Taruhan

Taruhan
She Belong to You


__ADS_3

Semakin malam, udara semakin terasa dingin. Baskara merapatkan jaket yang dia kenakan untuk membantu menghangatkan tubuh. Tiga batang rokok sudah habis dihisap, dan dia berencana menyalakan satu lagi sebelum beranjak dari balkon lantai 2 markas besar.


Dia sendirian di sini. Biru sedang dalam perjalanan pulang, diantarkan oleh Fabian selaku pacar yang bertanggung jawab. Reno dan Juan juga sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu, sedikit grasah-grusuh karena tampaknya persoalan Jasmine yang sempat menjadi sugar baby-nya ayah Reno telah menimbulkan keributan baru.


“Setelah semua yang lo lalui, kenapa harus mati dengan cara kayak gini?” gumamnya, dengan tatapan yang melayang jauh menembus awan pekat di atas sana. Dalam bayangannya, Jasmine ada di sana. Tengah tersenyum bodoh seakan menertawakan dirinya yang tak punya keberanian untuk melakukan hal yang sama.


Mati. Baskara sudah sering membayangkan hal itu. Merenggut nyawanya sendiri dengan berbagai macam cara juga sudah sering dia pikirkan. Tapi sampai keriput otaknya, agenda itu tetap tidak bisa dia lakukan karena ada sesuatu yang terus menahannya di dunia yang bajingan ini.


“Lo bahkan punya nyokap yang hidupnya bergantung sama lo, bego.” Omelnya, kala di dalam bayangannya, senyum Jasmine kian tampak menyebalkan.


Memang, tidak pernah ada yang tahu seberapa berat seseorang menanggung beban. Seberapa parah penyakit mental yang diderita hingga kecenderungan mengakhiri hidup pun semakin tinggi. Tapi, sampai detik ini, Baskara masih tidak mengerti mengapa Jasmine melakukannya. Kematian gadis itu terasa janggal untuk disebut sebagai sebuah upaya mengakhiri hidup.


Karena, sampai hari terakhir ketika mereka bertemu, Baskara bisa melihat ambisi yang begitu besar dari sorot mata gadis itu. Ambisi untuk dikenal. Ambisi untuk diakui sebagai dirinya, Samara Jasmine, alih-alih terus disebut sebagai sugar baby. Juga ambisi-ambisi lain yang mungkin orang lain tidak bisa melihat, tapi tampak begitu jelas dalam pandangan Baskara.


Belum satu pun dari ambisi itu yang tertunaikan. Lantas, wajarkah bila Jasmine menyerah?


“Cewek gue jadi galau gara-gara lo mati, tahu. Padahal lo kan jahat, ya. Emang aneh tuh cewek gue.” Baskara tertawa sumbang di akhir kalimatnya.


Hubungannya dengan Jasmine memang tidak bisa dikatakan baik. Tapi kematian gadis itu, entah bagaimana, tetap mendatangkan duka tersendiri baginya. Ini mungkin karena ia tahu bahwa kehidupan gadis itu tak kalah rusak dengan miliknya dan anggota Pain Killer yang lain. Semacam perasaan senasib sepenanggungan—atau apalah itu orang-orang biasa menyebutnya.


“Gue ... turut berduka atas luka apapun yang lo tanggung selama ini, Mine. Yeah, gue tahu ini kedengaran aneh karena gue baru bisa ngomong kayak gini sekarang. Ya soalnya lo ngeselin, anjir. Kalau gue ngomong kayak gini pas lo masih hidup, yang ada lo bakal makin nempel ke gue!”


Sungguh. Baskara kini benar-benar terlihat seperti orang gila yang bicara seorang sendiri. Tapi peduli apa dia dengan penilaian orang lain? Ia hanya ingin mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.


“Mati enak nggak sih? Kok lo kayaknya ngebet banget buat mati, bukannya nunggu sampai dijemput aja sama Tuhan.”


“Nggak enak, nggak usah ngelantur.”

__ADS_1


“Anjing!” Baskara refleks mengumpat. Nyaris saja ia terjungkal dari kursi karena suara Fabian yang tiba-tiba menginterupsi. Entah sejak kapan pemuda itu ada di sana, berdiri di ambang pintu balkon sambil menyakui kedua tangannya.


“Lo ngapain sih ngomong sendirian? Segalau itu karena Jasmine mati?” tak merasa bersalah sama sekali, Fabian berjalan mendekat. “Padahal waktu dia masih hidup, lo antipati banget sama dia.” Sambung pemuda itu setelah mendudukkan diri di sebelah Baskara.


“Gue nggak galau!” sergah Baskara. Enak saja dia dikatai galau karena Jasmine mati. “Gue cuma nggak ngerti aja kenapa Jasmine lebih milih mati. Padahal masih banyak sugar daddy yang bisa dia porotin duitnya.”


“Mungkin aja dia udah bosen hidup di dunia yang penuh sandiwara ini.” Celetuk Fabian dengan entengnya. Tanpa izin, ia mencomot satu batang rokok dan langsung menyalakannya. “Atau ... dia lagi ngincer sugar daddy yang ada di surga?” sambungnya setelah mengembuskan asap rokok tepat di depan wajah Baskara.


Pemuda itu jelas terbatuk-batuk karena ulahnya, namun ia sebagai pelaku justru terkekeh pelan melihat tangan Baskara mengibas-ngibas di depan wajah demi mengusir asap rokok sialan yang ia hembuskan.


“Di surga mana ada sugar daddy? Lagian, PD bener dia bakal masuk surga? Yang ada di neraka noh tempat dia, bareng sama kita-kita nanti.”


“Kita? Lo aja lah, gue nggak.”


Baskara mencebik, “Dih, si anjir. Terus lo mau ke surga sendirian gitu? Nggak setia kawan amat.”


“Nanti gue mintain izin deh ke Tuhan, biar lo, Juan sama Reno bisa main ke surga seminggu sekali.”


Selama beberapa menit, tak ada yang bersuara di antara mereka. Kepulan asap yang berasal dari rokok yang mereka hisap saling beradu di depan wajah, berputar-putar di sana sebelum akhinya lenyap terbawa angin.


Sampai tiba saatnya rokok milik Fabian habis lebih dulu. Pemuda itu meletakkan puntung di atas asbak, sengaja tak mematikan bara api yang tersisa dan membiarkannya padam dengan sendirinya. Kemudian, pemuda itu merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah kunci motor yang lalu ia letakkan di atas meja.


Kunci motor itu terlihat tidak asing, terutama bagi Baskara. Jadi keberadaannya jelas membuat dahi pemuda itu berkerut banyak. Rokok yang sejatinya masih tersisa banyak, ia campakkan begitu saja di atas asbak, tumpang-tindih dengan milik Fabian yang bara apinya mulai padam.


“Apa nih?” tanyanya seraya menunjuk kunci motor tersebut selagi matanya menatap Fabian curiga.


“Gue balikin.” Ucap Fabian.

__ADS_1


“Ya kenapa dibalikin? Kan lo udah menang taruhan?” tanya Baskara semakin bingung.


“Gue kalah.”


“Hah?! Apaan sih, gue nggak ngerti.”


“Gue kalah taruhan, Bas. Kunci motornya gue balikin, sekalian sama Sabiru juga gue balikin ke lo.”


“Hah?!”


“Hah heh hoh mulu lo kayak lagi niup kelomang!” Fabian geregetan.


Beberapa saat, Baskara terdiam. Ia bolak-balik menatap kunci motor miliknya dan Fabian secara bergantian. Otaknya masih loading, belum berhasil mencerna apa yang Fabian sampaikan beberapa waktu sebelumnya.


“Maksudnya gimana?” tanyanya lagi dengan suara pelan.


“Gue balikin Sabiru ke lo, Baskara. Cuz she belong to you. Well, ya nggak tahu juga sih kalian masih ada feeling satu sama lain atau nggak. Tapi gue nggak mau ambil risiko buat dekat sama Biru lagi, takut jatuh cinta beneran. Nggak seru kalau harus rebutan cewek sama lo.” Fabian menjelaskan panjang lebar.


“Wait, lo—“


Fabian mengangguk. “Gue udah tahu semuanya.”


Baskara menatap Fabian dengan mulut yang setengah terbuka. Sepenuhnya kehilangan kata-kata, tak menyangka bocah tengik di hadapannya ini ternyata diam-diam tahu banyak hal. Wah, sungguh tidak bisa dibiarkan.


“Nggak usah ngeliatin gue sampai segitunya. Mending lo sekarang pikirin gimana caranya buat jelasin ke Reno soal lo sama Biru, biar tu anak nggak mencak-mencak.” Fabian terkekeh geli, sudah membayangkan ekspresi reog Reno kalau pemuda itu tahu Baskara dan Biru punya relasi tak terduga. Apalagi bocah itu sudah begitu bersemangat untuk menjadikan Biru anggota Pain Killer yang ke-5 dan adanya hubungan antara Biru dan Baskara jelas akan menjadi penghalang untuk melancarkan niatnya tersebut.


Melihat Baskara yang masih cengo, Fabian pun tergelak. Ia lalu bangkit dari kursi, hanya untuk melabuhkan dua kali tepukan di bahu pemuda itu sebagai bentuk semangat. “Good luck, deh. Berdoa aja semoga bokong lo nggak ditendang sama Reno sampai tepos.” Ucapnya, kemudian melenggang dengan santainya meninggalkan Baskara yang semakin kehilangan kata-kata.

__ADS_1


“Apa gue nyusul Jasmine aja, ya? Da ngeliatin Reno ngamuk juga lebih serem, euy.” Baskara bergumam seorang diri.


Bersambung


__ADS_2