Taruhan

Taruhan
Terdampar


__ADS_3

Setelah berkendara selama 45 menit, tiga mobil yang berjalan beriringan itu akhirnya tiba di kompleks perumahan Baskara. Satu mobil yang dikendarai Jeffrey masuk ke pekarangan, sedangkan dua mobil lain berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Lalu, hanya mobil Fabian yang pintunya terbuka sebab pemuda itu harus mengantarkan Baskara sampai ke depan pintu rumahnya, sementara Reno lebih memilih tetap diam di mobil bersama Juan sambil menurunkan kaca jendela demi bisa menyaksikan secara langsung proses pengembalian Baskara kepada orang tuanya.


Fabian berjalan beriringan dengan Baskara. Mereka sama-sama menatap lurus ke depan tanpa bersuara. Sejak obrolan mereka yang terakhir di mobil, memang sudah tidak ada lagi percakapan apapun yang terjadi. Baskara terlalu bingung untuk memberikan tanggapan, sedangkan Fabian sendiri tidak suka mendesak seseorang untuk tetap bicara jika kelihatan tidak nyaman pada topik pembahasan.


Di depan pintu rumah, Jeffrey dan Sera sudah menunggu. Setelah sebelumnya Jeffrey masuk ke dalam rumah untuk meletakkan tas di ruang tamu kemudian kembali lagi ke sisi sang istri.


"Thanks," ucap Baskara kepada Fabian ketika kaki mereka mencapai teras depan. Fabian cuma berdeham sebagai jawaban, karena tatapannya kini justru fokus pada sosok Jeffrey yang kelihatan tidak nyaman berdiri di sisi sang istri. Sebaliknya, Sera malah menyunggingkan senyum, seolah semuanya baik-baik saja.


"Nanti malam lo jemput gue, kan?"


Fabian menoleh kembali kepada Baskara, kemudian mengangguk. "Jam 7 gue jemput lo."


"Mau ke mana?" Jeffrey tiba-tiba saja menyela.


Fabian dan Baskara kompak menoleh ke arahnya. Lalu sebagai seorang teman yang baik, Fabian mengambil peran sebagai seseorang yang harus menjawab pertanyaan tersebut. "Mega, Om. Anak-anak mau bikin party kecil-kecilan buat menyambut kepulangan Baskara."


"Nggak akan ada alkohol, rokok atau apapun itu. Pure mau happy-happy aja sama anak-anak." Baskara menambahkan, sebelum raut wajah Jeffrey semakin berubah tidak enak.


Jeffrey menarik napas begitu dalam, kemudian mengembuskannya keras-keras seakan hanya itu satu-satunya cara untuk mengenyahkan kegusaran yang merundung. "Pulangnya jangan terlalu malam," titahnya. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik pergi, masuk ke dalam rumah tanpa sedikitpun melirik ke arah Fabian.


"Jangan pulang terlalu malam," Sera mengulangi apa yang Jeffrey ucapkan sehingga membuat Baskara berdecak sebal.


"Baskara punya kuping, kok. Nggak perlu diulang," ia bersungut-sungut.


"In case kuping kamu banyak kotorannya."


Baskara mencebik. Supaya mood-nya tidak kembalo buruk, ia pun beralih menoleh kepada Fabian yang berdiri di sampingnya. "Ya udah, lo balik sana. Siap-siap, terus jemput gue." Titahnya, bak sang baginda raja.


Anehnya, Fabian menurut. Pemuda itu mengangguk, kemudian pamit kepada Sera dan bergegas pergi dari sana, tidak lagi menolehkan kepala ke belakang sejak langkah pertama dibuat.

__ADS_1


Usai memastikan sosok Fabian dan mobilnya—juga mobil Reno dan Juan—menghilang dari pandangan, Baskara menarik lengan Sera untuk segera masuk ke dalam rumah karena hawa dingin mulai datang menyerang. Sepertinya, malam ini akan kembali turun hujan.


...****************...


Mega, pukul 20.25


Sabiru tidak mengerti kenapa ia harus terjebak di sini, di tengah hiruk pikuk Mega, menyaksikan orang-orang saling melempar tawa di saat ia bahkan bukan merupakan bagian dari mereka.


Sekitar pukul setengah delapan lebih, ia dibuat terkejut kala mendapati sosok Fabian sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Tidak sendiri, pemuda itu datang bersama sosok Baskara—yang setelah dilihat-lihat sepertinya sudah sehat sepenuhnya.


"Mau ngapain lo ke sini?" tanyanya bingung.


"Gue mau ajak lo ke Mega, buat rayain kepulangannya Baskara." Begitu jawaban yang pemuda itu berikan setelahnya.


Dan gilanya, ia tidak diberi kesempatan untuk menolak karena pemuda itu tahu-tahu membalikkan tubuhnya, mendorong punggungnya pelan sambil terus mengoceh bahwa ia harus bersiap dalam waktu tidak lebih dari 15 menit.


Apa yang lebih gila dari itu? Benar. Fakta bahwa ia menurut saja tanpa banyak memberikan perlawanan. Lima belas menit bersiap untuk sebuah tampilan yang ala kadarnya, ia betulan keluar walaupun sambil menggerutu. Lalu ia memasrahkan diri duduk di bangku penumpang belakang, selagi di depannya duduk seorang Baskara yang sudah dia bunuh sebanyak ribuan kali di kepala.


Biru menoleh ke arah sumber suara. Otomatis mendelik kala menemukan Fabian memasang tampang tak berdosa ketika duduk di sebelahnya. "Gue mau pulang," jawabnya, yang malah membuat Fabian berdecak. Oh, bukankah dia yang seharusnya merasa kesal karena telah diculik oleh pemuda itu?


"Kelas lo kosong besok, jadi mau ngapain di apartemen sendirian? And ... bahkan belum jam 9, masih terlalu dini buat pulang." Sehabis nyerocos, Fabian ngeloyor begitu saja ke balik meja bar dan langsung sibuk menggerakkan tangannya meracik minuman. Pemuda itu kembali beberapa menit kemudian sambil membawa dua gelas Lemonade yang tampilannya agak tidak meyakinkan.


"Nih," satu gelas disodorkan ke arah Biru.


Bukannya diambil, Biru malah menatap gelas itu lekat-lekat. Es batu yang bergerak perlahan menuju dasar gelas seiring dengan mencairnya sebagian besar dirinya, membuah Biru justru terpaku cukup lama.


“Malah bengong,” satu pukulan pelan mendarat di punggung tangannya yang berada di atas meja bar. Biru menatap Fabian sekilas, tampak ngeri saat pemuda itu lagi-lagi menyodorkan gelas Lemonade lebih dekat.


“Ini ... lo yakin bisa diminum?” tanyanya ragu sambil menunjuk gelas Lemonade di depannya.

__ADS_1


Fabian menampakkan raut wajah tak percaya, bahwa minuman buatannya baru saja diragukan oleh Sabiru, orang yang bahkan tidak berhasil menggoreng tahu dengan sempurna.


“Nggak usah diminum, siniin.” Kata Fabian sewot. Gelas tadi dia ambil lagi, lalu isinya langsung ia tenggak hingga setengah tandas. “Lihat, beracun nggak?” ucapnya sewot.


“Ya kan gue nanya dulu,” Biru berusaha memberikan pembelaan. Namun perdebatan soal apakah Lemonade buatan Fabian layak minum tidak berlanjut karena kehadiran satu orang.


Baskara tahu-tahu sudah duduk di sisi kanan Biru, meraih satu Lemonade lagi yang masih penuh lalu menyesapnya perlahan. Detik ketika lidahnya menyentuh minuman, Baskara mengernyitkan kening. “Asyem!” serunya. Gelas hasil curian ia dorong menjauh. “Ini minuman apaan sih, anjir?”


Sudah ada dua orang yang menghina rasa Lemonade buatannya, maka jelas saja Fabian mencak-mencak. “Lidah lo kebanyakan kena vodka sih, makanya nggak bisa kena yang lain!” gerutunya.


“Dih, hubungannya sama vodka apaan deh? Emang asyem rasa minuman lo, kayak keteknya Gerald.”


“Oh, sering lo nyium keteknya Gerald?” Fabian sambil tersenyum mengejek.


“Apa-apaan bawa-bawa nama gue.” Si empunya nama tiba-tiba menyahut. “Ini namanya Lemonade, lo nggak usah norak.” Ocehnya kemudian.


“Ya whatever lah ya apa namanya. Nggak enak,” celetuk Baskara seenak jidat. “Lo belum sempat minum, kan?” tanyanya kemudian kepada Biru yang sedari tadi masih diam.


Biru tidak menjawab dan malah mengalihkan pandangan ke arah Gerald yang berdiri di belakang meja Bar. “Tolong satu Lemonade, Ger.”


“Lah, itu udah gue bikinin!” Fabian kembali mencak-mencak.


“Kata teman lo rasanya nggak enak,” Biru berucap santai, lalu mulai bermain ponsel setelah memastikan Gerald bergerak membuatkan pesanannya.


Tidak ada angin tidak ada hujan, Baskara tiba-tiba saja terkekeh, membuat Fabian dan Biru serempak


menoleh.


“Kesambet lo?” cibir Fabian.

__ADS_1


Baskara tidak menjawab dan malah bangkit dari kursi. “Kalau urusan Lemonade sama cewek lo udah selesai, susul gue ke depan.” Katanya, lalu berbalik pergi, meninggalkan keriuhan yang tertinggal di belakangnya sebab Fabian dan Biru kembali berdebat soal Lemonade.


Bersambung


__ADS_2