Taruhan

Taruhan
Chapter 07: Terkunci Berdua


__ADS_3

"Ayo anak - anak segera kumpulkan tugasnya"


Ucap bu guru.


Semua mengumpulkan tugasnya ke depan, kecuali Fino yang masih saja melamun. Alea melirik ke arah Fino .


" Kenapa ya dia daritadi melamun bukannya mengerjakan tugas melukisnya" Pikir Alea.


Fino masih saja terdiam lalu melihat ke arah Alea secara tiba-tiba.


"Aneh sekali biasanya aku paling benci dan anti sama cewek yang berpenampilan cupu, tapi kenapa dengan dia aku merasa biasa saja dan malah nyaman berada di dekatnya seperti dulu saat aku bersama Naura.Dia banyak kesamaan seperti Naura dan hobinya pun sama melukis" Fino membayangkan masa lalunya saat bersama Naura. Fino terus menatap Alea tidak berkedip. Alea melirik ke arah Fino dan mendapatinya sedang melihat ke arahnya.


"Heii...ke..kenapa kamu menatapku seperti itu?" Alea merasa malu dan canggung.


Fino yang tersadar dari lamunannya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Jangan kegeeran deh..aku cuman lagi melihat ke arah luar jendela" Ucapnya lalu melihat ke arah depan.


Lalu.....


"Semua sudah mengumpulkan tugas ya..kecuali Fino "


Ucap bu guru melihat ke arah Fino.


Semua murid menatap ke arah Fino.


"Maaf bu saya tidak bisa menggambar dan melukis jadi saya bingung"


Bu Guru menggelengkan kepalanya.


"Fino -Fino dari dulu kamu memang tidak selalu mengerjakan tugasmu dengan serius, kali ini ibu tidak ada toleransi lagi ya..kamu ibu hukum membawakan semua tugas ini ke ruang club lukis, setelah itu kamu harus mengumpulkan tugas yang tadi ibu suruh" Ucap bu guru langsung pergi ke depan kelas .


Alea tersenyum meledek saat Fino mendapati hukuman.Fino yang melihat merasa kesal lalu mempunyai sebuah ide untuk mengerjai Alea.


"Ibu...." Fino mengacungkan tangannya


"Ada apa Fino?"


" Bu sebenarnya aku tidak enak badan hari ini jadi Alea senang hati akan membantuku membawa kanvas-kanvas ini ke ruang club" Ucap Fino pura-pura batuk.


"Eh...aku tidak mau membantumu, itukan salahmu sendiri tidak mengerjakan tugas"Ucap Alea merasa kesal lalu akhirnya mereka berdua adu mulut. Karena merasa kesal melihat Alea dan Fino bertengkar akhrinya Alea ikut ikutan di hukum untuk membantu fino.


***


Fino berjalan dengan santai menuju ruang club lukis. Alea yang berjalan dibelakangnya merasa sangat kesal.


"Cih.....di dekatnya aku selalu merasa sial" Gumam Alea. Fino menaiki tangga karena ruang club lukis ada di lantai 3. Saat itu pukul 4 sore.


"Brukk"


Fino menyimpan kanvas di meja depan. Alea merasa takjub saat memasuki ruang club lukis. Karena banyak sekali lukisan yang indah dan bagus.


" Lukisanya semuanya benar -benar bagus" Alea menyetuh beberapa kanvas lalu dia terhenti saat lukisan cowok tampan yang sedang bermain piano.


"Wah ini lukisan paling bagus diantara yang lain hebat sekali tekniknya" Alea melihat nama yang melukisnya


"Naura Cintami"


Fino melirik ke arah lukisan itu.


"Apa nya yang bagus justru ini yang paling jelek"


Fino melempar lukisan nya ke bawah.

__ADS_1


"Eh..apa yang kamu lakukan ini bisa rusak tahu" Alea langsung mendirikan lukisan itu lagi dan menyimpanya ke tempat semula. Fino tidak mendengar kan Alea lalu tiba tiba.


" Brukk......"


Pintu tiba tiba saja tertutup dengan keras. Fino dan Alea merasa kaget lalu berlari ke arah pintu dan berusaha membukanya.


"Buk..kenapa tiba-tiba pintunya terkunci"


Fino terus menendang pintunya.


"Aduh bagaimana ini? apalagi sebentar lagi menjelang malam" Alea merasa gelisah.


Fino mencari cari handphone di saku celananya.


"Sial...aku lupa hp q ada di tas, hei apa kamu membawa handphone?"


Alea menggelengkan kepalanya


"Hp ku ada didalam tas"


"Ugh...."


Alea terus menerus berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang mendengarnya.


" Sudah percuma saja.ini lantai 3 jarang ada orang yang kemari" Fino berjalan menuju kursi.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ? "Alea mulai panik.


"Aku tidak tau"


"Ini semua gara gara kamu kalau saja tadi kamu tidak cari gara gara dan bertengkar denganku, aku pasti tidak akan ada disini" Alea merasa kesal pada Fino. Fino tidak mendengar kan perkataan Alea dan terus mencari cara agar bisa keluar.


3 jam telah berlalu dan pintu pun masih terkunci. Alea dan Fino duduk berjauhan. Akhirnya mereka menyerah dan menunggu seseorang untuk membukakan pintunya. Di dalam ruang club lukis tidak ada lampu sama sekali dan ruangan sedikit menyeramkan. Untung saja sedang terang bulan jadi sinar bulan masuk melalui jendela jendala jadi tidak terlalu gelap.


"Duh kenapa aku harus sial seperti ini apalagi aku terjebak bersama cewek cupu" Ucapnya lalu melihat Alea yang sedang duduk di bawah sambil melingkarkan tangannya di kedua kakinya. Alea tidak menghiraukan kata- kata Fino dia terus saja terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Tumben dia diam seperti itu, padahal dia tadi yang bersemangat mencari jalan keluar" Pikir Fino masih melirik ke arah Alea.


"Duh bagaimana ini masa aku harus menginap di sini apalagi disini dingin" Fino beranjak dari duduknya lalu berkeliling agar tidak kedinginan. Sambil berjalan - jalan Fino terus melirik ke arah Alea karena dia merasa aneh.


"Kenapa dari tadi dia hanya diam?" Pikir Fino lalu menghampiri Alea.


"Tumben kamu hanya diam " Fino berdiri di depan Alea namun Alea masih terdiam. Fino menggoyangkan kaki Alea menggunakan kakinya.


"Hei...dasar tidak sopan kenapa kamu mengabaikan aku ?"


"Su...sudah pergi sana jangan ganggu aku" Ucap Alea dengan suara lemah dan sedikit parau.


Fino mengerutkan keningnya lalu berjongkok dan mengangkat wajah Alea.


"Hei...dasar tidak...." Sebelum selesai berkata - Kata Fino memegang wajah Alea dan menyentuh dahinya.


"Hah....dahinmu panas sekali.apa kamu sakit?" Fino terus memegang dahi Alea.


"Tidak aku tidak apa apa" Alea melepaskan tangan Fino dan beranjak berdiri. Karena kepalanya metasa pusing Alea hampir tejatuh kebawah dan untung nya Fino langsung menangkapnya.


"uh...Hampir saja..."


Seluruh badan Alea terasa lemas dan tidak berdaya. Lalu Fino meletakkan Alea di lantai dia melihat ada beberapa kain di meja dijadikannya selimut dan bantal.


Fino berjalan berkeliling di ruang club itu sambil mencari air.dan untungnya dia menemukan 3 botol minuman air mineral di dalam laci dan 1 kotak biskuit. Dia langsung membawanya.


"Alea ayo kamu minum dulu" Ucap Fino membantunya duduk. Sesudah itu Alea kembali berbaring. Fino mengambil sapu tangan di sakunya dan membasahi sapu tangan itu dan di kompreskan ke dahi Alea. Sesudah itu Fino kembali ke pintu dan berteriak berharap ada yang mendengar teriakannya dan membukakan pintu.

__ADS_1


"TOLONG BUKA PINTUNYA...WOIIIIIIII SIAPAPUN TOLONG KAMI....."


Tetapi percuma tidak ada satupun yang datang dan menolong mereka.


" Ugh ..." Fino merasa putus asa lalu kembali duduk dekat Alea.


Beberapa jam telah berlalu Fino tertidur sambil terduduk di sebelah Alea.


"Ibuu...ibuuu jangan pergi...." Alea mengigau membuat Fino terbangun dan melihat Alea mengigau sambil menangis. Fino merasa khawatir lalu menganti kompresan.


"Ibu....ibu...ibu kenapa tega meninggalkan aku sendiri hikss..." Alea mengigau. Fino berusaha membangunkan Alea.


"Hei. hei...bangun...." Alea membuka pelupuk matanya lalu dia melihat ke arah Fino.


" Kamu tidak apa - apakan?"Fino merasa khawatir dan bingung.


"Ibu....." Alea tersenyum lalu bangun dan memeluk Fino dengan erat. Alea berhalusinasi melihat ibunya padahal sebenarnya itu adalah Fino.


"Ibu jangan tinggalkan aku lagi..aku sangat merindukanmu hiks" Alea menangis lalu kembali tertidur di pelukan Fino . Fino merasa canggung jantungny berdegup dengan cepat. Dia berusaha melepaskan pelukan Alea tetapi tidak bisa. Alea begitu erat memeluk Fino. Wajah Fino memerah.


"Dia dari tadi terus memanggil ibunya, memangnya ibunya kemana? " Pikir Fino lalu Fino pun kembali membaringkan Alea ke semula tapi . Alea denga reflek memegang tangan Fino.


" Ibu jangan pergi" Ucapnya sambil mengigau. Lalu akhrnya dengan terpaksa Fino tidur bersebelahan dengan Alea.


Fino tidur menyamping menghadap Alea yang masih memegang tanganya.


"tuk.... " Fino menyimpan kacama mata Alea di sebelahnya.


Fino terus memperhatikan wajah Alea yang sedang tertidur.


"Wajahnya terlihat cantik tanpa menggunakan kacamata"


Lalu lama kelamaan Fino pun tertidur. Merka berdua tidur sambil berpegangan tangan.


Keesokan Paginya.......


Alea membuka pelupuk matanya dan melihat keseliling.


"Ini Dimana? " Pikir Alea lalu mengangkat tangan kanannya yang menggenggam tangan Fino.


"Hah ...lalu dia melihat kesebelah kanannya dan melihat Fino sedang tertidur.


"Apa aku sedang bermimpi? tapi kenapa mimpinya seperti nyata" Alea merasakan genggaman Fino dan dia menatap wajah Fino.


"Huftt..." Fino membalikkan wajahnya lalu Alea pun tersadar kalau ini bukan mimpi diapun kaget dan berteriak sangat keras.


"AAaaaaaaaa............" Alea langsung berdiri dan menutup kain ke badannya. Fino langsung terbangun setelah mendengar teriakan Alea.


"Apaan sih teriak segala?" Fino lalu berdiri.


"Jangan dekat dekat cepat pergi" Alea lalu mundur kebelakang. Fino berjalan mendekati Alea.


"Mundur....." Teriak Alea lalu Fino tidak sengaja menginjak kain yang dipegang Alea dan Alea tidak seimbang..


"Kyaaa....." Keduanya terjatuh. ....


"Brakk...." Pintu terbuka


"Ada apa ini?" Ucap seseorang yang membuka pintu


" Hah ..." Alea dan Fino terkejut mendengar suara


"Kalian sedang apa di sini? " Ternyata itu adalah ibu guru Mina merasa sangat kaget dengan apa yang dilihatnya . IBu Guru Mina melihat Alea berada di bawah Fino .

__ADS_1


"Tidak....." Alea berteriak


__ADS_2