Taruhan

Taruhan
Sampai Kita Pulang


__ADS_3

Menepi dari hiruk pikuk Mega yang semakin malam semakin menjadi, Baskara mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang ada di sebelah bangunan klub. Dengan pencahayaan yang minim, ia menenggelamkan diri di dalam keheningan yang berbanding terbalik dengan keriuhan di dalam.


Dari saku celana, Baskara mengeluarkan sebungkus rokok—yang ia selundupkan sebelum berangkat ke Mega tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Sialnya, ia lupa tidak membawa serta pemantik sehingga ketika satu batang berhasil ia tarik dari dalam bungkus, Baskara justru melenguh kecewa. Pada akhirnya rokok itu hanya menghuni sela-sela jemari panjangnya, berputar-putar seiring dengan jemarinya yang tidak bisa diam.


Resah kembali menghampirinya lebih banyak daripada hari-hari yang lalu, saat di kepalanya mulai terputar kembali interaksi antara Fabian dan Sabiru yang kelewat akrab. Ini jelas tidak sesuai dugaannya. Karena dari awal, ia bisa begitu percaya diri menjadikan Sabiru target taruhan karena percaya bahwa gadis itu masihlah gadis yang sama dengan bertahun-tahun lalu.


Sekarang, ketika semuanya mulai tampak jauh dari ekspektasi awalnya, ia jadi kelimpungan. Bagaimana caranya memisahkan Biru dan Fabian, sebelum salah satu di antara mereka semakin terbawa perasaan?


“Lo kabur ke sini cuma biar bisa ngerokok?” suara Fabian bagai alarm yang akhirnya berhasil membangunkan Baskara dari lamunan. Ia pun menoleh, tersenyum tipis pada pemuda yang kini berdiri menjulang di sampingnya.


“Niatnya gitu, but ... gue nggak bawa lighters.” Adunya.


Fabian si gercep langsung mengeluarkan pemantik kesayangannya tanpa banyak bicara. Ia bahkan tidak mengungkit soal Baskara yang mengatakan kepada ayahnya bahwa tidak akan ada rokok di dalam kegiatan mereka di Mega.


Baskara memandangi pemantik milik Fabian cukup lama. Dipikir-pikir, keberadaan pemantik itu ternyata lebih dekat dengan sang pemuda. Barangkali lebih dekat dari hal-hal lain yang melekat di tubuhnya. Nyaris tidak ada satu waktu pun di mana Baskara tidak melihat pemantik itu. Seakan jika benda mungil itu hilang, maka nyawa Fabian pun akan melayang.


“Gue penasaran, kenapa lo selalu bawa-bawa lighters itu ke mana pun? Apa itu adalah semacam jimat or something?” tanyanya setelah kembali menatap Fabian. Pemantik milik pemuda itu masih tidak ia ambil.

__ADS_1


Sang empunya pemantik lalu mencuri pandang pada benda mungil di tangannya. Samar-samar, Baskara melihat pemuda itu tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu,” ucap pemuda itu pelan.


“Musyrik!” seru Baskara tiba-tiba. “Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama jimat.”


Fabian justru terkekeh pelan, “Tuhan nggak punya waktu buat ngurusin manusia-manusia yang hidupnya terlalu berantakan kayak kita, Bas. Lagian, kita juga nyaris nggak pernah pergi ke rumah Dia, kan? Lo yakin Dia masih sudi bantuin kita kalau ada kesusahan?”


“Tuhan ada buat mereka yang percaya, itu yang dibilang sama nyokap gue," suara Baskara terdengar begitu pelan, nyaris tidak lebih keras ketimbang suara deru napas mereka yang bersahut-sahutan.


"But we don't really believe in God, right? I mean ... kita cuma cari Dia waktu lagi benar-benar butuh, but end up getting mad sewaktu Dia nggak ngabulin kemauan kita. We pray, but we also curse a lot."


Tak ada lagi tanggapan yang keluar dari bibir Baskara. Ia lebih memilih meraih pemantik dan menggunakannya untuk menyalakan rokok. Pembahasan tentang Tuhan dan segala kuasa-Nya memang tidak akan pernah habis, dan ia tak punya cukup banyak minat untuk menuntaskannya. Pada akhirnya, sebanyak apapun mereka berdiskusi tentang Tuhan, mereka tetap tidak akan mendapatkan apa-apa.


Awalnya, dia mengajak Fabian ke sini untuk membicarakan soal Sabiru, untuk mengingatkan pemuda itu agar tidak terbawa perasaan sampai hubungan mereka berakhir nanti. Namun, perkara Tuhan dan ***** bengek yang sempat mereka bahas sebelumnya telah berhasil mengalihkan dirinya dari topik yang semula. Kini, ada hal lain yang ingin ia diskusikan dengan Fabian.


"Orang tua lo?" tanya Fabian memastikan.


Baskara mengangguk, hanya melirik Fabian dari ekor mata untuk memastikan pemuda itu telah menaruh fokus penuh terhadap dirinya.

__ADS_1


"Kapan hari gue dengar mereka berdebat pas gue lagi tidur. Memang nggak saling teriak, sih. Tapi apa yang mereka ucapkan udah cukup bikin gue tahu kalau interaksi yang mereka bangun di depan gue selama beberapa waktu terakhir ini bisa jadi cuma sandiwara. Mereka cuma mau bikin gue berpikir kalau semuanya baik-baik aja," Baskara akhirnya menoleh. Netranya langsung terpaku pada manik Fabian yang menatapnya lekat.


"That's why gue pikir kabur ke luar negeri adalah cara paling tepat untuk bikin mereka berhenti bersandiwara. Gue kasihan sama mereka, Bi. Karena pasti capek banget untuk ngelakuin sesuatu yang sebenarnya nggak mereka mau."


"Kabur nggak pernah jadi solusi," Fabian menyela. Pemuda itu kemudian menarik satu batang rokok dari dalam bungkus, ikut menyalakannya. "Bisa jadi kepergian lo malah bikin hubungan mereka lebih buruk. Bukan nggak mungkin mereka bakal saling menyalahkan, saling melempar tanggung jawab, saling caci dan saling benci. Dan gue yakin lo nggak mau itu terjadi."


Ada jeda yang cukup panjang setelahnya. Hening merayap diam-diam kalau dua anak manusia dengan kepala yang sama-sama ribut itu lebih memilih untuk memenuhi paru-paru mereka dengan asap rokok yang pekat.


"Sebagai seseorang yang sama-sama ada di posisi pengin kabur tapi nggak bisa, gue cuma bisa kasih tahu lo untuk pura-pura tuli aja. Anggap nggak pernah dengar apapun. Nggak apa-apa berkorban sedikit, daripada harus ngeliat mereka hancur lebih banyak, kan?" ucap Fabian lagi, setelah menuntaskan rokok miliknya.


Baskara mengembuskan napas keras-keras. Pandangannya lalu jatuh pada ujung-ujung sepatunya sendiri, selagi tangannya menyugar rambut dengan gerak frustrasi. "So gue harus bertahan?" tanyanya pelan sambil mencuri pandang ke arah Fabian yang tampak menengadah dengan tatapan yang nyaris kosong.


"Yes."


"Sampai kapan?"


Baskara melihat Fabian tersenyum, kemudian perlahan-lahan mengalihkan pandangan kembali ke arahnya. "Sampai salah satu di antara kita pulang."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2