
Hari minggu bagi Baskara sejatinya adalah hari paling malas sedunia. Tapi, itu tidak berlaku untuk hari minggu ini. Pagi-pagi sekali, bahkan ketika matahari belum benar-benar naik ke singgasananya, Baskara sudah berdiri di depan pintu apartemen Sabiru, membunyikan bel dengan semangat sampai-sampai tetangga di samping unit Biru keluar memeriksa karena berpikir bel di unit mereka lah yang berbunyi.
Tapi tidak seperti dirinya yang tampak bersemangat meskipun semalam hanya tidur beberapa jam, Biru agaknya memiliki niat untuk menghabiskan minggu hanya dengan gegoleran di atas kasur. Buktinya, sampai berkali-kali ia memencet bel, gadis itu belum juga membukakan pintu untuknya.
“Cewek gue kalau tidur kebo juga.” Komentarnya. Ingin memencet bel sekali lagi, tapi takut tetangga unit lain akan terganggu dan berimbas pada Sabiru yang akan kena omel nanti. Maka dari itu, dia lebih memilih mengeluarkan ponselnya, menelepon Sabiru agar gadis itu segera bangun dan membukakan pintu.
Suara nada tunggu kedengaran begitu mengganggu, sebab sampai habis ia, telepon tak kunjung diangkat. Dicoba sekali lagi, hasilnya tetap sama. Entah Sabiru yang benar-benar kebo, atau gadis itu lupa mengaktifkan mode dering di ponselnya.
“Ya masak gue harus pulang lagi?” gumamnya dengan tatapan nanar yang tertuju pada kantong kresek berwarna putih yang dia bawa. Di dalamnya ada dua porsi bubur ayam, sengaja dia beli dalam perjalanan ke sini karena dia ingin sarapan berdua dengan sang kekasih hati. Sampai kemarin ketika mereka berpisah, gadis itu masih kelihatan galau berat atas kematian Jasmine. Sebagai pacar yang baik, dia tidak ingin kegalauan itu berkelanjutan dan mungkin akan sampai memengaruhi selera makannya.
“Nggak. Enak aja. Gue udah effort banget ini, mana boleh pulang gitu aja?” mencoba peruntungan, ia menelepon Biru sekali lagi.
Nada tunggu masih menggema, tapi anehnya, suara Biru justru terdengar jelas di telinganya.
“Bas,” begitu katanya.
Baskara menurunkan ponsel dari telinga untuk sekadar memeriksa. Dan ternyata benar, telepon belum tersambung. Lalu, dari mana asalnya suara Biru itu? Apakah ia sedang berhalusinasi atau ... hantu?
“Bas!” suaranya jadi agak ngegas. Baskara terlonjak kaget, hampir-hampir menjatuhkan ponsel kalau saja tangannya tidak dengan sigap menangkap benda pipih itu sebelum mendarat cantik di atas lantai.
Belum selesai keterkejutannya, sudah ditambah lagi ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Baskara berbalik dengan gerakan kilat, serta-merta memasang kuda-kuda untuk melindungi dirinya dari makhluk apapun yang ada di hadapannya.
Namun alih-alih makhluk menyeramkan seperti yang ada di dalam bayangannya, ia justru mendapati Biru tengah berdiri dengan tatapan bingung di depannya. Untuk memastikan bahwa itu memang Biru, Baskara menurunkan pandangan sampai ke kaki gadis itu. Menapak. Itu artinya memang bukan hantu.
“Heh!” satu tepukan lagi dia terima, kali ini mendarat di dadanya. Berdasarkan kekuatannya sih, ini fix memang berasal dari Sabiru. Ya ... gadis itu bukan hantu!
“Lo kenapa sih?!” Biru tampak sewot, sementara Baskara malah cengengesan sambil mengusap tengkuknya salah tingkah.
“Gue pikir lo hantu.” Cicitnya. Hanya untuk mendapat pelototan super sangar dari gadis cantik di hadapannya yang tidak terima dikatai hantu.
Malas memperpanjang perkara hantu, Biru pun menerobos tubuh Baskara lalu memasukkan kode akses untuk membuka pintu. Ia tidak mau bersusah payah mempersilakan Baskara untuk masuk. Karena tanpa disuruh pun, pemuda itu sudah mengekor di belakangnya seperti anak itik yang takut kehilangan sang induk.
“Lo ngapain pagi-pagi ke sini?” tanya Biru setelah membiarkan Baskara duduk di atas sofa, sementara dirinya sendiri lebih memilih berdiri di dekat televisi sambil menumpukan satu tangan di meja.
Baskara tersenyum sumringah saat mengangkat kantong kresek yang dia bawa tinggi-tinggi, memamerkannya kepada Sabiru. “Mau sarapan bareng.” Ucapnya penuh semangat.
Akan tetapi, semangatnya itu seketika padam saat Biru dengan tak berdosanya berkata. “Gue udah sarapan.”
“Kapan?” tanya Baskara sambil merengut.
“Barusan,” Biru menjawab santai.
Baksara makin merengut. Matanya memicing, memeriksa penampilan Sabiru yang lebih mirip gembel dengan rambut yang diikat asal—membuat beberapa helai menjuntai tak keruan—dan kaus oversize berwarna putih yang dikenakan juga tampak kusut. Dan oh, tidak ada celana! Apa gadis itu keluyuran keluar dengan tanpa mengenakan celana?!
“Woy!” serunya tiba-tiba, seketika bangkit dari duduknya setelah mengempaskan kantong kresek yang ia bawa ke atas meja.
Biru yang semula santai saja menumpukan tangan di atas meja lantas menegakkan kembali tubuhnya kala Baskara tahu-tahu berjalan cepat ke arahnya.
“Kenapa si—“
Baskara berkacak pinggang di depan Biru, pandangannya kembali turun menjelajahi sebagian kecil paha mulus Sabiru yang tak ter-cover kaus oversize yang hanya sedikit di atas lutut. “Lo keluyuran keluar pakai baju kayak gini?!” tatapan Baskara naik, menatap tajam Sabiru yang masih terlihat bingung dengan tingkahnya.
“Nggak pakai celana?!” tuduhnya.
“Pala lo nggak pakai celana?! Pakai, lah!” Biru ikutan ngegas. Yang awalnya bingung, sekarang berubah menjadi lebih galak.
“Mana?!” Baskara masih ngotot. Tatapannya turun lagi, tapi sebelum ia menaikkan pandangan untuk menantang Biru, ia sudah dihadiahi sebuah jeweran yang seketika membuat telinganya memanas. “Woy! Sakit!” keluhnya sembari memegangi telinganya yang masih dijewer oleh Biru.
Seakan tidak peduli pada rintihan kesakitannya, Biru malah berjalan, menyeretnya dengan telinga yang masih dijewer dengan kekuatan penuh.
“Bi, sakit!” Baskara berusaha melepaskan diri. Tapi sia-sia saja karena Biru sudah terlanjur berubah menjadi reog. Akhirnya, dia pasrah saja. Sampai kemudian gadis itu melepaskan jewerannya dan mendorong tubuhnya hingga terpental ke atas sofa.
“Kasar banget!” seru Baskara lagi. Telinganya yang terasa panas dia usap-usap beberapa kali. “Padahal gue cuma nanya.” Sambungnya, namun dengan suara yang lirih.
“Pertanyaan lo nggak masuk akal!” sergah Biru. Kemudian, gadis itu ikut duduk di sebelah Baskara. Dengan gerakan sewot ia mulai mengeluarkan bubur ayam dari dalam kantong kresek, lalu menyodorkannya ke hadapan pemuda itu. “Makan! Lo ke sini buat makan, kan?!” titahnya.
“Males. Lo udah makan duluan.” Baskara mencebik. Dalam sekali sentakan, dia menggeser posisi duduknya hingga ke bagian ujung sofa. Kedua tangan ia lipat di depan dada, sementara punggungnya disandarkan ke sofa dan pandangan yang dia buang jauh ke arah lain.
__ADS_1
“Najis banget sok-sokan ngambek.” Biru mencibir. Tapi meskipun begitu, dia tetap menggeser duduknya mendekat. Ditariknya lengan Baskara, membuat pemuda itu mau tak mau kembali menegakkan posisi duduknya. “Makan. Gue temenin.” Lanjutnya.
“Nggak.” Baskara si kepala batu.
Sesungguhnya, kesabaran Biru itu kadang-kadang tidak lebih tebal daripada tisu wajah yang dibagi tujuh. Dan kabar buruknya, saat ini termasuk ke dalam kadang-kadang itu. Maka ketika ia melihat Baskara tak kunjung meraih bubur ayam miliknya, Biru pun kembali melayangkan gebukan keras di bahu pemuda itu.
“Makan!” titahnya. Kali ini disertai gerakan tangan yang menyendok bubur ayam lalu menyodorkannya ke depan mulut Baskara. “Gue hitung sampai satu, kalau lo nggak mangap, gue patahin leher lo.” Ancamnya.
“Sa—“
Belum selesai ia berkata, Baskara sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Biru menghela napas rendah, lantas memasukkan sesendok bubur ke mulut pemuda itu. “Kunyah pelan-pelan.” Ia memperingatkan.
Baskara tidak menyahut. Seperti bayi yang baru belajar makan, dia pasrah saja menerima suapan demi suapan yang dibuat oleh Sabiru. Tak ada protes yang keluar, bahkan ketika suapan yang dibuat gadis itu terlalu banyak sehingga membuat pipinya menggembung penuh.
“Gitu kan pinter. Nggak usah pakai drama, ribet.” Biru mengomel, tapi tangannya tetap dengan telaten menyuapkan bubur ke mulut Baskara. Tidak cuma menyuapi saja, ia juga sabar sekali mengusap sudut-sudut bibir pemuda itu yang belepotan karena dia terlalu banyak menyuapkan bubur.
Lagi-lagi Baskara tidak berkomentar karena mulutnya selalu penuh. Biru seakan tidak memberinya waktu untuk bicara dengan terus menerus menyuapinya tepat setelah ia selesai mengunyah.
Tak butuh waktu lama, bubur milik Baskara sudah habis. Biru membereskan sterofoam bekas bubur itu, memasukkannya ke dalam kantong kresek kemudian dia bangkit untuk membuangnya ke tempat sampah.
Baskara masih tidak protes. Dia biarkan Biru berlalu ke dapur untuk membereskan semua sampah. Sampai tak berselang lama, gadis itu muncul lagi dengan membawa segelas air yang lalu disodorkan kepadanya. Ia pun menerima air itu dengan senang hati, meneguknya sebanyak tiga kali kemudian meletakkan gelas yang masih setengah penuh ke atas meja.
Sekarang, perutnya sudah penuh. Tidak ada lagi teriakan-teriakan pilu yang berasal dari cacing-cacing kecil menggemaskan yang hidup di dalam ususnya.
Tapi masalahnya, masih ada satu porsi bubur ayam yang tak tersentuh. Ia selalu diajarkan untuk tidak membuang-buang makanan. Jadi melihat bubur ayam yang dia beli dengan uang orang tuanya, tentu saja, Baskara kembali menjadi sendu.
Perubahan raut wajah itu tertangkap jelas oleh Biru, yang kemudian langsung meraih satu porsi lagi bubur ayam lantas membukanya. Satu suapan besar dia buat, dia kunyah pelan-pelan walaupun sebenarnya tekstur bubur ayam itu sudah cukup halus dan bisa saja langsung dia telan.
Ketika hendak membuat suapan yang ke-2, Baskara tiba-tiba saja menahan lengannya. Biru menoleh, menemukan pemuda itu menampakkan raut wajah khawatir yang tidak terlalu kentara. “Apa?” tanyanya.
“Jangan dipaksa, nanti perut lo malah sakit.”
“Lambung gue besar, masih bisa nampung kalau cuma bubur ayam.” Kata Biru, lalu melepaskan tangan Baskara agar ia bisa melanjutkan kegiatan makan.
Setelahnya, tak ada yang bersuara. Biru sibuk memasukkan bubur ke dalam mulut, berhenti sebentar kalau dirasa perutnya agak mulai memberikan penolakan. Sementara Baskara hanya diam memperhatikan bagaimana gadis di sampingnya itu mengunyah buburnya demgan khidmat. Sesekali ia akan mengulurkan tangan, mengusap sudut bibir Biru yang belepotan seperti yang gadis itu lakukan kepadanya tadi.
“By the way,” saat bubur di dalam wadah sisa tiga sendok lagi, Biru mengalihkan perhatian kepada Baskara. “Lo semalam pulang jam berapa?” tanyanya. Dia baru sadar Baskara tidak mengabarinya sama sekali semalam. Padahal biasanya, pemuda itu akan memberondongnya dengan banyak pesan hanya untuk memberi tahu di mana keberadaannya.
Biru mengangguk, kemudian menyendokkan lagi bubur ke mulutnya. “Terus, lo tidur jam berapa? Kok rajin banget udah ke sini pagi-pagi?”
“Jam 2, mungkin? Nggak tau, lah. Nggak ingat. Gue bela-belain ke sini karena khawatir aja lo ngelewatin sarapan gara-gara masih galau soal Jasmine.” Jujurnya.
“Mau gue ngelewatin sarapan sekalipun, Jasmine nggak akan hidup lagi. Lo sendiri kan yang ngasih tahu gue buat nggak terlalu menyesali apa yang udah terjadi?”
"Ya iya, tapi gue masih tetap khawatir. Lo kan anaknya gampang banget kepikiran."
"Sekarang udah enggak." Biru menyela. Bubur ayam miliknya akhirnya habis juga. Sterofoam dia bereskan, ditepikan untuk nanti dia buang ke tempat sampah. Air minum bekas Baskara dia tenggak hingga habis, kemudian ia kembali menatap pemuda itu. "Nggak perlu khawatir, cewek lo ini udah jauh lebih strong daripada yang dulu." Lanjutnya, diserta senyum manis madu. Kemudian, ia berlalu membawa sampah dan gelas kosong menuju dapur.
Di tempatnya duduk, Baskara cuma bisa memandangi punggung sempit Biru dengan pipi yang terasa memanas. "Cewek lo." Gumamnya seorang diri sambil memegangi kedua belah pipinya yang sudah semerah tomat rebus.
...****************...
Entah kapan tepatnya, tapi Fabian pernah dengar kalau seseorang tiba-tiba berubah 180 derajat dari kebiasaannya, itu merupakan pertanda bahwa kematian sudah dekat dengan orang tersebut. Dulu, Fabian tidak terlalu percaya soal itu. Karena, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung statement tersebut.
Banyak teman-teman laknat-nya yang tiba-tiba tobat, mendadak jadi anak Tuhan yang rajin sekali pelayanan di gereja, tapi masih tetap hidup sampai sekarang. Ada pula anak-anak alim yang tadinya jauh dari kemaksiatan, tapi tiba-tiba saja mulai mendekati alkohol dan pergaulan bebas, tapi hidupnya tetap masih baik-baik saja—malah terlihat cenderung lebih bahagia. Tidak ada tuh dari mereka yang tiba-tiba mati dalam waktu dekat setelah merubah kebiasaan.
Tapi untuk saat ini, Fabian mulai mempertanyakan kebenaran teori tersebut.
Tahu kenapa?
Karena pemandangan yang terlihat di depan matanya saat ini benar-benar terlalu sulit untuk dipercayai.
Memangnya, pemandangan seperti apa?
Oh, kalian mungkin tidak akan pernah membayangkannya.
Raya—iya, Raya, ibunya Fabian—tampak sibuk dengan berbagai peralatan masak. Dress biru laut yang dikenakan semalam masih melekat sempurna di tubuh rampingnya. Hanya saja, kali ini ada apron berwarna hitam pekat yang melapisi dress itu demi menjaganya dari cipratan minyak dan berbagai bumbu. Perempuan itu bergerak lincah dari satu titik ke titik yang lain. Jemari lentiknya bahkan terlihat lihai kala menjumput garam lalu menaburkannya di atas wajan—yang entah sedang dipakai memasak apa.
__ADS_1
Fabian sampai harus mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Karena barangkali, itu termasuk salah satu efek dari kurangnya jam tidur yang ia miliki.
Tapi sebanyak apapun dia mengucek mata, pemandangan di depannya sama sekali tidak berubah.
Artinya apa?
Ya, benar. Ini bukan mimpi. Bukan pula halusinasi.
Di titik ini, Fabian bukannya merasa senang. Dia malah merasa was-was karena biasanya, selalu ada badai hebat yang bersembunyi dari hal-hal indah yang nampak di depan matanya. Terakhir kali dia menemukan ibunya tersenyum cerah saja, dia berakhir mendapatkan luka tusuk di dada kirinya, benar?
Tapi sudah tahu begitu, kakinya yang tidak tahu diri tetap melangkah mendekat. Suara yang ditimbulkan dari sendal jepit yang menjadi alas kakinya jelas cukup mengganggu, membuat Raya yang tadinya asik dengan dunianya sendiri lantas membalikkan tubuh hingga tatapan mereka bertemu.
Yang aneh lagi, tatapan perempuan itu masih sama seperti semalam. Terasa teduh, bahkan cenderung terkesan seperti tatapan yang memang selayaknya ada di mata seorang ibu.
"Mama ngapain?" pertanyaan bodoh itu lolos begitu saja dari bibir Fabian. Tak ada waktu untuk menyesal, tak pula bisa menarik kembali apa yang sudah diucapkan. Maka ia cuma bisa menunggu sampai ibunya memberikan jawaban.
Tapi alih-alih menjawab, perempuan itu malah membalikkan tubuh lagi, kembali memunggungi Fabian dan melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda karena gangguan kecil yang datang dari putranya.
Diabaikan bagi Fabian sudah menjadi makanan sehari-hari. Itu bahkan terasa seperti sebuah rutinitas. Jadi ia tidak ambil pusing dan malah ngeloyor ke kulkas lalu mengambil satu botol air mineral. Tujuannya bangkit dari kasur dan mau bersusah payah turun ke dapur di saat matanya masih mengantuk memang air mineral ini. Karena tenggorokannya terasa begitu kering dan rasanya ia nyaris mati kehausan.
Fabian menenggak sedikit air dari dalam botol, kemudian berniat untuk kembali ke kamar karena pikirnya sudah tidak ada kepentingan lagi di sini.
Namun, belum juga langkahnya terayun, suara jernih Raya menahannya untuk tetap berada di dapur.
"Sarapan dulu." Titah perempuan itu. Di tangannya kini sudah ada sepiring nasi goreng yang mengepulkan asap panas. Aroma bawang goreng yang tertabur di atasnya menguar memenuhi udara, sampai di hidung Fabian hingga merangsang rasa lapar yang tiba-tiba muncul padahal sebelumnya dia tidak merasakan apa-apa.
Nasi goreng buatan Raya tampak menggugah selera. Warna cokelatnya yang cantik seakan membuatnya semakin terlihat menarik.
Bagai disihir, Fabian menurut. Dia berjalan menuju meja makan, menarik satu kursi lalu duduk di atasnya selagi menunggu Raya meletakkan piring besar berisi nasi goreng ke atas meja.
Satu porsi nasi goreng lalu disodorkan ke hadapan Fabian. Dari jarak yang dekat, aromanya semakin terasa menggoda hingga membuat air liur di dalam mulutnya berkumpul seperti air bah.
"Telur dadar atau telur mata sapi? Saya nggak tahu kamu suka yang mana, jadi saya buat dua-duanya."
Fabian beralih menatap piring lain berisi satu telur dadar dan satu telur mata sapi. Berpikir sebentar, ia memutuskan mengambil telur mata sapi dan meletakkannya di atas piringnya sendiri.
"Telur mata sapi. Oke, noted." Raya bergumam pelan.
Gumaman itu ternyata sampai di telinga Fabian. Dan, perasaan aneh kembali menghantuinya, seketika melenyapkan selera makan yang sebelumnya begitu besar karena kepalanya mulai penuh dengan pertanyaan kenapa?
Semalam, Raya tiba-tiba mengajaknya membuat kesepakatan. Dan sekarang, perempuan itu rela bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan? Kira-kira, berapa harga yang harus Fabian bayar untuk menikmati nasi goreng di hadapannya saat ini? Satu milyar? Dua milyar? Atau ... ia harus menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada perempuan itu?
"Kenapa nggak dimakan?" pertanyaan Raya itu membuyarkan pikirannya yang kacau.
Fabian kembali menatap Raya. Lalu, piring di hadapannya didorong menjauh, hanya agar dia bisa melipat kedua tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah sang ibu.
Mata Fabian memicing, berusaha menerka-nerka sendiri tentang apa yang sedang Raya rencanakan sebenarnya. Apakah perempuan itu berusaha meracuninya? Nasi goreng yang disajikan di hadapannya saat ini ... ada racunnya?
"Apanya yang kenapa?" tanya Raya.
"Kenapa Mama tiba-tiba ngelakuin ini? Rencana apa yang lagi Mama buat?" Fabian balik bertanya dengan tatapan yang kian menyelidik.
Seakan sudah memprediksi kecurigaan itu, Raya dengan santai menanggapi. "Saya cuma berusaha merayu kamu, supaya kesepakatan yang kita buat semalam berjalan lancar."
"Tapi kalau kamu nggak mau makan masakan saya, ya nggak masalah. Saya bisa habiskan sendiri." Raya hendak menarik piring milik Fabian, namun pemuda itu dengan cepat mencegahnya.
"Ini bukan soal Fabian mau makan atau nggak, tapi soal tingkah Mama yang aneh."
"Saya udah jawab, ini sebagai bentuk usaha saya supaya kamu nggak menolak kesepakatan yang saya tawarkan."
Fabian terdiam sejenak. Ia melirik nasi goreng yang seakan melambai-lambai minta disentuh itu, lantas kembali menatap Raya yang duduk di seberangnya. "Cuma itu?" tanyanya lagi.
Raya mengangguk, "Kalau nggak mau, nggak usah dimakan."
Melawan kebimbangan yang ada, Fabian akhirnya menarik kembali piring miliknya. Pikirnya, tidak apa-apa kalau ternyata memang ada racun di dalam nasi goreng ini. Karena setidaknya, dia akan mati setelah merasakan masakan yang dibuat oleh ibunya, yang selama ini sama sekali tidak pernah melakukan itu untuknya.
Akhirnya, satu sendok nasi goreng berhasil masuk ke dalam mulut Fabian. Ia mengunyahnya perlahan-lahan, meresapi setiap rasa yang menyapa lidahnya dengan penuh penghayatan. Lalu entah kenapa, ia merasakan matanya memanas. Kabut bening muncul dengan cepat dan membuat pandangannya mengabur.
__ADS_1
Pagi itu, ketika matahari mulai bersinar malu-malu dibalik gumpalan awan putih yang tebal, Fabian menikmati sarapannya dengan mata yang basah oleh air mata.
Bersambung