
Matahari telah redup sejak beberapa menit lalu, menyisakan sedikit kehangatan yang tertinggal dari dirinya yang bersinar seharian.
Di parkiran Fakultas Teknik yang sudah sepi, Fabian duduk terpekur di atas kap mobilnya sendiri. Pandangannya menerawang ke atas, pada langit yang telah perlahan-lahan berubah menjadi pekat. Lampu-lampu yang dipasang di tiang tinggi di sekitar parkiran menjadi saksi, betapa ia kini tengah bimbang setengah mati.
Persoalannya hanya sepele. Ia hanya sedang bimbang untuk memilih, apakah ia tetap harus datang ke apartemen Biru untuk memenuhi janji mengajari gadis itu memasak, atau ia harus ingkar demi menjaga hubungannya dengan Baskara tetap baik-baik saja.
Memang, belum ada yang pasti dari hubungan Baskara dan Sabiru sekarang. Mereka memang merupakan mantan kekasih di masa lalu, namun kini, Fabian masih tidak tahu apakah kisah itu telah usai atau justru malah kembali dimulai. Sekalipun itu telah usai, Fabian juga tidak yakin ia punya nyali yang cukup untuk menyentuh Sabiru. Selain karena takut akan melukai gadis itu dengan segala kekurangan yang ia miliki, Fabian juga tidak ingin ada sedikit pun alasan untuk membuat hubungannya dengan Baskara merenggang.
Sebab sampai saat ini, Baskara bagi Fabian masih lah bagian terpenting dalam hidupnya. Ia bisa kehilangan segalanya, asal bukan Baskara. Itu yang selalu ia percaya.
Lama merenung, jawaban yang ia nanti tak kunjung datang. Getar demi getar yang terasa dari ponsel di dalam saku jaketnya juga tak banyak memberikan pertolongan sebab mereka datang dari pesan-pesan acak yang teman-temannya kirimkan di grup chat. Entah apa yang sedang menjadi topik perbincangan di sana karena Fabian sama sekali tidak berusaha membaca lebih banyak. Entah itu soal Jasmine yang masih belum jelas keberadaannya (gadis itu mendadak absen dari kegiatan perkuliahan) atau justru soal agenda taruhan mereka yang selanjutnya, mengingat taruhan periode ini akan berakhir dalam waktu dekat.
Kepala Fabian rasanya penuh sekali sekarang. Dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain mulai menghitung ruas-ruas di sepuluh jari tangan untuk menentukan apakah ia harus pergi atau tidak.
Jangan. Pergi. Jangan. Pergi. Jangan. Pergi. Jangan ... Pergi.
Hasil hitungannya berhenti pada keputusan bahwa ia harus pergi. Tapi, jawaban itu tidak lantas membuatnya puas dan malah menimbulkan lenguhan kecewa yang entah dari mana datangnya.
Padahal, ia sengaja memulai dari jangan agar hasil akhirnya pun sama. Tapi mau dikatakan apa lagi? Fabian tak punya cara lain untuk memutuskan. Maka ia segera melompat turun dari atas kap mobil, lalu bergerak masuk dan duduk di atas kursi pengemudi.
Seatbelt tak ia pasang, sebab gerak kakinya jauh lebih cepat menginjak pedal gas hingga mobilnya pun melaju. Dalam sekejap, mobil itu telah bergabung dengan kendaraan lain yang memadati jalan raya. Suara klakson yang bersahut-sahutan adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah ketika Fabian dengan sengaja menyalakan radio, hanya untuk membiarkan berbagai lagu galau terputar memenuhi seisi mobil dan mengambil alih fokus di kepala.
"Gue nggak lagi galau, anjing." Lirihnya. Namun bibirnya lamat-lamat ikut menyanyikan sepenggal lirik dari lagu galau yang terputar ketika mobilnya melaju setengah jalan.
...****************...
Tempat pertama yang langsung Fabian tuju begitu pintu apartemen Sabiru dibuka adalah dapur. Ia bahkan membawa serta tas punggungnya ke sana, untuk kemudian diletakkan di atas salah satu kursi meja maka.
Jaket yang sedari tadi membalut tubuhnya ditanggalkan, menyisakan kaus pas badan warna putih yang membuat otot dada dan perut yang jarang ia pamerkan lantas tercetak jelas di sana.
Fabian memang suka memasak, mencoba banyak sekali menu baru karena hanya itu satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk tetap memberi asupan kepada tubuhnya sendiri sedari dulu. Maka ketika ia dihadapankan pada begitu banyak bahan makanan segar yang tertata rapi di dalam kulkas, ia tampak begitu bersemangat mengeluarkan mereka satu persatu.
Sawi hijau, brokoli, wortel, udang, cumi dan beberapa bahan lain ia letakkan di atas counter. Lalu ia bergerak cekatan mengambil pisau dan talenan serta beberapa wadah lain untuk menaruh sayuran yang akan ia siangi.
Di tengah-tengah kegiatannya itu, ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Lantas, ia mengehentikan kegiatannya yang tengah mengupas wortel, kemudian berbalik mencari keberadaan Sabiru yang seharusnya berdiri di sampingnya untuk memperhatikan proses memasak yang akan ia tunjukkan.
"Sini." Perintahnya sambil melambaikan tangan yang masih memegang pisau.
Keberadaan pisau itu jelas membuat Sabiru bergidik ngeri. Sambil takut-takut, gadis itu berjalan mendekat. "Pisau lo horor!" gadis itu memprotes.
"Nggak tajem-tajem amat, kalaupun kena ke lo, nggak akan sampai bikin lo mati." Cerocos Fabian asal. Tidak penting soal pisau, lebih penting untuk segera memulai kelas memasak karena ia sama sekali tidak berniat untuk berlama-lama berada di sini.
Sabiru berdecak, tapi tetap berdiri di sebelah Fabian setelah pemuda itu kembali membalikkan badan dan mencurahkan fokus pada bahan makanan di atas counter.
"Kita mau masak apa hari ini?" tanyanya sambil meneliti setiap bahan makanan yang tersaji di depan mereka.
__ADS_1
"Yang gampang aja, capcay seafood." Jawab Fabian sambil menggeprek bawang putih kemudian mencincangnya kasar.
"Gue cuma ngeliatin aja? Nggak disuruh nyobain juga?"
Fabian menjeda lagi kegiatannya. Kali ini ia sedang memotong tomat menjadi beberapa bagian. Dipikir-pikir sebentar, ada benarnya juga. Memang lebih baik langsung praktek daripada hanya menonton. Maka tanpa banyak bacot, Fabian mengoper pisau dari tangannya ke arah Sabiru dengan memastikan bagian runcing ada di tangannya. Itu sudah menjadi kebiasaan. Setiap kali hendak mengoper benda-benda tajam seperti gunting atau pisau, ia akan memastikan memastikan orang yang menerimanya tidak akan terluka dengan membiarkan mereka meraih bagian gagangnya. Sebuah kebiasaan yang sederhana, namun tidak semua orang mampu menerapkannya.
"Lo lanjutin potong tomatnya." Titahnya sembari mengoper tomat yang baru sebagian ia potong.
Sebagai murid yang baik, Biru pun menurut. Tomat diraih, lalu pelan-pelan ia gunakan pisau di tangan untuk memotong tomat selagi Fabian memperhatikan dari samping.
Menurut Biru, cara dia memotong tomat sudah benar. Tapi rupanya hal itu tidak berlaku di mata Fabian. Tergambar jelas dari tindakan pemuda itu yang buru-buru menahan tangannya sebelum ia melakukan potongan berikutnya.
"Nggak gitu caranya." Kata Fabian sambil membetulkan posisi tangan kiri Biru yang terlalu dekat dengan ujung pisau. "Kalau posisi tangan lo kayak gini, lo bakal lebih sering motong jari lo daripada motong bahan-bahan makanan." Sambungnya.
"Coba lagi." Titahnya.
Biru menurut lagi. Dengan usaha maksimal untuk mempertahankan agar posisi jari tangan kirinya tidak berubah dari yang terakhir kali Fabian betulkan, ia kembali mencoba memotong tomat.
Tapi lagi-lagi gerakannya mendapatkan interupsi dari sang master. Membuatnya terpaksa berhenti untuk menunggu titah selanjutnya.
"Duh, nggak gitu, Biru. Gini nih, perhatiin." Fabian menggeser tubuhnya agak kebelakang, lalu meraih kedua tangan Sabiru lantas menggerakkannya perlahan. Posisi mereka sekarang kalau dilihat dari belakang akan tampak seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan back hug di sela-sela sesi memasak. Benar-benar posisi yang rentan akan terjadinya salah paham.
Namun di otak Fabian, sama sekali tidak ada niatan lain selain untuk mengajarkan kepada Sabiru bagamana caranya menggunakan pisau dengan benar dan aman.
Tomat selesai dipotong menjadi ukuran yang sesuai dengan seleranya, kemudian Fabian kembali menjauhkan diri untuk mengoper wortel yang telah dikupas kepada Sabiru.
"Oke," Biru meraih wortel, namun tak langsung mengeksekusi sayuran berwarna oranye itu karena ia sedang memikirkan kembali perintah yang Fabian berikan. Kira-kira, seberapa besar ukuran yang bisa masuk ke dalam mulutnya dalam satu kali suapan? Kurang lebih itulah yang sedang ia pertimbangkan sekarang.
Setelah dapat, Biru pun melaksanakan tugas yang diberikan oleh Fabian. Pelan tapi pasti, wortel itu pun berhasil dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil. Melihat tidak adanya interupsi yang hadir di tengah-tengah kegiatannya memotong wortel, Biru yakin pekerjaannya sudah benar.
Dan memang begitu kenyataannya. Sebab di sampingnya, Fabian sedang tersenyum bangga. Pikirnya, tidak sia-sia juga memutuskan untuk datang karena ternyata Sabiru merupakan murid yang cepat belajar.
Proses setelahnya Fabian ajarkan dengan sabar, dan Sabiru menyerap semua ilmu dengan cepat. Tak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka selama sesi memasak berlangsung, hanya sesekali Fabian melontarkan pujian setiap kali Biru berhasil melakukan sesuatu sesuai arahannya.
Tiga puluh menit kemudian, semangkuk besar capcay seafood telah tersaji di atas meja makan. Asap yang mengepul menguarkan aroma sedap yang membuat air liur di dalam rongga mulut Sabiru berkumpul menjadi satu, siap menetes kalau-kalau gadis itu lupa mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Baunya enak." Komentarnya, Fabian mengangguk tanda setuju.
"Cobain." Titah pemuda itu seraya mengulurkan sendok.
"Langsung dari mangkuk? Nggak sopan."
"Ribet. Buruan," karena Biru tidak kunjung menyendok capcay untuk dicicipi, Fabian pun melakukannya lebih dulu. Bukan untuk dirinya, sendok yang penuh dengan potongan sayur dan seekor udang itu kemudian dia sodorkan ke depan mulut Biru. "Mangap." Titahnya. Tidak ada romantisnya sama sekali. Oh, ya tentu. Mereka memang tidak sedang melakukan makan malam romantis.
Sambil mendelik, Biru membuka mulutnya. Sesendok capcay berpindah ke dalam mulut, lebih dulu menyapa ujung lidahnya yang sensitif baru kemudian menyentuh gigi-giginya ketika ia mulai mengunyah. Rasa gurih yang dihasilkan dari bawang putih cincang dan campuran bumbu lainnya berhasil membuat mata Biru berbinar cerah. Ini jelas jauh dari ekspektasinya. Melampaui harapan awalnya yang hanya sekadar ingin masakannya matang sempurna dan tidak keasinan.
__ADS_1
"Enak," ia berucap di sela-sela kunyahan yang sengaja dibuat perlahan.
Fabian tersenyum tipis, kemudian ikut membuat suapan untuk dirinya sendiri. Sama seperti Biru, ia juga merasa tersentuh pada rasa masakan yang mereka hasilkan malam ini. Rasanya mungkin masih jauh dari kata sempurna, tapi Fabian berani mengatakan bahwa hasil seperti ini jelas cukup baik untuk seorang pemula seperti Sabiru.
"Good job." Komentarnya, lalu membuat satu suapan lagi.
Suapan demi suapan kemudian mereka buat. Sedikit demi sedikit capcay di dalam mangkuk berkurang hingga akhirnya benar-benar tandas, hanya menyisakan beberapa tetes kuah yang sudah tidak bisa diambil menggunakan sendok.
"Gue terharu," ucap Biru sambil menyeka bagian bawah matanya sendiri. Bertingkah berlebihan seolah air matanya sudah berjatuhan tanpa henti.
Fabian terkekeh pelan. Kemudian, entah mendapat bisikan dari mana, ia mengulurkan tangan dengan gerakan perlahan. Satu usapan ia labuhkan di kepala Sabiru, sebagai bentuk apresiasi karena gadis itu telah melewati percobaan pertamanya dengan baik.
"Apa gue bilang, lo pasti bisa. Cuma butuh waktu dan orang yang tepat aja buat ajarin lo semuanya." Ucapnya sambil menatap teduh sosok Sabiru yang entah kenapa, tampak jauh lebih indah di matanya malam ini.
"Thanks, ya...." Biru tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Selama beberapa saat, senyum itu telah berhasil menghipnotis Fabian. Seolah-olah ia sedang dituntun menuju sebuah dunia yang asing, di mana di dalamnya hanya ada taman bunga indah warna-warni. Dunia yang sepenuhnya berbeda dengan yang ia tinggali selama ini, di mana hanya ada gelap yang tak berujung.
Jika Sabiru bukan (atau pernah menjadi) milik Baskara, Fabian mungkin akan mencoba peruntungannya untuk mencintai gadis ini walaupun hanya sekali seumur hidupnya. Sayangnya, Tuhan sepertinya memang tidak mengijinkan ia untuk melabuhkan hati kepada siapapun. Barangkali karena Tuhan telah menentukan bahwa hidupnya tidak akan lama? Entah. Apapun alasannya, Fabian merasa ia tidak lagi punya daya untuk memaki Tuhan atas segala ketetapan yang dibuat-Nya.
Maka sebelum ia tenggelam terlalu jauh ke dalam dunia yang asing itu, Fabian segera menarik diri. Dengan dalih hendak mencuci mangkuk serta peralatan bekas memasak, ia bangkit dari kursi. Mengayunkan langkah lebar meninggalkan Sabiru di posisinya sambil terus berusaha menenangkan gejolak tidak nyaman yang mulai terasa di dada.
"Sadar, Bi. Jangan Sabiru." Ia mengingatkan dirinya sendiri.
"Butuh bantuan?!" teriak Sabiru dari meja makan.
Fabian menoleh sekilas, "Nggak usah. Lo ke depan aja nonton tv, nanti gue nyusul."
Kegiatan mencuci piring kemudian menjadi pengalihan isu. Agar pikirannya tidak semakin semrawut dan ia memiliki waktu untuk menarik kesadarannya kembali.
Satu persatu piring dan peralatan masak telah selesai ia cuci dan ia letakkan kembali ke rak. Setelah mengeringkan tangan menggunakan tisu, Fabian pun berjalan ke ruang depan untuk menyusul Sabiru.
Senyum terbit tanpa bisa dicegah kala Fabian menemukan Sabiru tengah mengomel selagi matanya fokus menatap layar televisi yang kini menayangkan serial drama Korea yang sedang booming di mana-mana. Ceritanya tentang pembalasan dendam seorang perempuan yang telah menjadi korban bullying semasa sekolah. Karakter tokoh utama yang kuat menjadi daya tarik tersendiri, di tengah gempuran cewek-cewek cengeng yang menangis guling-guling karena putus cinta. Maka tidak heran jika serial itu menjadi bahan perbincangan di banyak kalangan.
"Geser dong, gue juga mau nonton." Kata Fabian.
Biru menggeser posisi duduknya tanpa banyak protes. Tanpa sadar, kalau gerakannya itu telah membuat sesuatu yang seharusnya dia sembunyikan, lantas nampak di depan mata Fabian.
Sebuah jaket. Warna hitam, dan sangat Fabian kenal. Agak tidak mungkin kalau Fabian salah mengenali, karena ia juga memiliki jaket yang sama. Ia memesan jaket itu secara khusus di tempat salah satu kenalan, dan di sana ia membuat dua. Satu untuknya, satu lagi untuk Baskara. Miliknya ada di rumah, baru akan dia cuci karena sudah tiga hari berturut-turut dia kenakan. Jadi jelas, yang sekarang ini teronggok di atas sofa adalah milik Baskara.
Keberadaan jaket itu kemudian membuat Fabian percaya bahwa spekulasi yang sempat mampir di kepalanya adalah benar. Baskara menginap di apartemen Sabiru tadi malam, dan pemuda itu mungkin masih ada di sini sampai pagi tadi ketika ia datang mengantarkan bahan makanan.
Lalu soal rambut Sabiru yang acak-acakan .... Ah, Fabian menggelengkan kepala kuat-kuat demi mengusir spekulasi lain yang datang. Apapun yang terjadi, sama sekali bukan urusannya, kan? Ia dan Sabiru hanya pura-pura berpacaran. Jadi seharusnya siapapun yang datang ke apartemen ini dan menginap sama sekali tidak menjadi urusannya.
Ayo, Bi. Sadar.
__ADS_1
Lagi-lagi, ia cuma bisa lebih sering mengingatkan diri sendiri.
Bersambung