
"Udah pergi?" pertanyaan itu langsung tersuguh untuk Sabiru ketika ia menerobos masuk ke dalam kamar, di mana Baskara si biang kerok sedang duduk di tepi ranjang dengan tampang polos tanpa dosa.
"Udah." Biru menjawab sekenanya. Bukannya menghampiri Baskara, ia malah berbelok menuju lemari pakaian.
Lama sekali ia termenung di depan lemari yang pintunya telah dibuka lebar-lebar. Matanya bergerak menyisir seisi lemari, memindai tumpukan-tumpukan kaus yang ia miliki hanya untuk mencari satu yang ukurannya pas di badan Baskara. Yah, berkat adegan munculnya Fabian secara tiba-tiba, mereka tidak sempat membersihkan noda es krim yang ada di kaus Baskara. Dan untuk membersihkannya sekarang pun sudah telat karena nodanya pasti telah mengering.
Usaha Biru untuk meneliti satu persatu pakaian yang ia miliki akhirnya membuahkan hasil juga. Ia segera menarik satu kaus oversize berwarna putih dari tumpukan paling bawah. Di badannya, kaus itu lebih mirip seperti daster pendek di atas lutut. Jadi seharusnya masih bisa pas di badan Baskara.
"Nih, pakai." Ia menyodorkan kaus yang tadi kepada Baskara yang masih anteng di posisinya.
Si pemuda menatap kaus yang dia ulurkan cukup lama, sebelum akhirnya mengambil benda itu dari tangannya kemudian bangkit dari posisi duduknya.
Kurang ajarnya, Baskara sekonyong-konyong melepaskan kaus yang dia kenakan, tanpa aba-aba sehingga Biru tidak punya waktu untuk membalikkan badan. Akhirnya, nampak juga perut kotak-kotak milik pemuda itu di depan matanya. Inginnya sih menutup mata supaya tidak dikira mesum, tapi yang terjadi malah ia begitu fokus meneliti setiap kotak yang tercetak di perut pemuda itu.
"Kedip."
Biru tersentak kala merasakan embusan angin menerpa wajahnya. Rupanya, itu ulah Baskara yang mengibaskan kaus oversize pemberiannya sebelum dikenakan untuk menutupi perut kotak-kotak yang terekspos sempurna.
Menghilangnya pemandangan indah di depan matanya membuat Biru melenguh kecewa. Nampak jelas juga wajah cemberut yang kemudian berhasil memunculkan ide jahil di kepala pemuda di hadapannya.
Tiba-tiba saja, Baskara berjalan mendekat. Tangan Sabiru diraih, tiba-tiba diarahkan untuk menyentuh kotak-kotak di perutnya dengan gerakan yang teramat pelan nan menggoda.
"Bas, gue patahin leher lo kalau nggak berhenti." Biru mendelik. Ia berusaha menarik tangannya dari sana, namun Baskara bersikeras menuntunnya untuk merasakan satu persatu otot perut yang terbentuk di sana.
"Kenapa? Bukannya lo suka? Buktinya tadi lo ngeliatin sampai nggak kedip?" goda Baskara seraya mengerlingkan matanya.
Sumpah! Bagi Sabiru, sikap Baskara yang begini benar-benar menyebalkan! Baik dulu maupun sekarang, rupanya pemuda itu masih tetap saja memiliki hobi menggoda dirinya.
"Lepasin, atau—"
__ADS_1
"Atau?" dalam sekali sentakan, wajah Baskara tahu-tahu sudah berada tepat di depannya. Biru refleks memundurkan kepala demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Sumpah, gue bakal beneran patahin leher lo kalau lo nggak cepat-cepat lepasin tangan gue."
"Uwww ... takut." Baskara malah semakin menjadi-jadi.
Satu hal tentang Sabiru versi terbaru yang tidak Baskara ketahui adalah ... fakta bahwa ia tidak suka diremehkan. Oleh siapapun. bahkan ketika itu adalah orang yang paling dia cintai sekalipun.
Maka ketika Baskara semakin menunjukkan wajah tengilnya, Sabiru tidak berpikir dua kali untuk memutar lengan berotot pemuda itu hingga membuat sang empunya memekik tidak keruan. Rintihan dan permohonan ampun tidak ia hiraukan, malah membuatnya semakin kuat memelintir lengan sang pemuda.
"Ampuuuunnnn!!!" pekik Baskara yang merasa lengannya hampir patah.
"Gue udah bilang kan semalam, kalau Sabiru yang dulu itu udah mati." Kata Biru dengan suara pelan namun membawa kesan menyeramkan. "Kalau gue bilang bisa patahin leher lo, itu sama sekali nggak bercanda."
Sekujur tubuh Baskara mendadak merinding kala mendengar suara Biru yang mengalun menyeramkan. Bayangan sosok Biru, gadis kecintaannya yang manis, seketika sirna. Tergantikan dengan sosok penyihir jahat yang hobi memangsa anak-anak tak berdosa agar bisa awet muda.
"Iyaaaa ... ampun! Lepasin, pleaseee." Rengeknya. Karena hanya itu satu-satunya hal yang ia lakukan sekarang. Ia tidak jago berkelahi, karena kalau untuk urusan menghajar musuh, semuanya sudah ia serahkan kepada Juan. Jadi melepaskan diri dari pitingan Sabiru benar-benar bukan sesuatu yang mudah. "Bi, pleaseee atuh lah."
Sedangkan Baskara masih harus berusahalah meredam ngilu yang terasa di lengannya. "Cewek gue serem, anjir." Gumamnya. Semena-mena mengakui Sabiru sebagai pacar padahal sama sekali tidak ada kesepakatan atas hal itu.
...****************...
Demi menghindari spekulasi liar, Baskara dan Sabiru benar-benar berangkat ke kampus secara terpisah. Sabiru naik mobilnya sendiri, sedangkan Baskara naik taksi. Untungnya masih ada cash di dalam dompetnya, sehingga ia tidak perlu mampir dulu ke ATM karena itu akan sangat merepotkan.
Matahari telah bersinar begitu terik walaupun jam baru menunjukkan pukul 10.15. Baskara mengayunkan langkah lebar-lebar demi menghindari sengatan matahari karena bodohnya, ia lupa tak mengenakan kembali jaket miliknya yang tertinggal di apartemen Biru.
Sampai di depan ruang kelas, mahasiswa lain sudah berkerumun di beberapa area. Sebagian memojokkan diri di ujung lorong untuk membahas entah apa, sebagian lagi ngemper di dekat pintu sambil bergosip. Dari sekian banyak mereka yang ia temui, belum tampak tanda-tanda kehadiran tiga temannya yang lain.
Berhubung masih ada 30 menit sebelum kelas dimulai, Baskara akhirnya memutuskan untuk melipir dulu ke kantin. Lumayan kan dia bisa membeli beberapa potong roti untuk mengisi perutnya yang keroncongan karena tidak sempat sarapan.
__ADS_1
Namun, baru sampai kakinya di ujung koridor menuju kantin, langkahnya terhenti karena matanya menangkap kehadiran Reno dari kejauhan. Pemuda itu tampak berjalan dengan langkah yang lebar dan terkesan terburu-buru.
"Diam lo di situ!" seru pemuda itu dari jarak yang masih lumayan jauh, jari telunjuknya mengacung ke arah Baskara seolah sedang menunjuk seorang tersangka.
Baskara tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia tetap menuruti perintah Reno dengan tidak berpindah dari posisinya dan menunggu sampai pemuda itu tiba di hadapannya.
"Anjing!" Reno tiba-tiba saja mengumpat saat sampai di depannya, membuat Baskara mengerutkan kening kebingungan.
"Assalamualaikum dulu, kek. Apa, kek. Masih pagi udah anjing-anjingin orang aja." Gerutu Baskara dengan bibir bawah yang maju.
"Ya karena lo emang anjing!" Reno semakin menggebu-gebu.
Baskara menatap Reno dengan tatapan yang seolah berkata gue salah apa? ketika pemuda mungil itu semakin menampakkan raut wajah garang.
"Ke mana lo semalam?" tanya pemuda itu. "Bokap lo telepon gue, katanya lo nggak pulang." Sambungnya seraya mendelik.
Baskara membulatkan mulutnya setelah tahu duduk perkara yang membuat Reno mencak-mencak sepagi ini. Semalam, ia terlalu terbawa suasana sehingga sama sekali tak terpikirkan olehnya untuk memberi kabar kepada ayahnya. Jangankan memberi kabar, mengurusi ponselnya saja ia tidak punya waktu. Ponsel malang itu sampai sekarang masih dalam keadaan sekarat karena baterainya habis.
"Jawab!" tagih Reno sebab Baskara tak kunjung menjawab.
Kabar baiknya, Baskara sudah tahu bahwa ketidakpulangannya akan meninggalkan pertanyaan, jadi dia sudah menyiapkan jawaban. Dengan tenang, sambil mengakui kedua tangannya, ia menjawab. "Ke markas besar." Lalu tak lama setelahnya, nampak di depan matanya kehadiran Juan dan Fabian yang berjalan beriringan.
Reno terdengar mendengus. Emosi masih terlihat jelas di wajah mungilnya, tapi Baskara tahu pemuda itu tak punya niat untuk melanjutkan ocehannya ketika Juan dan Fabian akhirnya bergabung dengan mereka.
"Nanti sore balik bareng gue. Semalam pas bokap lo nanya lo ada di mana, gue bilangnya lo ginep di rumah gue." Titah Reno, kemudian pemuda itu berjalan mendahuluinya menuju ruang kelas.
Baskara iya-iya saja, lantas mengikuti jejak Reno dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin membeli roti. Juan dan Fabian berjalan mengekor di belakang, seperti dua pengawal yang sedang mengawasi bagaimana baginda raja dan ratu kesayangannya yang sedang bertengkar kecil.
"Pagi-pagi udah mengumbar masalah rumah tangga," cibir Juan seraya mengalungkan lengan di bahu Fabian yang hanya terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung