Taruhan

Taruhan
Safety First


__ADS_3

Baru setengah delapan kala Fabian tiba di rumahnya setelah sesi konsultasi singkat dengan Dokter Abraham. Masih cukup sore, untuk ukuran dirinya yang lebih senang bergadang sampai lewat tengah malam.


Mobil yang ia kendarai telah berhenti di depan pagar rumah sejak beberapa menit yang lalu, namun ia masih enggan untuk turun membuka gerbang lalu memasukkan mobilnya ke garasi.


Pertimbangan soal kesepakatan yang akan ia tawarkan kepada ibunya menjadi topik paling hangat di kepalanya saat ini. Merenggut lebih banyak tempat hingga hal-hal lain yang seharusnya juga ia pikirkan menjadi terasing, terpojok sejauh-jauhnya dari pusat otak.


Fabian tak ubahnya cangkang kosong sekarang. Hanya tubuh besar yang teronggok tak berdaya di kursi pengemudi sementara nyawanya sudah melayang entah ke mana.


Lalu, dering ponsel yang begitu nyaring menjadi penyelamat sebelum Fabian benar-benar mati. Kesadarannya terkumpul dalam waktu cepat, secepat refleks dari tangannya yang bergerak meraih ponsel di atas dashboard lalu menjawab panggilan yang masuk.


"Halo, pacar!" suara cempreng nan bersemangat menyapa dari seberang. Siapa lagi pemilik suara cempreng itu, kalau bukan Sabiru, pacar terkasihnya yang seharian ini sibuk dengan dunianya sendiri.


"Kenapa?" berhubung Fabian sedang tidak bertenaga, pertanyaan itu ia lontarkan dengan nada yang ala kadarnya.


"Dih, loyo amat sih lo? Belum makan apa gimana?"


Fabian mendengus. Kursi pengemudi yang sebelumnya ia setting untuk bisa membuatnya setengah berbaring kini ia tegakkan kembali. "Mending to the point aja, deh. Gue lagi nggak punya tenaga buat ribut sama lo."


"Dih, siapa juga yang mau ribut?!" pekik Biru. Suaranya yang menggelegar memaksa Fabian menjauhkan ponsel dari telinga. Matanya pun secara refleks terpejam, dan tangannya mengusap-usap telinga yang tiba-tiba terasa panas.


"Ya udah, buruan bilang, lo butuh apa?" tanya Fabian setelah pengang di telinganya menghilang.


"Gue butuh lo. Se-ka-rang."


"Gue sibuk,"


"Nggak mau tahu! Pokoknya, setengah jam lo nggak nyampe sini, habis lo sama gue!"


Dan ... telepon dimatikan begitu saja, membuat Fabian bertanya-tanya di mana letak sopan santun si gadis biru.


Atau barangkali, ia memang tidak memilikinya?


Ha ... salah sendiri setuju untuk ikut taruhan. Sudah tahu hidupnya rumit, bukannya mencari jalan keluar, malah menciptakan masalah baru. Fabian sepertinya memang harus berkonsultasi lebih banyak dengan Psikiater dari berbagai penjuru dunia. Karena agaknya, dia memang yang paling tidak waras di antara semua orang yang dia temui sepanjang hidupnya.


Walaupun kepalanya nyaris pecah dan nyawanya hampir kembali melayang, Fabian tetap memasang seatbelt-nya kembali. Mesin mobil dia nyalakan, dibiarkan panas lebih lama sebelum akhirnya pedal gas ia injak dalam-dalam.


Di jalanan yang terhitung padat, Fabian berkendara dengan ugal-ugalan. Tak dihiraukannya bunyi klakson yang bersahutan-sahutan dari arah belakang, hasil dari kelakuan tidak pantasnya menyalip kendaraan lain tanpa memberikan aba-aba.


Kalau kewarasannya sedang penuh, Fabian tentu tidak akan melakukan ini. Ia paling benci berkonflik, dan sebisa mungkin menghindari masalah apapun karena akan sangat merepotkan untuk mencari jalan keluar.


Tetapi berhubung kewarasannya sudah ada di ambang batas bawah, ia bahkan tidak keberatan kalau salah satu dari orang yang ia salip tadi tidak terima dan mereka akan berakhir baku hantam. Mungkin, seru juga kalau dia bisa dihajar habis-habisan oleh orang, kemudian mati mengenaskan di pinggir jalan dan tidak ditemukan oleh siapa-siapa sampai beberapa hari kemudian.

__ADS_1


...****************...


"Ini ... apa?" tanya Fabian dengan tampang cengo. Di hadapannya kini, tersaji berbagai macam hidangan yang ... ah, Fabian bahkan tidak tega hati untuk menyebut kalau berbagai hal dia atas piring itu adalah hidangan yang bisa disantap oleh manusia.


Tidak seperti Fabian yang nyaris kehilangan kata-kata, Biru justru tampak bersemangat kala menyodorkan sepiring nasi goreng yang warnanya belang. Di beberapa bagian, nasi tampak berwarna cokelat kehitaman, sedangkan di beberapa bagian yang lain masih tampak seperti nasi yang hanya tidak sengaja ketumpahan kecap sedikit.


"Gue habis belajar masak," ucap gadis itu.


"Sama?"


"Sendiri. Ngeliat resepnya di google, terus nyari cara masaknya di YouTube."


Fabian menatap nasi goreng belang itu sekali lagi, beralih ke piring-piring lain yang dia bahkan tidak yakin harus menyebut nama masakan yang Biru buat.


Di satu piring, terlihat seperti capcay seafood, tapi kalau diperhatikan dengan lebih detail, sayuran yang ada di sana jelas dipotong dengan cara yang asal. Udang yang nangkring di tengah-tengah sayuran dengan potongan tidak estetik itu juga tidak dikupas—Fabian tidak yakin udang itu dibersihkan dengan benar.


Di piring yang lain, ada tahu dan tempe goreng—warnanya juga belang seperti nasib si nasi goreng. Satu sisinya gosong, satunya lagi masih putih ALIAS MENTAH!


Gusti... Fabian tidak tahu apa yang merasuki Biru hingga gadis itu kepikiran untuk belajar masak. Yang jelas, hasilnya benar-benar kacau.


Ada yang bilang, jangan menilai buku dari cover-nya saja. Untuk beberapa kasus, Fabian tahu itu benar. Akan tetapi, untuk kasus ini, Fabian yakin bahwa penampakan dari makanan yang Biru buat sudah mempresentasikan bagaimana rasanya. Bagaimana keragu-raguan tentang apakah makanan itu bisa dikonsumsi begitu besar, dan terlalu sulit untuk dienyahkan begitu saja.


"Kenapa? Lo meragukan kemampuan gue? Bukannya lo sendiri yang waktu itu bilang sama gue kalau masih ada kemungkinan buat gue bisa belajar masak?"


"Oke, gue ralat omongan gue." Potong Fabian. "Nggak semua orang harus bisa masak. Lagian, Tuhan menciptakan begitu banyak kemudahan. Lo bisa beli makanan di luar, selama masih punya uang."


"Plin-plan!" Biru mulai kesal. Ia bersedekap, makin mendelik kala mendapati Fabian begitu terlihat jijik pada hasil masakan yang ia buat dengan sepenuh hati.


"Gue buat itu susah payah, Bian. Tangan gue sampai kena pisau, nih!" gerutu Biru sembari menunjukkan jari telunjuk tangan kirinya yang diplester.


Luka kecil itu telah berhasil merebut perhatian Fabian dalam waktu singkat. Melupakan segala penampakan makanan tak layak konsumsi di atas meja, ia meraih tangan Biru. Plester luka bergambar Sinchan itu ia lepas pelan-pelan agar bisa memeriksa sedalam apa luka yang disebabkan oleh goresan pisau dapur yang Biru gunakan.


Ketika plester terlepas, Fabian meringis saat itu juga. Didapatinya luka yang ada di jari Biru cukup dalam. Darah bahkan masih merembes ketika tangannya tidak sengaja menekan jari lentik gadis itu agak keras.


"Lo mau motong sayuran atau mau bunuh diri, hah?!" bentak Fabian tiba-tiba. Saking paniknya, nada suaranya jadi meninggi tanpa sadar.


Biru yang sedang dalam antusiasme tinggi, berharap diapresiasi atas usahanya untuk belajar masak, sontak memberengut dengan mata yang berkaca-kaca kala bentakan itu malah ia dapatkan sebagai gantinya.


Kabar baiknya, Fabian adalah orang yang peka. Ia menyadari perubahan ekspresi Biru dengan cepat, sehingga otaknya bisa diajak bekerja sama untuk menghasilkan perkataan dan tindakan yang akan mencegah air mata gadis itu tumpah ruah.


Dengan suara yang selembut sutra, Fabian kemudian berkata, "Ini lukanya dalam banget, Bi. Pasti sakit, ya? Gue obatin dulu yuk yang benar." Lalu digandengnya tangan Biru menuju ruang tengah.

__ADS_1


Si gadis menurut saja. Entah karena masih syok atas bentakan yang dia terima, atau rasa sakit mulai kembali meyapa dari luka yang dibiarkan menganga.


"Kotak P3K lo simpan di mana?" tanya Fabian usai mendudukkan Biru di atas sofa.


Biru menunjuk laci di meja televisi menggunakan dagu, dan Fabian segera melesat ke sana untuk mengambil kotak P3K. Ia kembali tak lama kemudian, langsung bergerak gesit mengeluarkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk mengobati luka Biru.


Tak ada yang bersuara setelahnya. Fabian fokus mengobati luka, sementara kepala Biru masih terlalu kosong untuk bisa memberikan reaksi apa-apa.


"Nah, udah." Kata Fabian setelah selesai memberikan sentuhan akhir, yaitu membalutkan plester luka yang baru. Tak lupa ia bubuhkan usapan pelan di bagian yang terluka, sebagai mantra ajaib yang selalu ia percaya bisa membantu memulihkan luka lebih cepat.


Selanjutnya, barang-barang yang telah ia keluarkan dari dalam kotak P3K dia masukkan kembali ke tempat semula. Kotak berwarna putih dengan logo tanda plus berwarna merah itu kemudian dia kembalikan ke laci, dan ia segera kembali menghampiri Biru yang masih bungkam sejak tadi.


"Lain kali, lo harus lebih hati-hati." Kata Fabian setelah duduk di sebelah Biru. Ia labuhkan pandangan pada wajah ayu si gadis, diam-diam mengagumi bagaimana bulir-bulir keringat yang bergerak lambat menuruni pelipis sang gadis bahkan tidak terlihat mengganggu sama sekali.


"Yang namanya belajar itu, butuh waktu, Bi." Katanya lagi, sambil tangannya menyeka keringat yang kini sudah sampai di dagu sang gadis. "Nggak perlu buru-buru. Nggak harus langsung berhasil dalam satu kali percobaan. Ilmuwan aja butuh berkali-kali percobaan sebelum menciptakan sesuatu, apalagi kita, yang IQ-nya cuma di ambang batas rata-rata."


"Dan yang paling penting, lo harus memastikan keselamatan diri lo lebih dulu. Karena percuma juga lo berhasil di percobaan pertama, kalau ujung-ujungnya lo malah mencelakai diri sendiri."


"Cuma luka kecil," cicit Biru.


Fabian yang tidak setuju dengan pernyataan itu pun berdecak. "Sekecil apapun, yang namanya luka ya tetap luka, nggak boleh disepelekan."


Tak ubahnya bocah yang sedang diomeli karena telah berbuat salah, Biru menunduk, memainkan jemarinya sendiri demi mengalihkan fokus dari Fabian yang kini menatapnya serius.


Yang laki-laki mengembuskan napas begitu panjang, tahu bahwa omelannya mungkin sampai ke telinga Sabiru dengan cara yang lain. Pelan-pelan, ia meraih tangan si gadis, menepuk-nepuk punggung tangan halus itu beberapa kali hingga membuat si empunya mau meliriknya walau hanya sedikit.


"Gue nih nggak lagi marahin lo, jangan salah paham." Katanya. Setiap kali ia labuhkan tatapan ke wajah Biru, gadis itu akan langsung menarik pandangan, seperti sengaja agar tatapan mereka tidak bertemu di satu titik. "Sorry, gue udah bentak-bentak lo juga tadi. Gue cuma panik, Bi. Kita mungkin cuma pacaran pura-pura, tapi sebagai sesama manusia, gue nggak bisa menyingkirkan hati nurani gue gitu aja sewaktu ngeliat lo terluka. You get me, right?"


Biru mengangguk samar setelah hening beberapa saat. Pasrah saja tangannya masih berada di dalam genggaman Fabian. Kini, ia malah menjadi serba salah. Alih-alih memperdalam niat untuk balas dendam, ia malah memupuk rasa bersalah terhadap pemuda itu. Sedikit demi sedikit, hingga suatu saat mungkin akan menimbunnya hidup-hidup.


"Nah," Biru merasakan tangannya dilepaskan pelan-pelan. Lalu sebuah sentuhan mendarat di dagunya, menuntunnya perlahan demi sebuah pertemuan mata yang sialnya, semakin membuatnya hilang arah.


"Nggak usah murung. Makanan yang tadi bakal tetap gue cobain, buat kasih tahu lo apa-apa aja yang kurang. Next time, gue bakal luangin waktu buat ajarin lo masak, pelan-pelan, nggak grasah-grusuh kayak gini. Okay?"


"Okay," cicit Biru. Wajahnya masih murung, memikirkan nasib masakannya yang mungkin akan berakhir di tempat sampah setelah hanya dicicipi sedikit. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau kenyataannya memang tidak bisa dimakan, maka sebaiknya ya jangan.


"Good girl," kemudian, sebuah usapan halus mendarat di kepala Biru, serta-merta mengikis kekecewaan yang tertumpuk di dada, tergantikan dengan sebuah perasaan yang terlalu sulit untuk dijelaskan.


Ya Tuhan ... dari sekian banyaknya cara untuk melancarkan balas dendam, mengapa Biru harus melakukannya lewat Fabian?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2