang ada, lengannya malah langsung ditarik oleh pemuda itu begitu dia sampai di ujung koridor. Entah dari mana munculnya pemuda itu, mungkin memang sudah menunggunya sedari dia masuk ke dalam ruang konseling tadi.
“Kan gue bilang nanti gue yang ambil,” oceh Biru kala Baskara menyeretnya semakin menjauh. Area sekitar gedung di mana ruang konseling itu sepi, karena letaknya memang agak sedikit di pojok bagian belakang kampus. Jadi Biru pikir tidak apa-apa membiarkan Baskara menarik lengannya seperti ini. Toh pikirnya kemungkinan tertangkap mata orang lain hampir tidak ada.
“Mana kenyang makan roti doang. Gue udah bikin reservasi di cafe punya kenalan nyokap, kita makan di situ.” Ucap Baskara sambil celingukan, memastikan tidak ada mata yang melihat gerak-geriknya dan Biru. Dia pribadi sih tidak terlalu pusing kalau fans fanatiknya menghilang karena tahu dia sudah punya pacar. Yang jadi kekhawatirannya adalah kemungkin Biru akan diserang.
“Lo lebay banget, sumpah.”
“Nggak ada kata lebay kalau itu berkaitan sama lo. Bikin reservasi di cafe doang mah kecil. Bahkan kalau lo minta gue buat beli pulau sekalipun, gue jabanin saat itu juga.”
“Pakai duit siapa?”
“Duit orang tua.” Celetuk Baskara sambil cengengesan.
Biru geleng-geleng kepala, tapi tak urung ikut menertawakan betapa asalnya cara pemuda itu berbicara.
“Yang lain udah pada balik?” tanya Biru ketika Baskara menyelundupkannya ke dalam mobil. Pemuda itu rupanya sudah bersiap sedemikin rupa, sampai memarkirkan mobilnya di area belakang kampus supaya mereka tidak perlu berjalan ke parkiran yang ramai.
“Udah dari sejam yang lalu.”
“Cewek gue kelaperan, masa iya gue tinggal balik? Nggak bertanggung jawab banget kesannya gue jadi laki-laki.”
“Gue udah gede, anjir. Perkara makan doang mah bisa cari sendiri.”
“But you ask me to buy you something to eat. Artinya apa? Yak, benar, lo masih butuh gue.” Tak membiarkan Biru mengoceh lagi, Baskara langsung tancap gas.
Lokasi cafe yang Baskara maksud lumayan jauh. Jaraknya kurang lebih 45 menit perjalanan. Jadi untuk mengusir kebosanan selama mereka berkendara menyusuri jalanan yang cukup lengang, Baskara berinsiatif memutar radio agar tidak cuma ada keheningan.
Suara lembut nan khas milik Raissa Anggiani menyerbu udara. Berputar-putar di sekeliling mereka sebelum masuk ke dalam indera pendengaran mereka. Baskara melirik ke samping, pada Biru yang tampak berkomat-kamit tanpa suara—sepertinya sedang ikut menyanyikan lirik lagu, namun tak cukup percaya diri untuk mengeluarkan suaranya.
Senyum Baskara mengembang, lalu ia melepaskan tangan kirinya dari kemudi, lantas membawanya bergerak menuju tangan Biru yang bertaut di pangkuan. Tangan yang lembut itu dia raih, dia bawa mendekat untuk kemudian dia berikan sebuah kecupan sebagai apresiasi karena gadis itu masih bersedia berada di sini, mengisi setiap ruang yang kosong di dalam dirinya.
Satu kecupan rasanya tak cukup. Maka Baskara menambahkan tiga kecupan lagi di sana, lalu tangan itu dia genggam erat, dia simpan di atas satu pahanya sementara matanya masih fokus pada jalanan yang mereka lalui.
Biasanya, Biru banyak protes. Skinship yang terlalu berlebihan dan terkesan alay menurutnya pasti akan dia tolak mentah-mentah. Tapi sore ini, ketika langit di atas mereka menampakkan warna-warna hangat yang menenangkan hati, dia membiarkan tangannya sepenuhnya dikuasai oleh pemuda di sampingnya itu.
...****************...
__ADS_1
Biru cuma bisa melongo saat mendapati cafe yang mereka tuju dalam keadaan kosong tanpa satupun pelanggan. Yang ada hanya staf. Satu orang staf perempuan yang tadi menunggu mereka di depan pintu dan mengantarkan mereka ke meja yang sudah dipesan, kembali lagi bersama tiga orang staf lain yang masing-masing membawa nampan di tangan. Berbagai menu terhidang kemudian, memanjakan mata dan hidung biru dengan penampakan yang cantik serta aroma yang menggugah selera.
Setelah semua menu dihidangkan, tiga staf yang membawanya kemudian pergi. Staf perempuan yang mengantar mereka tadi, kemudian mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan dengan khidmat, tanpa sedikitpun gangguan.
Baskara tersenyum ramah pada staf perempuan tersebut, mengucapkan terima kasih lalu mempersilakannya pergi agar dia dan Biru bisa mulai menyantap makanan yang ada.
“Ini too much.” Biru memicing ke arah Baskara yang mulai menyantap makanannya. Yang diprotes cuma mengendikkan bahu, lantas lanjut makan seolah tidak mendengar apa-apa.
“Gue nggak suka, Bas.”
Mulut Baskara yang terbuka lebar untuk menerima suapan, seketika kembali tertutup. Sendok dia letakkan di atas piring, lalu dia menumpukan kedua tangannya di atas meja. “Nggak suka apa, hmmm?” tanyanya lembut.
“Ini semua. Terlalu berlebihan. Kita bisa makan di warteg pinggir jalan, pecel lele, atau apapun itu yang nggak perlu ngeluarin banyak duit. Dan ...” Biru menjeda, kepalanya kembali menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan pelanggan lain. “Lo bahkan bikin reservasi for the whole cafe? Bukan cuma satu meja.” Sambungnya setelah kembali menatap Baskara.
“Cuma sesekali. Gue nggak akan sering-sering ajak lo ke tempat kayak gini, kok. Yeah, you know my parents still pay my bills.”
Jawaban itu agaknya tidak membuat Biru puas. Gadis itu masih saja cemberut. “Makan aja, Sayang. Udah terlanjur gue pesan juga, nggak mungkin gue balikin ke dapur, kan?”
“Ya nggak gitu maksudnya—“
“I know, I know. Sekali ini doang, besok-besok nggak lagi. Udah, sekarang makan dulu.” Baskara menggeser omurice beef lebih dekat ke arah Biru. “Ini kalau udah dingin nggak enak. Cepetan makan, habis ini gue anterin lo pulang.”
“Mobil gue masih di kampus.”
“Gampang lah itu, nggak akan hilang juga. Buruan makan deh, atau mau gue suapin?”
“Nope.” Biru menolak tawaran Baskara. Walaupun masih sambil cemberut, dia mulai memakan omurice beef yang tersaji di depannya.
Baskara tak kuasa menahan senyum melihat bagaimana pipi Biru menggembung penuh makanan. Bibir kecilnya yang masih manyun terlihat semakin manyun ketika gadis itu sibuk mengunyah. Bukannya lanjut makan, dia malah bertopang dagu, senyum-senyum sendiri memperhatikan suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Sabiru.
Sedang asik begitu, ponsel yang dia kantongi tiba-tiba bergetar. Terpaksa dia mengalihkan pandangannya dari Biru, lantas mengeluarkan ponsel untuk memeriksa notifikasi apa yang barusan muncul tadi.
Kerutan muncul sangat jelas di dahinya ketika mendapati adanya sebuah pesan masuk di e-mail pribadinya. Itu bukan e-mail yang dia gunakan untuk berbagai urusan perkuliahan, jelas aneh jika muncul pesan dari seseorang ke akun e-mail yang itu.
Biru menyadari Baskara terpaku dengan ponselnya cukup lama. Gadis itu kemudian berinisiatif menepuk pelan punggung Baskara untuk membantu menyadarkan pemuda itu dari lamunan.
“Kenapa?” tanyanya khawatir karena raut wajah Baskara terlalu sulit untuk dibaca.
Tapi seolah tak terjadi apa-apa, Baskara mengulaskan senyum tipis seraya menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Terusin makannya.” Kata pemuda itu lalu menyimpan kembali ponselnya. Biarlah dia periksa e-mail itu nanti setelah dia sampai di rumah. Sekarang, waktunya dia menemani pacarnya menyantap makanan, sampai gadis itu kenyang.
__ADS_1
Bersambung