Taruhan

Taruhan
Quite Different


__ADS_3

Keributan yang terjadi di base kampus adalah satu hal, dan berondongan pesan yang Biru kirimkan adalah hal lain yang harus Fabian hadapi setelah bergelut dengan kepala yang ribut selama total empat kelas yang ia miliki hari ini.


Keberaniannya untuk membuka pesan dari gadis itu masih di level bawah, bahkan bisa dikatakan nyaris tidak ada. Jadi ia memutuskan untuk menyimpan ponselnya jauh di dalam tas punggung yang hanya ia sampirkan di satu sisi bahu dan berpura-pura bahwa benda itu tidak pernah ada sejak awal.


Matahari masih bertahta begitu tinggi ketika Fabian dan tiga anggota Pain Killer yang lain berjalan menuju parkiran. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul empat, di mana seharusnya sang Surya telah perlahan-lahan bergeser ke sisi barat untuk kemudian tenggelam.


"Bangsat banget nih matahari! Kayaknya sengaja banget pengin nyari ribut sama gue!" Reno, seperti biasa, menjalani perannya sebagai si tukang komplain dengan baik.


Fabian dan Baskara tutup mulut. Mereka juga kepanasan, dan energi mereka telah hampir habis setelah melewati banyak kelas yang melelahkan. Sudah tidak ada lagi sisa energi untuk meladeni omelan Reno.


Sedangkan Juan, sebagai seorang sepupu yang pengertian, berinisiatif membuka jaketnya, untuk kemudian ia bentangkan di atas kepala Reno agar tubuh si pemuda mungil terhindar dari teriknya sinar matahari.


Namun, niat baik itu ternyata tidak disambut dengan cara yang sama oleh Reno, di mana pemuda mungil itu malah melayangkan pukulan ke lengan berotot Juan sehingga membuat si empunya meringis.


"Nggak usah sok romantis! Jijik!" gerutu Reno.


"Gue cuma mau berusaha jadi sepupu yang baik, ya, anjing!" Juan mulai ikutan nyolot.


Ini kejadian langka. Sebab Juan biasanya selalu mengalah pada Reno, membiarkan si pemuda mungil menang dengan segala argumennya.


Agaknya, terik sinar matahari sore ini telah berhasil mengaktifkan satu sisi buruk di dalam diri Juan.


"Udah berani lo anjing-anjingin gue, ya?! Heh! Gue ini kakak lo!" Reno menghentikan langkah, serta-merta berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Juan.


"Cuma lebih tua satu bulan!"


"Mau satu bulan, satu minggu, bahkan satu jam sekalipun, gue tetap lebih tua! Lo harus sopan kalau ngomong sama gue!"


"Mana ada yang kayak gitu?! Nggak cuma yang muda yang harus sopan sama yang tua!"


"Nggak usah nyolot lo anjing!"


"Lo yang anjing!"


Ketika dua sepupu yang selalu terlihat kompak dan pergi ke mana pun berdua tiba-tiba saja terlibat perdebatan panas, tidak ada langkah lebih baik selain melipir kalau tidak mau ikutan babak belur.


Maka Baskara menunjukkan inisatif untuk menyelamatkan dirinya dan Fabian. Ditariknya lengan pemuda itu, dibawanya melipir dengan langkah yang terayun lebar selagi matanya terus memperhatikan Reno dan Juan yang masih berdebat.


"Si Juan kalau lagi marah serem juga, ya." Bisik Baskara ketika mereka sudah lumayan jauh dari Reno dan Juan.


Fabian cuma terkekeh. Kemudian ia melepaskan tangan Baskara dari lengannya agar mereka bisa berjalan beriringan dengan cara yang lebih normal.


Awalnya Baskara merasa tidak terima ketika tangannya diempaskan oleh Fabian meskipun tidak dengan cara yang kasar. Namun, ia memutuskan untuk tidak meneruskan kekesalannya dan hanya mengikuti langkah yang Fabian ayunkan.

__ADS_1


"By the way," Baskara bersuara lagi setelah beberapa detik hening. "Keributan di base kampus tadi pasti udah sampai juga di telinga Biru."


Fabian menelengkan kepala sebentar, kemudian kembali menatap lurus ke depan di mana mobilnya terparkir rapi di samping mobil Baskara dan Reno.


"Gue rasa juga gitu," ucap Fabian santai, berbanding terbalik dengan perasaannya yang tidak keruan.


"So, gimana? Mau tetap lanjut?" tanya Baskara. Ia menghentikan langkah di sisi mobilnya, menumpukan satu lengan di atas kap mobil dan menatap Fabian serius.


"Lanjut," jawab Fabian. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. "Kita nggak pernah mundur kalau udah mulai, have we?"


"But she already knows about our plan."


"Semua target kita yang sebelumnya juga tahu kalau mereka lagi dijadikan target, Bas."


"But she's quite different," setelah menegakkan kembali badannya, Baskara merogoh kantong celana untuk kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari sana. "Lo pasti tahu kalau gue nggak akan melepaskan Cimol buat sesuatu yang nggak worth it." Kemudian ia mencomot satu batang rokok dan langsung menyelipkannya ke bibir.


Sembari menunggu Fabian merespons, Baskara kembali merogoh saku celana untuk mencari pemantik. Tapi, tak ia temukan benda kecil itu sekalipun telah merogoh satu persatu saku celana yang ia kenakan saat ini.


"Nih,"


Baskara mengangkat kepala. Di depan wajahnya, sudah ada pemantik berwarna hitam dengan gambar kupu-kupu. Senyumnya terbit, kemudian ia meraih pemantik itu dan langsung menggunakannya untuk menyalakan rokok.


Kepulan asap menyebar cepat setelah api dari pemantik berhasil menyulut ujung rokok. Baskara mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya pelan-pelan.


Fabian menggelengkan kepala, dengan tatapan yang masih tertuju pada pemantik di tangannya. "Gue mau coba, Bas."


Dada Baskara yang awalnya masih terasa longgar meksipun asap dari rokok berulangkali keluar masuk ke sana, seketika berubah menjadi sesak mendengar jawaban Fabian tersebut. Karena bukan itu yang ingin dia dengar.


Seharusnya, Fabian bilang akan mundur saja. Karena toh tujuan Baskara mengadakan taruhan ini sejak awal memang hanya untuk menarik perhatian Biru, untuk menunjukkan kepada gadis itu bahwa ia masih ada di dunia, dan mereka akhirnya bertemu lagi setelah sekian lama.


Tapi, seorang Pramudya Baskara tidak pernah menarik kembali kata-katanya. Ia tidak bisa tiba-tiba menghentikan taruhan ini di tengah jalan, kalau bukan teman-temannya yang secara sukarela mengundurkan diri dan menyatakan ketidakmampuan mereka untuk melanjutkan misi.


Jadi alih-alih menunjukkan kekecewaannya secara terang-terangan, Baskara malah mengulas senyum. Ia mengisap rokoknya sekali lagi, sebelum akhirnya menjatuhkan rokok yang masih tersisa banyak itu ke tanah, menginjaknya menggunakan ujung sepatu kemudian menendang bangkai yang sudah tidak berbentuk itu agar menjauh dari pandangannya.


"Let me know the reason, then." Katanya kemudian. Kedua tangannya bergerak pelan menelusup masuk ke dalam saku jaket. Ditatapnya Fabian yang berdiri di hadapannya itu serius.


"You said she was quite different, right?"


Baskara mengangguk. "So? What's the reason?"


"Gue tertarik untuk cari tahu di mana letak bedanya dia sama target yang lain,"


"Tapi lo sama sekali nggak boleh jatuh cinta sama dia, that's the rule."

__ADS_1


"Gue tahu," Fabian membenarkan tali tas punggung yang merosot dari bahunya. "Don't worry, lo jelas tahu kalau gue nggak pernah tertarik untuk menjalin hubungan romantis sama perempuan mana pun."


"Alright. Cuma mengingatkan, in case lo lupa."


"Nggak akan, gue-"


"Fabian!"


Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi perkataan Fabian, membuatnya seketika menoleh ke arah suara yang ternyata datangnya dari bagian luar parkiran.


Mata Fabian terbelalak kala menemukan sosok Biru berada di seberang sana, sedang melambaikan tangan sambil terus mengayunkan langkah.


Semilir angin menerbangkan helaian rambut panjang Biru yang dibiarkan tergerai, membuatnya tampak seperti adegan klasik di dalam drama di mana sang pemeran utama wanita baru pertama kali menunjukkan dirinya di hadapan sang pemeran utama pria, dan dalam sekejap telah mencuri seluruh perhatiannya.


"****!" gerutu Fabian.


Akan tetapi, gerutuan itu tidak berarti banyak karena saat sosok Biru akhirnya sampai di hadapannya, mulutnya justru terkunci rapat.


"Gue mau ngomong sama lo, berdua." Kata gadis itu, tanpa tedeng aling-aling.


"Soal apa?" Fabian pura-pura polos. Tidak tahu kalau di belakangnya, Baskara tengah menatap lurus ke arah Biru.


"Banyak." Biru menjawab singkat.


Hela napas Fabian mengudara bertepatan dengan semilir angin yang berembus lebih kencang.


"Keberatan nggak kalau gue pinjam Fabian sebentar?" tanya Biru tiba-tiba. Beruntung Baskara selalu ahli dalam hal mengendalikan diri, jadi ia bisa dengan mudah menjawab pertanyaan itu tanpa perlu terlihat salah tingkah.


"Silakan. Mau lo pinjam selamanya juga gue nggak masalah." Bohongnya. Karena tidak ada sejarahnya seorang Pramudya Baskara rela Eleena Sabiru dekat dengan laki-laki lain, apalagi teman dekatnya sendiri.


"Thanks kalau gitu," mungkin tidak akan ada yang sadar kalau Biru sempat menyunggingkan senyum licik kepada Baskara sebelum akhirnya kembali memasang wajah datar ketika menagih jawaban dari Fabian yang masih saja bungkam.


"Ya udah, ayo." Fabian menyerah.


"Lo balik duluan aja," ucapnya kepada Baskara, yang kemudian dihadiahi anggukan oleh pemuda itu.


Kemudian Fabian berjalan mendahului Biru. Entah ke mana dia akan pergi, Fabian hanya akan mengikuti ke mana kakinya terayun.


Sedangkan di belakangnya, Biru dan Baskara masih saling pandang, melemparkan tatapan layaknya dua kubu musuh bebuyutan yang baru saja dipertemukan kembali setelah usainya peperangan. Atmosfer yang tercipta sangat mengerikan. Seakan bisa langsung mematikan apa saja yang semula hidup, membuatnya lebur tak bersisa.


"Glad to see you again, Blue." Kata Baskara.


Namun, Biru tidak sudi menerima sambutan itu. Alih-alih membalas, Biru langsung putar balik setelah mengacungkan jari tengah tepat di depan wajah Baskara, yang justru membuat pemuda itu tergelak sejadi-jadinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2