Taruhan

Taruhan
Kusut


__ADS_3

Sebagai seorang gentleman, Fabian mengantarkan Biru kembali ke apartemen gadis itu setelah mereka menghabiskan masing-masing dua batang rokok.


Bukan cuma sampai ke basement, Fabian mengantarkan Biru sampai ke depan unit apartemen gadis itu, di tempat yang sama seperti ketika dia menjemputnya beberapa jam yang lalu.


"Thanks," Biru berucap sembari berjalan lebih dekat ke sisi pintu.


"My pleasure," sahut Fabian.


"Mau mampir dulu?" basa-basi Biru. Sebenarnya, itu basa-basi yang wajar saja dikatakan kepada seorang kenalan. Hanya saja, karena ini sudah malam dan mereka bahkan belum sedekat itu, basa-basi itu jadi membuat Fabian melemparinya tatapan tajam.


"Kenapa?" tanyanya, sadar kalau Fabian menatapnya dengan cara yang tidak biasa.


"Jangan suka nyuruh sembarang orang mampir ke tempat tinggal lo, apalagi kalau baru kenal." Omel Fabian, dengan mata sedikit melotot yang justru membuat Biru tergelak.


"Lo mirip emak-emak kalau lagi ngomel begitu," celetuknya.


Fabian berdecak. Sejujurnya, dia tidak mengerti kenapa orang-orang di sekitarnya suka sekali mengatainya mirip emak-emak. Padahal menurutnya, apa yang dia lakukan itu biasa saja dan bisa dilakukan oleh siapapun yang bukan emak-emak.


"Gue serius, itu bahaya."


"Iya, gue tahu. Thanks udah ngingetin," Biru mengalah.


"Ya udah, gue balik. Bilangin sama Indah, makasih pecel ayamnya." Kata Fabian sembari menggoyangkan kantong kresek berisi pecel ayam pemberian Indah.


"Nanti gue sampaikan,"


Setelah itu, Fabian balik badan dan bergegas pergi dari sana. Jam baru menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit, mungkin saja masih ada waktu untuk bergabung dengan Reno dan Juan ke Mega, sekaligus mencari tahu apakah ada Baskara di sana.

__ADS_1


...****************...


Party berlangsung sangat meriah di Mega. Orang-orang yang ikut serta di dalamnya benar-benar menikmati malam dengan menari dan menenggak berbotol-botol minuman.


Ada yang akhirnya tepar duluan sehingga membuat Gerald mau tak mau harus menyeret orang-orang itu keluar setelah memesankan taksi. Beberapa yang masih sadar, mulai melipir satu persatu keluar dari klub setelah menemukan lawan jenis yang sesuai kriteria untuk mereka bungkus dan bawa pindah ke motel terdekat.


Sesuai rencana awal, anggota Pain Killer yang lain selain Fabian tetap datang ke Mega karena sudah kepalang membuat janji dengan Gerald.


Baskara memilih duduk di depan meja bar, sedangkan Reno dan Juan memesan meja paling pojok dengan ditemani dua gadis yang entah mereka sewa dari mana. Karena, di klub ini tidak ada PSK. Gerald melarang keras siapapun menjual diri di sini, jadi orang-orang itu biasanya membawa jablay mereka sendiri dari luar klub.


"Duo cecunguk itu lagi kenapa?"


Baskara mengangkat kepala dari gelas berisi Vodka, menatap Gerald yang tahu-tahu sudah berdiri lagi di belakang meja bar setelah tadi menyeret satu lagi orang mabuk untuk keluar dari klub.


"Patah hati, habis ditolak sama cewek." Jelas Baskara sekenanya. Dia lalu menenggak Vodka yang sedari tadi cuma dia mainkan hingga es batu di dalam gelas pun sudah mencair, membuat minuman beralkohol itu sudah tidak terasa pekat lagi.


"Dua-duanya?" tanya Gerald heran. Sebenarnya, dia tidak terlalu percaya kalau dua cecunguk itu habis ditolak perempuan. Masalahnya, tidak ada sejarahnya anggota Pian Killer ditolak. Yang ada malah mereka yang sering menolak banyak perempuan.


"Lo sendiri, lagi kenapa?" minuman yang baru disodorkan, ditukar dengan gelas kosong milik Baskara.


"Gue? Emangnya gue kenapa?" Baskara balik bertanya, menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari.


"Lo juga kelihatan kusut malam ini. Lagi ada masalah apa?" Gerald menarik sebuah kursi, dalam hitungan detik sudah anteng dan membuka telinganya lebar-lebar, siap mendengarkan keluh kesah Baskara.


Namun, bukannya bicara, Baskara malah menenggak minuman yang baru Gerald bikinkan untuknya. Setelah tandas, dia sodorkan kembali gelas kosong itu, meminta diisi ulang.


"Ini soal bapak lo, atau soal apa?" Gerald masih tidak menyerah untuk mencari tahu.

__ADS_1


Baskara masih bersikeras untuk bungkam, malah asik memainkan ponsel setelah meloloskan kekehan ringan. Kekusutan yang terlihat di wajahnya memang akibat kedatangan ayahnya yang tiba-tiba, tetapi itu bukanlah satu-satunya alasan. Dia seperti ini juga karena Biru. Karena gadis itu meladeni Fabian, alih-alih mengabaikannya seperti Reno dan Juan.


Dan karena Baskara tidak suka berbohong kepada Gerald, sama seperti saat dia tidak suka berbohong kepada tiga temannya yang lain, maka Baskara memilih untuk tidak bercerita apa-apa. Setidaknya, untuk saat ini. Karena untuk menceritakan tentang Biru dan bagaimana awal mula hingga hubungan mereka serenggang ini akan membutuhkan banyak waktu.


"Lo tahu gue akan selalu sediakan telinga buat lo, right?" setelah mengerahkan usaha maksimal, Gerald menyerah juga. Lagipula, tidak ada gunanya memaksa pemuda di hadapannya itu untuk buka suara. Karena Baskara keras kepala, sama seperti tiga temannya yang lain.


"I know, I know. Next time gue cerita, kalau mood gue udah oke." Kata Baskara, tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan dari ponselnya. Padahal, dia tidak melakukan apa-apa di sana. Hanya menggulir layar ke kanan dan kiri. Jangankan membuka sosial media atau apa, dia bahkan sudah mematikan data selulernya sejak berjam-jam yang lalu.


"Ya, ya. Gue siap dengerin kapan aja," lalu Gerald berdiri dan meracikkan minuman yang baru. Sesekali dia melirik ke bangku pojok untuk memeriksa keadaan Reno dan Juan yang sedari tadi asik saja.


Gerald cuma bisa geleng-geleng kepala saat menyaksikan meja paling pojok itu sudah berubah menjadi arena panas, di mana salah satu dari dua gadis yang Reno dan Juan bawa kini naik ke atas pangkuan Reno, mengalungkan lengan di leher bocah itu dan bibir-bibir mereka mulai bersatu.


Juan tidak mau kalah, gadis yang menemaninya dia angkat ke atas meja, dia raup bibirnya dengan rakus seperti seekor singa kelaparan yang enggan kehilangan mangsa. Lengan besarnya mengungkung pinggang kecil sang gadis, begitu posesif.


"Yang habis nolak mereka siapa? Miss Universe? Kok kayaknya brutal amat galaunya," Gerald kembali mengalihkan perhatian kepada Baskara, yang masih tidak melepaskan fokus dari ponselnya.


"Lebih hebat dari Miss Universe," sahut Baskara. Lalu, bocah itu akhirnya meletakkan ponsel di atas meja bar, ikutan menoleh ke arah Reno dan Juan kemudian menggelengkan kepala pelan, seperti yang dilakukan oleh Gerald sebelumnya.


"Nemu di mana kalian cewek yang kayak begitu?" Gerald menyodorkan minuman lagi kepada Baskara.


"Yang jelas, mereka nggak nemuin cewek itu di klub." Baskara menatap Gerald sebentar, kemudian menenggak minuman dan segera bangkit dari duduknya.


"Loh, mau ke mana?" tanya Gerald heran.


"Cabut,"


"Baru jam sebelas,"

__ADS_1


"Gue ada urusan. Nanti gue transfer kayak biasa, ya." Kemudian Baskara melenggang pergi, dalam sekejap sudah menghilang di tengah kerumunan orang yang sedang meliuk-liukkan tubuh di atas lantai dansa.


Bersambung


__ADS_2